“Kau bilang kau akan memberikan segalanya!” seru Iyeon tak percaya.
Tugas kedua adalah merawat pohon terbanyak dalam batas waktu tertentu. Saat mereka memasuki kota hantu, lokasi babak kedua, Iyeon memelototi Chaewoo sambil menggigit bibirnya yang bengkak. Kehancuran di sekeliling mereka—pemandangan yang masih dalam masa pemulihan dari bencana—adalah cerminan sempurna dari kekacauan di hatinya sendiri. Bahkan langit yang berkabut, kontras dengan cuaca awal musim panas, seolah bersekongkol melawannya.
Mengenakan *jumpsuit* praktis, Iyeon melangkah maju dengan menghentak.
“Dan siapa yang dengan sengaja lupa menyebutkan bahwa ini akan memakan waktu dua puluh empat jam, Iyeon?” protes Chaewoo.
“Sudah kubilang kita akan terjaga sepanjang malam.”
“Aku tidak tahu maksudmu adalah *berkemah*. Tidur di atas matras tipis dengan ponco di kaki gunung antah berantah ini!”
Chaewoo langsung merengut begitu mereka tiba dan mendengar penjelasan hakim tentang tugas tersebut. Ia pernah menghajar gerombolan penjahat dan tidak peduli jika dirinya menjadi kotor berantakan, namun di sinilah ia, meributkan Iyeon yang harus tidur tidak nyaman selama satu malam.
Perilakunya yang sulit ditebak memang merepotkan, namun Iyeon melepaskan tawa miris. Ia belum pernah merasakan perhatian yang begitu ketat dari orang lain, dan akibatnya, ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
Lawan hari ini adalah Klinik Mi Tree. Iyeon merasa sedikit waswas meninggalkan Nyonya Gye yang terampil, namun ia tidak menyesali pilihannya. Setelah insiden di ladang obat, ia tidak membiarkan Chaewoo membuang waktu sedikit pun. Ia telah melatih pria yang cepat belajar dan cakap itu sebagai asistennya, dan dia tidak akan kesulitan mengimbanginya.
“…!”
Tepat saat itu, Iyeon mematung di tengah langkahnya. Ia melihat wajah yang dikenalnya berdiri di antara kelompok orang dari Klinik Mi Tree. Ia menggigit bibirnya.
Direktur Gyeongcheon Cho…
Ia pernah melihat namanya di ponsel para preman yang ada di ladang obat. Namun, polisi tidak bersemangat untuk menyelidiki, dan sesering apa pun ia mengunjungi Rumah Sakit D, ia hanya menerima jawaban yang sama bahwa direktur tidak ada di sana. Ia sudah hampir menyerah.
Tepat saat itu, Direktur Cho menoleh ke arah mereka dan mendekat dengan seringai predator yang meregang di wajahnya.
“Iyeon.”
Chaewoolah yang pertama kali bereaksi terhadap suaranya. Ia merangkulkan lengannya di pinggang Iyeon, menariknya ke sampingnya saat tatapannya terkunci pada pria yang mendekat itu.
Direktur Cho mengamati sosok Chaewoo sejenak sebelum tatapannya beralih kembali ke Iyeon.
“Kudengar kau mencariku belakangan ini.”
“…Apa sebenarnya yang Anda rencanakan di Pulau Hwai?” Suara Iyeon merendah menjadi bisikan sedingin es saat ia melayangkan tatapan tajam padanya. “Sebaiknya itu bukan apa yang kupikirkan.”
“Iyeon, akulah yang pertama kali membawamu ke sini, bukan?”
Iyeon mengernyit mendengar pengingat yang tampak acak itu. Pada saat yang sama, momen yang dimaksud muncul di ingatannya dengan sangat jelas. Direktur Cho merujuk pada perjalanan bisnis pertamanya ke Pulau Hwai, tak lama setelah ia mulai bekerja di klinik pohon tersebut.
Direktur Cho menatap kosong pada wajah tegas Iyeon. Ia masih belum bisa memutuskan apakah pemula yang naif itu adalah berkah atau kutukan saat itu. Percakapan yang ia lakukan dengan Direktur Kwon terngiang di telinganya, mengesampingkan mata Iyeon yang berbinar.
“Bagaimana perkembangan bisnis itu?”
“Berjalan dengan baik.”
“Tidak ada orang lain yang boleh tahu tentang tanaman langka itu.”
“…Saya akan mengingatnya.”
Bayangan gelap jatuh di wajah Direktur Cho. *Seandainya saja dia tidak pernah menemukan tanaman itu.*
Tujuh tahun lalu, sesuatu yang aneh ditemukan di sebuah rawa di Pulau Hwai. Merupakan suatu kebetulan bahwa Iyeon tersesat selama latihan dan jatuh ke dalam rawa tersebut, namun berkat dia, Direktur Cho akhirnya mendapatkan keuntungan yang luar biasa.
Spesies baru itu sebelumnya tidak dikenal oleh komunitas botani global dan, pada saat itu, belum memiliki nama ilmiah. Namun tepat saat orang-orang mulai berbisik tentang tanaman langka di pulau tersebut, tanaman itu lenyap tanpa jejak. Keluarga Kwon bertanggung jawab atas hal itu.
Beberapa tahun setelah kejadian itu, Gyeongcheon mendengar bahwa tim peneliti pertama yang mempelajari tanaman tersebut telah musnah tanpa jejak. Setelah berpikir sejenak, ia menggunakan skandal Choyun sebagai alasan untuk memecat Iyeon dari klinik. Namun, ia tidak pernah membayangkan anak yang ia usir itu akan menetap di Pulau Hwai.
Karena suatu alasan, Direktur Cho melangkah mendekati Iyeon dengan tatapan yang rumit.
“Iyeon,” panggilnya lagi.
“Cukup,” sebuah suara menggeram.
Chaewoo, yang berdiri di samping layaknya anjing penjaga dengan tali kekang yang kencang, menjulurkan lengannya, membentuk barikade di antara mereka.
Saat tantangan sunyi berlalu di antara kedua pria itu, Iyeon menggigit lidahnya sedikit sebelum mengumumkan, “Dia suamiku.”
“…Apa?!”
Alis Direktur Cho berkerut tidak percaya.
*Suami? Dia?*
Kedengarannya begitu konyol hingga ia hampir tertawa. *Apa aku tidak salah dengar? Mungkin dia sedang menggumamkan nama sebatang pohon, dan aku salah dengar. Lagipula, hanya itu yang dia pedulikan.*
Setelah menyaksikan sendiri kekurangan Iyeon yang tak terhitung jumlahnya, Gyeongcheon benar-benar terkejut mendengar dia sudah menikah. Atmosfer familier yang ia tangkap pada diri Chaewoo segera terlupakan.
Gyeongcheon berdeham dan menyipitkan matanya. “Iyeon, tidak bisakah kau berhenti sekarang saja?”
“Berhenti apa?”
“Proyek Hwai Dome,” jawabnya berat.
“Apakah Anda menyuruhku mengalah? Mengapa pula aku harus melakukan itu?”
Melihat kurangnya pemahaman di wajah Iyeon, Gyeongcheon memilih untuk diam. Kemudian, saat ia berpapasan lewat, suaranya merendah menjadi bisikan cepat yang mendinginkan dan hanya ditujukan untuk Iyeon. “Sebuah nasihat, Iyeon. Tutup mulutmu jika kau menghargai nyawamu.”
“…!”
Peringatan itu hanya dimaksudkan untuk didengar oleh Iyeon, namun Chaewoo, dengan pendengarannya yang tajam, juga menangkapnya. Benar saja, ia menggeser berat tubuhnya seolah hendak menerjang, dan Iyeon segera menyambar lengan bajunya. Iyeon menggelengkan kepala, dan meskipun Chaewoo merengut, ia mematuhinya.
Iyeon hanya berdiri di sana dengan hampa. Matanya menelusuri ruang tempat Direktur Cho berdiri sesaat lalu, bimbang antara pertanyaan apakah ia harus menganggap itu sebagai ancaman atau nasihat.
✦ ❖ ✦
Dinas Kehutanan menyediakan setiap klinik dengan set perlengkapan yang identik: dua ransel penuh perlengkapan berkemah, tas dokter, sebuah tablet PC, dan bahkan tongkat pendaki serta tali untuk memanjat.
Aturannya sederhana: Setelah merawat pohon, ambil foto bukti, dan kirimkan langsung ke juri melalui tablet. Peserta diharuskan mendemonstrasikan keterampilan diagnosis yang cepat dan kemahiran dalam perawatan awal. Babak kedua adalah pertempuran keterampilan dan kecepatan, murni dan sederhana.
“Chaewoo, waktunya berangkat. Bersiaplah.”
Sambil menyampirkan ranselnya sendiri, Iyeon mengguncang bahu Chaewoo yang sedang asyik mempelajari peta. Tanpa berkedip, pria itu menelusuri setiap tanda kecil, merekam detailnya ke dalam ingatannya.
Drone kecil berdengung di atas kepala, dan pengatur waktu di tablet akhirnya memulai hitung mundur. Iyeon melirik ke arah lawannya, lalu melangkah percaya diri ke arah yang berlawanan.
“…”
Namun, ekspresinya segera berubah muram saat ia mengamati hutan tersebut. Itu adalah kuburan pepohonan—semuanya hancur berkeping-keping, bengkok, dan berserakan di tanah layaknya prajurit yang gugur. Aliran puing besar telah menyapu turun layaknya gelombang pasang tahun lalu, dan gunung tersebut, yang terjebak dalam arus derasnya, telah kehilangan segala keindahannya.
Tanahnya berupa rawa, dipenuhi dengan rongsokan batu yang hancur, dahan, dan kulit kayu. Sepatu bot Iyeon sudah dipenuhi lumpur. Lebih buruk lagi, langit yang mendung membuatnya terasa seolah mereka baru saja melangkah ke dalam reruntuhan tanpa cahaya.
“…Sepertinya kita punya banyak pekerjaan,” komentar Iyeon.
“…”
Iyeon memiringkan kepalanya menatap pria yang diam itu. Chaewoo menjadi sangat pendiam sejak mereka memasuki hutan. Dengan wajah muram, ia menarik telinganya dan memindai sekeliling, kepalanya menoleh dengan gerakan tajam dan meresahkan layaknya seekor gagak. Itu jelas perilaku yang aneh.
Iyeon menjadi serius saat memperhatikannya.
“Ada apa?”
“…”
“Apa kau merasa tidak enak badan? Apa kepalamu sakit?” tanyanya khawatir.
Sulas senyum menyentuh bibir Chaewoo. “Kau tahu, kau selalu menunjukkan ketertarikan khusus pada kepalaku, Iyeon.”
“Benarkah?”
“Ingat di ladang obat? Kau tahu apa yang kau katakan saat aku sedang dipukuli?”
“…”
Bisa dikatakan bahwa Iyeon kewalahan dengan situasi saat itu. Ia tidak bisa mengingat apa pun yang ia cetuskan saat itu.
Saat ia menatap kosong sambil mengerjapkan matanya yang jernih, Chaewoo dengan jenaka mengetukkan dahinya ke kepala Iyeon. “Kau berteriak, *Pukul dia di bagian mana pun, tapi jangan kepalanya!*”
Ia tertawa kecil. Iyeon menundukkan kepala, tersipu merah hingga ke lehernya.
Segera, Iyeon menemukan titik yang mereka cari dan mulai memberikan perawatan awal. Sebagian besar pekerjaan melibatkan pembersihan dahan yang busuk dan memperbaiki keseimbangan pohon secara keseluruhan. Ia menghubungkan dahan-dahan dengan penyangga logam yang diposisikan dengan hati-hati. Intinya, Iyeon sedang memasang gips pada tulang-tulang pohon yang patah.
Setelah dengan terampil menyelesaikan pohon pertama, ia pindah ke pohon berikutnya layaknya seekor tupai yang gesit. Chaewoo sibuk mengambil gambar sambil sesekali menyerahkan peralatan yang ia minta.
“Banyak dari pohon-pohon ini yang sudah mati,” komentar Iyeon.
Sebagian besar sudah rusak di luar pemulihan atau sudah tenggelam.
“Jika kau melihat lebih dekat, kau akan melihat bahwa pohon yang sehat bermekaran dan menggugurkan bunganya sekaligus dalam waktu singkat. Namun, yang tidak sehat menyisakan beberapa kuntum bunga, meskipun daunnya sudah muncul. Lihat di sana—sebagian besar seperti itu, kan?”
Iyeon menunjuk ke sebuah titik di dekatnya. Pohon-pohon dengan bunga kecokelatan yang tersebar jarang memiliki jumlah dahan gundul dan bengkok yang mencolok—tanda bahwa mereka lemah dan layu.
Chaewoo, yang mendengarkan dengan tenang, mengernyitkan dahi. “Itu agak menyedihkan, bukan?”
“Hm?”
“Bermekaran sekaligus, hanya untuk gugur bersama begitu cepat.”
“Yah, musim mekarnya memang selalu singkat.”
Iyeon bersikap acuh tak acuh, namun Chaewoo masih tampak tidak senang. “Kalau begitu aku tidak akan pernah memberimu bunga, Iyeon.”
“Mengapa tidak?”
“Bunga melambangkan kehidupan yang singkat.”
“…”
Kata-katanya menyentuh titik sensitif, dan yang bisa Iyeon berikan hanyalah senyum rapuh. Ia berpikir, karena alasan yang sama itulah, ia ingin menerima bunga darinya.
Setelah itu, untuk menghilangkan pikirannya yang melantur, Iyeon fokus sepenuhnya pada pemasangan karet gelang kuning ke kantong infus. Ia memasukkan selang infus ke dalam lubang yang sudah dibor sebelumnya dan memberikan obatnya. Dan kemudian…
“…!”
Dalam waktu satu detak jantung, seluruh sikap Chaewoo berubah. Itu adalah tatapan yang Iyeon kenal dengan sangat baik—tatapan saat merasakan bahaya yang mendekat.
“Apakah ada sesuatu di luar sana? Apakah… babi hutan lagi?” Iyeon mematung, suaranya merendah menjadi bisikan.
Wajah Chaewoo muram, tatapannya terpaku pada suatu titik yang tak terlihat di udara kosong. Simpul kecemasan mengencang di tenggorokan Iyeon saat ia memperhatikannya, yang tampak setegang tali busur yang ditarik.
Setelah momen yang terasa seperti selamanya, Chaewoo akhirnya menoleh padanya, matanya sulit dibaca. “Aku tidak yakin.”
“Apa?”
“Aku tidak tahu apa itu. Atau suara apa itu tadi.”
Saat mata Iyeon berkabut karena cemas, Chaewoo dengan tangkas mengalihkan pembicaraan.
“Apakah kau benar-benar ingin memenangkan Proyek Hwai Dome, Iyeon?”
“Uh…” Ia menggaruk pipinya, semburat rasa tidak aman muncul. “Aku tahu ini mungkin terdengar konyol. Orang-orang akan tertawa, bukan?”
“Tidak. Kau mencintai pepohonan lebih dari siapa pun.” Nada bicara Chaewoo lembut, namun di belakang punggungnya, tangannya mengepal dan melemas dalam irama panik. Ia tidak bisa menghilangkan ketegangan yang melilit di perutnya.
Sejak saat ia menginjakkan kaki di hutan, ia telah mendengar suara gesekan samar yang asing. Namun, hutan itu tampak sunyi. Suara itu tidak berasal dari arah yang jelas. Itu berupa bunyi retakan atau debuman rendah—setiap suara semakin mengikis sarafnya.
Setiap serat di tubuh Chaewoo meneriakkan peringatan, namun ia tetap tenang di luar, bertekad untuk tidak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan di depan Iyeon. Bagaimanapun juga, tugas mereka saat ini penting bagi wanita itu.
“Kontrak yang terjamin dan uangnya memang bagus, tapi…” Iyeon mulai bicara.
Alis Chaewoo terangkat saat ia merasakan suara lemah lainnya. Seekor burung terbang dari dahan di dekatnya. *Apa itu tadi? Hanya burung yang terbang lewat?*
“Saat kau mengawasiku seperti ini… itu membuatku ingin memberikan yang lebih baik,” pengakuan Iyeon.
Suaranya yang lembut dan hati-hati menenangkan sarafnya yang setajam silet.
“Aku sangat malu waktu itu, saat aku mematung di depan Choyun. Dan melihatmu bereaksi terhadap segalanya untukku… aku tahu aku tidak bisa terus berlari. Aku memutuskan untuk menjadi lebih kuat. Dan aku ingin mencapai sesuatu dengan kemampuanku sendiri.”
Chaewoo tidak bisa mendengar apa-apa. Terlepas dari pendengarannya yang luar biasa, seolah-olah dunia tiba-tiba menjadi bisu. Matanya yang berkaca-kaca karena emosi; bibirnya yang bergerak dengan keyakinan yang sungguh-sungguh; sedikit lengkungan alisnya pada setiap perubahan ekspresi—setiap detail terpahat ke dalam pikirannya hingga paru-parunya terasa sesak mencari udara.
“Aku ingin kau melihatku bersikap percaya diri, terutama karena kau baru saja bangun. Aku berjanji, aku akan bekerja sekeras mungkin mulai sekarang. Saat aku menghasilkan banyak uang, aku akan membelikanmu begitu banyak barang bagus.”
Matanya berbinar dengan ketegasan yang murni dan tulus, yang membuat Chaewoo ingin menerkam dan melahapnya saat itu juga.
“Dan… aku memang selalu senang menyembuhkan pohon yang sakit,” Iyeon mengakhiri bicaranya, matanya melengkung menjadi bulan sabit yang lembut.
Pemandangan senyumnya itu membuat Chaewoo kehilangan kendali.
“Mmph—!”
Dalam satu gerakan buas, ia menerjang, menguasai mulut Iyeon dengan mulutnya. Hidung mancungnya menekan pipi Iyeon saat ia mengklaim bibirnya, membukanya untuk menjarah apa yang ada di dalamnya. Lidahnya bergerak mendesak, rahangnya yang penuh sudut tajam terbuka lebar. Ia menjilati bibir Iyeon seolah mencicipi esensi dirinya, lalu menangkap lidahnya yang mundur, mengelus dan menekan dengan tekanan lambat dan sengaja yang meniru belaian tangannya di pinggul Iyeon. Rasa wanita itu sangat manis yang memabukkan.
Saat Iyeon terhuyung mundur karena kewalahan, Chaewoo memegangi wajahnya, mendongakkannya untuk bertemu dengan wajahnya, dan menyatukan mulut mereka lebih dalam lagi.
“Mmph…!” Tangisan protesnya tertelan sepenuhnya.
Dengan setiap gerakan berani kepalanya, ia mencuri napas Iyeon. Kilatan basah lidahnya muncul sejenak sebelum meluncur kembali ke dalam mulut wanita itu.
Hutan yang redup itu kemungkinan merupakan tempat terburuk untuk sebuah ciuman. Tangannya berlumuran lumpur, namun tidak ada yang bisa menghentikan dorongan membara yang menguasai pikirannya. Segala tugas terlupakan. Chaewoo melesatkan tangannya, dengan kasar meremas payudaranya.
“Mmph, mmph…!” Tercekik mencari napas, Iyeon menghantamkan tangannya ke punggung pria itu.
Kejantanan Chaewoo yang sekeras batu menggesek perut bagian bawahnya berulang kali saat ia menggigit lidahnya.
“Mmm…”
Saat ia merintih mengeluh, mata mereka yang seolah menyatu akhirnya, dengan enggan, terpisah. Hal pertama yang dilihat Iyeon adalah mata merah berurat darah milik Chaewoo dan urat biru tebal yang berdenyut di tengah dahinya.
“T-Tidak di sini… Kita tidak bisa. Kita sedang di tengah evaluasi…”
“Aku tahu.”
Jawaban Chaewoo singkat, namun jakunnya bergerak gugup saat ia berjuang mengatur napas. Keduanya terengah-engah, tidak mampu melepaskan pandangan dari bibir masing-masing yang berkilau karena air liur mereka yang bercampur.
“Aku harus… kawatnya… aku harus menyelesaikan mengikat kawatnya.”
“Benar.”
Setelah ragu sejenak, Iyeon melarikan diri. Meski ia hanya bergerak beberapa kaki, udara di sekitarnya terasa berbeda. Angin sejuk menyapu dahinya, dan ia menyadari dirinya basah kuyup oleh keringat.
Bibirnya terasa sakit seolah-olah disengat lebah, dan tatapan intens Chaewoo tetap terpaku pada punggungnya. Rasa panas yang berdenyut bermekaran jauh di dalam dirinya, dan ia memaksa tangannya untuk mulai sibuk.
“Ehem…”
Ia melilitkan kawat panjang itu erat-erat di sekeliling satu pohon, lalu mengamankan ujung lainnya ke pohon yang tampak seolah siap tumbang. Saat ia menarik kawat itu kencang pada pohon yang sehat, wajahnya meliuk merasakan sakit yang empatik.
“Ada apa?” Chaewoo sudah berada di sampingnya dalam sekejap, menjauhkan tangannya.
Sentakan listrik menyambarnya saat pria itu menyentuhnya. Telinganya memerah padam, namun ia tidak ingin menunjukkannya.
“Tidak, hanya saja…” Ia merasa canggung bertemu tatapan langsung pria itu. “Ini akan menyakiti pohon ini. Sangat menyakitkan. Selama pohon yang terluka itu hidup, pohon yang ini terperangkap.”
Tatapan tanpa ekspresi Chaewoo beralih ke pohon yang bertahan hidup hanya karena seutas kawat tersebut. Saat ia memperhatikan pemandangan yang goyah itu, sudut mulutnya melengkung menjadi seringai.
Iyeon terdiam. “Mengapa kau tersenyum?”
“Itulah aku.”
“Apa?”
“Pohon itu. Yang hampir tumbang.” Ia menunjuk pada pohon yang tidak stabil tersebut. “Tapi kau merasa kasihan pada pohon yang sehat itu, kan?”
“…Yah, iya. Pohon itu diberikan tugas yang tidak pernah ia minta. Kawat ini menyakitkan. Seiring waktu, ia akan menyayat kulit kayu dan meninggalkan bekas permanen.”
“Tragis, bukan?” Kata-kata Chaewoo disertai dengan senyuman yang mendinginkan. Ia menyilangkan tangan dan memberi isyarat dengan dagunya ke arah pohon yang terluka itu. “Kurasa pohon yang itu sedang tersenyum. Ia terlihat bahagia. Benda itu senang karena ia bisa menjalani hidupnya menghadap pohon yang indah ini, bahkan dalam situasi seperti ini.”
“…” Iyeon terdiam membisu. Ia menatap kedua pohon itu, terikat bersama oleh seutas kawat, namun ia tidak bisa melihat kegembiraan yang pria itu gambarkan. Ia hanya mengedikkan bahu, mengelus lengannya, dan mulai mengumpulkan peralatan yang berserakan—gergaji, gunting, pahat, dan palu—serta bahan-bahan kimia, satu per satu.
Saat itulah bencana itu terjadi.
“Ch-Chaewoo!” seru Iyeon saat pria itu menyambar pergelangan tangannya dan menyentaknya dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
Ia kehilangan keseimbangan, tergores pada tanah yang kasar, namun cengkeraman Chaewoo menguat tanpa sepatah kata pun penjelasan. Setiap gerakannya terasa brutal.
“A-Apa yang kau…”
Saat Iyeon berhasil berdiri kembali, Chaewoo mulai berlari cepat, matanya tertuju gila pada jalur di depan. Rasa nyeri menusuk pergelangan tangannya saat pria itu menariknya paksa. Bahunya menegang seolah akan terlepas dari soketnya.
Ia tersandung, berusaha mati-matian menyamai langkah pria itu yang mustahil. Pahanya terasa terbakar, dan paru-parunya menjerit mencari udara. Tidak mungkin Chaewoo tidak tahu rasa sakit yang ia timbulkan, namun pria berhati dingin itu tidak sekali pun menoleh ke belakang. Ia hanya mempertahankan cengkeraman putus asanya pada pergelangan tangan Iyeon hingga tangannya dengan cepat menjadi mati rasa.
