Gyubaek berlari sekencang-kencangnya menyusuri koridor yang tampak tak berujung. Kakinya terus tergelincir di atas marmer yang mengilap, membuatnya sempoyongan, namun ia mengumpulkan seluruh tenaganya dan berlari dengan gigih tanpa menyerah.
Rumah yang mengurungnya tampak seperti rumah tradisional Korea pada umumnya dari luar, namun bagian dalamnya adalah jurang hitam tanpa cahaya dari marmer gelap. Lantainya licin bagai es, dan tanpa satu pun jendela yang bisa ditemukan, waktu yang seharusnya siang hari terasa segelap tengah malam.
Sambil terengah-engah, Gyubaek berbelok ke kiri, lalu berbalik ke kanan. Sayangnya, ke mana pun ia pergi, lorong itu tidak menawarkan jalan keluar. Dindingnya sama saja, hitam serupa; oleh karena itu, hampir mustahil untuk melacak kembali langkah-langkahnya.
Aku ingin melihat huruf hitam di atas halaman putih.
Dinding-dinding itu mengingatkannya pada apa yang paling ia rindukan: buku. Menghafal seluruh isi buku bukanlah hal yang sulit baginya; namun, satu-satunya yang bisa ia lakukan di kekosongan tanpa harapan ini adalah berusaha mengendalikan penglihatannya yang mulai kabur. Ia menepuk dahinya dengan frustrasi.
✦ ❖ ✦
Sudah sebulan sejak Gyubaek dilempar ke dalam labirin ini.
Ketika ia tertidur sambil mengamati seekor kalajengking di bagasi mobil, ia terbangun oleh serbuan cahaya matahari yang tiba-tiba dan menyilaukan. Hal pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah sekumpulan pria bermuka masam.
“…Bos, apakah ada orang yang termasuk dalam daftar barang yang harus diambil?”
“Siapa yang memasukkan anak kecil ke sini…?!”
“Apa yang kalian bicarakan?”
Dalam sekejap, sekelompok pria bertubuh seperti beruang berkerumun menuju bagasi. Gyubaek mundur dengan waspada, pantatnya menyeret lantai hingga punggungnya membentur logam dingin. Tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri.
“Jangan-jangan ini anak sang tuan muda?” tanya salah satu pria.
“Bodoh! Tuan Muda, punya anak? Jangan mengada-ada…!”
Sejenak, para pria itu melupakan segalanya dan berbisik-bisik dengan penuh semangat di antara mereka.
Pria terbesar dalam kelompok itu menyeringai dan bergumam, “Jangan ucapkan sesuatu yang begitu mengerikan.”
Chaewoo Kwon adalah tipe pria yang tersenyum saat menyiksa orang lain, monster tanpa setetes pun rasa kasihan dalam dirinya. Dalam logika mereka, mustahil seseorang yang begitu kejam bisa menjalin hubungan yang normal; pikiran bahwa ia memiliki seorang anak sungguh menjijikkan.
Pria itu melempar pandangan dingin ke arah ‘barang’ yang salah diambil itu sebelum segera membuat laporannya.
Beomhee, yang datang berlari saat dipanggil, memijat bagian belakang lehernya yang kaku, merasa gelisah oleh komplikasi yang tak terduga ini. Kemudian, Gyubaek diseret ke sebuah kandang anjing yang kotor dan bau apek.
“Aku bukan anak anjing! Ini tangan, bukan kaki depan…!”
Gyubaek mengepak-ngepakkan tangannya, tanpa henti menjelaskan perbedaan anatomi antara dirinya dan seekor anjing, namun ia akhirnya didorong masuk ke tempat yang tampak seperti kandang ayam yang sempit. Di dalamnya terdapat anak-anak kurus dengan mata kosong, wajah mereka satu-satunya bagian yang terlihat dalam kegelapan.
“Aku bukan ayam. Aku adalah…” Gyubaek menganggap dirinya seorang dokter, seorang pengamat, bukan spesimen yang diamati.
Dikurung di tempat yang tidak bisa ia bedakan apakah itu kandang ayam atau kandang anjing adalah luka mendalam bagi harga dirinya. Wajahnya memerah karena malu. Air mata mengalir di pipinya, respons tak berdaya terhadap situasi yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Lebah raksasa Asia, oosuzumebachi; semut peluru, Paraponera; lebah madu Afrika; semut tentara, Dorylus; lalat botfly manusia… Gyubaek menggertakkan giginya, diam-diam menyebut serangga paling berbahaya dan paling ditakuti di Bumi.
Seolah untuk menguji batas-batas paling rendah dari kehinaan manusia, makanannya disajikan dalam mangkuk anjing, dan seteguk air yang diberikan kepadanya hanya terasa seperti karat logam dari wadahnya.
Dalam momen-momen itu, Gyubaek tidak memikirkan kakeknya, juga bukan pamannya, melainkan Spesimen Jantan—bawahannya, yang telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia merindukan spesimen jantan milik sang direktur. Ia merindukan sosoknya yang megah, kekuatannya yang luar biasa, tubuhnya yang perkasa, giginya yang kuat, dan kakinya yang kokoh.
Suatu hari, Beomhee, pria yang diingat Gyubaek sebagai orang yang meninggalkannya di sana, datang kembali untuk menemuinya.Gyubaek meludah ke arahnya seolah sudah menunggu momen itu.
“…”
Ekspresi Beomhee tampak berkecamuk saat ia menatap ke bawah pada anak itu, yang semangatnya tetap membara meski sudah berhari-hari diperlakukan dengan kejam. Namun kemudian, seolah membulatkan tekad, Beomhee mengatupkan rahangnya dan berkata, “Ikut aku.”
Gyubaek lalu diseret ke tempat lain—di sisi yang berlawanan dari kandang anjing. Saat mereka meninggalkan kandang babi yang lembap dan berbau busuk itu, sinar matahari menerpa setiap langkah mereka menaiki tangga. Saat itulah ia melihat seluruh bangunan itu. Megah sekali, begitu agung hingga bocah kecil itu harus mendongakkan kepalanya sejauh mungkin hanya untuk melihat atapnya. Taman yang luas dan tak bertepi itu begitu memukau hingga pikirannya menjadi jernih dan mulutnya ternganga.
Gyubaek mengikuti Beomhee masuk ke bangunan utama, di mana seorang pria berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela. Siluet yang terhalang cahaya itu tampak bukan seperti manusia, melainkan seperti kekosongan yang terukir dari bayang-bayang.
“Itu anaknya?” tanya pria itu.
“Ya, Direktur,” jawab Beomhee.
“Bersihkan dia dengan seksama dan tempatkan di kamar yang layak.”
“Lalu?”
“Dia akan datang sendiri kepadaku.”
Gyubaek secara naluriah memejamkan matanya rapat-rapat saat pria itu berbalik. Ia merasakan tatapan dingin menyapu tubuhnya, membuat bahunya menegang, namun suatu naluri berteriak kepadanya untuk tidak menatap mata pria itu. Ketika ia diseret pergi seperti karung beras, ia tetap memejamkan matanya erat-erat.
Dan begitulah, Gyubaek memulai pengurungannya di sebuah kamar yang sempurna namun mencekik dengan kemewahan.
✦ ❖ ✦
“Hah… haah…!”
Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, Gyubaek berlari menerobos koridor dalam upaya putus asa untuk melarikan diri. Ia belok kiri, lalu kanan lagi. Ia hanya ingin kembali ke tempat perlindungan kecilnya, Klinik Arborist Pohon Cemara. Ia merindukan bau pupuk buatan Direktur So, bahkan pemandangan kuku mencolok Chuja saat menggosok kotoran dari kulitnya.