“Tas medisku…! Kita harus mengambil—!”
“Lari demi nyawamu,” bentak Chaewoo, suaranya berupa perintah yang parau dan pecah.
Ia melirik ke belakang, poninya mencambuk wajahnya sendiri. Begitu Iyeon melihat ekspresinya yang kaku secara menakutkan, jantungnya mencelus. Chaewoo, yang kini mengenakan kedua ransel mereka—satu di depan, satu di belakang—memberinya satu sentakan brutal lagi.
*BUM—!* Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergolak layaknya makhluk hidup.
“Oh… oh, oh…!”
Suara yang tidak wajar merobek udara saat sesuatu mulai melonjak ke arah mereka, tanah bergetar seiring kedatangannya.
Dengan hawa dingin merayapi tengkuknya, Iyeon melirik ke belakang.
“A-Apa yang sebenarnya terjadi…”
Gunung itu sendiri sedang runtuh ke arah mereka.
Pikiran Iyeon melayang pada hujan yang telah turun selama dua hari terakhir. Namun apa pun alasannya, sesuatu telah menyebabkan lumpur dan bebatuan meluncur turun layaknya gelombang pasang, mendapatkan kecepatan yang mengerikan.
Ia memindai dengan panik, namun tidak ada tempat untuk berlari, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Pepohonan tidak menawarkan perlindungan; karena sudah melemah, mereka tidak punya kesempatan melawan terjangan tersebut.
*Tentu saja, ada tanah longsor besar tahun lalu yang mengubur seluruh lingkungan pemukiman..*
Ia melihatnya sekarang dengan matanya sendiri. Jeritan melengking sobek dari tenggorokannya. Kakinya lemas, dan pada saat yang sama, Chaewoo mengangkatnya dan menyampirkannya di bahunya.
“…!”
Dunianya meluruh ke dalam teror hitam. Rawa itu meluap dari tepiannya. Arus deras tanah dan batu yang gelap melonjak melalui hutan layaknya ombak, bergegas untuk menelan mereka bulat-bulat.
“Ch-Chaewoo…” Suaranya keluar sebagai bisikan yang rapuh.
Gelombang rasa mual bergejolak di perut Iyeon saat tubuhnya terhimpit oleh gerakan bahu Chaewoo yang menghentak. Bencana itu ada tepat di depan matanya, namun pikirannya menolak untuk mengakuinya sebagai kenyataan. Dinding batu tipis yang mereka bangun di sekeliling pepohonan tidak berguna. Arus deras tanah tumpah masuk dari kedua sisi, dan bagian atas yang tertutup terpal menyerah, runtuh sepenuhnya di bawah beban. Bibit-bibit pohon patah, dahan-dahannya terbelit menjadi gumpalan yang tidak dapat dikenali.
“Iyeon, dengarkan baik-baik.” Suara Chaewoo memotong kekacauan, setiap kata diiringi dengan napas yang tersengal. Tekanan berlari dengan dua ransel berat dan Iyeon di punggungnya sangat jelas terlihat; ketenangan yang biasa ada pada nadanya telah digantikan oleh urgensi yang murni. “Belok kiri dari sini. Jalan lurus, dan kau akan menemukan gua kecil.”
Chaewoo memanggil kembali peta yang telah ia rekam di ingatannya. Selama perang, Jepang telah menggunakan Pulau Hwai sebagai pangkalan terdepan, menggali gunung-gunungnya dengan gua buatan. Ia memindai ingatannya mencari gua yang ditandai di peta, sebuah peninggalan yang terlupakan, dan berbelok ke arah tersebut.
Kakinya tersangkut pada batu lepas, hampir membuatnya tersungkur, namun ia segera membetulkan posisinya dalam sekejap. Karena takut kehilangan pegangannya, ia mengeratkan pelukannya pada pinggul Iyeon.
“Bukaannya sempit, tapi kau akan bisa masuk ke dalam.” Suaranya yang biasanya menyenangkan dan rendah kini tertelan oleh napasnya sendiri yang kasar. “Kau masuk ke dalam, blokir pintu masuknya dengan ransel, dan tunggu.”
Iyeon tidak bisa memproses kata-katanya. Tatapannya goyah saat menatap profil wajah pria itu. Mulutnya menjadi kering, dan rasa ngeri yang dingin jatuh ke lubuk perutnya. Ia merasakan adanya nada final dalam bicaranya yang membuatnya cemas. Wajahnya berkerut saat ia mencengkeram kepalan kain kemeja pria itu. Sepanjang waktu itu, suara kayu yang pecah dan batu yang retak yang memuakkan bergema di sekeliling mereka.
“…Bagaimana denganmu?”
Chaewoo tidak menjawab, hanya melepaskan napas yang pendek dan tersengal.
Keheningannya mengonfirmasi ketakutan terburuk Iyeon. Pandangannya menjadi kabur saat air mata menggenang di matanya. Gelombang emosi yang dahsyat bergejolak di dadanya, dan bibirnya mulai gemetar.
“Aku tidak akan pergi tanpamu.”
“Dengarkan aku.”
“Tidak!”
“Iyeon!” Teriakan tanpa ampun itu meledak, setiap suku kata namanya terasa layaknya potongan es yang tajam. “Sadar! Apa kau mau mati di sini?”
Kata-katanya terucap dari sela-sela gigi yang mengatup rapat, mendidih dengan kemarahan yang belum pernah ia dengar darinya sebelumnya. Kehangatan yang biasanya ada telah hilang, digantikan oleh kedinginan yang keras yang membuatnya tersentak. Pikirannya memahami mengapa pria itu begitu berang, namun hatinya berteriak menentang.
*Tapi aku tidak menginginkan ini. Aku tidak bisa…*
Ia mencengkeram kemeja pria itu, buku jarinya berubah seputih tulang. Ia melirik panik ke balik bahunya namun menyadari tidak ada yang berubah. Aliran puing di kejauhan semakin bertambah cepat, dan gelombang tanah raksasa kini membayang tepat di belakang mereka.
Chaewoo mencengkeram pinggangnya, bersiap untuk mendorongnya pergi, dan sebuah teriakan tersedak sobek dari tenggorokan Iyeon. “Kumohon, jangan lakukan ini! Aku tidak ingin sendirian!”
“Jangan konyol!” Suara mereka beradu, mentah dan penuh kekerasan. “Kau tidak bisa memerintahku saat aku sedang menyelamatkan istriku!” Tatapannya menghujam padanya, garang dan tak tergoyahkan. Suaranya yang berat dan tegas tidak memberikan ruang untuk berdebat.
“…!”
Gelombang kesedihan menyapu Iyeon, menyengat matanya. Napasnya hampir tercekik oleh beratnya pengabdian pria itu yang egois. Jantungnya memalu tulang rusuknya seolah-olah ia sedang bertengger di tepi tebing, dan sebuah erangan kesakitan lolos dari bibirnya.
“Kumohon… Kumohon, Chaewoo, jangan lakukan ini. Kau… kau berjanji akan mendengarkanku! Kau bilang kau akan mendengarkan apa pun yang kukatakan… dan hanya apa yang kukatakan! Mengapa kau selalu seperti ini?!”
*Dibutuhkan segala hal yang kumiliki hanya untuk membiarkanmu masuk, tapi mengapa begitu mudah bagimu untuk membuangnya?*
Tanah bergejolak di bawah mereka. Iyeon menatap terperangah, permohonannya hilang dalam deru suara. Kaki Chaewoo tenggelam ke dalam lumpur yang bergolak. Tubuhnya yang tadinya terhimpit rapat pada tubuh pria itu, terangkat seiring celah terbuka di antara mereka. Pria itu mendorongnya pergi.
“Kumohon, jangan lepaskan! Aku… aku tidak bisa melakukan ini…!”
Wajahnya, yang meliuk mencerminkan rasa sakit Iyeon, semakin menjauh. Waktu terasa membentang menjadi keabadian.
Iyeon melupakan tentang tanah longsor dan keteguhan hati pria itu. Ia berpegangan demi nyawanya. Sebuah kebencian kekanak-kanakan berkobar di dalam dirinya. *Mengapa kau meninggalkanku?*
Ketakutan akan pengabaian yang telah lama terkubur, yang dikeruk dari sumur terdalam hatinya, memilih saat itu untuk muncul ke permukaan.
*Jangan tinggalkan aku. Kumohon, bawa saja aku bersamamu. Aku tidak ingin ditinggal sendirian lagi.*
Ia meraih lengan bawah pria itu, namun cengkeramannya sekuat besi, dan ia melepaskan jemarinya secara paksa. Ia meraih lagi, hanya untuk mendapatkan tangannya ditepis. Jemarinya yang menggelepar menggores lengan pria itu, dan dalam gerakan yang sama, Chaewoo melempar ransel yang ia kenakan di dada—dan Iyeon terlempar bersamanya.
“Ugh…!”
Benturan dengan tanah tidak seberapa dibandingkan dengan tendangan brutal yang menyusul, memaksa udara keluar dari paru-paru Iyeon. Chaewoo menendang ransel itu, mendorongnya masuk ke ruang sempit yang nyaris tidak lebih lebar dari bahunya. Kemudian ia melihatnya: sekilas rasa sakit di matanya yang dingin namun penuh tekad. Pria itu mendorongnya masuk dengan kekuatan yang begitu besar hingga ia hampir terguling.
Setelah menjejal kedua ransel itu ke dalam bukaan gua, ia hampir menyegelnya dari dunia luar.
“Pegang yang erat!” Chaewoo memperingatkan.
“T-Tunggu sebentar, Chaewoo—!” Iyeon menghentikannya sebelum ia tidak bisa lagi melihatnya.
“Aku belum selesai,” tambahnya, membuat Iyeon menahan napas lagi.
“…!”
“Kita belum berakhir.”
Matanya, teguh dan membara dengan panas yang garang, menusuk melalui pandangannya. Mendengar kata-katanya, Iyeon menyadari bahwa ia tidak sedang mengucapkan salam perpisahan.
Wajah Chaewoo, yang kuyu karena kelelahan dan urgensi, benar-benar tajam, fitur-fiturnya terbuka tanpa setitik pun tipu daya. “Jadi jika kau mati di lubang menyedihkan seperti ini, aku bersumpah aku sendiri yang akan membunuhmu,” ancamnya.
Tatapannya seolah menstabilkan setiap saraf yang koyak di tubuhnya. Selama satu detik yang mendebarkan, frekuensi mereka yang terpisah saling mengunci, membelit layaknya tanaman merambat. Namun keabadian itu hanya berlangsung sekejap mata. Seolah sudah direncanakan, gelombang tanah dan batu melonjak ke arah pria itu.
*DUG. SERRRR—*
Deru suara menelan segalanya. Tanah longsor yang masif itu menelan Chaewoo seutuhnya. Pada saat itu, setiap ikatan yang menghubungkannya dengan pria itu terputus secara kasar, dan rasa sakit layaknya tulang yang hancur merobek dirinya.
“CHAEWOO—!” Teriakan pecahnya menghantam dinding gua dan memudar.
Ransel-ransel itu tidak bisa menyumbat semua celah, dan bubur lumpur serta batu yang kental merembes masuk. Iyeon mendekap ransel-ransel yang mengancam akan tercabut kapan saja itu, kuku-kukunya menancap di kainnya. Ia bertahan, sebuah pertahanan yang putus asa dan sia-sia melawan terjangan yang tak henti-hentinya.
Beberapa suara *serrrrr* yang lebih mengerikan bergema di telinganya. Pergelangan tangannya memprotes pada setiap guncangan yang tidak disengaja. Ia bertahan dengan kegigihan muram yang membuat sendi-sendinya nyeri, namun ia tidak bisa menyegel pintu masuknya. Air berlumpur memercik wajahnya, membasahi pakaiannya.
“Ahh…!”
Ia tidak bisa berpikir. Segalanya terjadi terlalu cepat. Dalam sekejap mata, Chaewoo telah pergi.
✦ ❖ ✦
Keabadian kemudian, suara yang tadi telah menelan dunia mendadak berhenti. Sungai puing yang bergolak melambat hingga berhenti total.
Lumpur sudah memenuhi hingga setinggi pinggang Iyeon. Kulitnya terasa menyengat di tempat kain pakaiannya yang basah dan berpasir menggesek, dan bibirnya membiru karena hawa dingin gua yang berbahaya. Ia berhasil menghindari tersapu arus, terjejal di dalam rongga kecil itu, namun sekarang rasanya mustahil untuk melarikan diri. Keringat dingin menetes di tulang belakangnya.
“Chaewoo…”
Desahan tersedak isakan lolos dari Iyeon saat ia akhirnya terkulai lemas bersandar pada dinding batu yang kasar. Kepalan tangannya, yang masih mengatup rapat, mulai gemetar. Ia menangkupkan tangannya yang gemetar, membenamkan wajah di dalamnya.
“Apakah… apa kau ada di luar sana? Chaewoo… Bisakah kau mendengarku?” Tenggorokannya yang serak hanya mampu mengeluarkan suara parau yang lemah.
Di luar, kesunyian terasa begitu dalam dan mutlak layaknya malam tanpa bulan. Iyeon menahan gelombang keputusasaan yang membuncah di dalam dirinya.
“Aduh…” Sebuah batu tajam menusuk punggungnya. Embusan udara dingin dan lembap menyelinap melalui celah di pintu masuk. Kemudian, tatapannya jatuh pada salah satu ransel, yang kini berupa gumpalan lumpur yang tak berbentuk.
Ia melihat tablet PC yang dijejalkan di saku depan dan segera meraba-rabanya. Ia dengan panik menyeka layarnya sebelum menekan tombol daya.
Simbol WiFi tidak ada, namun layarnya menyala terang, dipenuhi dengan foto-foto pohon yang tadi sedang ia rawat. Matanya kosong saat ia menggulir gambar, sampai jemarinya membeku, melayang di atas layar.
“…Oh.” Sebuah suara lembut yang tak dapat dikenali terhembus lewat bibirnya.
Pada satu titik, foto-fotonya berhenti menargetkan pepohonan. Banyak yang berisi fotonya—punggungnya, wajahnya, senyumnya. Mereka menangkap alisnya yang bertaut karena cemas, mengernyit karena konsentrasi, lekuk lembut bibirnya, kilatan cemerlang giginya saat ia meledak dalam tawa. Semua momen singkat itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan dua kali. Bagi tatapan Chaewoo yang penuh pengabdian, ekspresi-ekspresinya yang asing namun penuh kehidupan terlalu berharga untuk dilewatkan.
“…”
Udara pengap dan apek di ruang sempit itu terasa kental, menyesakkan.
“Jadi jika kau mati di lubang menyedihkan seperti ini, aku bersumpah aku sendiri yang akan membunuhmu.”
*Si kurang ajar yang nekat itu… Bagaimana bisa dia menyuruhku untuk tidak mati?*
Iyeon memejamkan kelopak matanya yang gemetar rapat-rapat. Saat ia membukanya lagi, cahaya yang keras dan penuh tekad berkilat di matanya.
*Aku harus menemukannya. Aku akan menggeledah setiap jengkal hutan yang hancur ini dan membawanya kembali.*
Iyeon tahu bahwa keraguan pada saat itu akan mengubah gua sempit itu menjadi makamnya. Lumpur sudah merembes masuk tanpa henti melalui celah-celah di pintu masuk. Ekspresinya mengeras saat air keruh, yang sudah mencapai pinggangnya, kini menyapu tulang selangkanya. Puing-puing terombang-ambing di permukaan lumpur.
Bau busuk yang menyengat itu menjijikkan, namun Iyeon menarik napas dalam-dalam, memantapkan tekadnya: *Aku harus keluar dari sini.*
Iyeon bersedia mengambil risiko terluka asalkan ia bisa menemukan Chaewoo. Saat ia menyisihkan ranselnya, air gelap melonjak ke dagunya.
“Hmph!” Iyeon mengambil satu napas dalam yang terakhir dan membenamkan kepalanya di bawah arus lumpur dan batu.
Tekanannya menghimpit. Percikan kerikil tajam menghujani wajah Iyeon, menyengat layaknya garam yang digosokkan ke luka. Lumpur lengket menyegel kelopak mata, mulut, dan lubang hidungnya, namun ia merangkak keluar sambil mendekap ranselnya.
“Haa…!” Begitu ia berhasil menegakkan diri, ia megap-megap mencari udara.
Gumpalan lumpur jatuh masuk ke dalam mulutnya, dan wajahnya terasa panas membara. Untuk sesaat, ia tidak mampu menggerakkan mulutnya, dan kemudian dengan urgensi yang kuat, ia memuntahkan kotoran itu, dengan panik menyeka wajahnya dengan kelim kemejanya. Tidak ada gunanya membersihkan wajahnya. Setelah terendam dalam lumpur yang kental, ia adalah sebuah rongsokan yang tidak dapat dikenali. Akhirnya, ia berhasil menggosok matanya hingga jernih, membiarkan sisa rambut, wajah, dan batang tubuhnya tertutup lumpur hitam, layaknya seorang prajurit dalam penyamaran.
Saat ia akhirnya memperhatikan sekelilingnya, rona wajahnya memudar.
“…”
Ia sudah menduganya, namun seluruh hutan itu kini berupa lautan lumpur yang suram dan kental. Pohon yang patah, dedaunan, dan lumut mengapung dalam kekacauan. Nyaris mustahil untuk bergerak di rawa yang mencapai pinggangnya itu. Iyeon membuka ranselnya, mengeluarkan tali panjat, dan mengikatkan satu ujungnya pada dahan pohon kokoh yang tidak patah. Ia mengamankan ujung lainnya pada dirinya sendiri. Hanya setelah menambatkan tali penyelamat yang alakadarnya ini barulah ia mulai merangsek maju.
“Chaewoo!”
Iyeon memindai kehancuran itu, berteriak sampai tenggorokannya serak. Namun yang ia terima hanyalah kesunyian hampa. Tanah longsor itu telah menyapu segalanya, dan di suatu tempat di tengah kehancuran tersebut, ia menyembunyikan Chaewoo darinya. Pria itu tidak terlihat di mana pun.
*Apakah dia tersapu arus? Ataukah dia terluka?*
Pikiran tentang pria itu yang terendam di suatu tempat di bawah kotoran tersebut membuat kecemasannya melonjak. Namun Iyeon tidak bisa terpaku pada apa yang mungkin telah terjadi. Ia hanya bisa terus melangkah maju.
“Chaewoo—!”
Mendorong melalui lumpur yang bergumpal terasa layaknya menyeret ban berat melalui aspal tebal. Tubuh ramping Iyeon terus-menerus terlempar ke belakang, tersandung, namun itu tidak sebanding dengan kesengsaraan menghimpit yang ia rasakan.
“Chaewoo!”
Kilatan petir membelah langit di atas kepala. Cuaca yang memang sudah mendung, semakin gelap dengan awan badai, dan mulutnya menjadi kering.
Tepat saat itu, sebuah drone yang melayang di langit menarik perhatian Iyeon. Ia melambaikan tangannya dengan liar. “Di sini—! Di sini!”
Tanah longsor sebesar itu berarti pihak berwenang sudah mulai bergerak.
*Tim penyelamat akan segera sampai di sini.*
Namun bahkan dengan harapan itu di hatinya, pikiran tentang Chaewoo, yang hilang di suatu tempat dalam kekacauan tersebut, membuat rasa takut yang dingin meresap ke dalam nadinya. Ia tidak bisa hanya menunggu. Putus asa untuk menemukannya, pandangannya kabur oleh air mata.
“Hhh… Ugh…”
Bau busuk pembusukan menyengat hidung Iyeon. Kakinya tergelincir pada bebatuan berlumut, membuatnya terperosok kembali ke dalam kotoran berulang kali. Puing-puing kotor melekat padanya, terasa berat, seolah tangan-tangan sedang menarik lengannya.
*Di bagian mana dari pemandangan neraka yang mengerikan ini dia berada?*
Bibirnya gemetar, mengerucut seakan ia akan meledak dalam tangis. Namun ia memejamkan mata rapat-rapat dan menelan gumpalan emosi yang keras itu. Iyeon menolak untuk menangis. Ia tidak bisa—belum saatnya.
Iyeon menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan mengangkat kepalanya lagi. Saat itulah ia melihat sesosok bentuk manusia, tersampir di atas batang pohon yang patah layaknya selembar cucian yang dibuang.
“…!”
Tenggorokannya tercekat. Pikirannya menjerit untuk bergerak, namun anggota tubuhnya menolak untuk patuh, terkunci di tempat oleh rasa ngeri yang melumpuhkan. Air mata segera mengalir dan tumpah, menorehkan jalur bersih melalui kotoran di pipinya.
Akhirnya, sebuah teriakan parau yang mengiris tenggorokan sobek dari dirinya, “Chae—Chaewoo… Chaewoo!”
Pria itu berada dalam kondisi memprihatinkan yang sama dengan dirinya, tertutup kotoran lengket dengan fitur wajahnya yang benar-benar tidak dikenali melalui kekacauan tersebut. Lutut Iyeon terasa goyah, namun ia memaksa kakinya yang gemetar untuk membawanya menghampiri pria itu.
Pertama, ia melepas talinya dan melilitkannya di sekeliling pinggang Chaewoo, lalu dengan hati-hati membalikkan tubuhnya. Begitu ia melihat kelopak matanya yang terkatup rapat, detak jantungnya yang panik seolah berhenti seketika. Hatinya mencelus ke dasar reruntuhan. Pria yang tidak sadarkan diri itu sangat diam mematung dengan darah yang mengalir dari luka di dahinya.
Iyeon menempelkan telinganya ke dada pria itu, berusaha semaksimal mungkin menjaga rahangnya yang gemetar agar tetap diam.
“Chae… Chaewoo? Bisakah kau mendengarku?” bisiknya, suaranya pecah.
Bahkan jika ia hanya berbicara pada dirinya sendiri, ia tidak tahan dengan kesunyian itu. Jemarinya yang meraba-raba menemukan leher Chaewoo, mencari denyut nadi samar yang masih bergetar di sana. Sebuah suara tercekat keluar darinya—setengah isakan, setengah desahan lega. “Kumohon, kumohon.”
Iyeon dengan lembut memiringkan kepala Chaewoo dan menggunakan tangannya untuk membersihkan lumpur yang menjejal di dalam mulutnya. Sentuhannya terasa sangat mendesak. Sambil memegang rahangnya kuat-kuat, ia memasukkan dua jari dan mengerok kotoran di dalam mulutnya. Ia tidak pernah peduli tentang menyelamatkan nyawa sebelumnya, namun pada saat itu, ia diliputi penyesalan pahit bahwa ia tidak tahu apa-apa selain cara menyelamatkan pepohonan.
Meskipun begitu, ia menggertakkan gigi, bertekad untuk tidak tumbang sampai ia melihat Chaewoo membuka matanya. Tepat saat itu, saat ia baru saja akan membuka ranselnya untuk mengambil handuk dan selimut, ia melihat kelopak mata pria itu bergetar.
“…!”
Iyeon menahan napas, matanya terpaku padanya. Rasanya seperti melihat sesuatu yang bergerak di kedalaman bawah danau yang membeku. Layaknya seorang anak kecil yang penasaran sekaligus terintimidasi, ia memperhatikan gerakan samarnya dengan teliti. Jantungnya berdebar kencang di telinganya, sebuah raungan memekakkan yang bergema di pelipisnya. Setelah apa yang terasa seperti keabadian, matanya akhirnya bisa bertemu dengan mata pria itu.