Maka, tiga kali sehari, selama jeda singkat ketika makanannya diantarkan, Gyubaek mencoba pelarian yang sama seperti hari sebelumnya.
“Direktur So…!” panggilnya memohon.
Ia melihat salah satu staf rumah besar itu menghela napas dan mengangkat walkie-talkie ke bibirnya. Tatapan pria itu mengandung rasa jengkel yang lelah, bukan urgensi.
Gyubaek berteriak, “Seorang dokter tidak bisa dijinakkan!”
Ia melarikan diri, namun semakin jauh ia masuk, semakin terasa seperti labirin. Kemudian, untuk pertama kalinya, ia menemukan sebuah pintu.
“…!”
Merasakan langkah kaki yang semakin mendekat, Gyubaek membuka pintu itu dan menyelinap masuk. Ruangan yang remang-remang itu terasa sangat menyeramkan. Kabut tebal dari humidifier mengambang di udara, dan suara berirama bergema.
Bip, bip.
Gyubaek berkedip tepat tiga kali, mulutnya ternganga.
“Spesimen Jantan…” Suaranya yang biasanya datar kini bergetar.
Bocah itu perlahan-lahan mendekat ke arah ranjang. Ia menatap tubuh Chaewoo yang tak bergerak, menggosok matanya sekali, dua kali, tiga kali. Perlahan, lubang hidungnya mulai mengembang.
“Dia! Ini Spesimen Jantan. Hampir persis dia yang asli!” Kekuatan kembali mengalir ke suara Gyubaek saat ia mengucapkan kata-kata aneh itu. “Benar-benar hampir persis Spesimen Jantan!” Tiba-tiba, ia melompat-lompat kegirangan, bergerak lincah seperti puting beliung, seolah baru saja menemukan kembali harta yang tak ternilai. “Di mana saja kamu selama ini? Kenapa butuh waktu selama ini untuk sampai ke sini!?”
Mengatupkan kedua tangannya seolah hendak bernyanyi, Gyubaek mulai dengan bangga memaparkan temuannya. “Spesimen Jantan terdiri dari kepala, badan, dan anggota tubuh, dengan fisik sempurna yang memiliki dua lengan dan dua kaki. Ciri-cirinya meliputi panjang tubuh yang melebihi ukuran ranjang, tangan dan kaki yang besar, serta hidung yang mancung. Organ reproduksi jantan adalah—”
Tepat saat itu, pintu terbuka dengan keras. Beomhee masuk dan menyambar Gyubaek, menyelipkannya di bawah satu lengan. Gerakannya terlatih, dan bocah itu tampak sudah cukup terbiasa. Bahkan saat digendong terbalik, mata Gyubaek yang seperti batu Go hitam itu bersinar penuh kemenangan.
Kemudian, ketika pintu tertutup dengan bunyi klik, kelopak mata Chaewoo mulai bergerak-gerak.
✦ ❖ ✦
Iyeon mondar-mandir di ruang tamu sambil menggigiti kukunya.Polisi telah pergi, berjanji akan menelusuri plat nomor dari rekaman itu, tapi ia tidak menaruh harapan. Ia berani bertaruh seluruh tabungan hidupnya bahwa mereka akan kembali dengan tangan kosong.
Menghela napas panjang, Iyeon mengusap wajahnya dengan satu tangan lalu ambruk ke sofa. Ia tahu di mana Gyubaek berada. Ia juga tahu cara tercepat dan termudah untuk menemukannya.
Kendaraan yang datang menjemput Chaewoo pasti sudah kembali ke kediaman keluarga Kwon. Artinya, ia bisa memastikan keberadaan Gyubaek dengan menghubungi Giseok Kwon.
Namun, di saat itu, peringatan Direktur Cho bergema dalam benaknya.
“Kamu sebaiknya menghindari siapa pun yang bernama Kwon.”
Iyeon menundukkan kepala, menggenggam ponselnya seolah sedang berdoa.
Pikirannya menelusuri kenangan tentang Giseok Kwon dan obsesinya terhadap kebersihan, rumah jagal itu, dan Chaewoo yang mengubur sesosok tubuh di gunung.
Saatnya telah tiba untuk menghadapi kebenaran yang selama ini ia hindari mati-matian. Ia harus menelepon, tapi melakukannya berarti melewati titik tanpa jalan kembali. Denyutan yang berdegup keras di tenggorokannya menjalar ke seluruh tubuh, sebuah gemetar yang mengguncang seluruh dirinya.
Chaewoo sudah pergi. Pikirkan saja Gyubaek, tidak ada yang lain.
Ia mengetuk layar beberapa kali dan mengangkat ponsel ke telinganya. Nada sambung yang panjang dan berlarut-larut terasa seperti detak bom waktu yang perlahan mencekiknya.
“Kamu lama sekali baru menelepon,” kata suara di ujung sana.
“…!”
Iyeon menggigit bibirnya. Tenggorokannya sudah terasa kering, keringat dingin mulai membasahi kulitnya.
“—Kamu tidak menelepon sekadar untuk menyapa, kurasa.”
“…”
“Kamu menelepon untuk meminta bantuan, Ms. Iyeon So. Atau mungkin, untuk mengeluh.”
Iyeon merasa bisa mendengar bisikan angin yang samar dari gagang telepon itu.
“Ada sesuatu… yang perlu kamu periksa untukku.”
“Chaewoo baik-baik saja.”
“Ah, bukan! Bukan soal dia…!” Iyeon mengusap dahinya; otot-ototnya menegang menjadi simpul frustrasi. “Ini soal Gyubaek. Dia anak laki-laki berusia delapan tahun, bertubuh kecil untuk usianya. Dia dibawa di bagasi mobilmu.”
“Ah, ya.”
Jawabannya yang begitu tenang itu mengirimkan gelombang kecemasan baru ke dalam dirinya.
“Orang-orangmu pasti sudah menemukannya. Apakah dia baik-baik saja? Tolong, kamu harus memeriksanya sekarang—”
“Ulangi itu—dengan hormat.”
“…Apa?”
“Aku akan menutup telepon sekarang, dan kamu boleh menelepon kembali dalam satu jam.”
“T-Tunggu!” Iyeon melompat dari sofa.
“Ms. So, aku hampir tidak pernah kehilangan apa pun yang sudah ada dalam genggamanku.”
“…”
“Pada kesempatan langka ketika itu terjadi, aku selalu memastikan untuk menemukan kembali jasadnya.”
“…!”
Iyeon merasakan firasat buruk bahwa sesuatu sedang berjalan salah. Sudah sangat jelas bahwa ‘mengembalikan anak yang hilang’ bukanlah konsep yang ada dalam dunia Giseok Kwon. Baru saat itulah Iyeon menyadari ini bukan penyelamatan; ini adalah negosiasi sandera.
“Jadi, aku sarankan kamu memilih kata-katamu berikutnya dengan hati-hati,” kata Giseok. “Jika kamu ingin mengambil apa yang kini menjadi milikku, kamu harus mulai dengan memikirkan apa yang bisa kamu tawarkan sebagai gantinya.”
✦ ❖ ✦
“Aku i-istrimu…”
Mata Chaewoo terbuka seketika. Bibirnya pucat dan abu-abu seolah baru saja ditarik dari kedalaman lautan es. Dingin yang dalam dan tidak wajar mengguncang tubuhnya, dan ia langsung menyadari suhunya telah anjlok. Udara segar yang menyentuh kulitnya memberitahunya bahwa terik panas musim panas akhirnya telah mereda saat ia tidak sadarkan diri.
Berapa lama aku tertidur?