“…”
“…”
Melihat iris hazelnya yang bening, Iyeon menggigit bibirnya untuk meredam isak tangis. Ia ingin mengguncang pria itu, namun gelombang emosi melumpuhkan anggota tubuhnya. Ia sangat bersyukur, sangat menyesal, dan ia tidak sanggup bertemu tatapannya. Sebuah simpul rasa sakit mengencang di dadanya saat mengingat tindakannya yang tidak mementingkan diri sendiri. Ia tidak pernah ingin ditinggal sendirian lagi.
“Kurasa… kurasa aku mengerti sekarang,” bisik Iyeon, kata-kata itu meluncur keluar. “Mengapa kedua pohon yang kuikat bersama… akan tersenyum. Terkadang pilihan kita bisa terlihat melelahkan, bahkan tidak alami… namun kurasa mereka akan tetap ingin mempertahankan kehangatan itu, apa pun yang terjadi.”
Tepat saat itu, wajah Chaewoo meliuk menahan sakit. Matanya tidak fokus dan berkabut—sebuah tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dengan kelopak matanya yang hanya terbuka setengah, ia memiliki aura yang sepenuhnya berbeda. Iyeon berpikir mungkin lumpur di wajahnya yang membuatnya tampak begitu jauh.
Suaranya, sebuah parau kering yang tidak dikenali, membelah udara. “Siapa kau sebenarnya?”
“…!”
“Sial, apa-apaan ini—”
Setiap kata yang terputus-putus itu layaknya hantaman palu terhadap harapannya yang rapuh. Chaewoo mengumpat saat tatapannya menyapu lereng gunung yang hancur. Suaranya gersang, dilucuti dari kehangatan dan kasih sayang. Suara itu sekadar… dingin. Dan matanya tidak sekalipun tertuju pada Iyeon.
Tulang belakang Iyeon menjadi kaku. Meskipun mematung di tempat, ia terus menatap tajam pada Chaewoo, seolah-olah dengan kemauan yang murni ia bisa mengelupas topeng mengerikannya dan menemukan pria yang benar-benar ingin ia lihat—suaminya.
Kemudian, Chaewoo bangkit berdiri dengan terhuyung-huyung, memegangi bahunya. Ia melepaskan erangan kesakitan.
“…A-Apa kau terluka? Kau baik-baik saja?” tanya Iyeon. Namun begitu ia menyentuh tubuh pria itu, tangannya ditepis dengan kasar.
“Jangan sentuh aku.”
“…”
Meskipun mata Chaewoo berkabut, seolah-olah terjebak dalam kabut pengaruh obat, pikirannya sangat tajam. Ia menggeritkan gigi dan dengan kasar memasukkan kembali bahunya yang bergeser ke tempatnya. Ia melakukannya dengan sikap acuh tak acuh yang meresahkan, seolah-olah itu bukan yang pertama kalinya. Pemandangan itu membuat Iyeon tersentak mundur.
Kemudian, Chaewoo menundukkan kepala, mengambil napas pendek dan tajam saat ia menelan rasa sakitnya. Otot-otot di rahangnya yang mengatup rapat tetap tegang.
Iyeon memperhatikan, terpaku, menahan napas, ketika tiba-tiba, pria itu menyambar lengannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa kau, dan mengapa aku ada di sini seperti ini?”
“…”
Iyeon tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun saat pria itu melihat sekeliling, kebingungannya berperang dengan agresivitasnya. Iyeon merasa seolah hatinya hancur berkeping-keping menjadi jutaan kepingan. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah mengepalkan tinjunya.
Ia dihadapkan pada sebuah kemungkinan yang tidak ingin ia pertimbangkan. Kedua mata Chaewoo yang diselimuti kabut itu jauh lebih menakutkan daripada banjir yang telah menelan hutan tersebut. Mereka menghancurkan dunia Iyeon, mengguncangnya hingga ke fondasi terdalamnya.
“Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan?” Chaewoo menginterogasinya lagi.
“…”
“Siapa *kau*?”
Kepanikan murni memutus sirkuit otak Iyeon. Ia tersentak dan, tanpa berpikir, menampar kepala Chaewoo.
Setelah dipukul, wajah Chaewoo mengeras menjadi topeng es saat ia melotot padanya. Sebuah tawa kejam yang hampa dari rasa humor keluar darinya saat ia memelintir pergelangan tangan Iyeon, tekanannya terasa tajam dan disengaja.
“Jadi kau mau mati?”
“T-Tidak, tidak, aku tidak bermaksud—”
Suaranya merendah menjadi geraman rendah. “Apa-apaan yang kau lakukan?”
Dihadapkan dengan kilatan membunuh di matanya, kata-kata Iyeon meluncur keluar, tidak masuk akal dan putus asa. “Pingsan saja… pingsan saja lagi.”
“Apa?”
“Ini… ini tidak benar. Ada yang salah… Ini tidak mungkin terjadi…!” Pikirannya, seperti dunia di sekelilingnya, runtuh menjadi reruntuhan.
Iyeon menahan jeritan sunyi. “Tidak, ini tidak mungkin… tidak…”
Saat ia berputar-putar dalam penyangkalan, tenggelam dalam kengerian dari semua itu, ia nyaris tidak menyadari adanya pergeseran di sampingnya.
Gelombang pusing menyerang Chaewoo, dan ia menekan tangannya ke dahi. “Apa-apaan—?”
Pupil matanya seolah masuk kembali ke dalam kepalanya, menghilang sesaat sebelum kembali ke tempatnya—sebuah tanda menakutkan bahwa ia akan kehilangan kesadaran. Ia merengut dengan lonjakan kekesalan dan menggelengkan kepalanya dalam penentangan yang tidak berguna. Tubuhnya hanya terasa semakin berat.
“…Jangan katakan apa-apa. Kumohon, tidur saja dan bangunlah lagi. Itulah satu-satunya cara. Kau bukan dirimu sendiri sekarang, Chaewoo. Ini… ini bukan dirimu. Tidak mungkin… Tidak sekarang, tidak seperti ini…”
Iyeon menggigiti kukunya, rasa lumpur yang berpasir membanjiri mulutnya.
Dengan wajah pucat pasi, Chaewoo menatap menembusnya, matanya tertuju pada wanita yang menggumam tiada henti pada dirinya sendiri itu. “Kau…”
Tepat saat cahaya yang tidak alami mulai berkedip di tatapannya yang berkabut, tangan kecil wanita itu menutupi penglihatannya. Telapak tangannya terasa sangat lembut pada kulitnya. Jauh di suatu tempat di pikirannya, aliran listrik dimatikan, dan seluruh kekuatan lenyap dari tubuhnya. Chaewoo, yang selama ini berjuang mati-matian untuk tetap terjaga, merasakan sisa-sisa kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan. Sebelum ia bisa melawan, lututnya lemas.
Iyeon terhuyung maju, menangkapnya saat ia roboh. Mengambil kesempatan itu, ia menepuk kepala pria itu dengan ringan. “Kumohon… Kita akan bertemu lagi, namun tidak seperti ini. Kembalilah padaku. Kembalilah sebagai suamiku.”
Matanya bergeser dengan gugup dalam rasa takut.
✦ ❖ ✦
Turnamen kedua ditangguhkan karena tanah longsor. Untungnya, tidak ada korban jiwa. Sementara pejabat-pejabat berwajah pucat bergegas di sekitar lokasi, Iyeon hanya bisa menatap terperangah saat Chaewoo dimasukkan ke dalam ambulans.
“Nona, apa Anda ikut naik?” tanya seorang paramedis, sambil menahan pintu belakang ambulans agar tetap terbuka untuknya.
Tubuh Iyeon menolak untuk bergerak. Ia berdiri terpaku di tempat, tertutup lumpur dari kepala hingga kaki.
Paramedis itu melepaskan pintu dan mengambil langkah mendekat. “Nona? Anda tidak apa-apa?”
“…”
Di mana letak kesalahannya?
Suara Chaewoo bergema di pikirannya, dingin dan tajam.
“Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan? Siapa kau?”
Pertanyaan itu telah menggoreskan luka yang dalam. Setiap kali kata-katanya—kata-kata dari seorang asing—terputar ulang di kepala Iyeon, jantungnya memalu tulang rusuknya, dan ujung jarinya menjadi mati rasa.
*Apa yang terjadi sekarang? Apa yang harus kulakukan…?*
Tatapannya yang dingin dan tidak berperasaan melemparnya dari tepi tebing tanpa pikir panjang. Setelah dihantam oleh gambaran yang sama tentang ketidakpeduliannya yang membeku, ide untuk mengikutinya ke dalam ambulans itu membuatnya takut.
Apakah ia sudah terlalu lama tenggelam dalam kasih sayangnya yang buta? Kejutan itu terasa seperti seember air es, membuatnya patah hati dan benar-benar bingung.
“Nona!”
“Ah, ya!” Tersadar kembali ke kenyataan, Iyeon menghindari tatapan curiga sang paramedis dan bergegas naik ke dalam kendaraan.
Ia seharusnya menjadi istri Chaewoo. Ia bahkan belum siap sedikit pun, namun ia belum melihatnya lagi. Ia perlu memeriksa pria yang sangat ia dambakan untuk ditemukan di dalam kegelapan yang menyesakkan tersebut.
“Chaewoo… kumohon, kembalilah padaku.”
Pintu ambulans tertutup, mengurungnya di dalam bersama rasa takutnya.
✦ ❖ ✦
“Tidak ada masalah besar. Luka-lukanya sudah dijahit, dan dia akan segera sadar kembali,” ucap dokter tersebut.
“…Terima kasih,” jawab Iyeon.
Begitu dokter tersebut keluar dengan anggukan kecil, kaki Iyeon lemas, dan ia merosot ke lantai.
Segera setelah mereka tiba di rumah sakit, Chaewoo sudah dipindahkan ke tempat tidur darurat. Selagi ia dirawat, Iyeon mandi di suite VIP. Setelah membuang pakaiannya yang penuh lumpur dengan gaun pasien yang steril, ia keluar dan mendapati Chaewoo terbaring di hadapannya, sangat diam mematung layaknya sebuah lukisan.
“…”
*Bagaimana jika aku mendekat dan dia menindihku ke tempat tidur seperti sebelumnya?*
Iyeon mundur ke sofa, jauh dari tempat tidur, dan memeras air dari rambutnya dengan handuk. Tetap saja, ia tidak bisa menghentikan matanya untuk melirik ke arahnya. Berbeda dengan sebelumnya, saat wajahnya tidak dikenali dalam tanah yang gelap, setiap fitur wajahnya kini milik Chaewoo Kwon yang ia kenal.
Ia mengambil satu langkah hati-hati mendekat, lalu mundur lagi, mondar-mandir di ruangan steril tersebut selama apa yang terasa seperti berjam-jam. Tiba-tiba, selimut tipis itu berdesir saat Chaewoo bergerak.
“…!”
Iyeon mematung. Ia melihat mata pria itu bergerak di balik kelopak matanya yang terpejam. Mereka berada di kamar rumah sakit, aman dan bersih, namun ia merasa seolah rawa yang dingin sedang naik ke pinggangnya—rasa ngeri melumpuhkan yang sama yang ia rasakan saat tanah longsor.
Iyeon menahan napasnya yang tersengal, dan ia melihat Chaewoo membuka matanya.
“…”
“…”
Ia mengerjap dua kali, tatapannya menajam saat ia segera melihat Iyeon berdiri dengan canggung di kaki tempat tidur. Buku jari wanita itu memutih saat ia mencengkeram bingkai tempat tidur.
Karena suatu alasan, ia memperhatikannya dalam diam. Matanya bergerak perlahan, memindai tubuhnya dari kepala hingga kaki sebelum kembali ke wajahnya, tertahan pada goresan-goresan kecil di sana.
Ia menelan ludah dengan susah payah. Kesunyian itu terasa menyesakkan.
“Ke sinilah.” Chaewoolah yang memecah keheningan tersebut, suaranya berupa perintah serak yang rendah.
Namun Iyeon tidak bisa bergerak. Ia hanya memperhatikannya dengan mata waspada.
Melihat rasa takut di tatapannya, pria itu menyipitkan matanya. “Mengapa kau berdiri begitu jauh? Kau menatapku seolah aku ini orang asing.”
“…”
Kakinya tetap menapak keras di lantai.
“Iyeon.”
Namun begitu ia mendengarnya mengucapkan namanya, diucapkan dengan begitu lembut, begitu membujuk, sebuah isakan pecah dari bibirnya. Ia membenamkan wajah di tangannya.
Ekspresi Chaewoo mengeras. Ia mendorong dirinya keluar dari tempat tidur dengan seringai menahan sakit yang hilang secepat kemunculannya. Ia melangkah melintasi lantai dengan kaki telanjang.
“Iyeon.”
Wanita itu menggigit bibirnya. Chaewoo tidak tahu betapa ia sangat mendambakan mendengar pria itu menyebut namanya dengan kelembutan seperti itu.
“Ini benar-benar… ini benar-benar kau, kan? Chaewoo. Kau adalah… suamiku, kan?” Iyeon menurunkan tangannya, matanya dengan rakus menyerap kasih sayang yang terkumpul di mata pria itu. Pandangannya kabur saat air mata baru menggenang dan jatuh, namun ia tidak pernah memalingkan muka. “Kaulah orang yang pandai menangkap babi hutan, dan bertarung, dan menggunakan pisau, kan?”
Alis Chaewoo terangkat sedikit, namun Iyeon tidak menyadarinya.
“K-Kau yang membawakan kotak makan siangku, dan merangkai bunga, dan… dan minum nektar dari bunga bersamaku… itu kau, kan?”
“Siapa lagi memangnya?” balasnya, suaranya berubah tajam saat ia mengernyitkan dahi. “Apa kau minum nektar bunga dengan bajingan lain?”
“…Apa? T-Tidak?”
“Lalu mengapa kau bicara seolah aku ini hanya salah satu dari banyak pria yang pernah kau temui? Ini membuatku gila.” Rasa cemburu yang kental dan menyesakkan memenuhi matanya, yang hanya menatap wanita itu seorang.
“Tapi…”
*Kaulah yang menatapku layaknya seorang asing…* pikirnya, meskipun ia tidak sanggup mengatakannya keras-keras.
Menelan ingatan buruk tersebut layaknya obat pahit, Iyeon berkata, “Aku sangat ketakutan aku mungkin akan kehilanganmu, Chaewoo.” Ia mengangkat tangan dan mengusap matanya dengan kasar.
Ia sudah kehilangan pria itu berkali-kali hari ini—saat pria itu mendorongnya ke dalam gua, saat ia tersapu arus, dan bahkan saat ia mendengar nada bicara yang asing keluar dari bibirnya… Segalanya terlalu berat untuk ia tanggung.
Chaewoo si pembunuh bukan lagi Chaewoo yang *sebenarnya*. Pria di depannya ini, yang dengan lembut memegangi lengannya dan mengusap pipinya yang berbekas air mata—hanyalah dialah satu-satunya pria itu sekarang.
“Aku sangat takut aku akan kehilanganmu. Aku benar-benar… kupikir semuanya sudah berakhir.” Ia berpegangan pada lengan baju pria itu, jangkarnya di tengah badai. “Jika aku memintamu untuk tidak meninggalkanku lagi, tidak peduli seberapa berbahaya atau mendesak situasinya, apa kau akan menyebutku naif? Namun aku tetap ingin mengatakannya. Aku ingin kau membawaku bersamamu, ke mana pun kau pergi… Bisakah kau melakukan itu untukku?”
“…”
Otot di rahang Chaewoo berkedut. Ia merasakan sengatan rasa bersalah saat melihat Iyeon gemetar karena hawa dingin dan rasa takut. Ia menyapu wanita itu ke dalam dekapannya, memeluknya erat. Ia mengerutkan hidung dan menariknya lebih dekat, bertekad untuk membagi setiap jengkal kehangatannya.
“Iyeon.”
“Jawab aku. Maukah kau membawaku bersamamu?”
“Aku akan melakukan hal yang sama persis jika hal itu terjadi lagi,” pengakuannya.
“…!”
Iyeon menggeliat di pelukannya, namun pria itu memeluknya lebih erat. Ia menekan bagian belakang kepala wanita itu kuat-kuat ke dadanya dan bergumam, “Maafkan aku. Namun kaulah satu-satunya orang di dunia ini yang ingin kuselamatkan.”
Iyeon terisak, megap-megap mencari napas. Sebuah tangan hangat mulai menepuk punggungnya dalam irama yang lembut dan menenangkan.
“Itu adalah janji yang tidak bisa kubuat.”
“…Chaewoo. Chaewoo.” Isakannya semakin keras saat ia membenamkan dirinya lebih dalam ke dalam dekapan pria itu. “Kalau begitu lepaskan pakaianmu dan peluk aku.”
Seketika, tangan yang tadi dengan lembut menepuk punggungnya pun berhenti, dan napas yang menyapu ubun-ubun kepalanya pun terhenti.
Mata Iyeon melirik ke samping, memperhatikan getaran halus di tenggorokan Chaewoo. Kesunyian mencekam membentang di antara mereka. Lidahnya menyapu bibir keringnya dengan cemas sementara Iyeon menahan napas, menunggu sebuah jawaban.
“Iyeon. Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?” tanyanya tiba-tiba.
“…”
Bisa jadi itu hanya imajinasinya, namun sepertinya pria itu sengaja mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia bahkan melepaskan dekapannya, memberi jarak yang cukup jauh di antara mereka.
“Bukankah di sini sakit?” Ia menjangkau ke arah perutnya, namun tangannya mengepal di udara. Ia jelas-jelas masih terganggu oleh ingatan saat ia mendorongnya ke dalam gua ketika ia menendang ranselnya.
“…Aku tidak apa-apa.”
Iyeon menatap lurus ke arahnya. Kedua permintaan yang ia buat—setelah mengumpulkan setiap sisa keberaniannya—telah ditolak mentah-mentah tanpa pikir panjang. Semburat panas di pipinya adalah satu hal, namun kini ia mulai merasakan adanya percikan perlawanan aneh yang bergejolak di dalam dirinya.
*Ini tidak boleh, itu tidak boleh? Baiklah, kalau begitu—*
“Jangan ambil pekerjaan itu,” ucapnya pelan namun dengan nada yang jelas tidak tergoyahkan.
Chaewoo memiringkan kepalanya, menggaruk ujung alisnya, sedikit terpana oleh perilakunya yang tidak terduga. “Tidakkah kau ingin suamimu menghasilkan uang?”
“Kau terus saja terluka setiap kali pergi ke pegunungan itu. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.”
“Seharusnya akulah yang mengatakan itu,” balasnya, tatapannya jatuh tidak setuju pada gaun rumah sakit yang wanita itu kenakan.
“Kau tidak perlu menghasilkan apa pun. Aku mungkin bukan ahli pohon yang terkenal di dunia, namun aku berjanji padamu, Chaewoo, aku tidak akan membiarkanmu kelaparan.” Matanya, yang penuh keyakinan, berkilauan layaknya embun pagi.
Chaewoo tidak sanggup menghadapi ketulusannya yang murni. Ia menjadi gelisah, mondar-mandir layaknya pria dalam pelarian. Ia memalingkan kepalanya, menyisir rambutnya dengan gusar menggunakan tangan, lalu menautkan jemarinya di atas kepala untuk menatap langit-langit. Kemudian ia memejamkan matanya rapat-rapat dan menggumamkan sesuatu yang tidak bisa Iyeon dengar; dari tempatnya berdiri, bibir pria itu hanya bergetar.
“…Iyeon. Jangan buat aku jadi pria yang tak berguna.” Setelah meredam kegelisahannya, ia membuka mata, tatapannya sangat fokus. “Bukan berarti kita akan hidup selama satu atau dua tahun saja. Kita harus berpikir lebih jauh ke depan.”
Iyeon menundukkan kepala dan dengan ringan menarik lengan bajunya. “Bagaimana jika… aku mengamuk?”
“Mengamuk?”
“Bagaimana jika aku memohon—benar-benar, dengan tulus memohon padamu—untuk tetap di rumah saja? Bagaimana jika kubilang kau tidak perlu bekerja?”
“…”
“Apa kau masih akan pergi?” Tatapannya bergetar saat ia menengadah padanya. “Mungkin aku seharusnya mengungkapkannya dengan cara yang berbeda, namun ini keempat kalinya aku meminta.”
Chaewoo memperhatikannya dengan ekspresi aneh yang tidak terbaca saat wanita itu mencengkeram lengan bajunya, jemarinya memelintir kain tersebut. Itu serupa dengan caranya saat pertama kali takut padanya, namun sepenuhnya berbeda. Iyeon masih merasa ketakutan, namun bukan karena dirinya. Ia tidak mencoba untuk menjauh, melainkan ia sedang mati-matian merapat padanya.
Chaewoo menyadari inilah saatnya—akhir dari penantian yang panjang dan menyakitkan. Kesadaran itu menghantamnya layaknya sebuah percikan. Dalam sekejap, ia membiarkannya menyulut, membakar seluruh dirinya.
“Apa kau sedang mengomeliku sekarang?” tanyanya, sambil menyempitkan matanya saat ia mengabaikan rasa nyeri yang berdenyut di tubuhnya. “Karena aku adalah suami yang tidak mau mendengarkan istrinya?”
Ia nyaris tidak bisa menyembunyikan ketidaksabarannya yang mentah, tidak mampu menyembunyikan senyum kejam yang bermain di bibirnya. “Apa untungnya bagiku jika aku tetap di rumah sepanjang hari? Apa kau bersedia memuaskanku habis-habisan agar aku tetap terhibur?”
“…Hah?”
“Aku penasaran, Iyeon. Seberapa hebat kau bisa memuaskanku?” Nadanya terdengar terlepas seolah-olah ia tiba-tiba sedang mewawancarainya.
Bahu Iyeon menjadi kaku. *Ini… ini bukan seperti yang seharusnya!* Ia mengerjap cepat, pikirannya berpacu.
“Harus ada semacam insentif bagiku untuk tetap tinggal di rumah dengan tenang. Tubuh ini adalah satu-satunya yang kumiliki, jadi beginilah caraku bernegosiasi. Aku mungkin akan segera berburu binatang liar. Jika kau ingin mengikat suami yang bertenaga sepertiku, kaulah yang harus menyuguhkan pertunjukan ekstra.”
“…A-Apa, bagaimana… berapa kali kau ingin melakukannya?”
“Jumlahnya tidak ada artinya. Siang dan malam… *akulah* yang akan memutuskan kapan kita selesai.”
“…Chaewoo, ada alasan mengapa orang hanya bekerja lima hari seminggu. Lebih dari itu adalah… berlebihan—”
“Kaulah yang ingin aku dikunci tanpa seberkas sinar matahari pun. Mengapa kau begitu ragu?”
“…”
“Aku akan mengambil keputusan *setelah* aku melihat apa yang bisa kau tawarkan.”
Iyeon begitu benar-benar terperangah hingga ia tidak bisa menemukan suaranya. *Aku tidak pernah bilang apa-apa soal menguncimu?!*
Chaewoo secara aneh telah memutarbalikkan apa yang, paling banter, merupakan permohonan kekanak-kanakan. Iyeon secara insting melirik ke arah pintu.
Sebuah suara rendah segera memotong udara, sebuah peringatan yang jelas. “Jika ada bagian tubuhmu yang sakit, kau harus mengatakannya padaku sekarang.” Pertanyaan yang sama yang ia gunakan untuk menangkisnya tadi kembali lagi, namun kali ini, rasanya sepenuhnya berbeda.
Chaewoo melangkah ke arah pintu geser, menggeser kuncinya ke tempatnya, dan berbalik. Memperhatikan langkah santainya, jantung Iyeon memalu tulang rusuknya.
Ia duduk di tepi tempat tidur dan menepuk pahanya. “Naiklah ke atasku.”
Sambil melepaskan gaun rumah sakitnya, ia menatap wanita itu. Mungkin itu karena perban besar di bahunya, namun otot-otot perutnya di bawahnya tampak semakin tegas.
Semburat merah merayap di lehernya, dan setelah ragu sejenak, ia mulai berjalan mendekatinya.