Ia menempelkan telapak tangan ke pelipisnya yang berdenyut. Suaranya serak saat ia mengucapkan satu nama: “Iyeon.”
Tangan Chaewoo secara naluriah meraba ruang di sebelahnya, tapi ia hanya merasakan tekstur asing sebuah selimut. Ia memandang sekeliling, menyadari bahwa ia sendirian di ranjang yang luas dan kosong itu.
“…”
Ia membeku, dahinya mengernyit saat mencoba menyatukan serpihan-serpihan pikirannya yang kabur. Ruangan itu asing, namun terasa begitu familiar.
Iyeon? Ia mengepalkan dan membuka kembali tangannya yang dingin membeku.
Ia mencoba memanggil namanya lagi ke dalam keheningan yang menekan itu. Tidak ada jawaban yang datang.
Menopang diri dengan sikunya, Chaewoo mengangkat tubuh bagian atasnya dari kasur. Pupil matanya tidak fokus, pandangannya bergetar pada kekosongan seolah mencoba menggenggam kenyataan.
Iyeon, aku baru saja mengalami mimpi buruk yang mengerikan.
Sebuah suara yang lemah,Tawa mengejek diri sendiri lolos darinya saat ia mengusap wajahnya dengan satu tangan. Ia sangat ingin mengubur wajahnya di lekukan leher Iyeon, menghirup aromanya hingga paru-parunya terbakar, dan memeluknya erat.
Aku baru saja bermimpi yang paling gila.
Ia ingin merengek seperti anak kecil dan merasakan kulit lembutnya.
Mata Chaewoo yang berat terarah ke pintu yang tertutup rapat. Ia hampir bisa merasakannya—keyakinan bahwa setiap saat pintu itu akan terbuka lebar dan Iyeon akan terbang ke dalam pelukannya, seperti anak panah yang menemukan sasarannya.
Lalu, ia akan menariknya duduk di antara kedua kakinya dan mendengarkan saat ia bercerita tentang apakah Pohon Roh sudah pulih dengan baik, dan apa yang ingin ia katakan setelah turnamen. Ia akan menjalin jari-jarinya di atas perut ramping Iyeon dan menyandarkan dagunya di lekukan bahu yang lembut itu.
Namun dalam keheningan yang mencekam, hanya terganggu oleh dengungan rendah pelembap udara, rasa takut yang dingin mulai melingkar di perutnya. Ia menyadari aroma menenangkan dari Klinik Pohon Cemara telah lenyap seolah itu hanya pernah ada dalam mimpi.
Akhirnya, Chaewoo mengayunkan kakinya keluar dari tempat tidur. Ia mengatupkan rahangnya menahan gelombang sakit kepala yang membuatnya pusing, memaksakan diri untuk berdiri, dan menarik tirai dengan kasar.
Di baliknya, taman yang luas dan terawat sempurna membentang hingga ke cakrawala.
“Apa yang sedang terjadi?”
Wajahnya menyeringai, seluruh sikapnya berubah dalam sekejap. Tatapannya yang tadinya lesu berubah menjadi sorot tajam dan liar seperti anjing pemburu.
Ini adalah kediaman keluarga Kwon.
Saat kesadaran itu mengendap, cahaya menyala dan padam di balik matanya. Tak lama kemudian, pikirannya larut dalam kekacauan. Dua kumpulan kenangan yang sangat berbeda saling bertabrakan, memantul, hanya untuk bertabrakan lagi dan lagi. Sakit kepala yang ganas berdenyut di seluruh kepalanya saat dua ego berbeda yang seharusnya tidak pernah berdampingan saling berebut dominasi. Ia menyipitkan mata, mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan keras seolah mencoba mengembalikan bagian yang longgar ke tempatnya.
Permukaan ingatannya bergolak, menjanjikan sebuah wahyu. Tapi tidak ada yang muncul.
“…”
Kemudian, dalam ketenangan yang tiba-tiba dan menggelisahkan, naluri mengambil alih. Chaewoo menyingkirkan kekacauan dalam pikirannya, hanya berfokus pada kebutuhan yang paling mendesak. Ia bergerak menuju sumber rasa haus yang mengonsumsinya, didorong oleh dorongan yang bukan berasal dari pikiran yang retak melainkan dari ingatan yang terukir di tulang-tulangnya.
Ia menerobos keluar dari kamar dan meraih lengan seorang pembantu tua yang sedang mengganti air di vas bunga.
“Ya ampun…!” serunya.
Chaewoo merenggut vas kaca itu dari tangan sang pembantu, membuang bunga-bunganya ke samping. Mata pembantu itu membelalak saat pria tinggi dan berwibawa di hadapannya mendongakkan kepala dan meneguk air basi dari vas itu. Air mengalir dari sudut-sudut mulutnya, membasahi dagunya, sementara jakun-nya bergerak naik turun dengan panik. Setelah menghabiskan isi vas, ia membantingnya ke lantai. Buket bunga di tangan satunya hancur berantakan.
“Di mana wanita yang datang bersamaku?” tuntut Chaewoo, suaranya rendah seperti geraman.
“Apa?” Sang pembantu membeku, pandangannya terpaku pada kakinya sendiri. “S-Saya… Saya tidak mengerti maksud Tuan…”
“Di mana istriku?” tuntutnya lagi.
“Eh…”
“Jangan buat aku bertanya untuk ketiga kalinya.”
Sang pembantu telah diberi perintah tegas untuk tutup mulut selama bekerja di bangunan samping ini, tetapi ia tidak berdaya menghadapi pria yang muncul seperti hantu untuk menyiksanya.
Membungkukkan bahunya yang kurus, ia tergagap, “S-Saya tidak… B-Bangunan samping ini hanya digunakan oleh Tuan dan— Oh!”
Chaewoo tidak melewatkan kilatan keraguannya. Mengusap dagunya dengan punggung tangan, ia menganggukkan kepala dan berkata, “Tunjukkan jalannya.”
“T-Tapi… kamar itu terkunci…”
“Apa?”
“Yah, tamu muda itu mencoba melarikan diri…”
Wajah Chaewoo menyeringai suram. Periode panjang ketidaksadaran telah melucuti segala kelembutan dari wajahnya, membuatnya tampak tajam secara brutal. Perubahan sekecil apapun dalam ekspresinya sudah cukup membuat sang pembantu bergidik.
“Jadi kau mengunci seseorang di dalam kamar?”
Buku-buku jari dari kepalan tangannya memutih seperti tulang. Bayangan Iyeon, terjebak dan sendirian,sudah seperti demam yang memabukkan di benaknya. Ia mendorong pelayan di depannya dan mempercepat langkah.
Lorong gelap itu terasa seperti kerongkongan makhluk besar, dan dinginnya lantai marmer meresap ke telapak kaki Chaewoo. Saat ia membelok di sudut, pandangannya menangkap cermin di dinding dan bertemu dengan tatapan kosongnya sendiri.
Begitu matanya bertemu dengan pantulan itu, sesuatu pecah, membuatnya terpaku.
“Dan kau berani mengoceh omong kosong soal cinta?”
Chaewoo terhuyung karena terkejut.
“Tepat di sini, tepat sekarang, aku akan menghapus setiap kenangan yang kumiliki tentangmu.”
Wajah jahat dalam pantulan itu berkedut, salah satu sisinya kejang seolah sedang mengkerut.
“Apa pun yang kau lakukan, kau tidak akan pernah melihat ‘suamimu’ lagi.”
“Seharusnya kau punya sedikit rasa malu.”
“Apa aku pernah, bahkan sekali saja, mengucapkan kata-kata ‘aku mencintaimu’?”
“Sadarlah, Iyeon So. Memangnya enak sekali sampai begini?”
Chaewoo merasakan racun menjijikkan yang bergolak dalam dirinya.
Apakah aku sedang bermimpi buruk di siang bolong? Atau aku sudah benar-benar gila?
Namun suara dalam kepalanya, sefantom apa pun itu, tak bisa dipungkiri adalah suaranya sendiri.
“Aku datang ke Pulau Hwai semata-mata untuk menguburmu.”
“Aku pernah mencekikmu sekali. Aku bisa melakukannya lagi.”
Begitu pintu air jebol, kenangan-kenangan itu mengalir deras. Chaewoo merasa seolah kulit orang lain dipasangkan dengan sempurna di atas tangan dan kakinya sendiri. Itu adalah sensasi yang mengerikan saat satu Chaewoo Kwon mengenakan yang lain seperti sebuah setelan.
Pelayan itu menatap, bingung dengan kediamannya yang tiba-tiba. “T-Tuan Muda?”
Mata Chaewoo terkunci pada cermin, tatapannya begitu tajam seolah hendak menembus lubang tepat di tengahnya. Ia baru saja menyadari apa yang telah ia lakukan. Chaewoo yang lain telah meninggalkan Iyeon dalam kobaran api bahan bakar jet, tahu bahwa ia akan terluka. Ia juga telah merusak turnamennya, menginjak-injaknya saat ia meraih tangannya, menebang Pohon Roh, dan mencibir saat menyaksikan massa yang kalap menelannya bulat-bulat.
“Bagaimana caranya aku harus tahan menghadapimu?”
“Hanya melihatmu saja sudah membuat darahku mendidih.”
Chaewoo mengingat bagaimana ego yang tidak utuh dalam dirinya menyimpan kebencian terhadap Iyeon, dan semua cara keji yang ia gunakan untuk melampiaskannya. Semuanya ada di sana, terang benderang menyengat. Adegan-adegan itu, puing-puingnya, hingga bulu mata terakhir yang berkilau di pipinya yang basah oleh air mata—semuanya terpatri di balik matanya. Saat kenangan-kenangan itu mengendap, merinding menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Ugh…”
Begitu banyaknya informasi yang saling berbenturan, perang di dalam tengkoraknya yang terasa seperti sedang merebus otaknya. Lalu, tanpa peringatan, sebuah tangan hitam pekat menyembul keluar dari cermin—halusinasi yang sungguh nyata.
“…!”
Itu adalah anjing bodoh, Chaewoo Kwon, yang diciptakan Iyeon. Mata si bodoh merah berdarah, pembuluh kapilernya pecah entah karena air mata atau trauma, saat ia mulai mencekik dirinya sendiri. Si bodoh adalah makhluk yang menyedihkan dan sengsara, sesuatu yang kotor yang tampak kurang dari manusia, seolah telah dikurung jauh dari cahaya sepanjang hidupnya. Anjing bodoh itu mencakar dirinya sendiri—mencakar dirinya, anjing pemburu, putra bungsu keluarga Kwon—melolong kesakitan.
Cengkeraman itu lahir dari kebencian murni, mencekiknya, memuntir lehernya ke sudut yang tidak wajar. Chaewoo tidak bisa tidak berpikir bahwa sisi bodoh dirinya ini terlihat lebih seperti anjing pemburu sejati daripada yang pernah ia jadikan dirinya. Si bodoh memiliki setiap aspek yang seharusnya dimiliki seekor anjing yang layak: kesetiaan buta di matanya, naluri liar untuk tidak pernah melepaskan saat sudah menggigit, kemarahan meludah dari anjing gila yang kehilangan tuannya. Binatang itu, masih menggenggam tali yang putus di lehernya, tampak benar-benar, tanpa harapan, sengsara.
Jadi kaulah bajingan yang tidur-tiduran dengan Iyeon So.
Chaewoo mencengkeram pergelangan tangan si bodoh dalam visi itu, memaksa mata mereka bertemu.
Aku hanya punya satu alat kelamin, tapi selama ini rasanya seperti aku berbagi denganmu. Bayangkan betapa muaknya itu.
Si bodoh menggeram. Lalu Chaewoo memikirkan sesuatu—sebuah ide yang muncul begitu alami sehingga hampir terasa konyol bahwa ia tidak memikirkannya sejak tadi.Jika Iyeon So memahatmu dengan kedua tangannya sendiri… ia menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.
Chaewoo hanya menjalani satu musim sebagai suami Iyeon. Namun musim panas yang singkat itu terbakar dengan intensitas yang mengancam akan menghanguskan sisa hidupnya. Sebelum sempat berpikir, Chaewoo mengulurkan tangannya, menempelkan telapaknya ke wajah si idiot yang begitu liar dan tak terduga.
Kalau begitu, kamu seharusnya menjadi milikku.
Rasa cemburu yang pekat dan mencekik—sebuah kepemilikan yang begitu mutlak—berbisik di telinga Chaewoo untuk melahap si idiot seutuhnya—bahkan jika itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Si idiot meronta, memperlihatkan taringnya, namun Chaewoo hanya mempererat cengkeramannya, menancapkan jari-jarinya ke kulit makhluk itu yang seperti kulit kayu seolah ingin menggilingnya menjadi debu. Lalu Chaewoo mendengar tawa rendah yang menjijikkan.
Aku sudah menunggu ini, si idiot menyeringai padanya.
Chaewoo mendengar suara retakan. Sebuah celah, yang hanya terlihat olehnya, menjalar seperti jaring di permukaan cermin. Ia melihat si idiot tersenyum balik padanya dengan ekspresi kegembiraan yang murni dan ekstatis.
Chaewoo menatap rambut hitam yang mengalir seperti cat kental, terbelah untuk memperlihatkan sepasang mata yang sepenuhnya liar. Lalu ia menyadari bahwa itu, tak bisa dipungkiri, adalah wajahnya sendiri. Bayangan yang menyeringai balik padanya, bibir terentang lebar di balik kaca yang retak, bukanlah si idiot. Itu adalah Chaewoo Kwon sendiri.
“Hah…”
Punggung Chaewoo basah kuyup oleh keringat dingin. Dua dunia yang begitu berbeda secara mendasar akhirnya menyatu satu sama lain, tanpa meninggalkan satu pun jejak. Si idiot melahap anjing pemburu, dan anjing pemburu melakukan hal yang sama pada si idiot. Pada akhirnya, mereka saling melahap satu sama lain.
“…N-Nona Muda, apakah Anda baik-baik saja?” tanya pelayan itu, suaranya sarat dengan kekhawatiran dan ketakutan yang mendalam.
“Tidak,” jawab Chaewoo, suaranya hampa. “Aku berantakan.”
“Jika Anda tidak merasa baik, mungkin—”
Chaewoo berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun.
Gagasan bahwa Iyeon berada di kediaman keluarga itu sungguh menggelikan.
Jika ada yang salah saat aku tidak sadarkan diri…
Kakinya terasa asing saat ia melangkah menyusuri lorong, seolah milik orang lain. Ia tahu bahwa jika ia menghadapi Iyeon sekarang, tidak akan ada ketenangan, hanya kekacauan. Namun demikian, ia tak sanggup menahan dorongan di dalam dirinya.
Ia ingin ambruk di kaki Iyeon, memberitahunya bahwa suaminya telah kembali, dan menggosokkan pipinya ke lutut Iyeon sampai Iyeon bosan. Namun di saat yang sama, ia takut mungkin akan meledak dengan kata-kata kejam, berusaha menyakitinya lebih jauh lagi.