“Sejak saat kau memohon sebuah pelukan dan membuatku bergairah—” Saat wanita itu duduk di pangkuannya, tangannya mencengkeram pinggulnya, menariknya rapat menempel padanya. Ereksinya yang keras menghunjam selangkangannya. “—aku sudah seperti ini.”
Dari dekat, tatapan mereka saling mengunci.
“Sudah kubilang kau terlihat lebih cantik saat kau berantakan.”
Ibu jarinya menekan pipinya dengan kuat, mengusap luka-luka kecil yang ia dapatkan dari kerikil. Iyeon meringis, namun pria itu bahkan tidak bergeming.
“Aku menahan diri. Aku pikir jika aku meminta hubungan intim di kamar rumah sakit, kau akan menciut dan mundur,” Chaewoo memulai pembicaraannya.
“…”
“Namun kau memutuskan untuk mengamuk.” Sudut mulutnya melengkung menjadi senyuman predator.
Dengan tangan gemetar, Iyeon menangkup wajahnya dan menariknya mendekat. Tepat sebelum bibir mereka bertemu, ia melihat pupil mata pria itu melebar karena terkejut.
Pada sentuhan bibirnya yang penuh gairah, pria itu terdiam sepenuhnya, dan setiap pertahanannya langsung runtuh. Napas hangatnya merekah di antara bibir mereka. Iyeon dengan lembut mengisap bibir bawahnya, meniru ciuman biasa pria itu.
Chaewoo bergidik, responsnya seketika. Napas tersengal keluar darinya, dan lengannya mengencang menyakitkan di sekeliling pinggang wanita itu.
Ia secara ragu-ragu menelusuri lidahnya di atas bibir yang selalu ia anggap sangat sensual tersebut, menggodanya sesuka hatinya. Ciumannya terasa sangat lambat, sangat disengaja—berjarak satu alam semesta dari serangan rakus Chaewoo yang biasa, saat pria itu akan merapatkan mulutnya ke mulut Iyeon seakan ingin memuaskan rasa haus yang putus asa.
Meskipun begitu, tengkuk lehernya memanas, dan kehangatan yang berat mengumpul jauh di dalam perutnya, semuanya karena erangan rendah yang bergemuruh di dada pria itu saat ia melayang di atas bibirnya. Setiap kali ia menekan dan mengisap, tubuh pria itu tersentak seolah tersambar sengatan listrik. Saat ia memisahkan bibirnya dan menyelipkan lidahnya ke dalam, panas membara yang selama ini ia tahan pun meledak. Lidahnya melesat keluar untuk menangkap lidah Iyeon.
“…!”
Iyeon merasakan napas panas di atas kulitnya saat pria itu melepaskan erangan panjang yang serak, dan godaan lembut itu tersulut menjadi api yang putus asa dan menggoda.
“Mmph… Hah…”
Punggungnya melengkung secara insting saat ciuman yang lapar dan posesif itu mengancam untuk melahapnya seutuhnya. Tangan Chaewoo mencengkeram pantatnya yang lembut, menggilas kejantanannya pada wanita itu. Setiap kali bibir mereka bertemu dan berpisah, suara basah yang sugestif memecah keheningan.
“Hnn…”
Pria itu melahap lidahnya, mendorong dan mengisap. Bulu kuduk meremang di kulitnya saat lidahnya yang membara menyapu lapisan lembut pipinya.
Iyeon mencoba dengan canggung untuk menyamai iramanya, namun pria itu menjadi semakin liar semakin ia mencoba. Mulutnya menjalar turun ke telinganya, mengambil cupingnya lalu kulit luarnya yang halus di antara giginya, mengisapnya dengan lembut.
Iyeon bergidik. Ia meletakkan tangan di bahu pria itu untuk mendorongnya menjauh, namun perban itu terasa kaku di bawah telapak tangannya. Saat ia menarik tangannya kembali, Chaewoo bergerak lebih rendah untuk menggigit lehernya, membuat erangan tajam keluar dari bibirnya.
Setiap kali ia membelai kulit lembutnya, sebuah denyutan berat yang tumpul terasa di antara kedua kakinya. Akhirnya, saat ia mulai menggeliat, tangan panas pria itu menyelinap ke bawah kemejanya. Dan begitu saja, ia terpaku.
“Mana bra-mu?” tuntutnya, matanya yang merah menusuk matanya.
“Yah… aku tidak punya baju ganti, jadi aku hanya…”
“Tidak ada apa pun di bawah sana juga?”
“…Iya.” Iyeon menundukkan pandangannya.
Iyeon melihatnya mengatupkan rahang. Sebelum ia bisa mengatakan apa pun lagi, tangannya mengatup pada payudaranya, meremasnya layaknya pria yang kelaparan. Jemarinya meremas daging lembut bagian atas payudaranya, menyerang lehernya dengan rasa lapar yang baru dan rakus.
Ia menarik diri sejenak, matanya demam, dan meraih kelim kemejanya. Iyeon patuh, mengangkat lengannya. Payudaranya yang pucat dan montok pun terlihat.
“Ha… Sial…”
Benar-benar tersihir oleh pemandangan itu, Chaewoo mengunci putingnya yang sudah mengeras dan melahapnya. Lidahnya melilit puncak yang membengkak secara indah tersebut dan menekannya dengan kuat.
“Ahh… Mmm…”
Saat lidah Chaewoo meluncur di seluruh areolanya, menggoda puting yang mengeras itu tanpa henti, jari-jari kaki Iyeon meringkuk tanpa sadar, dan sebuah erangan parau yang teredam lolos dari bibirnya. Setiap kali pria itu menggigiti dan mempermainkan kuncup kecil tersebut, puncaknya menjadi semakin keras dan semakin tegang. Pria itu merasakan desiran gairah pada perubahan tersebut.
Chaewoo mengunci payudaranya, menyerah pada sensasi yang mengambil alih dirinya. Ia meremas seluruh beban daging wanita itu tanpa henti, melahap putingnya dengan suara basah yang rakus.
“Mmm, ah, ahhh…!”
“Naiklah ke wajahku.”
“…Hah, a-apa?” gagap Iyeon, pikirannya bagaikan kabut yang kabur saat ia megap-megap mencari napas.
*Naik k-ke mana?* Iyeon terengah.
“Tepat di sini.” Ia mengetuk bibirnya sendiri.
Chaewoo tetap berbaring telentang, tangannya menyambar pinggul wanita itu untuk menyeretnya maju. Cengkeramannya layaknya besi saat ia menarik tubuh ramping wanita itu ke atas pinggangnya, dadanya, lehernya.
“T-Tunggu sebentar! Mengapa—mengapa kau melakukan ini?” Iyeon menumpukan tangannya pada paha pria itu dalam upaya untuk melawan.
“Agar aku bisa mencicipimu dengan benar.”
“I-itu agak…!”
“Naiklah ke atasku, Iyeon.” Ia memerintahnya dengan mata yang sekeras baja, nadanya tidak memberikan ruang untuk berdebat.
Kewalahan oleh intensitas murninya, Iyeon ragu-ragu. Chaewoo mengambil momen itu untuk menyambar bagian pinggang celananya yang longgar dan menyentakkannya ke bawah. Ia layaknya seekor anjing liar yang menenggelamkan giginya pada pakaiannya dan menggelengkan kepalanya dengan kekuatan yang buas. Sebelum Iyeon menyadarinya, ia sudah mengangkat pinggulnya untuk pria itu. Ia mencengkeram tepi tempat tidur rumah sakit, nyaris tidak berhasil menjaga keseimbangannya. Dalam sekejap, ia benar-benar telanjang bulat.
“Iyeon, kau sangat cantik.”
Lipatan kewanitaannya yang tertutup lembut disuguhkan pada tatapannya layaknya sebuah rahasia manis yang terlarang. Namun ia dengan keras kepala tetap merapatkan pahanya. Duduk di wajah seorang pria adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lakukan. Malahan, ia menahan dirinya dalam pose yang canggung, mencoba melayang di atas pria itu. Tulang-tulang panggulnya terlihat jelas, tendon-tendonnya tertarik kencang karena ketegangan.
Mata Chaewoo perlahan-lahan menggelap. Sekilas rasa kasihan—atau mungkin sesuatu yang lebih kejam—lintas di pikirannya untuk Iyeon, yang tidak menyadari betapa mesumnya penampilannya dalam pose tersebut. Ia menahan senyum yang sangat sensual. Sebuah aroma musky yang memabukkan tercium dari antara kedua kakinya, membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Akhirnya, kesabarannya habis, dan ia menggunakan kekuatannya untuk memaksanya turun.
“Ahh…!”
Chaewoo membenamkan hidungnya di bagian pribadinya, giginya menggores otot lembut paha bagian dalamnya. Kemudian ia menolehkan kepalanya untuk mengusapkan bibirnya pada dagingnya yang paling rahasia. Ia memisahkan lipatan lembut itu dengan lidahnya, menyelidiki dan menyapu setiap sudut yang tersembunyi.
“Haa…” Pinggang rampingnya bergetar tak terkendali.
Chaewoo, sekali lagi, memosisikan hidungnya di antara kaki wanita itu yang terbuka dan melingkarkan lengannya kuat-kuat di paha montoknya. Rahangnya bekerja seolah-olah ia sedang menangkup sebuah mangkuk lebar, minum dengan rakus darinya. Rambut kemaluannya bergesekan dengan pangkal hidungnya, namun sensasi geli itu justru semakin meningkatkan gairahnya. Lidahnya yang merah cerah masuk melewati bibir luarnya untuk menjilati pintu masuk yang bergetar. Ketika ia akhirnya menemukan mutiara tersembunyinya, ia menyentilnya dengan ujung lidahnya, membuat Iyeon tidak mampu menghentikan pinggulnya untuk bergerak naik turun melawannya.
“Hah, ahh… ahh…!”
Tubuh Iyeon gemetar dan meronta. Bagian bawahnya seolah haus akan kehadirannya. Lidah Chaewoo menjarah lipatan licinnya berulang-ulang hingga ia memasukkan mutiara itu utuh ke dalam mulutnya. Ia mengisapnya, membelainya dengan lidah, dan berulang kali menggigiti tonjolan sensitif itu dengan bibirnya.
“Ch-Chaewoo…! Mmmph…!” Lengan Iyeon yang bertumpu pada tempat tidur, bergetar hebat.
Chaewoo meremas daging pucat nan lembut dari pantat wanita itu layaknya adonan yang hangat dan lentur sementara jemarinya mempermainkan pintu masuk di bawahnya. Ia kemudian mencengkeram paha wanita itu begitu kencang hingga tulang-tulang buku jarinya menonjol. Semakin wanita itu menggeliat untuk meloloskan diri, semakin ia menggilas dirinya sendiri pada mulut yang sedang melahapnya tersebut.
“Ahh…! Mm, ah, ahhh…!”
Jakunnya bergerak saat ia menelan, mengonsumsi wanita itu layaknya buah yang matang. Ia mendorong ujung lidahnya ke dalam saluran yang licin tersebut dan menyapunya dengan lembut. Sebuah getaran hebat merobek tulang belakang Iyeon.
“Hah…”
Ia menggigit daging vulvanya lagi, menusukkan lidahnya jauh ke dalam, dan mengisap layaknya orang gila pada setiap titik yang membuatnya tersentak. Suara rakus dan basah yang memenuhi udara membuat semburat panas merayap di leher Iyeon, telinganya terbakar.
“Haa… Oh, mm…”
Tepat saat itu, Chaewoo mengangkatnya dalam satu gerakan tunggal yang mulus, membalik posisi mereka dalam sekejap. Ia berada di atas wanita itu dan menunduk, merengut saat ia menarik turun celana dan pakaian dalamnya. Penisnya yang merona sedang meneteskan cairan pra-ejakulasi, berkedut hebat ke arahnya.
“Aku diberitahu bahwa bunga adalah organ reproduksi tanaman, Iyeon,” Chaewoo memulai pembicaraannya dengan penuh makna.
“…Iya… benar sekali,” jawab Iyeon patuh.
“Kalau begitu, aku tidak butuh bunga lainnya.” Ia mencengkeram kaki wanita itu, membukanya lebar-lebar, dan dengan lembut membelai pintu masuknya.
Segera, ujung tumpulnya yang tebal menekan wanita itu. Dan kemudian, dengan suara becek yang basah, ia menghujam ke dalam sekaligus.
“Ahh…!”
“Hmph…”
Erangan mereka bergabung menjadi satu saat seberkas kenikmatan murni dan penuh kebahagiaan menyambar melalui tubuh mereka. Pinggul Iyeon tersentak dengan denyutan yang dalam dan tumpul, namun sensasi itu mereda di bawah tangan lembut yang membelai sisinya.
“Kontrasepsi, Chaewoo, kita harus menggunakan kontrasepsi…!” Iyeon segera menyambar lengan pria itu.
“Kenapa? Apa aku tidak cukup baik untuk menjadi seorang ayah?”
Chaewoo mengusap klitorisnya, dan napas wanita itu tertahan lagi. Iyeon secara insting bergerak naik turun melawan pria itu.
“Itu… ohh…”
“Mengapa kau tidak menjawabku? Seberapa banyak pun kau memprotes, akulah yang akan menjadi ayah dari anakmu. Itu adalah satu hal yang tidak akan berubah.”
Iyeon tidak dalam kondisi untuk menjawabnya. Chaewoo memberinya seringai miring dan menarik keluar kejantanannya sepenuhnya dari wanita itu. Sensasi batangnya yang panjang dan licin yang meluncur bebas membuat bulu kuduk di lengan Iyeon berdiri.
Tanpa peringatan, Chaewoo mencetuskan, “Maafkan aku.”
Namun tatapan predator di matanya tidak membuatnya tampak *menyesal* sama sekali. Ia segera menghempaskan dirinya ke atas lagi dengan hujaman yang brutal dan menghukum.
“Mmph…!”
Pinggul Chaewoo bergerak lebih cepat, menghujam lebih keras ke dalam dirinya. Jari-jari kaki Iyeon meringkuk pada setiap hujaman yang tak kenal lelah. Dentuman dan penarikan kembali itu meninggalkan tubuhnya panas dan lemas layaknya besi cair.
“Aku tidak berniat menyerah pada apa pun,” Chaewoo memperingatkannya.
“Oh, ahh…!”
Bagian dalamnya terbakar seiring pikirannya menjadi kosong. Yang bisa ia lihat hanyalah Chaewoo di atasnya. Setiap gerakan terasa seperti mimpi buruk yang hidup. Ia menjulurkan tangan yang gemetar, jemarinya meraba-raba saat menelusuri garis-garis wajah pria itu.
“Hnn… Ini… Ini benar-benar kau, kan? Chaewoo? Ngh…”
Chaewoo memiringkan kepalanya, mengusapkan pipinya pada telapak tangan wanita itu.
“K-Kau sudah kembali… Ini benar-benar kau…”
Chaewoo merengut mendengar suaranya yang lesu, namun ia menyukai tatapan penuh kasih sayang yang putus asa di matanya. Ia memutuskan untuk mengusapkan wajahnya pada telapak tangan mungilnya sekali lagi.
“Lagi… kumohon, Chaewoo… Hnn…”
“…!”
“A-Aku tidak akan keluar duluan, seperti t-terakhir kali… janji. Jadi tolong… tetaplah bersamaku, sampai titik terakhir…”
Fasad lembut Chaewoo menghilang begitu saja saat ia muncul. Matanya berubah intens dan tajam. “Jangan bicara,” geramnya, suaranya merendah secara berbahaya. Fitur wajahnya meliuk saat ia menggeritkan gigi. “Teruskan saja, dan aku akan ingin keluar di mulutmu.”
“…!”
“Berhenti bicara.”
Ia mulai menghujam ke dalam dirinya dengan ceroboh, gerakannya jelas-jelas tidak sabar. Saat Iyeon menggigit bibirnya untuk meredam erangan, Chaewoo menguasai mulutnya dalam sebuah ciuman. Tangisannya pun tertelan. Setelah melahap setiap erangannya, kepala penisnya pun kembali sekeras besi.
“Apa kau lebih suka saat aku menarik diri, Iyeon?” Chaewoo memutus ciumannya untuk bertanya, sambil mengamatinya.
“Ahh…”
Ia menarik diri sepenuhnya sebelum menghantam kembali ke dalam dirinya dengan tepukan yang mantap. Iyeon mengejang pada sensasi nyata dari dentuman dan penarikan terhadap dinding dalamnya tersebut. Chaewoo kemudian menghunjam masuk seutuhnya. Setiap kali, penisnya menghujam dengan kuat seolah-olah mencoba menembus lurus melewatinya. Setiap gerakan terasa seperti sebuah serangan fatal. Ia secara tidak sadar mencakar perutnya sendiri, pinggulnya meronta.
“Hnngh, ungh, haah…!” Suara-suara sugestif terus-menerus lolos dari bibirnya.
Chaewoo menyelipkan jari-jarinya ke dalam mulutnya, menekan lidahnya. Suara-suara itu mati di tenggorokannya, pecah menjadi gasapan yang tersedak.
Matanya menatap ke arahnya dengan tatapan basah dan memohon. Pemandangan itu membuatnya ingin segera keluar, namun di saat yang sama, sebuah dorongan kejam dan sadis untuk menyiksanya sedikit lebih lama lagi bergejolak di perutnya.
“Hnngh, ungh…!“
Irama hujamannya bertambah cepat. Ia menyukai cara paha kerasnya menampar daging wanita itu setiap kali ia memacu dalam. Erangan Iyeon berubah menjadi sangat manis, dan segera saja, sebuah semprotan panas cairan memancar dari dalam dirinya.
Chaewoo menjilat bibirnya yang kering, lidahnya melesat keluar untuk mencicipi keringat yang mengumpul di lembah antara payudaranya.
“Hmph… Aku tidak tahu mengapa kau bersikeras memancingku.”
“Aah, mm…”
“Mengapa kau ingin membuatku semakin bergairah?”
Dengan itu, ia mengangkat tubuh Iyeon dan membaliknya. Ia mengangkat pinggul wanita itu saat ia berbaring telentang dan menghujam ke dalam dirinya lagi dengan kekuatan kasar.
Iyeon tidak punya waktu untuk merasa canggung dengan posisi primitif tersebut. “Haa…!”
Hujaman yang berat dan menghimpit itu semakin dalam dan semakin kuat. Kenikmatan liar menyerbu seluruh tubuh Iyeon. Ketika kejantanannya memacu jauh ke tempat-tempat yang belum pernah dijangkau sebelumnya, ia hampir saja terisak.
“Ahh, mm, ahhh…!”
Chaewoo mengatur sudut ujung penisnya, menghujam ke atas. Ia akan menggosoknya perlahan sejenak, hanya untuk menyeruduknya kembali sesuka hatinya. Suara daging mereka yang bertemu menggema di ruangan tersebut.
Rasa kesemutan yang membara menyambar perut bagian bawah Iyeon, dan secara insting ia membenamkan wajahnya di bantal. Tidak ada cara lain untuk menanggung kenikmatan yang luar biasa semacam itu. “Ah, oh, mm…!”
Tulang kemaluan Chaewoo menghantam keras pantatnya. Ia mencengkeram pinggul Iyeon, menariknya kembali dengan kasar di setiap hujaman ke atas. Otot perutnya menegang, dan rambutnya jatuh dalam kekacauan liar.
Dengan pantatnya yang ditarik rapat, Chaewoo terengah, “Iyeon… Iyeon. Apa aku melakukannya dengan benar?”
“Ahh, haa…!” Iyeon membenamkan wajahnya di bantal saat erangan yang tidak tertahankan sobek dari tenggorokannya.
Chaewoo tidak menarik diri. Ia malah menusukkan kejantanannya ke dalam dirinya, menikmati suara tamparan yang basah. Setelah itu, ia mencengkeram pinggulnya dan mengguncangkan pinggangnya, mengirimkan getaran dalam melalui dinding dalamnya.
Dengan setiap pergeseran intensitas, Iyeon berteriak, merasa seolah ia akan hancur. “Ah, ahh…”
Pandangannya perlahan mulai memudar. Sebuah orgasme yang tak terduga menyambarnya, dan tubuh bagian bawahnya mengejang. Guncangan dalam itu membuat Chaewoo menggeritkan giginya dan memeluknya erat-erat. Sebuah urat menonjol di dahinya saat ia tanpa henti memacu kejantanannya ke dalam kedalamannya yang terus-menerus mencengkeram. Tubuh mereka yang menyatu sudah lama menjadi licin oleh berbagai cairan.
“Haa, haa…”
Terhanyut dalam sisa-sisa orgasme, Iyeon tidak sempat mengatur napasnya sebelum pria itu mulai bergerak lagi. Kejantanannya mendorong melawannya, melanjutkan pekerjaannya yang brutal, dan ia merasa kewarasannya perlahan menghilang.
“Chaewoo… Chaewoo…!” ia memanggilnya.
Tiba-tiba, kejantanannya meluncur keluar, dan Iyeon merasakan sesuatu yang panas dan kental menyebar di punggungnya. Ia kini sudah tidak asing lagi dengan aroma tersebut.
Chaewoo menggumamkan sebuah umpatan lembut seraya ia menyeka punggung wanita itu dengan handuk, lalu, dalam sekejap, membalikkan tubuhnya kembali.
“…”
“…”
Tatapan mereka saling mengunci, dan keduanya tersipu merah hingga ke leher.
Wajah Chaewoo tampak jernih secara meresahkan untuk seorang pria yang baru saja mencapai klimaks. Ia terengah-engah, matanya terbakar dengan intensitas yang bisa dikira sebagai tatapan marah.
Iyeon, di sisi lain, benar-benar terpaku pada tubuhnya, matanya menelusuri garis-garis indah otot-ototnya, poninya yang berantakan, dan rasa lapar yang belum terpuaskan yang berkilau di matanya. Ia memperhatikan dada pria itu naik-turun dengan hebat, urat-urat menonjol di lengan bawahnya.
Aromanya, yang sempat hilang sesaat saat ia tidak menghadapnya, membanjiri indranya di setiap embusan napas. Wangi musky yang manis itu semakin kuat seiring mereka terus bercinta. Aromanya terasa sangat menyambut, sangat tepat, hingga seluruh tubuh Iyeon seolah meleleh.
Chaewoo tiba-tiba mendorong paha wanita itu ke atas dan membuka kakinya, menghujamkan kejantanannya kembali ke dalam dirinya. Penisnya tegak dan berkilau secara mustahil, tidak bisa dipercaya untuk seseorang yang baru saja berejakulasi. Tanpa ragu, ia mendorongnya masuk jauh ke dalam saluran yang basah dan panas yang telah ia kenal secara intim tersebut.
“Ohhh…!”
Iyeon tidak merasakan sakit, bahkan dengan penetrasi yang berulang kali. Tubuhnya mulai memanas lagi saat kepala kejantanan pria itu menghantam sebuah titik tepat jauh di dalam dirinya.
“Mmm! Haa…!” Pinggulnya meliuk, dan rahangnya jatuh.
Tepat saat sebuah teriakan akan sobek dari tenggorokannya, Chaewoo membungkuk untuk menutupi bibirnya dengan bibirnya sendiri. Lidah mereka bercampur. Tubuh bagian bawahnya bergerak dengan akurasi yang sempurna, menghantam area sensitif tersebut lagi dan lagi, dan kepala Iyeon terlempar ke belakang, sepenuhnya berada dalam kekuasaannya.
“Ohh, ahh….”
Ia mengangkat panggul wanita itu, memaksanya kembali ke posisi lengkungan yang berbahaya, namun pikiran Iyeon kembali menjadi kosong pada kekuatan kejantanan pria itu yang menghantam ke dalam dirinya dari atas. Karena posisinya, ia bisa melihat segalanya kali ini: cara pria itu memasukinya, rona merah dari kejantanannya yang berurat, kecepatan dan kekuatan gerakannya.
Matanya melirik pada dagingnya sendiri yang membengkak. Ia tadi terlalu dazed untuk memperhatikan detailnya, namun melihat mereka begitu jelas sekarang mengirimkan gelombang panas lainnya melaluinya. Ia hanya bisa takjub pada bagaimana tubuhnya menerima benda yang terlihat layaknya sebuah pasak tersebut tanpa ada masalah. Gerakan tubuh mereka yang mentah dan terang-terangan membuat Iyeon merasa bahwa ikatan mereka menjadi semakin kuat.
“Apa yang kau perhatikan dengan begitu intens?” Sebuah suara serak memotong kesadarannya yang berkabut. Matanya, berkilauan dengan hasrat, tertuju padanya, membara dan mengonsumsi, seolah ia ingin melahapnya seutuhnya.
Ketika Iyeon berpikir tubuhnya tidak mungkin bisa menjadi lebih panas lagi, satu tatapan darinya itu sudah cukup untuk membuatnya mengeluarkan cairan lagi.
“Apa kau sedang melihat penisku?” tanyanya.
“Ahh….”
Bagian yang paling memalukan dari ini adalah Chaewoo menyadari setiap bit perubahan di tubuhnya. Ia melepaskan tawa renyah sambil menghujam kedalamannya yang licin.
“Kau tahu, aku tadi sedang berpikir… sepertinya aku akan bahagia tinggal di ruang bawah tanah,” ucap Chaewoo tiba-tiba.
“Mmmm…!”
“Aku tidak butuh keluar mencari sinar matahari atau air—selama aku memilikimu. Aku akan menjadi tanaman rumah yang sangat mudah dipelihara. Namun aku mungkin akan layu jika tidak merasakan air yang keluar dari tepat di sini—” Chaewoo menjilat jarinya, lalu menekannya kuat-kuat pada klitorisnya, mengusap dalam lingkaran lambat. “Ah, ini rasanya sangat nikmat, Iyeon. Sangat nikmat.” Dengan matanya yang setengah terbuka, ia menghujamkan pinggulnya dalam irama yang liar dan berantakan.
Gelombang kenikmatan intens lainnya menyapu Iyeon. Ia mencoba mati-matian untuk mempertahankan kesadarannya, namun pandangannya mulai kabur—sebuah pertanda buruk. Ia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu.
Ia menolehkan kepalanya ke arah jendela. Saat hujamannya yang tiada henti terus berlanjut, ia mulai melepaskan jenis erangan yang berbeda, satu yang lahir bukan dari kenikmatan, melainkan dari kelelahan murni.
*Aku tidak sanggup menanggung ini lagi…*
“…Carilah pekerjaan,” akhirnya Iyeon mencetuskan.
Chaewoo mengangkat kepalanya. Ia baru saja mengisap payudaranya, matanya masih menyala dengan api yang tidak padam.
“Tidak apa-apa untuk keluar rumah…” tambahnya.
“Mengapa kau menyerah pada pendirianmu?” tanya Chaewoo.
*Aku mengatakannya karena aku kelelahan…*
Iyeon melirik ke arah tubuh bagian bawahnya yang mati rasa dan mencoba menjelaskan. “Hmph…! Pegunungan bisa berbahaya, namun kau menanganinya setiap saat… Kurasa aku hanya… t-terlalu khawatir.”
Dadanya naik-turun, menyebabkan putingnya yang keras bergesekan dengan bibir pria itu. Ia tersentak saat kejantanan pria itu di dalam dirinya seolah membengkak semakin besar. Iyeon, bagaimanapun juga, sudah terlalu terkuras untuk memprotes.
Segala jejak waktu santai hilang dari wajah Chaewoo. Ia memutuskan untuk memanjakan diri dalam kenikmatannya, mempercepat tempo hujamannya.
Banjir keringat, napasnya yang tersengal nyaris tidak terdengar seperti manusia. “Haa, haa.” Erangan rendahnya bergema di telinganya seiring kekuatan pukulannya menjadi semakin kuat dan kuat. Kejantanannya yang tak kenal lelah mendorong masuk ke dalam daging lembutnya dengan kekuatan yang mengerikan.
Pandangan Iyeon berkilat, seolah-olah percikan api beterbangan dari tubuhnya. Ia mencoba mengeraskan perut bagian bawahnya.
Tekanan mendadak itu mengirim Chaewoo melampaui batas secara tidak terduga. Ia menggumamkan sebuah umpatan, menarik keluar penisnya, dan menembakkan spermanya ke atas handuk. “Hmph…!”
Kemudian ia memasang wajah yang seolah-olah menyalahkan Iyeon. Raut wajahnya yang cemberut dan merajuk terasa sangat kekanak-kanakan sehingga ia melebarkan matanya.
Namun, Chaewoo tidak berhenti di situ. Ia memasukkan dua jari ke dalam lorong kewanitaannya, memutarnya seolah-olah ingin mengeluarkan cairan gairah darinya. Dinding dalamnya, yang sudah sangat sensitif, gemetar hebat. Gerakan itu berlanjut hingga Chaewoo berhenti untuk menyisir rambutnya yang berantakan dengan raut wajah puas. Namun sebelum Iyeon sempat bicara, ia menyambar pergelangan kakinya dan membuka lebar kakinya lagi.
Iyeon memejamkan matanya, merasakan kesadarannya perlahan menghilang. Kata-kata terakhir yang ia ucapkan adalah, “Kau harus mendapatkan pekerjaan itu…”
✦ ❖ ✦
Angin dingin mencium ujung hidung Iyeon.
Ia tersadar kembali ke kesadarannya, bibirnya terasa begitu kering seolah-olah ia baru saja terbangun di sebuah gurun. Ia mengernyit, mencoba membasahi tenggorokannya yang pecah-pecah seiring ia bergeser tidak nyaman. Cahaya fajar pertama menyaring melalui tirai tipis. Ia menatap kosong pada cahaya pucat tersebut, dan hatinya tiba-tiba tergerak oleh emosi yang tidak dapat dijelaskan.
“Kau sudah bangun?” sebuah suara rendah bertanya.
“Oh…”
Begitu mendengar suara Chaewoo, Iyeon akhirnya mengerti apa yang sedang ia rasakan. Itu adalah rasa lega—kepastian bahwa tanah di bawah kakinya akhirnya menjadi kokoh. Kesedihan yang sudah lama ia pendam berhamburan layaknya bayangan di depan fajar. Dan sebagai gantinya, akar-akar penakutnya sendiri dengan hati-hati mengelilingi ruang yang pria itu tempati, dengan gembira menggali lebih dalam.
“Jangan sampai kau merasa takut sekarang.”
Ingatan akan suara Chuja melintas di benaknya, dan air mata yang sudah lama ia tahan seolah akan melonjak. Ia segera menolehkan kepalanya, mencari Chaewoo. Dan pria itu, seolah menunggu reaksi yang tepat itu, menyelipkan lidahnya ke dalam mulutnya, memindahkan air dingin dari bibirnya ke bibir Iyeon.
Mata Iyeon melebar saat ia mengamati tatapan lesu pria itu. Naluri-nalurinya merasakan sesuatu, dan ia mencoba untuk melepaskan diri. Namun Chaewoo melingkarkan lengannya di sekelilingnya dari belakang, menjebaknya. Ia mulai mengusapkan kejantanannya yang panas membara pada pantatnya.
“…!”
Ia terpaku—pikirannya masih setengah tertidur. Chaewoo mendesis pelan seolah menenangkan hewan peliharaan yang kaget, mengelus rambutnya berulang-ulang.
“Tidak apa-apa.”
Ia mengisap cuping telinganya seiring ia mengangkat salah satu kakinya dari belakang.
“T-Tunggu…!”
Selagi ia gelagapan karena terkejut, pria itu menyejajarkan kepala kejantanannya dengan pintu masuknya dan mendorong masuk.
“Ahh…!” ia mengerang.
“Haaa…” Chaewoo membenamkan bibirnya di tengkuk lehernya, mengeluarkan erangan panjang yang lengket. Kehangatan dan rasa lega menyebar di seluruh tubuhnya seakan ia sedang melangkah masuk ke dalam bak mandi air panas.
Ia mencengkeram pahanya, jemarinya menusuk masuk, dan perlahan mulai menggerakkan pinggulnya.
“Kau tahu pantatmu itu cantik, Iyeon?”
“Ahhh…”
“Tidak ada satu bagian pun darimu yang tidak sempurna.”
“T-Tidak… T-Tunggu…!”
Ia memalingkan wajah wanita itu ke arahnya, menangkap bibirnya dalam sebuah ciuman yang menghancurkan. Ia mengangkat satu kakinya, membuat posisinya layaknya seekor anjing, dan secara brutal menghujamkan kejantanannya. Suara basah dari tubuh mereka yang bertabrakan memecah kesunyian fajar.
“Iyeon, Iyeon. Haa…”
Ia mendorong masuk ke dalam dirinya seutuhnya, lalu mundur dengan kelambatan yang menyiksa, memaksa erangan tak berdaya lainnya dari bibir wanita itu. Ia menghujani ciuman di belakang telinga dan di tengkuk lehernya. Ia menangkup payudaranya dari belakang, memutar-mutar putingnya di antara jemarinya. Ia menolak untuk berhenti, menyentakkan pinggulnya sambil mengisap cuping telinganya yang lembut berulang kali.
Di sepanjang semua hujamannya yang kuat, ia selalu menyisakan ujung kejantanannya di dalam dirinya. Gerakan-gerakan pendek dan menghukum tersebut membuatnya sesak napas.
“Ahh, ah!”
Tubuh mereka saling bertabrakan lagi dan lagi. Terlepas dari berapa kali pun mereka melakukannya, Chaewoo selalu sesemangat seolah itu adalah yang pertama kalinya baginya. Saat erangannya hampir berubah menjadi jeritan, pria itu sekali lagi mendorong dua jari ke dalam mulutnya.
Dazed, ia melilitkan lidahnya di sekeliling jari-jari pria itu dan mulai mengisapnya dengan antusias. Hujamannya menjadi terlihat lebih kasar sebagai responsnya. Ia mengerahkan seluruh berat tubuhnya ke dalam gerakan tersebut, memacu ke arah wanita itu tanpa henti dengan suara tamparan yang basah.
Ketika ia akhirnya menenggelamkan giginya pada jari-jari pria itu, sebuah tawa yang jernih dan cerah menggelitik telinganya.
“Ah… Selamat pagi, Iyeon.”
✦ ❖ ✦
“Aku sangat mengkhawatirkanmu!” suara itu menggelegar dari telepon.
Iyeon harus menjauhkan gagang telepon itu dari telinganya. Ia masih bisa mendengar isakan samar, namun dengan bijak memilih untuk mengabaikannya. Omelan tanpa henti itu baru berhenti setelah Chuja membuang ingusnya keras-keras.
“Yah, suamimu memang menelepon dan bilang kau sedang tidur. Dia juga bilang kau tidak terluka, selain beberapa goresan.”
“Oh…”
“Dia begitu tenang dan lembut, menyuruhku jangan khawatir.” Sejenak, suara Chuja melembut secara teatrikal, hanya untuk kembali tajam lagi. “Namun bocah tak berperasaan tertentu bahkan tidak repot-repot menelepon! Kupikir jari-jarimu patah atau apa!”
Matahari sudah tinggi di langit, dan Iyeon baru saja terbangun dalam kepanikan. Puluhan panggilan tak terjawab yang bergetar di ponselnya tidak sebanding dengan rasa ngeri yang nyata dari ruang kosong di sampingnya. Rasa ngeri yang dingin telah memakukannya di tempat. Jika Chaewoo tidak berjalan masuk ke kamar rumah sakit saat itu juga, ia mungkin akan tetap lumpuh oleh rasa takut sepanjang sisa sore itu.
Iyeon membiarkan bahunya yang kaku untuk rileks hanya setelah ia benar-benar yakin Chaewoo aman. Saat itulah dering teleponnya yang tak henti-hentinya akhirnya menembus pikirannya yang berkabut, dan ia menyadari ia harus mengangkatnya.
Iyeon melirik ke arah kantong belanja yang sedang dipegang Chaewoo dan berbicara ke telepon. “Aku akan segera sampai di sana,” ucapnya kepada Chuja. “Aku akan membantu persiapan upacara peringatan.”
“Astaga, jika keadaan memburuk, bisa-bisa itu jadi pemakamanmu. Tetaplah di rumah! Jangan cemaskan aku.”
“Tidak, aku akan ke sana. Biarkan aku membantu. Jangan lakukan sendirian.” Iyeon segera mengakhiri panggilan dan perlahan-lahan turun dari tempat tidur. Setiap gerakannya menimbulkan rasa nyeri di antara pahanya, namun rasa sakitnya tidaklah tak tertahankan.
“Dari mana saja kau?” tanyanya pada Chaewoo.
“Yah, kau tidak bisa pergi keluar seperti *itu*,” jawab Chaewoo.
Tatapannya menyapu gaun rumah sakit Iyeon yang tipis. Tatapan singkat yang melintas itu terasa seperti sebuah sentuhan fisik, sebuah belaian kurang ajar terhadap kulit telanjangnya.
Ia menyodorkan sebuah bra berwarna aprikot pucat dan celana dalam yang senada.
Iyeon menyambarnya, menyembunyikannya di balik punggungnya dalam sekejap. “Dari mana kau dapat uang untuk beli pakaian dalam?”
Ekspresi Chaewoo mengeras seolah-olah ia sedang menelan tawa pahit. “Aku bertemu dokter keluarga kita saat jalan keluar dan menyuruhnya membayarnya terlebih dahulu. Lantai bawah tanah di gedung ini punya semua yang mungkin kau butuhkan.”
“Tetap saja… kau seorang pasien, Chaewoo. Kau seharusnya bangunkan aku saja.”
Dalam sekejap mata, ia menutup jarak di antara mereka, lengannya melingkar di pinggang wanita itu dalam dekapan yang menyesakkan.
“Jangan pernah katakan sesuatu yang naif seperti itu.”
“…!”
Begitu napas panasnya menyentuh tengkuk lehernya, rasa nyeri jauh di antara kedua kakinya—gaung dari malam sebelumnya—berdenyut dengan kehidupannya sendiri. Respons tubuhnya sangat mengejutkan karena bereaksi secara naluriah terhadap segala hal tentang pria itu dan segala hal yang ia lakukan.
“Aku bisa melihat menembus gaun tipis itu dan menelusuri bentuk putingmu yang menekan kainnya… Apa aku harus membiarkan bajingan-bajingan lain menatap puting yang sudah kuhisap sepanjang malam?”
Semburat panas memenuhi wajah Iyeon, dan ia tidak bisa melakukan apa pun selain membenamkannya di dinding tegap dada pria itu.
“Aku tidak akan pernah, sekali-kali membiarkanmu pergi keluar tanpa pakaian dalam lagi. Suami macam apa yang akan membiarkan hal sembrono seperti itu terjadi?” gumamnya, suaranya berupa geraman rendah seraya tangannya mulai mengelus pinggang wanita itu.
“Ch-Chaewoo, kau benar-benar harus berbaring sebentar,” saran Iyeon, mencoba mengganti topik.
“Hanya jika kau berbaring bersamaku.”
Tidak ada yang berhasil. Iyeon mencoba meronta, namun pria itu mendusel di lehernya layaknya seekor anak anjing yang gigih, menyulut api di dalam dirinya.
“…A-aku harus mampir ke rumahku sebentar. Aku akan kembali sore ini,” ucap Iyeon.
“Aku tidak suka itu,” gumam Chaewoo, mempererat cengkeramannya pada pinggang wanita itu.
Iyeon ragu sejenak, lalu dengan lembut menepuk punggung pria itu. “Kau bukan terbuat dari baja, Chaewoo. Kau seorang manusia. Kau mungkin masih muda, namun hal ini akan berdampak saat kau menua nanti. Aku tahu masa pemulihan itu membosankan, namun kumohon, jangan mengabaikannya.”
“…”
“Dan bagi orang yang sedang terluka untuk… u-untuk melakukan semua i-itu… s-sepanjang malam…” ia mencoba melanjutkan, sedikit tergagap.
“Melakukan semua *apa*?” Chaewoo mendaratkan sebuah ciuman singkat dan kasar di lehernya.
“…Tadi itu bengkak, namun kau terus saja lanjut,” gumamnya, sedikit nada kebencian dalam suaranya.
“Bengkak? Apa kita sedang membicarakan bahuku, atau lubang kecilmu—?”
“Dua-duanya!” ia memekik, memukul punggung pria itu.
Chaewoo tidak bisa menahan tawa yang meledak layaknya semburan gelembung. Ia menyukai segala hal tentang Iyeon—rasa tanggung jawabnya yang mencegahnya menelantarkan pria koma, kenaifannya yang menyenangkan yang begitu mudah untuk digoda, dan pendekatannya yang canggung namun manis terhadap keintiman. Segala hal yang berhubungan dengannya sangatlah menyenangkan sehingga ia tidak pernah ingin melepaskannya dari dekapannya. Ingatan-ingatan yang telah hilang tidak lagi penting; apa pun yang telah ia lupakan, ia yakin ia telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
“Hanya orang dungu yang akan menarik keluar kejantanan hanya karena ada sesuatu yang sedikit bengkak.”
“…Chaewoo, ada sebuah konsep di dunia ini yang dinamakan *sopan santun*.”
Pria itu melepaskan dekapan erat mereka untuk menatap wanita itu. “Melakukannya setiap hari lebih penting bagiku daripada sopan santun,” ucapnya serius.
Wanita itu mengerjap, benar-benar terperangah.
Chaewoo mendekat, membawa wajahnya sejajar dengan wajah Iyeon. “Apa kau tidak menyukainya, Iyeon?” Matanya seolah berkilau dengan sinar matahari yang menyinarinya.
Sesaat, Iyeon lupa bagaimana cara bicara, terhanyut dalam bintik-bintik amber yang menyebar di matanya yang mengingatkannya pada serbuk sari bunga indah yang sangat ia cintai.
“…Aku t-tidak tidak suka, namun… itu sakit sesudahnya.”
“Apa itu karena aku tidak pandai melakukannya?” Alisnya seketika berkerut karena khawatir. “Tidak banyak yang kuketahui, tapi… apa aku hanya menghujammu layaknya binatang buas?”
Iyeon meraba-raba mencari jawaban namun tidak menemukannya.
Wajah pria itu jatuh, mengerut karena cemas. “Jika kau ingin sopan santun, aku akan mempelajarinya. Aku akan menidurimu lima kali bukannya sepuluh kali… aku akan menahan diri. Apa itu akan membuatnya lebih baik?” Ia memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya meliuk seolah-olah ia sedang memuntahkan sebuah umpatan.
“Bukan itu!” teriak Iyeon, wajahnya memanas. “Bukan kau, tapi…!”
“Bukan aku?”
“Hanya saja… milikmu itu sangat besar. Aku hanya berharap kau bisa sedikit lebih lembut…” suara Iyeon memudar.
“Kau tahu tidak? Kau tidak akan pergi ke mana pun hari ini.” Penderitaan di wajah Chaewoo sirna dalam sekejap, digantikan oleh tatapan predator. Ia tampak lapar lagi. “Jika kau pergi, aku juga akan keluar dari rumah sakit.”
✦ ❖ ✦
Pada akhirnya, setelah menggunakan suite VIP layaknya motel murah untuk sebuah cinta satu malam, Iyeon dan Chaewoo pun pulang.
Hari itu adalah peringatan kematian suami ketiga Chuja—yang merupakan kerabat jauh Iyeon. Dialah satu-satunya almarhum suami yang dibuatkan upacara peringatan oleh Chuja.
Saat mereka sampai di rumah, Iyeon melihat barisan batu-batu yang dicat diletakkan di bawah kakinya layaknya barisan semut. Ia membungkuk untuk mengambil beberapa—satu dihiasi dengan kumbang rusa, yang lainnya dengan kumbang penyelam—dan menyelipkannya ke dalam saku.
Bagi orang lain, barisan batu yang dicat itu mungkin terlihat seperti permainan anak-anak. Namun bagi Iyeon, itu adalah sebuah ekspresi keprihatinan mendalam yang tidak salah lagi. Pengaturan tersebut adalah cara Gyubaek untuk menunjukkan bahwa ia peduli.
*Bahkan anak kecil pun tidak takut menunjukkan perasaannya…*
“Ini benar-benar tidak benar.” Iyeon melayangkan tatapan tidak setuju pada pria yang mengikutinya. “Kau harus beristirahat, Chaewoo! Jika kau memaksakan diri, sesuatu yang buruk bisa terjadi!”
Ia membasahi bibirnya dengan cemas, tatapannya melirik pada luka di dahinya. Itu adalah luka ringan, namun bagi Iyeon yang menyaksikan sendiri keruntuhan mengerikannya secara langsung, luka tersebut terasa seperti retakan dalam kehidupan sehari-harinya.
Pertemuan singkat dan penuh kekerasan dengan pria dalam mimpi buruknya itu merupakan pukulan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Iyeon mengenakan rasa takutnya layaknya baju zirah. Pria yang mencoba membunuhnya itu bisa kembali sewaktu-waktu. Begitu rasa ngeri yang samar itu mengambil wujud nyata, pasir di dalam jam pasirnya mulai tertuang. Dan itu menjadi semakin cepat dan semakin cepat.
“Waktu di rumah sakit, kau bilang kau ingin aku membawamu ke mana pun aku pergi. Yah, begitulah perasaanku sekarang,” protes Chaewoo.
“Ini—”
“Jangan berani kau bilang *ini berbeda*.”
“Namun kau langsung menolaknya dan—!” balasnya, napasnya mulai tersengal.
Pria itu memotongnya, suaranya mendinginkan namun teguh. “Aku tidak punya pilihan.”
Napas Iyeon yang tersengal karena frustrasi pun terhenti.
“Karena aku merasa seakan-akan aku akan mati jika tidak melakukannya,” lanjut Chaewoo. “Menempatkanmu sebagai prioritas utama, Iyeon—itulah arti dirimu bagiku.” Ia merengut, sekilas kelelahan melintas di wajahnya seraya jemarinya mengatup mengelilingi tangan wanita itu, cengkeramannya sangat kencang. “Setiap saat, instingku meneriakiku untuk melindungimu, untuk mengikutimu. Ini mungkin terlihat egois, namun apa yang bisa kulakukan? Kau sudah menjadi pusat duniaku. Tidakkah kau bisa memahamiku sedikit saja?”
“…”
Ketika wanita itu tetap diam tak bergerak, bahu lebar Chaewoo merosot karena kekalahan. “Kusembah memang tidak mudah untuk memahami pria yang memberikan hubungan intim yang buruk padamu—”
“S-Saat kita masuk ke dalam, kau harus l-berbaring dan tidak melakukan apa-apa! Dimengerti?!” Iyeon segera menutup pembicaraan sebelum pria itu mulai bicara lagi.
Panas yang tertinggal di tangannya menyulut jalur yang langsung menuju ke hatinya. Terkejut oleh intensitasnya, Iyeon membanting pintu gerbang hingga terbuka dan praktis melarikan diri ke dalam.
Jika bukan karena goresan menyengat di wajahnya, ia akan mengira bahwa hari kemarin hanyalah sebuah mimpi buruk. Berita lokal terus-menerus mendengung tentang tanah longsor yang masif, dan jip militer bergemuruh lewat membawa tentara untuk pencarian penyelamatan. Satu-satunya alasan ia bisa tetap tenang di tengah kekacauan tersebut adalah—
“Iyeon, tunggu sebentar!”
—karena, melawan segala rintangan, ia telah mendapatkan kembali apa yang ia pikir telah hilang selamanya.
✦ ❖ ✦
Melangkah masuk ke dalam rumah, Iyeon disambut oleh meja peringatan yang sederhana namun sangat personal.