Ketika Chaewoo akhirnya memaksa pintu kamar tamu terbuka, ia melihat bahwa ruangan itu kosong. Ia berdiri di sana, menatap kekosongan itu cukup lama hingga ia mendengar sebuah suara.
“Chaewoo.”
Ia langsung mengenali suara itu dan berbalik. Giseok sedang mendekat, dengan teliti merapikan manset bajunya. Matanya yang dingin dan tak bernyawa menyapu Chaewoo dalam penilaian yang diam.
“Sudah sebulan? Atau sudah dua tahun?”
Alis Chaewoo sedikit berkedut saat ia menghadapi kakaknya.
“Aku sudah menerima laporan tertulis tentang kondisi fisik dan mentalmu,” kata Giseok dengan acuh tak acuh.
“…”
Chaewoo memandangi wajah yang begitu mirip dengan wajahnya sendiri seolah itu milik orang asing. Ia memutar lehernya yang kaku hingga sendi-sendinya berbunyi. Euforia yang ia rasakan sesaat lalu saat pikirannya hancur dan tersusun kembali sudah memudar, hanya menyisakan kebosanan yang familiar dan mencekik.
Tanpa Iyeon, dunia terasa redup. Indranya, seleranya, reaksi spontannya—semuanya seolah terbungkus rapat dalam lapisan film yang dingin. Ia berkedip perlahan, mengamati pria di hadapannya dengan kebosanan yang total.
“Gangguan tidurmu sama seperti biasanya. Soal ingatanmu, sulit untuk mengatakan apakah itu tidak lengkap atau hanya tidak stabil. Bagaimanapun, lupakan soal kembali ke tugasmu sebagai anjing penyerang keluarga untuk saat ini. Pergi perbaharui kehidupan sosialmu, bergaullah dengan sekumpulan anak manja itu untuk sementara. Akan lebih baik lagi jika kamu kembali dengan beberapa foto yang bisa dipakai untuk memeras.”
“Anak-anak manja” yang dimaksud Giseok adalah anak-anak tersembunyi dari tokoh publik terkemuka atau politisi berpengaruh. Kelemahan mereka bagaikan kerikil yang dikumpulkan keluarga Kwon sebagai kebiasaan, dan reputasi Chaewoo sebagai anjing penyerang Suguk Pharmaceuticals sangat berguna untuk itu.Dia berpura-pura menjadi bagian dari mereka hanya untuk menusuk mereka dari belakang di saat yang kritis, selalu mengamankan keuntungan bagi keluarga.
“Ngomong-ngomong…” Giseok, yang sedang merapikan mansetnya, melirik Chaewoo dari sudut matanya. “Kamu pasti kecewa permainan kecilmu berakhir secepat itu.”
“Maksudmu apa?” tanya Chaewoo, tatapannya berubah dingin membeku.
“Ini pertama kalinya aku melihatmu merendahkan diri seperti itu. Kamu tidak pernah menunjukkan kasih sayang sedikit pun kepada keluargamu sendiri. Kamu memperlakukanku seperti mertua yang cemburu.” Kenangan itu tampaknya masih mengganjal, bagian terakhirnya bergumam pelan. “Jadi, bagaimana rasanya? Dikekang untuk sekali ini.”
“…Perlu ditanya? Menyebalkan sekali.” Mata Chaewoo tetap dingin, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk seringai malas yang kurang ajar.
Chaewoo memainkan peran dirinya sebelum Iyeon—sosok yang sama, dekaden, penuh kesenangan, dan young master Keluarga Kwon yang tak terkendali.
“Sekarang?” Giseok mendorongnya untuk melanjutkan.
“Mau ke mana arah pembicaraanmu ini?”
Chaewoo menyipitkan mata dengan kesal, dan Giseok melangkah lebih dekat. Tinggi mereka hampir sama, dengan aura dingin yang serupa terpancar dari keduanya.
Mata dingin Giseok tiba-tiba bersinar dengan cahaya aneh. “Aku penasaran apa yang sedang berputar di kepalamu.”
“Tanya dokter saja,” dengus Chaewoo.
“Tapi aku ingin mendengarnya darimu.”
Dahi Chaewoo berkerut menghadapi keanehan kakaknya yang terus memaksa.
Tatapan itu…
Mata Giseok terasa familiar, namun sama sekali asing.
Chaewoo teringat saat ia dibawa kembali ke Rumah Kwon. Dari sudut pandangnya, ia tidak kembali ke keluarganya, melainkan keluarganya yang berubah dalam semalam. Berbeda dengan orang tua kandungnya yang kesabarannya sudah habis menghadapi putra bungsu mereka yang sangat sensitif dan agresif, reaksi Giseok selalu… aneh.
Keluarga menyimpulkan bahwa anak laki-laki yang menempel pada cello siang dan malam itu telah gila karena Stockholm syndrome. Semua orang melempar tatapan hina kecuali Giseok yang berusia dua puluh lima tahun, yang hanya menatap Chaewoo muda dengan mata aneh yang tak terbaca. Ia memperhatikan rambut hitam legam itu, wajah waspada yang tampak siap menggigit, tangan dan kaki yang kecil, bahkan kilatan menggelisahkan di matanya.
Namun, meski Giseok mengamati setiap inci tubuh Chaewoo dengan begitu tanpa henti, satu hal yang tidak pernah ia lirik adalah cello—yang konon dibawa Juha Yoon dari pegunungan.
“Chaewoo.”
Chaewoo muda kini telah tumbuh dewasa dan akhirnya bisa bertatap mata sejajar dengan kakak sulungnya. Setelah semua tahun itu berlalu, ia akhirnya memahami emosi sesungguhnya yang berkedip di mata Giseok.
“Apakah kamu benar-benar hanya merasa jijik pada Nona So?”
Kebenaran yang tersembunyi di balik semua lapisan itu sederhana: Itu adalah rasa cemburu yang intens dan belum matang. Pikiran Chaewoo langsung melayang ke malam ketika ia memutuskan untuk mengejar Iyeon. Giseok-lah yang menanamkan ide itu kepadanya.
✦ ❖ ✦
“Jangan sekali-kali kamu panggil perempuan itu ibumu!”
Giseok membanting botol minuman keras ke dinding. Botol itu pecah berantakan sementara cairan berwarna amber mengalir di sepanjang plester.
Rambutnya, yang selalu tersisir rapi, kini berantakan. Kancing teratas kemejanya, yang selalu dikancingkan dengan obsesif, kini terbuka. Helai rambut yang jatuh di dahinya yang halus seperti marmer tampak seperti retakan di batu.
“Panggil dia dengan benar, Chaewoo.”
Suara Giseok bergetar, hampir tidak mampu menahan amarahnya, tapi luapan emosi yang langka itu tidak membuat kakaknya sedikit pun bergeming.
Chaewoo baru saja kembali dari sebuah pekerjaan, kemeja hitamnya masih menempel di kulitnya, holster senjatanya terikat erat di bahu dan pinggangnya. Ketika ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan, meninggalkan noda merah tua yang tebal.
“Kenapa kamu berbohong padaku?” tanya Chaewoo.
“…”
“Kamu bilang dia langsung meninggal. Kamu bilang tubuhnya begitu hancur dalam kecelakaan mobil sampai mereka tidak bisa mengambil jasadnya secara utuh. Tapi kamu tahu kebenarannya. Kamu tahu sejak awal bagaimana keluarga ini membiarkan ibuku merana dan mati di ruang bawah tanah itu.”
Dengan amarah yang memuncak,Chaewoo melompat maju dan mencengkeram kerah baju Giseok.
Bibir Giseok bergetar sejenak sebelum ia dengan tenang merapikan rambutnya. “Ahh… Tentu saja, aku sudah tahu.”
Ibu kandung Chaewoo sudah lama menarik diri ke dalam kehidupan yang penuh keterpurukan, dan ayahnya sedang sekarat. Tanpa tempat untuk melampiaskan amarahnya yang mendidih, Chaewoo mengarahkannya kepada pewaris Keluarga Kwon, yang saat ini menopang seluruh keluarga itu.
“Dan tentu saja, siswi muda itu—yang terlihat begitu cantik dengan seragam sekolahnya? Dia juga tahu,” kata Giseok kepadanya.
“…!”
“Namanya Iyeon So, bukan?”
Bahu Chaewoo menegang. Melihat getaran di matanya, Giseok tersenyum.
“Menurutmu apa yang didapat gadis itu sebagai imbalan karena mengkhianati Juha Yoon, Chaewoo?”
Kenapa dia membawa-bawa namanya sekarang?
Sejenak, pikiran Chaewoo menjadi kosong sepenuhnya. Di antara semua yang ia miliki, Iyeon adalah satu-satunya yang tidak ternoda. Ia adalah sebilah rumput yang indah di tengah lanskap kenangannya yang gersang.
Selama bertahun-tahun, saat kerinduan dan amarahnya yang terpilin selalu diabaikan, hatinya berkarat seiring waktu seperti pisau yang terkubur di tempat pembuangan. Bahkan di tengah semua kesulitan itu, dialah satu-satunya yang bertahan.
Lalu kenapa dia…?
“Kamu butuh seseorang untuk disalahkan? Seseorang untuk melampiaskan ini? Lakukan apa yang kamu mau, tapi kamu harus memutuskan siapa yang menjadi sasaran terlebih dahulu,” Giseok mengingatkannya.
“…Hentikan permainan sialan-mu. Bahkan jika apa yang kamu katakan benar, fakta bahwa kalian bajingan menyiksanya hingga mati tidak akan berubah.”
“Ketika kamu tersandung di jalan yang salah, kesalahannya ada pada langkah pertama itu sendiri.”
“…”
“Chaewoo, kamu harus melakukan apa yang paling kamu kuasai.”
Giseok mengulurkan tangan, sentuhannya dingin saat ia menghapus noda darah dari pipi adiknya yang gemetar.
✦ ❖ ✦
“T-Tolong ampuni aku…!”
Mengenakan jas hujan hitam yang mengkilap, Chaewoo sedang mengubur seseorang hidup-hidup. Ia sudah melihat tembus upaya canggung Giseok untuk mengalihkan amarahnya sejak awal. Apa pun harganya, berapa pun lamanya, tekadnya untuk menghancurkan Keluarga Kwon tidak akan berubah.
Malam itu, ia menangkap salah satu anak buah Giseok dan sedang mengurusnya di sebuah gunung terpencil. Saat ia mengubur pria itu, sebuah lengan menerobos tanah, mencakar tanah dengan putus asa. Chaewoo tanpa ampun menginjak lengan itu dengan tumit sepatunya.
“Bukan itu yang seharusnya kamu katakan. Dalam situasi ini, kamu seharusnya memohon agar aku membunuhmu.”
Berbeda dengan pria yang meronta dalam kepanikan murni, Chaewoo perlahan berdengung mengikuti melodi bernada minor. Ekspresinya sama sekali tenang, tapi tendangannya mematikan. Dengan bunyi retak yang basah dan menjijikkan, jari-jari pria itu hancur.
“Gaaah…!” Sebuah teriakan, tercekik oleh tanah, bergema dari tumpukan tanah itu.
“Tidak mengerti? Semakin kamu meronta, semakin menyenangkan ini bagiku.”
“Mmph…!”
“Dengan bajingan-bajingan bodoh sepertimu yang terus muncul, bersikap keras kepala, aku benar-benar tidak bisa berhenti melakukan hal-hal ini.”
“Ugh… gack…!”
Tepat saat itu, bunyi patahan yang samar namun mengganggu membelah udara. Itu adalah suara yang menarik perhatian Chaewoo lebih keras dari teriakan mana pun.
“Suara apa itu?” Chaewoo sengaja menjatuhkan sekopnya, matanya terkunci pada semak-semak. “Tidak mau lari?” tanyanya kepada orang asing itu.
Melihat punggung ramping yang tersentak dan melarikan diri, ia merasakan sensasi aneh dan predatoris bergolak dalam dirinya. Saksi yang dibiarkan hidup adalah ujung yang longgar.
Chaewoo mengambil gergaji mesin yang ditinggalkan seseorang dan mengikuti sosok itu dengan langkah santai. Ia tidak bisa memalingkan matanya dari rambut wanita itu, yang terlihat memesona bahkan dalam kegelapan.
Sebelum wanita itu bisa menjauh lebih jauh, Chaewoo memperpendek jarak dan melilitkan senar cello di leher wanita itu.
“…!”
Saat ia berbalik menghadap Chaewoo, ia melihat bahwa matanya dipenuhi tekad untuk melihat wajah pembunuhnya sebelum ia mati. Ketakutan juga menguasai mata wanita itu, tapi tatapannya tidak goyah.
Cengkeraman Chaewoo mengendur.
Akhirnya kamu di sini, pikirnya, kegembiraan meluap dalam dirinya. Haruskah aku membuatmu pingsan dulu, atau langsung menyeretmu pergi sambil meronta? Bagaimana aku membuatmu membayar? Aku harus membuatmu bicara,tapi bisakah kamu menahan rasa sakitnya? Aku tidak pernah menunjukkan belas kasihan sedikit pun kepada targetku sebelumnya.
Saat badai pikiran yang kacau — jenis yang tidak pernah biasa ia rasakan — berputar di benak Chaewoo, ia merasakan kehadiran lain yang mendekat.
Tanpa berpikir, ia melindungi wanita itu dengan tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang tajam menghantam kepalanya berulang kali. Ia bisa merasakan kulit kepalanya robek, tengkoraknya retak, namun anehnya, tidak ada rasa sakit.
Chaewoo hanya berjuang untuk tetap membuka kelopak matanya yang berat. Ia ingin melihat mata wanita itu yang kesepian namun lembut sedikit lebih lama. Ia menatap wajahnya yang membeku hingga penglihatannya akhirnya memudar menjadi gelap.
✦ ❖ ✦
“Apakah kamu benar-benar hanya merasa jijik padanya?”
“…”
Ekspresi Chaewoo kosong saat ia menatap, seolah berusaha menembus mata saudaranya. Giseok pernah memprovokasi dirinya ketika ia mulai kehilangan kendali dalam kekerasan setelah kehilangan ibunya dan musiknya. Giseok telah membawanya ke Pulau Hwai dan menyuruh orang mengikutinya, sekaligus mengatur sebuah konfrontasi.
Setelah kecelakaan itu, Giseok telah memeras Iyeon agar merawat Chaewoo, dan kemudian, bahkan membantunya memberi makan Chaewoo dengan kebohongannya. Tindakannya yang berubah-ubah adalah kontradiksi yang terus-menerus, niat sebenarnya mustahil untuk dipahami, namun kini—
“Jadi bunga itu memang hanya dimaksudkan untuk menjebakku,” gumam Chaewoo, kata-katanya hampir tak terdengar.
Juha Yoon pernah memberitahunya bahwa tanaman yang jauh lebih kecil dan lebih cantik dari pohon adalah bunga. Gadis berseragam itu adalah bunganya.
Chaewoo tidak bisa menebak siapa yang dipermainkan oleh saudaranya. Bisa jadi Iyeon, bisa jadi dirinya. Atau bisa jadi keduanya.
Ia menatap kekosongan, tangannya mengepal erat.