Secara tradisional, ada aturan mengenai jenis makanan yang harus ditata di atas meja peringatan, namun Chuja bukan tipe orang yang mengikuti tradisi. Meja miliknya selalu sarat dengan kenangan: kopi hambar favorit suaminya; dadar kimchi yang selalu ia gosongkan; semangkuk nasi yang kurang matang; dan sebuah buku puisi yang sudah usang. Dan puncaknya, senyuman dari seorang wanita yang dicintainya sepenuh hati saat penyakit menggerogoti tubuhnya, menjaga meja tersebut layaknya sebuah berkat.
“Nyonya Gye, aku sudah di sini.”
Setiap tahun pada hari ini, Iyeon mendapati ekspresi Chuja terasa istimewa. Wajah seorang wanita yang sangat menghargai kenangan pernikahan yang hanya berlangsung beberapa tahun saja sudah cukup untuk membuat Iyeon mempertanyakan segala hal yang ia pikir ia ketahui tentang cinta. Namun untuk pertama kalinya, saat ia menatap kedalaman tatapan Chuja, Iyeon merasa seolah ia sedang melihat sekilas masa depannya sendiri.
“Dasar bocah!” Chuja, yang tadinya merupakan gambaran kesedihan sunyi di depan meja peringatan, tiba-tiba berputar balik, matanya berkilat-kilat. Ia pasti sedang mengupas buah, karena pisau pengupas di tangannya berkilat di bawah cahaya. “Dasar tanaman merambat yang tidak berguna! Kau tidak akan tumbuh dengan benar bahkan jika aku menanammu terbalik!”
“Agh! Nyonya Gye!” Tangan Iyeon melambai ke atas seraya ia terburu-buru mundur, suasana melankolisnya menghilang layaknya kepulan asap.
“TV bilang tidak ada korban jiwa, namun *seseorang* tidak mau menjawab teleponnya, sesering apa pun aku menelepon! Aku tahu kematian tidak mengikuti jadwal, namun kukira kau sudah tidak sopan menyelak antrean di depanku. Aku hampir saja gila!”
“Maafkan aku, Nyonya Gye. Ada… keadaan yang tidak bisa kukatakan namun—”
“Jangan beri aku omong kosong itu! Kau pasti pikir aku baru lahir kemarin!”
“Aku benar-benar tidak bermaksud begitu!”
Selama sepersekian detik, terlihat seolah mata Chuja menggenang dengan air mata, namun momen itu begitu singkat sehingga mungkin hanyalah tipuan cahaya. Sebelum Iyeon menyadarinya, wanita itu sedang merangsek maju, hidungnya mengernyit, benar-benar melupakan pisau di tangannya.
Ngeri, Iyeon mengangkat lengannya untuk melindungi diri sendiri, namun Chaewoo dengan lancar melangkah di depan wanita itu dan berkata, “Untunglah aku bisa menggantikan posisimu.”
Ia dengan lembut berjalan di belakang Chuja, memegangi pergelangan tangannya untuk mengambil pisau dari genggamannya.
“…Tuan Kwon.” Seketika, amarah mencair dari wajah Chuja, digantikan oleh raut kepercayaan penuh. Ia menatap ke arah Chaewoo layaknya seorang pahlawan yang telah kembali.
“Apa kau sudah makan? Pria yang menyelamatkan Iyeon-ku sudah di sini, dan yang bisa kutawarkan hanyalah makanan untuk orang mati.”
“Tidak apa-apa, sungguh.” Senyumannya tampak sangat sempurna.
Chaewoo bertemu tatap dengan Iyeon seolah mereka sedang merencanakan sebuah pertemuan rahasia. Iyeonlah yang pertama kali memalingkan matanya. Sebuah percikan menyala di dadanya, tajam layaknya batu api yang menghantam baja.
*Dia mungkin bersikap layaknya menantu yang sungguh-sungguh sekarang, namun jika Anda tahu betapa ganasnya dia tadi menghujamku…* Iyeon segera memutus pemikirannya.
“Nyonya Gye, aku… aku akan mulai beres-beres!”
Sambil menggaruk lehernya yang merona, Iyeon melarikan diri ke dapur. Ia membuka jendela lebar-lebar untuk membuang aroma tebal dan berminyak serta menyingsingkan lengan bajunya. Ia baru saja akan mulai membersihkan wajan penggorengan yang terendam di wastafel saat sebuah suara tenang dan rendah menyelimutinya layaknya selimut berat.
“Iyeon.”
Ia ingat benar betapa parau dan kasarnya suara itu bisa berubah. Sebuah getaran halus menjalari dirinya.
“Apakah pamanmu itu orang yang penting bagimu?” tanyanya, mengungkit tentang mendiang suami Chuja sekaligus paman jauh Iyeon, yang sedang mereka berikan penghormatan.
“Oh…” Iyeon meletakkan sabut pembersihnya, matanya terpaku pada aliran air dari keran. “Jika bukan karena dia, aku benar-benar tidak punya tempat lain untuk dituju. Dia baru saja berkeluarga, di usianya yang sudah tua, namun ia tetap menampungku tanpa pikir panjang. Dan Nyonya Gye… dia selalu secantik dan sebaik dia yang sekarang.”
Tanpa sepatah kata pun, pria itu melingkarkan lengannya di sekelilingnya dari belakang. Iyeon merasakan kehangatan yang menenangkan memancar ke punggungnya.
“Aku sudah sangat banyak pulih di kota kecil ini.”
Chaewoo menyelimuti punggung rampingnya layaknya sebuah perisai, menyandarkan dagunya di ubun-ubun kepalanya. Iyeon sempat goyah sesaat di bawah berat tubuhnya, namun ditarik secara aman ke dalam kerangka tubuhnya yang tak tergoyahkan. Itu adalah kenyamanan yang menyesakkan.
“Kurasa dia adalah orang lain yang harus kuberi kesan yang baik,” simpul Chaewoo.
“Tapi… dia sudah meninggal dunia.”
“Itu tidak relevan. Aku perlu memilah-milah orang sebagai suamimu.”
“Memilah-milah orang? Bagaimana caranya?” tanya Iyeon, sambil mengambil wajan penggorengan.
“Dengan membuat daftar Hidup atau Mati.”
“…!”
Wajan penggorengan itu tergelincir dari tangannya.
*Daftar Hidup atau Mati? Apa itu ada hubungannya dengan menuliskan siapa yang pantas hidup dan siapa yang harus mati…?*
“Dalam kasus ini, sepertinya aku harus merasa berterima kasih padanya,” ucap Chaewoo dengan uapan malas.
Terperangah, Iyeon hanya bisa menatap pantulan dirinya sendiri yang terpana pada kaca jendela. Sejak ia terjerat dengan Chaewoo, ia sudah diseret melalui setiap puncak dan lembah emosi yang bisa dibayangkan—termasuk kebingungan total ini.
“Chaewoo… dengarkan. Aku tidak sepadan dengan itu.” Iyeon mencoba menenangkannya.
“Apa yang kau bicarakan?” Ia menegakkan posisi santainya, suaranya tiba-tiba berubah tajam.
Ancaman halus dalam nadanya membuat bahu Iyeon terkunci. “Maksudku kau tidak perlu sampai sejauh itu,” jawabnya.
“Aku tidak melihat bagaimana hal ini bisa dibilang ekstrem.”
“Uh…”
“Apakah tindakanku terlihat sedikit dramatis bagimu, Iyeon?”
*Kau sudah mengubah hidupku menjadi sebuah drama sejak saat pertama kita bertemu,* pikir Iyeon.
Namun ia hanya menggelengkan kepalanya. Ia mulai memahami lapisan-lapisan yang tersembunyi di balik tindakannya. Lagipula, dialah orang yang mencuci otaknya sejak awal. Ia harus bertanggung jawab atas bagiannya dalam drama tersebut.
“Bukan begitu. Hanya saja—aku mengkhawatirkanmu.” Melihat keheningannya yang tidak biasa, Iyeon memutuskan untuk terus bicara, untuk bersikap lebih jujur. “Orang tuaku meninggal di hari yang sama, dalam sebuah kecelakaan. Atau setidaknya, itulah yang diberitahukan kepadaku. Aku tidak tahu pasti apakah itu memang sebuah kecelakaan.”
“…”
Chaewoo menahan napas, menyimak setiap kata-katanya. Ia sangat ingin memutar tubuh wanita itu untuk menghadapnya, namun ia merasa bahwa satu gerakan gegabah saja akan menghancurkan momen tersebut. Ia tetap diam mematung, hanya lengannya—yang tadinya layaknya perangkap baja di sekeliling wanita itu—yang mengendurkan cengkeramannya. Matanya masih terpaku pada pantulan wanita itu yang berkilauan di jendela.
“Aku tidak memiliki akar,” lanjut Iyeon. “Aku menghabiskan seluruh hidupku dengan percaya bahwa aku tidak memiliki tempat tujuan.”
“…”
“Namun aku akhirnya mulai menumbuhkan beberapa akar—” Iyeon berputar balik dan menatap lurus padanya. “Dan jika kau terluka, semuanya akan berakhir! Jadi kumohon, demi Tuhan, berhati-hatilah.”
Tatapannya yang membara menghantamnya layaknya pukulan fisik, menyesakkan dadanya sampai ia tidak bisa bicara. Sebuah sensasi gairah yang tak dapat dijelaskan menyambarnya, menyulut saraf-sarafnya. Pada saat itu, ia merasa ia bisa melihat kerentanan rahasia yang telah wanita itu sangkal sepanjang hidupnya, yang tersembunyi tepat di balik cangkang kerasnya.
“Iyeon.” Ia menariknya ke dalam sebuah pelukan menyerah, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. “Aku mengerti maksudmu. Namun—” Chaewoo mengeluarkan erangan rendah yang menyakitkan dan memejamkan matanya. “Hanya karena orang tuamu mati bersama bukan berarti kau harus melakukan hal yang sama.”
“…!”
Iyeon mematung, merasa seolah ia telah dihantam di bagian belakang kepala. Sesuatu yang tertanam jauh di hatinya retak saat suara Chaewoo menyebar di dalam dirinya layaknya api liar, menerangi sudut-sudut tergelap pikirannya.
“Itu bukan jawaban bagi kita.” Ia perlahan mengelus bagian belakang kepala wanita itu. “Jangan pernah kau mencoba untuk mengikuti jalan mereka.”
“…!”
Iyeon merasa tersedak emosi. Ia segera menundukkan kepalanya. Chaewoo sedang menunjukkan satu hal yang selama ini selalu ia benci namun secara diam-diam ia dambakan di saat yang sama.
“Jika aku memintamu untuk tidak meninggalkanku lagi, tidak peduli seberapa berbahaya atau mendesak situasinya, apa kau akan menyebutku naif? Namun aku tetap ingin mengatakannya. Aku ingin kau membawaku bersamamu, ke mana pun kau pergi… Bisakah kau melakukan itu untukku?”
Sementara itu, Chaewoo sedang berjuang untuk meredam senyum predator yang gelap seiring ia mengingat kembali permohonan putus asa Iyeon. Ia tahu pria-pria yang membayang di sekelilingnya akan mengeluarkan air liur melihat kecemasan wanita itu yang pelik. Pikiran tentang Iyeon yang kesepian yang menempel padanya layaknya bayangan mengirimkan rasa panas posesif yang melilit rendah di perutnya.
*Alasan yang lebih kuat mengapa ia harus hidup dalam cahaya—di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh orang tuanya yang sudah mati.*
Chaewoo ingin menjadi satu-satunya orang yang memiliki kekuatan untuk menggoyahkan Iyeon.
“Kaulah satu hal yang penting.” Ia mempererat dekapannya di sekeliling wanita itu, berbisik lagi, “Di mataku, Iyeon So adalah hal yang paling indah dan luar biasa di dunia ini. Iyeon So menyelamatkan pepohonan, dan dia menyelamatkanku. Dia adalah orang yang paling seksi dan paling hebat di dunia.”
Itu adalah kata-kata konyol dan tidak masuk akal, namun mereka membawa air mata ke mata Iyeon. Meskipun mustahil untuk bisa merapat lebih dekat lagi, ia menekan dirinya ke dalam dekapan pria itu, mencoba untuk masuk ke dalam jiwanya yang terdalam. Chaewoo menanggapinya dengan tawa kecil yang menenangkan.
✦ ❖ ✦
“Kau terlihat lelah, namun kulitmu halus dan bercahaya,” komentar Chuja, sambil menatap intens pada Iyeon yang duduk tenang di depan meja peringatan.
“Hah?” Iyeon mengusapkan tangan ke pipinya.
“Aku sudah tahu.” Mata Chuja menyipit penuh tahu. “Kau sudah menjadi seorang wanita.”
“…!”
Seringai licik menyebar di bibir Chuja. Wajah Iyeon memerah meledak. Ia membuka dan menutup mulutnya, terdiam tak bisa berkata-kata, sebelum akhirnya memalingkan wajah dengan canggung.
Sambil terkikik, Chuja menepuk punggung tangan Iyeon, ekspresi jenakanya melunak menjadi ekspresi kasih sayang yang murni. Iyeon tidak butuh kata-kata untuk memahami apa yang sedang wanita itu rasakan. Mata mereka bertemu, dan sebuah percakapan sunyi yang panik terjadi di antara mereka.
Mata Chuja berbinar. *Jadi, apa dia hebat di ranjang?*
*Nyonya Gye!* Iyeon memohon dalam diam.
*Sepertinya kau tidak hanya menyambung dahan pohon lagi. Setiap malam dengan batang kayunya yang besar itu—*
*Berhenti!*
Keduanya memalingkan kepala mereka secara serentak—Chuja untuk meredam tawa, Iyeon karena rona di wajahnya membuatnya pening.
Segera, tatapan Chuja jatuh pada secangkir kopi yang mengepul, dan ekspresinya perlahan-lahan mengeras. “…Apa yang masih menyayat hatiku hingga ke tulang,” ia memulai pembicaraannya, suaranya rendah, “adalah bahwa aku memaksa seorang pria yang ingin berpulang di rumah ke dalam ranjang rumah sakit. Seorang pria yang mencintai bunga-bunganya, yang mengira hiasan atap rumahnya adalah hal terindah di dunia… keegoisanku sendirilah yang menjauhkannya dari rumahnya. Itulah satu hal yang akan kubawa sampai ke liang lahat.”
Suami Chuja, yang meninggal karena kanker hati, adalah seorang yang romantis sampai akhir, membacakan puisi untuk Chuja setiap malam. Ia telah menyatakan cintanya melalui seribu ayat yang berbeda, namun di saat terakhirnya, ia tidak bisa mengatakan apa pun sama sekali.
“Iyeon, aku bertanya-tanya bagaimana kabar orang itu sekarang.”
“…Siapa?”
“Orang yang membayar biaya rumah sakit pamanmu.”
“Ah…!” Tiba-tiba, sebuah gambaran tentang CD musik klasik yang ia simpan tersembunyi di bagian paling bawah lacinya melintas di benak Iyeon.
“Sungguh, jika bukan karena dia, aku tidak tahu apa yang akan kita lakukan… Aku bertanya-tanya apakah dia pernah menemukan putranya,” gumam Chuja, suaranya lembut karena rasa khawatir dan syukur.
✦ ❖ ✦
Lima belas tahun yang lalu, lingkungan tempat Iyeon dan Chuja tinggal dilanda kekacauan. Gerombolan pria tidak dikenal dalam setelan jas hitam telah menyerbu masuk ke area pemukiman yang kumuh tersebut. Mereka menggeledah setiap jengkal desa pegunungan yang terpencil, menendang properti dan wastafel dengan sepatu pantofel mereka yang mengkilap.
Selama beberapa hari, kota yang biasanya tenang itu diliputi oleh keributan yang tidak diketahui. Iyeon sedang berada di rumah sendirian selama periode tersebut karena pamannya, setelah perjuangan panjang, akhirnya dirawat di rumah sakit, dan Chuja harus menemaninya untuk sementara waktu.
Suatu malam, Iyeon sedang sendirian di rumah seperti biasanya. Malam itu seharusnya sunyi senyap jika bukan karena suara garukan yang berasal dari pintu gerbang kayu.
“K-Kumohon… Kumohon, bantu aku. Tolong buka pintunya…!” panggil seseorang.
Iyeon yang sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumahnya di atas lantai kayu yang sudah usang pun mematung. Ternyata seorang wanita sedang menggaruk lemah di pintu gerbang, tidak mampu bahkan untuk memukulnya dengan kuat. Suara garukan panik itu membuat saraf Iyeon tegang.
“S-Seseorang sedang mengejarku. Kumohon, kumohon sembunyikan aku! Aku memohon padamu!” suara itu memohon lagi.
Iyeon menjatuhkan pensil yang dipegangnya dan bergegas mundur.
“Maafkan aku, namun aku akan di sini sebentar saja… Benar-benar, aku tidak akan lama… Kumohon…!” Akhirnya, wanita itu meledak dalam tangisan.
Iyeon teringat suasana tidak nyaman yang telah mencengkeram lingkungannya selama berhari-hari dan bertanya-tanya apakah wanita itu adalah orang yang sedang dicari oleh para pria misterius tersebut. Pikirannya secara alami beralih ke para tetua lingkungan yang marah yang mengumpat dan meludahi mereka. Namun dalam hal apa pun, Iyeon melihat dirinya sendiri dalam diri wanita yang gemetar itu, memanggil kembali ingatan akan pelariannya sendiri yang putus asa demi bertahan hidup. Saat pikirannya mencapai titik tersebut, ia memutuskan tidak ada alasan untuk ragu.
Iyeon mengenakan sandalnya dan bangkit berdiri. Ia berjalan ke pintu gerbang depan. Dengan bunyi klik yang tajam, ia membuka kunci gerbang dan membukanya.
Matanya bertemu dengan mata wanita tersebut, yang sedang mati-matian meredam tangisnya dengan tangan yang membekap mulutnya. Wajah wanita itu semakin meliuk saat ia menyadari pahlawannya adalah seorang gadis muda berseragam sekolah. Tangisannya pun semakin keras.
Mata wanita itu merah berurat darah, rambutnya berantakan. Daun-daun kering yang hancur menempel di pakaiannya, dan tangannya penuh kotoran, seolah-olah ia baru saja merangkak melewati pegunungan. Iyeon dengan cepat memindai sekeliling yang gelap dan menarik wanita itu masuk.
Wanita itu tinggal untuk waktu yang singkat. Iyeon tidak pernah mendengar kabar darinya lagi sampai di kemudian hari wanita itu mengiriminya sejumlah uang yang sangat besar. Waktu berlalu, dan Iyeon menjadi dewasa, pindah ke kota, dan terseret dalam keriuhan kehidupan kuliah. Kejadian tersebut surut ke sudut terjauh dalam ingatannya.
“Iya…” gumam Iyeon pelan, tatapannya terpaku pada meja peringatan. “Dia mungkin sedang baik-baik saja sekarang.”
Iyeon tahu ia kemungkinan tidak akan pernah tahu apakah wanita itu sudah berhasil bersatu kembali dengan anak kecilnya dengan selamat. Namun ia memilih untuk memercayai akhir yang bahagia.
“Aku yakin dia tinggal bersama putranya,” simpulnya penuh harapan.
✦ ❖ ✦
Setelah menyelesaikan ritual peringatan, Iyeon berbaring lesu di sofa. Tatapannya tertuju pada Chaewoo saat pria itu masuk dari halaman. Ia sedang memegang sebuah amplop cokelat besar.
“Chaewoo? Apa itu?”
Chaewoo dalam diam memperlihatkan bagian depan amplop itu agar ia bisa melihatnya. Iyeon mengangguk begitu ia melihat logo yang sebelumnya pernah ia lihat di jaket Dongmi.
Ia menerima amplop tersebut dan membukanya. Di dalamnya ada dua dokumen: Sebuah katalog kecil untuk pusat penyelamatan dan sebuah formulir perkenalan diri. Dongmi juga melampirkan sebuah catatan kuning dengan gambar wajah menangis di atasnya.
Chaewoo duduk di samping Iyeon, mengusapkan pipinya pada pipi wanita itu. Napas hangatnya menggelitik kulitnya, namun ia tidak punya waktu untuk fokus padanya. Ruang kosong yang tak terhitung jumlahnya pada dokumen tersebut menekannya layaknya beban berton-ton.
Sesuai dugaan, Chaewoo melirik sekilas pada formulir tersebut dan berkata dengan penuh percaya, “Aku tidak tahu apa-apa selain nama dan hari ulang tahunku. Kaulah yang harus mengisi sisanya, Iyeon.”
“…Kau bilang kau sudah mengurus kartu tanda pengenal baru, kan?”
“Iya.”
“B-Bisakah aku melihatnya sebentar?” pinta Iyeon, berpura-pura merapikan meja dengan gerakan yang berlebihan.
Chaewoo segera kembali membawa tanda pengenalnya dan menyerahkannya padanya tanpa setitik pun kecurigaan. Sambil menyembunyikan ujung jarinya yang gemetar, tatapan Iyeon langsung terpaku pada foto tanda pengenalnya, yang baru pertama kali ia lihat.
*Kapan foto ini diambil?*
Versi Chaewoo yang tidak ia kenal balas menatapnya. Cahaya lembut yang biasanya melunakkan mata garangnya telah hilang. Yang ia lihat hanyalah wajah yang dingin dan tegas dengan tatapan yang seolah menusuk tepat melaluinya.
“…”
Ia menelan gumpalan di tenggorokannya, tidak mampu mengalihkan pandangannya dari wajah yang tak kenal ampun tersebut.
*Dan hari ulang tahunnya adalah…*
Iyeon menggigit bagian dalam bibirnya saat tatapannya beralih ke nomor registrasi penduduknya. Yang membuatnya ngeri, ia menyadari hari ulang tahun Chaewoo adalah hari yang sama saat ia menyaksikan pria itu mengubur mayat di pegunungan. Itu adalah hari yang mengubah hidupnya.
Hawa dingin menjalar di tulang belakang Iyeon. Ia merasakan keringat dingin pecah dan menancapkan kukunya ke sudut kartu tanda pengenal tersebut. *Ini pasti perbuatan Giseok.* Apakah ini sebuah peringatan halus, ataukah ia hanya sedang mengejekku?
“Iyeon, apa latar belakang pendidikanku?” suara rendah Chaewoo menyentaknya kembali ke kenyataan.
Sekali lagi, ini adalah awal dari permainan lama yang sama, sebuah putaran yang tidak bisa Iyeon hindari. Ia menarik cuping telinganya dan mengerjap cepat. Untuk sesaat, ia merasakan dorongan putus asa untuk mengakui segalanya.
*Chaewoo mungkin akan memahamiku sekarang. Dia mungkin akan memaafkanku karena telah berbohong jika aku menceritakan semuanya padanya. Memang benar segalanya rumit, namun kita berdua bisa menyelesaikannya bersama entah bagaimana caranya.*
“…”
Namun ekspresi Iyeon menggelap.
*Chaewoo, kau sedang melakukan sesuatu yang mengerikan. Kau mencoba membunuhku. Aku terpaksa berbohong.*
Ia memikirkan semua informasi yang perlu ia bagikan dengannya dan merasa takut bahwa kata-kata tersebut akan menghancurkan perdamaian rapuh yang telah ia perjuangkan dengan susah payah untuk didapatkan kembali. Lebih buruk lagi, kenangan akan tatapan membunuhnya yang dingin saat pria itu melupakannya sepenuhnya masih merupakan sebuah serpihan es yang tertancap di hatinya. Iyeon memejamkan mata rapat-rapat dan memilih untuk mengubur kebenaran itu sekali lagi.
*Aku akan meneruskan kebohongan ini sedikit lebih lama lagi. Sedikit lagi saja…*
Semakin dalam ia jatuh cinta padanya, semakin dilema ini akan menyudutkannya. Namun, Iyeon tahu ia akan membuat pilihan yang sama setiap kalinya. Pengecut yang ketakutan itu sekali lagi memutuskan untuk mengabaikan karma yang menantinya.