Hidup bersamamu, jatuh cinta padamu… Apakah semua itu benar-benar bisa menjadi sebuah kebetulan?
Chaewoo merasa seolah ia dengan sadar menggenggam mawar penuh duri di tangannya. Duri-duri itu menusuk telapak tangannya, dan tetes-tetes darah jatuh ke lantai.
Satu hal yang pasti: Sampai ia bisa membongkar Giseok dan mengungkap kebenaran, Iyeon jauh lebih aman di Pulau Hwai.
Namun begitu, kerinduan yang tiba-tiba dan membara membuatnya memejamkan mata rapat-rapat.
✦ ❖ ✦
Tangan Iyeon gemetar saat ia memegang cangkir teh yang diletakkan di hadapannya.
Bagaimana di dunia ini bisa sampai seperti ini?
Ia selalu menganggap dermaga Pulau Hwai sebagai tempat yang damai. Namun, tempat itu terasa sunyi mencekam. Selain para pria yang berdiri di dekatnya, set cangkir teh kecil yang ditawarkan Giseok, dan tatapan tajam Giseok Kwon, tidak ada apa pun di sekitar sana.
Apakah mereka membersihkan tempat ini sebelum aku tiba?
Ia merasa seolah angin laut, yang biasanya menerpa dermaga dengan dingin yang menggigit, telah lenyap. Iyeon membungkukkan bahunya, jari-jarinya mengusap porselen cangkirnya yang tak bersalah.
“Apakah kamu kedinginan?” tanya Giseok.
“…Tidak juga. Kamu terbiasa dengan dingin kalau tinggal di pulau.”
Dan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tatapanmu yang dingin membeku…
Panggilan telepon baru-baru ini dengan Giseok sungguh menyiksa. Ketika Iyeon berhasil berkata, “Aku perlu tahu apakah Gyubaek aman—” sambungan terputus. Ia menunggu satu jam dalam keheningan. Pada percobaan berikutnya, ia berteriak, “Biarkan aku mendengar suara Gyubaek, sekarang juga!” Panggilan itu pun terputus. Setelah tiga jam penyiksaan ini, ia akhirnya meledak, “Kalau kamu mau begini, lebih baik kita bertemu langsung!” Mengejutkan, ia setuju.
“Sungguh disayangkan, cara kamu dan Chaewoo berpisah,” kata Giseok.
Pembukaan yang tak terduga itu membuat Iyeon terbatuk-batuk.
“Melihat ekspresi wajahmu,” lanjut Giseok, “aku rasa kamu berniat memutuskan semua hubungan dengan keluarga kami.”
“I-Itu benar.”
Giseok diam-diam mengangkat sebelah alisnya.
“Sudahlah. Aku tidak datang ke sini untuk membahas Chaewoo.”
Iyeon berusaha menyembunyikan ekspresinya dengan berpura-pura menyeruput tehnya, namun tatapannya yang tak henti-henti membuatnya terpaku di tempat. Dengan bunyi dentingan keras, ia meletakkan cangkir teh itu sekeras yang ia bisa.
“Aku ingin Gyubaek kembali, dalam keadaan tidak terluka sedikit pun,” tuntut Iyeon.
“Kamu bisa menjemputnya sendiri,” jawab Giseok.
“Apa?”
“Aku bilang, pergi dan jemput dia sendiri.”
“…”
Ia menatapnya, pandangannya waspada.Sedikit terkesan dengan perlawanan diamnya, ia tersenyum tipis.
Mata Iyeon dengan cepat memindai rambutnya yang tersisir rapi ke belakang, dahinya yang berbentuk sempurna, dan setelan tiga potong yang dikenakannya dengan postur tegak. Kacamata tipisnya bertengger di hidung mancung, fitur yang ia bagikan dengan Chaewoo. Ia bisa saja dengan mudah dikira sebagai profesor muda yang intelektual, jika bukan karena kekosongan dingin di balik matanya.
“Jika kamu tidak mau, anak itu akan dikurung di kandang anjing,” Giseok memperingatkan.
“…Apa?” Iyeon tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan. Anggap saja itu sebagai lembaga pengembangan bakat, yang dioperasikan secara pribadi oleh keluarga kami.”
“Dan kamu menyebut lembaga itu ‘kandang anjing’?”
“Kami mengubah anak-anak jenius menjadi anjing penurut, merampas kemanusiaan mereka sejak usia dini.”
“A-Apa yang kamu katakan…?”
Tangan Iyeon meraih cangkir teh, mencari kehangatan dengan putus asa, namun panasnya sudah lama menghilang, hanya menyisakan porselen yang dingin.
“Saat ini, karena kami selalu kekurangan tenaga, setiap aset sangat berharga. Jika kamu bersikeras mengambil satu unit kegunaan dari kepemilikanku, bukankah adil jika kamu menggantinya dengan sesuatu yang setara?”
“…”
“Jadi apa yang bisa kamu tawarkan kepadaku, Nona So?”
Giseok mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang pernah ia tanyakan kepada Iyeon sebelumnya ketika mereka berada di rumah jagal. Menatap matanya yang berkilat aneh, ia tiba-tiba terlempar kembali dua tahun yang lalu.
Dibandingkan saat itu, lingkungan mereka sekarang tidak gelap atau sempit. Tidak ada bau darah atau bangkai hewan. Hanya ada semilir angin laut yang mengandung garam dan teriakan camar yang jauh.
Namun demikian, jantungnya berdegup kencang. Ia mengira itu karena kehadiran Giseok yang terang-terangan. Sosoknya selalu tersembunyi dalam bayangan, namun kini ia duduk tepat di depannya di bawah sinar matahari.
“Aku telah menginvestasikan satu bulan usaha untuk anak itu. Aku akan dikompensasi dengan jumlah waktu yang sama darimu,” kata Giseok, tampak serius.
“…”
“Jadi, selama satu bulan, Nona So, apa yang bisa kamu berikan kepadaku?”
Selama satu bulan itu, Giseok tahu Proyek Hwai Dome akan selesai. Ia berencana untuk membawa Iyeon sebagai pasangannya dalam upacara peringatan, sebuah acara bagi para tokoh politik dan keuangan.
Tentu saja, ia menyembunyikan niat sebenarnya dan hanya mengamatinya. Berdasarkan pengalamannya, tidak sulit untuk menebak bagaimana reaksi Iyeon. Ia mengira Iyeon akan berkata seperti, “Apa yang kamu inginkan dariku?” dan memberikan apa yang ia minta. Tipe seperti dia sangat mudah ditebak. Dengan sedikit tekanan dan intimidasi, mereka selalu menjadi pasif sepenuhnya.
“Tidak bisa memikirkan apa pun sekarang karena aku sedang bersikap sopan?” tanyanya dengan nada sedikit mengejek.
Tangan Iyeon yang meraih cangkir teh, bertahan di atas porselen itu. Ia tahu itu adalah serangan psikologis, namun ia terjebak.
Gyubaek seharusnya berada di Pulau Hwai, bukan di kandang anjing—atau lembaga apa pun yang Giseok bicarakan. Iyeon ingin Gyubaek menjadi sosok ‘kakak’ bagi anaknya sendiri.
Iyeon mengepalkan lututnya yang gemetar dan menatap tajam Giseok.
Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mengendalikanku lagi.
Ia menolak untuk terus terseret oleh ancamannya. Sebelum ia bisa mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal, ia harus menyerang lebih dulu.
“Kurasa seseorang seperti Anda, Tuan Kwon, pasti tinggal di rumah besar,” ia memulai.
Sebuah kerutan tipis muncul di dahinya karena pernyataannya yang tak terduga.