Ketika tidak ada jawaban, Chaewoo menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan mendesah. “Kurasa catatan akademikku tidak banyak yang bisa dilihat ya?”
“Oh, itu…”
“Katakan padaku setidaknya aku lulus SMA.”
Iyeon melirik kolom pendidikan pada dokumen tersebut, bibirnya terbuka dan tertutup sejenak sebelum ia memilih kebohongan yang paling sederhana. “Kau lulus. Kau… lulus ujian kesetaraan sekolah menengah atas.”
Pria itu menatapnya, tanpa berkedip, sebelum rahangnya mengatup rapat. “Katakan setidaknya aku tidak dikeluarkan.” Sekilas wajahnya memperlihatkan keputusasaan yang nyata.
“Apakah itu *begitu* penting bagimu? Sampai-sampai kau memasang wajah seperti itu?” Iyeon benar-benar terkejut.
“Iya. Karena aku sangat ingin membuatmu terkesan di setiap detiknya.” Ia memejamkan mata dan menekan pelipisnya kuat-kuat, urat-urat di punggung tangannya menonjol. “Apa yang sebenarnya kau lihat dalam diriku sampai-sampai kau ingin…?” pertanyaannya memudar menjadi sebuah desahan.
Sebelum ia bisa menghentikan dirinya sendiri, Iyeon mencetuskan, “Wajahmu?”
Chaewoo melepaskan napas tajam dan tak percaya, lalu menaikkan sebelah alisnya. “Jadi kau bilang satu-satunya alasan kau memilih pria tanpa pendidikan, tanpa keterampilan, tanpa kepribadian, dan tanpa keluarga yang bisa dibicarakan… adalah karena *itu*?”
“Bukan hanya *itu*.” Tatapan Iyeon mantap, tak tergoyahkan. “Terkadang… *itu* adalah segalanya.”
Ekspresi Chaewoo adalah campuran aneh antara bingung dan prihatin, namun ia tidak bisa menghentikan seringai nakal yang perlahan menyebar di wajahnya.
“Yah, aku bisa mengisi kolom keterampilan khusus dan hobi itu sendiri,” ucapnya, mengganti topik.
“Oh? Apa saja itu?”
Ketika ia membulatkan matanya dalam rasa ingin tahu yang tulus, Chaewoo memiringkan kepalanya, seringainya melebar. “Keterampilan khusus: menghajar habis-habisan siapa pun yang mengganggu istriku. Hobi: membuntutinya layaknya seekor anak anjing yang hilang. Minat: Iyeon So. Hal yang tidak disukai: pepohonan, sesekali. Spesialisasi: pengabdianku yang tak tergoyahkan untuk menjadi keras untukmu. Kelemahan: menunjukkan sopan santun untuk menguranginya dari sepuluh ronde menjadi lima—”
“Tunggu, tunggu sebentar!” Iyeon bergegas memotongnya seiring kata-katanya meluncur satu per satu. Rona wajahnya telah memudar. “Kau tidak benar-benar akan menulis itu, kan?”
“Kau pikir aku berbohong?”
“Tidak, dan itulah yang membuatnya lebih buruk!” Iyeon memelototinya, wajahnya merona merah tua yang menawan.
Dihadapkan dengan amarahnya yang menggemaskan, Chaewoo tidak tahan lagi dan meledak dalam tawa. Ia mengulurkan tangan, menangkup pipinya yang menggembung, dan menariknya mendekat padanya. Ia menghirup aromanya layaknya udara itu sendiri sebelum mulutnya melahap mulut wanita itu.
“Ah…!” Kontak singkat itu mengirimkan sentakan melalui Iyeon, membuatnya merasa seolah sedang jatuh dari langit.
Itu adalah sebuah ciuman yang putus asa dan lapar. Chaewoo menghisap dan menggigiti bibir Iyeon, mencuri napasnya. Mereka menggesekkan hidung mereka bersama, sebuah belaian lembut, sebelum mereka sekali lagi hanyut dalam percampuran lidah yang gila.
Sebuah erangan tertahan lolos dari Iyeon. Layaknya orang gila, Chaewoo menciumnya lagi dan lagi, mulutnya panas dan menuntut. Lidahnya yang tadi menggoda lidah Iyeon, tiba-tiba menusuk maju, memperdalam ciuman tersebut seketika. Penjelajahan yang panas dan putus asa di lidahnya tidak menyisakan ruang untuk berpikir.
Pada saat yang tepat itu, mereka mendengar suara letusan keras. Bola lampu di langit-langit meledak.
Tersentak, Iyeon melirik ke atas, fokusnya hancur.
Chaewoo menarik diri sambil merengut dan bergumam, “Jika kau begitu menyukai wajahku, bagaimana mungkin kau bisa teralihkan?”
Melihat ekspresi Chaewoo yang menggelegar, Iyeon menunjuk ke arah langit-langit, mencoba menjelaskan. “I-Itu sebuah lampu LED. Tidak seharusnya tiba-tiba meledak…”
“Apakah itu penting sekarang?” geram Chaewoo.
Sambil kembali merengut, ia dengan kejam menghantamkan bibirnya ke bibir Iyeon lagi. Terdesak oleh kekuatannya yang gigih, Iyeon jatuh bersandar pada sofa. Gerakan tersebut membawa bola lampu yang retak, yang tampak siap hancur sepenuhnya, ke dalam garis pandang langsungnya.
*Itu terlihat sangat berisiko…!*
Ketika matanya tetap terpaku pada langit-langit, Chaewoo akhirnya melepaskan desahan jengkel dan mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
“…Aku akan mengurusmu nanti. Tunggu saja,” ia memperingatkannya.
✦ ❖ ✦
Beberapa saat kemudian, bel pintu berbunyi. Saat Chaewoo membuka pintu, seorang teknisi dengan topi bisbol biru tua dan rompi melangkah masuk. Chaewoo menatapnya, dan teknisi tersebut—Beomhee Jang yang sedang menyamar—membalas tatapannya.
Iyeon membimbing pria pembawa kotak peralatan itu ke ruang tamu. “Seperti yang saya katakan di telepon, saya tidak tahu mengapa lampu itu meledak,” ia menjelaskan.
“Saya akan memeriksanya.”
Teknisi itu membuka tangga lipat yang ia bawa di bawah lengannya.
Iyeon tidak asing dengan perusahaan perbaikan tersebut. Itu adalah perusahaan yang sama yang telah mengganti semua bola lampu lantai bawah dengan LED dua tahun lalu saat ia memperluas rumahnya.
Mundur ke dapur agar tidak menghalangi, Iyeon melirik ke arah pria di atas tangga yang sedang memeriksa dudukan lampu yang mati tersebut. Mulutnya terkatup rapat dalam garis lurus, dan ia terus melirikkan matanya ke arah titik yang sama sekali tidak berhubungan.
Iyeon mengikuti jalur tatapannya dan melihat Chaewoo sedang melayangkan tatapan mematikan padanya. Ekspresinya begitu penuh ancaman hingga membuat Iyeon tersentak; ketegangan yang menyesakkan di ruangan tersebut menjadi hampir terasa nyata.
“…”
“…”
Teknisi tersebut, yang jelas-jelas merasa tidak nyaman oleh permusuhan yang terang-terangan itu, sepertinya tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Meskipun begitu, ia tidak sekadar menghindari tatapan Chaewoo, seperti yang akan dilakukan orang lain. Malahan, ia mencoba balas menatap dengan tatapan penuh makna miliknya sendiri sebelum akhirnya memalingkan wajah. Pertempuran kemauan yang sunyi dan bermuatan di antara kedua pria tersebut terus berlanjut.
Merasa khawatir pada si teknisi, Iyeon bergegas menghampiri dan menyambar lengan Chaewoo, mencoba menariknya menjauh. Ia tidak bergeming pada awalnya, namun ketika ia melihat wanita itu mengejan dengan geraman frustrasi, ia akhirnya sudi bergerak.
“Chaewoo, ada apa?” bisik Iyeon.
Chaewoo hanya mengatupkan rahangnya dan menggelengkan kepala, menolak memberinya jawaban langsung. Cara poninya bergoyang dan menetap seiring gerakannya membuatnya terlihat, untuk sesaat, layaknya seorang bocah yang polos.
“Jika keberadaan orang lain di sini mengganggumu, maka kau sebaiknya menunggu di ruangan lain saja.”
“Bukan itu.”
“Lalu apa?”
“Hanya saja…” Ia menggantung kalimatnya, yang mana itu tidak seperti biasanya, dan melemparkan lirikan lain ke arah ruang tamu. “Aku memiliki perasaan yang aneh. Namun kau tidak perlu mengkhawatirkannya, Iyeon.” Suaranya merendah, dibumbui dengan nada sedingin es.
Iyeon memiringkan kepalanya bingung, namun pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
✦ ❖ ✦
Sementara Iyeon dan Chaewoo sedang berbisik-bisik, Beomhee dengan terburu-buru mengambil perangkat penyadap yang hancur yang tadi dipasang di dudukan lampu tersebut. Ia kemudian menukarnya dengan yang baru. Bola lampunya bukan masalahnya; alat pendengar di dalamnya itulah yang meledak.
Memasang perangkat tersebut adalah pekerjaan Beomhee. Sejak saat ia mendengar bahwa Chaewoo terjebak dalam tanah longsor, ia memutuskan untuk menentang perintah yang hanya menyuruhnya untuk memantau dari kejauhan. Ia harus mendekatinya, memaksanya menghadapi kenyataan. Ia tidak bisa hanya berdiam diri lagi, tidak ketika kecelakaan tak terduga lainnya bisa menyerang kapan saja.
*Tuan Muda, waktu kita sudah habis. Anda masih punya urusan yang belum selesai, bukan?*
Ketegangan yang tak terbaca mengencangkan fitur wajah Beomhee. Giseok Kwon, putra sulung yang sangat menyayangi keluarganya, tidak akan pernah menelantarkan adik bungsunya, yang berusia dua belas tahun lebih muda darinya. Giseok mungkin saja menimbulkan masalah bagi saudara-saudaranya, bahkan mungkin mendisiplinkan mereka, namun ia bukan tipe pria yang akan membunuh darah dagingnya sendiri. Dibesarkan untuk menghargai ikatan keluarga di atas segalanya, Giseok adalah pria yang terobsesi dengan tugas dan kewajiban tersebut.
*Namun bagaimana jika Tuan Muda tidak pernah kembali menjadi dirinya yang dulu? Bagaimana jika ia merasa puas berbaring santai layaknya serigala yang dijinakkan menjadi seekor anak anjing?*
Sebuah kerutan dalam terbentuk di alis Beomhee. Ia yakin Chaewoo yang dulu tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
Beomhee sudah mencoba untuk memancing ingatan Chaewoo dengan meninggalkan bunga mawar—bunga favorit Tuan Muda—di depan rumah. Ia berharap mawar-mawar itu mungkin akan membangkitkan ingatan tentang musik Schubert. “Menusukmu dengan duri mawar agar kau tidak pernah lupa” adalah ayat yang biasa ia nyanyikan sementara tangannya berlumuran warna merah tua setelah ia melakukan pekerjaan pisaunya. Itu dimaksudkan sebagai sinyal, sebuah pemicu—namun hal itu tidak berguna. Pada akhirnya, Beomhee tahu ia harus mengintervensi secara langsung.
Sekaleng jus jeruk ditawarkan kepadanya saat ia turun dari tangga. Iyeon sedang menyodorkannya di atas sebuah nampan kecil. Beomhee ragu selama sepersekian detik sebelum menundukkan kepalanya dan menerimanya.
“Mohon maaf saya. Masalahnya sepertinya disebabkan oleh cacat pada produk kami.”
“Oh…”
“Jika Anda melihat ada hal lain yang tidak biasa, jangan ragu untuk menghubungi kami,” ucapnya seraya membuka kotak peralatannya untuk memasukkan alat-alatnya kembali.
Tatapan Iyeon jatuh pada kotak peralatan tersebut, dan ia seketika berubah pucat.
Chaewoo yang tadi sedang duduk santai di kursi dapur, langsung melompat berdiri. “Iyeon?” Ia melangkah menghampirinya, sebelah alisnya berkedut penuh kewaspadaan.
Iyeon menengadah menatapnya dengan siaga. “Oh…! Bukan apa-apa. Aku hanya… tiba-tiba merasa sedikit aneh.” Ia mengusap lengannya dan bersandar pada Chaewoo saat pria itu mencapai sisinya.
Teknisi tersebut dengan tenang menutup kotak peralatannya. Namun pikiran Iyeon masih tertuju pada setangkai mawar merah yang ia lihat di antara peralatan tersebut. Baru beberapa bulan yang lalu, penguntitnya menggunakan mawar untuk menarik perhatiannya. Rasa ngeri yang mendinginkan menggelitik tengkuk lehernya.
“Iyeon, aku mau keluar sebentar,” Chaewoo tiba-tiba memberitahunya.
“Apa? Mau ke mana?”
“Hanya ke depan rumah. Halamannya berantakan. Kurasa sudah waktunya aku menyapunya.”
Chaewoo dengan lembut mengelus bagian belakang kepala wanita itu, sebuah senyum tipis yang menenangkan di bibirnya. Namun saat matanya mengikuti si teknisi yang sedang menuju pintu dengan topi ditarik rendah, matanya berkilat dengan cahaya yang dingin.
✦ ❖ ✦
Bunyi debukan brutal bergema saat Chaewoo menghantamkan Beomhee ke tembok bata, lengan bawahnya menekan kuat jakun pria itu.
“Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, kan?” geram Chaewoo, kata-katanya berupa geraman rendah.
Meskipun wajahnya berubah ungu karena kekurangan udara, Beomhee merasakan sentakan antisipasi pada pernyataan tersebut. Ia tahu inilah kesempatannya sejak ia merasa Chaewoo mengikutinya. Ia tadi sedang mencoba melakukan pergerakannya saat Chaewoo menyerang tanpa peringatan.
“Tuan Mu—”
“Kau seharusnya berhenti saat aku membiarkannya lewat beberapa kali pertama. Mengapa pula kau berkeliaran di sini?”
“Apa?” Wajah Beomhee mematung mendengar tuduhan yang tak terduga itu.
“Aku tahu kau adalah bajingan yang tinggal di seberang jalan,” ucap Chaewoo.
“…!” Beomhee menggumamkan sebuah umpatan di bawah napasnya. *Bagaimana bisa semua orang mengetahuiku belakangan ini?*
Gambaran tentang wanita merepotkan lainnya dengan insting layaknya binatang melintas di pikirannya.
“Terakhir kali, kau menjadi pelayan di hotel. Dan sekarang, kau menjadi tukang listrik?”
Pada titik ini, Beomhee merasa diperlakukan tidak adil. Ia belum pernah bertatap muka dengan Chaewoo. Paling banter, ia pernah berpapasan dengan Choyun Hwang di jalan ini selama beberapa detik. Di aula pesta, ia hanya melewatinya dari kejauhan. Namun kemampuan luar biasa Chaewoo untuk merangkai momen-momen yang terfragmentasi tersebut menyudutkannya tanpa jalan keluar. Ini hampir terasa menakutkan.
“Menurut hitunganku, ini adalah pertemuan ketiga kita. Kebetulan? Aku meragukannya.” Chaewoo menekan lengan bawahnya lebih keras, menggertakkan kata-kata itu di sela-sela giginya. Itu adalah perasaan dominasi mutlak yang sudah lama tidak ia rasakan.
Beomhee mendapati hal itu terasa begitu akrab yang memabukkan hingga ia tertawa kecil kegirangan, yang hanya membuat ekspresi Chaewoo meliuk menjadi geraman buas.
“Siapa kau?” tuntut Chaewoo.
“…”
“Kau sebaiknya menjawabku. Meskipun aku berniat menghancurkan hama apa pun yang berani menempel pada istriku, dengan satu atau lain cara.”
Saat itulah Beomhee akhirnya mengerti apa yang sedang dipikirkan Chaewoo.
“Tuan Muda, Anda salah paham!” ia terengah.
Chaewoo tampak seolah ia sedang menatap seorang orang gila.
Setelah ragu sejenak, Beomhee mendesak, “Apa Anda menerima bunga yang kukirim?”
“Apa?”
“Kau melihat mereka namun masih tidak punya petunjuk apa-apa?”
“…”
“Kau benar-benar tidak mengingatku? Wajahku?” tanyanya sekali lagi, berharap dengan putus asa.
“Apa-apaan yang kau bicarakan, dasar mesum?” Wajah Chaewoo meliuk dengan rasa jijik yang murni.
Menyadari bahwa kata-katanya telah disalahartikan, Beomhee menendang tulang kering Chaewoo dan melepaskan diri dari cengkeramannya. Namun lengan Chaewoo melesat dengan kecepatan yang membutakan. Dengan itu, mereka jatuh ke dalam pertarungan brutal, bertukar serangan dengan efisiensi yang mematikan.
Beomhee tertangkap lagi, dan kepalanya segera dihantamkan ke tembok yang kasar. Satu lengannya dipelintir tanpa ampun di belakang punggungnya, memakukannya di tempat. Ia menggigit bibirnya keras-keras, meredam erangan kesakitan.
“Hentikan sandiwaramu dan pergilah. Ini adalah satu-satunya peringatan bagimu. Jika aku melihatmu lagi—” Chaewoo memperingatkan.
“Tuan Muda, demi Tuhan, sadarlah! Mengapa Anda main rumah-rumahan begini padahal Anda seharusnya mengembalikan ingatan Anda?!”
Chaewoo terdiam mematung mendengar keputusasaan yang nyata dalam suara korbannya.
“Tidakkah Anda penasaran? Tentang siapa Anda di masa lalu? Tidakkah Anda ingin mencari tahu keyakinan apa yang dulu Anda jalani?! Ini bukan waktunya bermain rumah-rumahan! Jangan biarkan wanita itu membodohi Anda…! Dialah orang yang—!”
“Cukup!”
Chaewoo memelintir lengan Beomhee lebih jauh, menggilasnya ke tembok.
“…Tuan Muda!”
“Aku tidak ingin mendengarnya. Berhenti,” perintah Chaewoo lagi.
Beomhee benar-benar kehilangan kata-kata, namun suara rendah Chaewoo berlanjut, mendinginkan dan sangat tenang, “Sayang sekali bagimu. Aku tidak memiliki ketertarikan pada masa lalu. Aku sudah membuat janji kepada istriku saat itu penting.”
“…!” Tubuh Beomhee tersentak, namun hanya itu saja.
Chaewoo memelintir lengan korbannya hingga mendekati titik patah, memadamkan perlawanan apa pun. Gerakan itu terasa alami baginya.
“Jadi meskipun kau tahu segalanya tentangku, kusarankan kau tutup mulutmu.”
“Tunggu, Tuan Muda, kumohon jangan tertipu oleh wanita itu—”
“Sudah kubilang berhenti. Dan berhentilah mengoceh tentang *Tuan Muda* sialan.” Suara Chaewoo terdengar dingin.
Beomhee, yang kini basah kuyup oleh keringat dingin, menjulurkan lehernya untuk melihat wajah Chaewoo. Namun yang ia lihat hanyalah tatapan yang hambar—hampa dari rasa ingin tahu, keraguan, atau emosi apa pun sama sekali. Chaewoo telah menyegel mata dan telinganya sendiri. Dihadapkan dengan dinding yang tidak tertembus tersebut, Beomhee merasa lututnya lemas di bawah beban keputusasaan yang mutlak.
*Apa yang telah terjadi pada iblis yang memimpin anjing-anjing pemburu Keluarga Kwon? Ke mana dia pergi?*
“Jika kau sudah memahamiku, menjauhlah dari pandanganku,” Chaewoo memperingatkan untuk terakhir kalinya.
Beomhee tidak mampu berkata-kata. Keancaman Chaewoo yang biasa hampir seluruhnya telah terhapus. Pria yang biasanya meledak dalam amukan haus darah kini berbicara dengan kesopanan yang begitu datar. Perilakunya bukan hanya tidak seperti biasanya—melainkan sangat mengkhawatirkan.
Chaewoo berbalik dan pergi tanpa menoleh ke belakang. Beomhee meringis pelan, memutar lengannya yang mati rasa.
*Bzzz—*
Ponselnya bergetar. Itu adalah nomor yang tidak disimpan, namun juga nomor yang kini ia kenali dengan kejengkelan yang luar biasa. Benar saja, saat ia menyalakan layarnya, ia melihat pesan teks lainnya dari orang yang telah mengejarnya selama berhari-hari, sejak cinta satu malam mereka yang disesalkan itu.
*Kau boleh melupakan namaku, namun kau tidak akan melupakan tubuhku.*
Beomhee menggaruk alisnya yang berkerut dan menatap ke arah kegelapan tempat Chaewoo menghilang. Tidak ada, benar-benar tidak ada yang berjalan sesuai keinginannya.
✦ ❖ ✦
Suara desis dan aroma berminyak dari panggangan perut babi memenuhi restoran saat tiga orang duduk di sebuah meja, dikelilingi oleh staf Pusat Penyelamatan Satwa Liar.
“Kubilang juga apa, dia itu pria yang benar-benar gagal memenuhi reputasinya!” klaim Dongmi. “Direktur So, apa kau tahu harimau itu kawin sampai seratus kali?”
“Maaf?” Iyeon tersedak air yang baru saja ia minum sedikit.
“Namun apa masuk akal bagi pria yang dinamai harimau bersikap begitu… begitu hambar? Dia bahkan bukan salah satu dari tipe yang *anti-berpacaran* itu!”
“Uh, yah…”
“Ini tidak masuk akal, kubilang padamu! Tidak masuk akal sama sekali!” Dongmi menggoyangkan gelas sojunya begitu kuat hingga minuman keras itu memercik ke punggung tangannya, yang segera ia jilat hingga bersih.
Tatapan Iyeon beralih dari Dongmi—yang lehernya merona merah tua dan bicaranya mulai tidak jelas—ke tumpukan botol hijau yang kosong yang terus bertambah. Ia mencoba merunut kembali kejadian beberapa minggu terakhir, bertanya-tanya bagaimana ia bisa berakhir di sini.
✦ ❖ ✦
Tiga minggu setelah tanah longsor, sebuah tantangan turnamen baru akhirnya diumumkan untuk Klinik Ahli Pohon Spruce Tree dan Klinik Mi, yang evaluasinya ditangguhkan setelah kecelakaan tersebut. Misinya adalah merawat sebuah pohon berhantu yang dikenal sebagai ‘Pohon Arwah.’
“Apa mereka sudah gila?! Apa mereka tahu pohon macam apa itu?!” Chuja menghantamkan tinjunya ke meja, matanya membara karena marah.
“Mungkin kita hanya bereaksi berlebihan,” saran Iyeon.
“Jangan kau bicara begitu santai!”
Masalah dengan Pohon Arwah adalah bahwa setiap ahli pohon yang berani merawatnya entah bagaimana menghadapi serangkaian kemalangan yang tidak dapat dijelaskan. Kemalangan tersebut berkisar dari serangan psikologis—anak-anak yang gagal ujian, perceraian mendadak, penipuan investasi—hingga bahaya fisik, seperti kecelakaan mobil dan jatuh yang aneh. Itu adalah mitos urban dan cerita rakyat seram yang dihafal luar kepala oleh setiap ahli pohon di Pulau Hwai.
“Kita benar-benar tidak boleh mengambil pekerjaan ini. Itu sama saja dengan mencari masalah, seperti menaruh wajahmu tepat di bawah kutukan yang sedang jatuh!”
Iyeon memainkan cangkir tehnya, matanya menelusuri serat kayu meja tersebut, tidak melihat apa-apa.
“Kudengar orang-orang dari klinik lain semuanya saling menepuk punggung, merasa lega karena bukan mereka yang terpilih. Aku sangat marah sampai rasanya ingin memukul sesuatu!”
Ekspresi Iyeon akhirnya menjadi gelap mendengar komentar tersebut. Namun, menyiksa diri memikirkannya pada akhirnya tidak membuahkan solusi apa pun. Sepertinya ia terus dibebani satu demi satu kasus yang mustahil sejak kejadian tanah longsor tersebut, namun ia memaksa pikiran-pikiran tak berguna itu pergi.
Di sebelah Pohon Arwah yang berusia lima ratus tahun itu berdiri sebuah kuil kecil yang disebut Seonangdang. Dalam upaya menyelamatkan pelindung desa mereka yang didewakan tersebut, penduduk telah mengumpulkan uang untuk menyewa seorang dukun guna melakukan ritual. Hal itu tidak banyak membuahkan hasil. Lebih buruk lagi, cerita rakyat yang sangat dilebih-lebihkan telah menakuti siapa pun untuk mencoba perawatan yang semestinya, meninggalkan pohon tersebut di ambang kematian.
*Serahkan saja pada Dinas Kehutanan untuk membuang kekacauan ini pada kita,* pikir Iyeon dengan muram.
“Tidak ada pilihan lain,” ucap Iyeon pasrah. “Kita harus melakukannya. Kapan Anda pernah mengenalku bersikap pilih-pilih soal pohon?”
Wajah Chuja jatuh mendengar jawaban tumpul Iyeon.
“Aku bisa pilih-pilih soal manusia, namun tidak pernah soal pohon.”
Chuja mendecih mendengar klaim berani Iyeon.
“Oh, tentu saja. Benar. Baru tempo hari kau mengeluh habis-habisan soal *sayuran manusia* yang tak berguna itu. Menyebutnya bajingan yang menentang segala kesopanan manusia dan menjadikanku seorang pembohong. Dan sekarang lihat bagaimana rupa nona kecil yang sama ini sudah terbelit di seprainya, begitu saja?”
Iyeon tersentak, terburu-buru mengangkat cangkir tehnya ke bibir.
“Ya, kau bisa pilih-pilih soal manusia, namun kau tidak bisa menolak batang kayu yang kokoh, kan?”
Chuja tertawa terbahak-bahak, dan Iyeon mati-matian meneguk tehnya, mencoba menyembunyikan rona merah yang membakar pipinya.
“Di mana menantuku itu? Apa dia telat datang?”
Iyeon berdeham dan menjawab, “Dia ada acara makan malam dengan rekan kerjanya malam ini.”
“Ah, jadi hari ini harinya.”
Perkembangan baru lainnya adalah Chaewoo telah memulai masa magang di Pusat Penyelamatan Satwa Liar, menjadikannya bawahan langsung Dongmi. Ia ditugaskan membantu penyelamatan dan pemindahan hewan yang terluka, menghabiskan hari-harinya dalam kesibukan panggilan lapangan dan belajar untuk sertifikasinya.
Akibatnya, Chaewoo dan Iyeon menghabiskan lebih sedikit waktu bersama. Namun demikian, rutinitas mereka untuk sarapan, makan siang, dan makan malam bersama tidak pernah goyah. Setiap hari, tanpa gagal, ia akan bergegas menemuinya begitu waktu istirahat makan siangnya dimulai. Mengetahui betapa tidak profesionalnya hal ini, Iyeon merasa ngeri pada awalnya dan mencoba menyuruhnya kembali, namun Chaewoo sama sekali tidak peduli untuk mendengarkan.
Seiring rutinitas tersebut berlanjut, Iyeon mulai merasa gugup saat waktu makan siang tiba. Ketika ia menguatkan dirinya, pintu akan selalu terbuka lebar, dan suara yang kental dengan kerinduan akan selalu memanggil namanya.
Selain itu, tuntutan malam Chaewoo terus berlanjut, sebuah badai tak henti-hentinya yang membuat tubuh Iyeon menjerit minta tolong. Sering kali, ia akan memilikinya sepanjang malam, menidurinya lagi dan lagi sebelum berangkat kerja tanpa sempat memejamkan mata sedikit pun.
*Ada yang sangat salah. Di permukaan, kita mungkin terlihat seperti pasangan normal dengan penghasilan ganda, namun ada sesuatu yang secara fundamental dan menakutkan sangatlah salah…!*
Di tengah kebingungan tersebut, Iyeon telah menerima telepon dari Dongmi.
“Direktur So, bisakah Anda, kumohon, sekali ini saja, menghormati acara makan malam perusahaan kami dengan kehadiran Anda?”
“…Maaf?”
“Karena yang mulia Chaewoo Kwon enggan makan tanpa istrinya, kami belum bisa mengadakan pesta penyambutan yang layak untuknya! Kami butuh alasan resmi agar semua orang bisa bersantai dan berpesta. Pria itu jenis yang spesial, mutan yang bahkan tidak akan bergeming pada teriakan pemimpin tim. Direktur So, bisakah Anda menolong kami jiwa-jiwa malang ini…? Aku memohon pada Anda!”
Setelah panggilan berakhir, Iyeon memeriksa waktu dan bangkit berdiri. “Nyonya Gye, aku pergi dulu.”
Demi kehidupan sosial suaminya dan demi kewarasannya sendiri, Iyeon terpaksa menerima tawaran Dongmi.
✦ ❖ ✦
“Kubilang juga apa, dia itu pria yang benar-benar gagal memenuhi reputasinya!”
Suara desis dan aroma berminyak dari panggangan perut babi memenuhi restoran saat tiga orang duduk di satu meja, dikelilingi oleh staf Pusat Penyelamatan Satwa Liar.
“Ini tidak masuk akal, kubilang padamu! Tidak masuk akal sama sekali!”
Banyak pasang mata melirik ke arah mereka. Sebuah campuran antara rasa ingin tahu dan terkejut, setiap tatapan berkedip antara Iyeon dan Chaewoo, lalu kembali menetap pada Iyeon. Ketertarikan para staf tersebut sangatlah kentara.
Saat bahu Iyeon menegang, Chaewoo yang baru saja meletakkan sumpitnya, melayangkan tatapan mematikan ke seluruh penjuru ruangan. Di bawah tatapannya yang ganas, para seniornya berpura-pura teralihkan oleh hal lain, berhamburan layaknya tikus yang tertangkap cahaya.
Iyeon menghela napas dalam hati. Jelas sekali seperti apa reputasi Chaewoo. Entah bagaimana, ia merasa seolah sopan santunnya yang buruk itu adalah kesalahannya sepenuhnya.
Sementara itu, Dongmi dengan matanya yang sayu, masih mencurahkan keluh kesahnya. “Aku belum pernah melihat seorang pria bersikap begitu acuh tak acuh pada wanita semok sepertiku! Padahal namanya saja harimau! Bagaimana bisa begitu?! Apa dia hanya mengelak dari takdirnya? Seekor harimau harus bertindak layaknya harimau!”
Chaewoo tidak repot-repot menyembunyikan kemarahannya pada ocehan mabuk atasannya tersebut, secara metodis meletakkan setiap potongan daging yang baru matang ke piring Iyeon. Iyeon datang untuk membantu suaminya berintegrasi ke tempat kerja barunya, namun rasanya lebih seperti ia sedang berkencan dengan Dongmi daripada memberikan dukungan sebagai istri.
Iyeon dengan ragu meletakkan sumpitnya. “Chaewoo, bukankah kau seharusnya bicara dengan para seniormu? Mungkin berbagi beberapa minuman dan berbaur?” ia membujuk dengan lembut.
Mata Chaewoo menyipit tajam. “Apa *kau* pernah berbaur dengan orang asing?”
Suasana hatinya sedang buruk sejak Iyeon meneleponnya untuk bilang, “Aku sedang dalam perjalanan.”
Kesenangan singkat saat melihatnya di restoran lenyap segera setelah wanita itu tiba. Chaewoo benci membayangkan membiarkan Iyeon berada di ruangan yang bising dan penuh asap tersebut.
“Membiarkan istriku dipamerkan saja sudah cukup menyebalkan. Saran itu hanya membuatnya semakin buruk,” gerutunya. Tangannya menemukan tangan Iyeon di bawah meja, jemarinya menaut erat di sela-sela jemari wanita itu. “Berbaur dengan siapa, katamu tadi?” Suaranya rendah, tatapannya menggelap dengan intensitas yang meresahkan.
Rasa nyeri yang dalam dan berdenyut bermekaran di antara paha Iyeon. Merasa gugup karena tubuhnya akan bereaksi begitu cepat, ia baru saja akan menarik tangannya.
“Direktur So, apa Anda tahu?” Dongmi menangkupkan dagu di tangannya, tiba-tiba menatap intens pada mereka.
Pupil matanya yang melebar melayang tidak jelas, seolah-olah mencari sesuatu jauh di luar dinding restoran tersebut. Itu meresahkan, namun hal yang ia ucapkan selanjutnya benar-benar mengejutkan Iyeon.
“Orang itu… orang yang satu itu… aku tahu aku pernah melihatnya di suatu tempat… Bisa tebak di mana?”
“…!” Hati Iyeon mencelus mendengar kata-kata yang diucapkan dengan santai tersebut. *Dia pernah melihat Chaewoo sebelumnya?*
Kebisingan restoran itu seolah meliuk dan memudar di kejauhan yang jauh. Yang bisa Iyeon dengar hanyalah detak jantungnya yang panik dan kacau. Rasanya seolah keabadian telah berlalu dalam satu momen tunggal.
“Aku memutar otak memikirkannya dan baru saja ingat.” Dongmi secara berkala mengerjap, mencoba memfokuskan matanya yang kabur seiring ia menunjuk dengan jari yang goyah ke arah Chaewoo. “Aku pernah pergi liburan keluarga ke Eropa saat liburan SMA. Aku bertemu seorang anak kecil waktu itu di Wina, Austria, dan suamimu ini terlihat *sangat* mirip dengannya. Jika anak itu tumbuh besar tanpa salah masa puber, aku bertaruh dia akan jadi persis seperti *ini*.”
Dongmi melepaskan tawa pendek dan mencemooh yang meremehkan. Ia berhenti sejenak untuk mengisi gelasnya.
“Tentu saja, tidak mungkin mereka orang yang sama,” lanjutnya. “Anak itu semacam anak ajaib, dan yang satu ini menghabiskan harinya menyeret seekor rusa mendaki gunung. Aku tahu itu mustahil. Namun kemiripannya sungguh luar biasa, meskipun usia dan karier mereka berjarak satu alam semesta.”
“…Seorang anak kecil?” tanya Iyeon, suaranya nyaris berupa bisikan.
Ujung jarinya menjadi sedingin es, namun segera menghangat dalam cengkeraman Chaewoo yang menghimpit. Selapis keringat sudah mulai terbentuk di antara telapak tangan mereka yang saling menangkup.
“Oh, dia bukan sekadar sembarang anak kecil. Wajahnya, musiknya… dia meninggalkan kesan yang begitu kuat sehingga sekali kau bertemu dengannya, kau tidak akan pernah bisa melupakannya.” Dongmi sedikit mengangkat bahu dan menambahkan, “Dia seorang pemain selo (*cellist*).”
Iyeon mengistirahatkan tubuhnya yang tegang. Sebuah desahan panjang penuh kelegaan lolos darinya.
“Dia begitu kecil, terlihat seperti anak SD… Saat aku pulang dan mencarinya, dia tidak terlalu dikenal untuk ukuran seseorang yang memulai debutnya di Eropa. Agak aneh menurutku.” Dongmi memiringkan kepalanya, masih merasa bingung oleh ingatannya tersebut. “Astaga, kau tidak tahu seberapa banyak orang tuaku mengomeliku soal umur yang hampir sama namun tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Ugh…” Ia bergidik, bibirnya mengerucut. “Dan tahu tidak, ternyata Tuan Kwon di sini sangat menyukai musik klasik.”
Chaewoo yang tadinya dengan tangkas memegang penjepit makanan, mematung di tengah gerakannya.
Mata Iyeon melebar mendengar informasi baru tersebut. “Begitukah?”
“Oh, Anda tidak tahu? Di pesta pamanku tempo hari—”
“Kumohon, jangan bicara sembarangan.” Chaewoo yang tadinya mengabaikan celotehan mabuk Dongmi hingga sekarang, memotongnya dengan tajam.
Namun Iyeon, yang cukup penasaran mendengar akhir kalimat Dongmi, melirik ke arah keduanya saat mereka saling mengunci pandangan dalam kebuntuan yang sunyi. Chaewoo memberinya tekanan sunyi yang kesal, sementara Dongmi mengerutkan dahi sebagai bentuk perlawanan.
Ia segera mengulurkan tangan dan meletakkan tangan di lengan pria itu. “Aku juga ingin tahu.”
“Aku—” Chaewoo menyerah begitu ia bertemu dengan tatapan wanitanya yang jernih dan sungguh-sungguh.
Dongmi memutar matanya melihat perubahan karakter Chaewoo yang mendadak.
“Aku hanya tahu judul salah satu lagu yang diputar di pesta tersebut,” ia menjelaskan.
“Benarkah?”
“Yap. Itu mungkin yang dia bicarakan.”
Tatapan Chaewoo melirik ke arah Dongmi, yang sedang berjuang dengan layar kunci ponselnya, yang bahkan tidak berdering.
“Sekarang kau menyebutnya…” Iyeon memiringkan kepalanya berpikir, lalu tiba-tiba duduk tegak. “Saat Chaewoo kesulitan tidur, aku terkadang memutarkan musik untuknya. Itu membantunya beristirahat.”
Kemudian, ia menoleh ke arah Chaewoo dan mengucapkan kata-kata tanpa suara, *Dan dia tidak menangis,* sebuah pesan rahasia yang hanya ditujukan untuk pria itu.
Sebagai tanggapannya, ekspresi tegasnya merekah menjadi sebuah senyuman. Ia mendekat, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan rahasia. “Itu bukan satu-satunya cara untuk menghentikanku menangis.”
“Hah?” Iyeon mengerjap perlahan, mencoba mencari tahu apa maksudnya.
Chaewoo menundukkan kepalanya dan bergumam langsung ke telinganya. “Aku tidak menangis dalam tidurku jika kita berhubungan intim sebelum pergi tidur.”
“…!”
Rasa panas langsung membanjiri wajahnya. Tepat saat itu, tangan Chaewoo yang saling terpaut dengan tangannya di bawah meja, meremas kuat.
“Katakan padaku… Apa aku menangis malam ini, atau tidak?” tanyanya.
✦ ❖ ✦
“Hah…!”
Chaewoo menghujam masuk ke dalam dirinya dengan satu tusukan brutal tunggal, menjarah kedalaman Iyeon. Saat kebahagiaan mengancam untuk menghancurkan indranya, dahinya menghantam dinding yang dingin. Hal itu tidak menghentikan ujungnya yang tebal untuk menghunjam keluar masuk dari dirinya tanpa henti.
Sejak saat mereka melangkah masuk melewati pintu, Chaewoo menguasai bibirnya, dan ciuman itu tak terelakkan membawa mereka lebih jauh lagi. Ia mengangkat wanita itu, mendudukkannya di atas meja rias ruang tamu, dan memujanya dengan mulutnya sampai wanita itu meleleh seutuhnya. Meja dan sofa dikorbankan demi ritual penuh gairah mereka.
Melangkahi pakaian mereka yang dibuang sembarangan, Iyeon merasa benar-benar tak berdaya, diambil dari belakang. Ia berdiri bertumpu pada dinding sementara kekuatan murni dari kehadiran pria itu di belakangnya mengirimkan jantungnya ke dalam irama yang panik dan tak henti-hentinya.
“Oh, ahhh…!” Tangannya menempel rata pada dinding seiring ia melengkungkan pinggulnya ke belakang—sebuah insting untuk menerima pria itu lebih dalam.
Daging lembut pantatnya bertemu dengan garis keras panggul pria itu, bergesekan dan bertabrakan. Ia menarik keluar setengah jalan hanya untuk mulai menghujam lagi, lebih cepat, lebih keras.
“Aku sangat ingin melihatmu hari ini.”
“Ahhh, mmm…!”
“Bagaimana denganmu? Apa kau baru saja merasa senang terbebas dariku agar kau bisa pergi bermain dengan pepohonanmu?”
“Haaa…!”
“Aku benar-benar… hah… kupikir aku bisa mati jika tidak melihatmu.”
Napas panasnya di tengkuk lehernya membuat tubuh wanita itu bergidik. Tangannya yang kasar mencengkeram payudaranya yang mulus seiring ia menggesekkan giginya pada kulitnya. Penisnya jatuh ke dalam ritme brutal dari penarikan perlahan hanya untuk menghantam masuk kembali ke dalam dirinya tanpa peringatan. Kekuatan dari setiap benturan membuat daging pantatnya beriak layaknya ombak. Chaewoo membunyikan lehernya ke kanan dan kiri, layaknya predator yang sedang menikmati mangsanya.
“Tidakkah kau bisa ikut berburu binatang buas bersamaku?” tanyanya.
“Ahh…!”
“Terkadang, saat aku melepaskan seekor hewan dari jebakan, aku merasa menyesal. Karena aku ingin mengurungmu dan tidak pernah melepaskanmu…!” Ia tiba-tiba menjambak segenggam rambutnya, menyentakkan kepalanya ke belakang.
Sensasi itu menyambar dirinya layaknya sebutir peluru, dan ia menggigit bibirnya untuk meredam tangis. Sambil menumpukan sikunya pada dinding, pinggangnya melengkung menjadi kurva yang lebih lembut. Hujaman yang berulang kali membuat pantat dan pahanya perih seolah-olah baru saja ditampar. Namun sensasi tersebut terasa sangat nikmat yang luar biasa daripada menyakitkan.
“Ohh… Ahh…”
Panjang kejantanan Chaewoo menyerbu tempat-tempat yang belum pernah ia capai sebelumnya. Sebuah tangan menyelinap dari belakang untuk merenggut payudara Iyeon, sementara batangnya menjarah hawa panas yang basah dan menyambut darinya. Cairan mereka yang bercampur menciptakan suara tamparan yang licin di setiap hujamannya. Kuku Iyeon menggores samar pada kertas pelapis dinding.
Dengan rasa lapar yang putus asa, Chaewoo mencengkeram dagunya dan memalingkan wajahnya ke arahnya. Selama satu momen singkat, tatapan mereka saling mengunci sebelum bibir mereka bertabrakan. Ia menyapu ke dalam mulutnya secara posesif, menghisap bibirnya, mencuri cairan yang mengumpul di bawah lidahnya seiring ia bergerak di dalam dirinya.
“Haa…” Kepalanya terayun ke belakang karena kenikmatan.
Ketika ia akhirnya menarik diri, seutas air liur tipis yang berkilau merentang di antara mulut mereka sebelum terputus. Mata Iyeon yang dazed mengerjap perlahan.
Chaewoo menempelkan wajahnya pada kulit punggungnya yang licin oleh keringat dan melanjutkan serangannya. Semburat rona yang mewarnai kelopak mata, bibir, tenggorokannya—semuanya terasa begitu halus dan indah layaknya bunga yang sedang kuncup.
“Iyeon, haa, Iyeon.” Setiap kali ia menghujam ke dalam dirinya, otot-otot di perutnya mencengkeram dan urat-urat menonjol di sepanjang lengannya. Kepala penisnya, yang masih menyelidiki bagian terdalamnya, seakan membengkak secara mustahil menjadi lebih besar.
Iyeon gemetar hebat seiring ia menggilas dinding dalamnya yang sensitif. Jari-jari kakinya meringkuk. *Aku tidak sanggup menahannya lagi.*
“Ahhh…!”
“Belakangan ini, setiap harinya terasa begitu berharga hingga terasa menyakitkan, hmph…”
Tiba-tiba, ia mendorong wanita itu ke depan, menekan dadanya ke dinding. Ia menghujam masuk kembali ke dalam dirinya dan menggigiti cuping telinganya yang lembut. Kemudian, ia menarik diri dan menghantam ke dalam dirinya lagi.
“Terkadang… aku merasa cemas.” Ia menjepit putingnya di antara jemarinya seiring ia bergerak naik. “Iyeon, mari kita hidup seperti ini saja. Tanpa kekhawatiran, tanpa kerumitan—hanya hubungan intim yang sangat nikmat.”
“Ahhh…!”
“Hanya kaulah yang kubutuhkan. Aku tidak peduli pada orang lain. Aku hanya memercayai kata-katamu.”
Layaknya anak kecil yang menangis, Iyeon membenamkan wajahnya di lekukan lengannya, tubuhnya bergetar tak terkendali. Memperhatikannya dari belakang, Chaewoo mengeluarkan perasaannya yang sesungguhnya. Tatapannya tertuju semata-mata padanya, namun fokusnya terfragmentasi dan hilang.
*Jangan biarkan wanita itu membodohi Anda, Tuan Muda…! Dialah—!*
Ia melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang wanita itu dalam dekapan yang menyesakkan, menggelengkan kepalanya seolah ingin menjernihkan pikirannya. Namun wajahnya meliuk dengan penderitaan yang nyata, dan pada akhirnya, ia tidak bisa mengusir kecemasan yang melekat padanya layaknya kabut yang dingin.
✦ ❖ ✦
“Lihat? Inilah yang terjadi jika kau tidak bicara tepat waktu.” Chuja mendecih, matanya terfokus pada tepi daun yang menggulung dan mengerut.
Sepertiga bagian dari pohon zaitun manis, yang ditanam sebagai pusat perhatian taman, telah layu dan mati. Iyeon yang baru saja mendiagnosis tanaman tersebut, menegakkan tubuh dengan hati berat.
“Ini keracunan kimia,” ia menyatakan.
Pelakunya adalah herbisida Banvel. Pembasmi gulma begitu umum sehingga orang-orang secara alami berasumsi bahwa pohon yang layu akan kembali hidup dengan sendirinya.
“Nyonya Gye, Anda membawa kalsium nitrat dan kaliumnya, kan?”
Selalu efisien, Chuja sudah mulai mengeluarkan bahan kimia dari tas peralatannya, melanjutkan keluh kesahnya di bawah napasnya. “Menunggu hanya akan membuat penyakitnya merasuk lebih dalam…”
Iyeon mematung mendengar komentarnya.
“Kau harus bicara segera, agar orang-orang seperti kita punya kesempatan untuk melakukan sesuatu, kau tahu?”
“…”
Pucat karena malam tanpa tidurnya, Iyeon tiba-tiba mulai menggigiti kukunya, mondar-mandir dengan gelisah di dekat Chuja.
Sementara itu, Chuja memperhatikan dengan ekspresi penasaran dan akhirnya menyadari konstelasi tanda merah yang kacau. Dengan rambut panjangnya yang digulung ke atas, leher ramping Iyeon adalah sebuah permadani yang hidup. Bukti dari obsesi tersebut membuat Chuja sakit kepala.
“…Jika aku… jika aku menceritakan segalanya padanya, menurut Anda apa yang akan terjadi?” Pertanyaan itu terlontar dari Iyeon, tampak muncul begitu saja dari entah mana.
Namun tidak ada keraguan dalam pikiran Chuja siapa yang wanita itu maksud. “Kepada Tuan Kwon?”
“…Iya.”
Tatapan Chuja, yang langsung dan tajam, seakan memaku Iyeon di tempatnya. Untuk waktu yang lama, mereka hanya saling menatap dalam diam.
“Bisakah kau menangani apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Chuja.
“Aku tidak yakin.”
Bagi Iyeon, kebenaran berarti sabotase yang segera terjadi. Ia memikirkan bibinya, pamannya, sepupu-sepupunya—semuanya hangus oleh kobaran api pengkhianatan. Kenangan itu saja sudah mengirimkan hawa dingin yang familier melalui pembuluh darahnya. Namun… Chaewoolah satu-satunya orang yang pernah menyadari semua perasaan yang menetap di sudut-sudut hatinya. Dan ia selalu mengulurkan tangan padanya terlebih dahulu.
“Meskipun begitu,” bisiknya, “sebagian dari diriku sangat ingin dipahami olehnya.”

Comment