“Dan simbol kekayaan tertinggi tentu saja adalah taman. Anda mungkin tidak menyadarinya, namun saya adalah ahli arborist yang maju ke babak keempat Proyek Hwai Dome. Keahlian yang bisa saya tawarkan terletak pada arboriculture. Saya akan membiarkan Anda menawar harganya.”
“…”
“Ada yang salah?” tantang Iyeon, mengamati Giseok yang berpaling dan menghembuskan napas tajam.
“Tidak ada,” jawabnya. Sejenak, mata tajam di balik lensa itu tampak melunak.
“Dan sebagai imbalan atas jasa keahlian saya, Anda tidak akan menyentuh Gyubaek,” tuntut Iyeon.
Mata Giseok menyipit mendengar pernyataannya yang tegas.
“Jangan sekali-kali kamu menempatkannya di kandang atau apalah namanya itu. Dia akan mendapatkan kamar yang nyaman dan makanan yang baik. Aku tidak mau dia stres di tempat baru. Dia bukan anak yang merepotkan, jadi aku harap kamu memperlakukannya dengan layak.”
“…”
“Jika aku menemukan satu pun memar di tubuhnya… aku akan memastikan kamu menyesal,” ucapnya mengakhiri kalimat.
Giseok sedikit terganggu dengan penolakannya untuk menyerah, meski jelas terlihat bahwa dia sangat ketakutan. Iyeon memiliki tatapan yang istimewa di matanya—kilatan garang seorang wanita yang memiliki sesuatu untuk dilindungi. Tatapan seperti itu selalu membuat perutnya bergolak.
Dia menghaluskan tatapan tajamnya dan mengangguk singkat. “Mengerti.”
“Hanya… itu saja?” Mata Iyeon beralih ke arahnya, dengan hati-hati mengukur reaksinya. “Kita perlu kontrak, seperti sebelumnya. Gajiku, ruang lingkup pekerjaan, jam kerja, hari libur… kita akan menyelesaikan semuanya di sini dan sekarang.”
“…”
“Mungkin pikiranmu tidak bekerja setajam biasanya sekarang karena kamu terpaksa bernegosiasi di siang bolong. Tapi pikirkanlah. Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai kesepakatan yang dibuat dalam keadaan sekacau ini?”
Sejak kapan dia menjadi sepemberani ini? Apakah ini pengaruh Chaewoo?
Giseok mengenyahkan pikiran yang menyimpang itu dan mendongakkan dagunya. “Apakah kamu benar-benar percaya aku akan menyakitimu, Ms. So?” tanyanya.
“…Tanpa keraguan sedikit pun.”
Bayangan senyum berkelebat di bibir Giseok dan menghilang secepat kemunculannya.
“Kamu tampaknya tidak tahu betapa bersyukurnya aku padamu.”
“…Apa?”
“Kamu membawa Juha Yoon kembali kepadaku.”
Iyeon tersentak, tubuhnya bergidik hebat. Nama itu bagaikan serpihan kaca di hatinya.
“Juha Yoon…? Maksudmu… ibunya?”
Untuk pertama kalinya, Giseok tertawa. Itu adalah ejekan yang rendah.
Ejekan mentah itu membuat rasa malu yang panas menyapu Iyeon. Dia menutup rapat bibirnya.
“Aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan mendengar omong kosong seperti itu dari siapa pun selain Chaewoo sendiri,” kata Giseok, masih mengejek.
“Apa…?”
“Juha Yoon bukan ibu Chaewoo—dia adalah seorang penculik.”
“…!”
Tangan Iyeon menyenggol cangkir teh, membuat cairan panas tumpah ke seluruh meja.
“Dia tidak ada hubungannya dengan Chaewoo. Mereka tidak berbagi setetes pun darah yang sama.”
Saat dia berbicara, Iyeon memperhatikan wajah Giseok perlahan menjadi kaku. Nada bicaranya adalah monoton yang mendinginkan, namun setiap kata seolah digiling di antara giginya. Dia tidak bisa menatap matanya. Sebaliknya, pandangannya jatuh ke suatu titik acak di atas meja.
Chaewoo…
“Iyeon, aku membenci hal-hal yang tidak pernah diucapkan.”
Kesadaran itu menghantamnya. Ibu Chaewoo ternyata adalah seorang penipu. Dan kemudian, Iyeon berbohong kepadanya tentang menjadi istrinya.
Rasa sakit yang tajam dan empatik menusuk dadanya saat dia memikirkan Chaewoo, pria yang terpaksa menanggung runtuhnya dunianya ketika kebohongan-kebohongan dikupas satu per satu hanya untuk mengungkap kehampaan di baliknya.
“Juha Yoon adalah guru musiknya. Dia menjejalkan Chaewoo ke dalam kotak cello dan melarikan diri dari rumah. Kurasa sebagian ini adalah kesalahanku karena mempercayai wanita itu dan membiarkannya mendekatinya. Kali berikutnya aku melihatnya adalah sepuluh tahun kemudian, dan saat itu, aku—” Giseok berhenti tiba-tiba, tangannya bergerak untuk mengendurkan dasi yang terikat sempurna di lehernya. “Kamu tidak akan pernah tahu betapa bersyukurnya aku padamu, Ms. So.”
Bayangan gelap yang pekat menyapu wajah Giseok.
Namun Iyeon tidak bisa mempercayai kata-katanya. Jika dia benar-benar bersyukur, dia tidak akan mengancam untuk memasukkannya ke dalam drum dan menjebaknya sebagai pelaku…
Dengan wajah pucat, Iyeon spontan berkata, “Sebenarnya apa yang kamu inginkan?”
Dia merujuk pada semua perilaku Giseok—dari awal hingga apa yang dia lakukan saat itu. Segalanya tentang dirinya penuh kontradiksi. Dia telah memaksanya dengan pemerasan untuk menjadi penjaga Chaewoo, hanya untuk kemudian memperkuat kebohongannya.
“Oh…” Akhirnya memahami maksud pertanyaannya, Giseok menatap lautan tak bertepi dan berkata tanpa ekspresi, “Aku ingin Chaewoo menjadi seperti aku.”
“…Apa?”
“Kami adalah saudara. Aku ingin dia berjalan di jalan yang telah aku tempuh, hingga pada akhirnya dia berubah menjadi apa yang telah aku jadikan diriku.”
Kata-katanya samar dan menggelisahkan. Kening Iyeon berkerut, namun Giseok tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia hanya mendorong kursinya ke belakang dan berdiri,menggosok dagunya sambil berpikir.
Iyeon sudah menjalani beberapa hari terakhir dengan cukup baik tanpa sekali pun memikirkan Chaewoo. Tapi dia dengan santai melempar bom tepat di tengah dunianya.
“Oh ya, Ms. So… apakah kamu tahu bahwa Chaewoo empat tahun lebih muda darimu?”
✦ ❖ ✦
“Urgh…!”
Erangan bergema di ruang bawah tanah yang gelap gulita, tempat seorang pria dibelenggu di kursi berkarat. Tangan dan kakinya diikat dengan tali, dan kepalanya tertutup sepenuhnya oleh kain hitam. Meski tak bisa melihat, ia tetap berusaha memindai kegelapan, bahunya gemetar di udara yang penuh ancaman.
“A-Aku minta maaf! T-Tolong, ampuni hidupku…!”
“Apakah ini dia?” tanya Chaewoo, suaranya membelah kegelapan.
Dia duduk di sofa yang sudah reyot. Bunyi klik korek apinya menjadi iringan kering dan metalik di tengah ratapan pria itu. Dalam kilatan cahaya oranye yang sekilas, wajah Chaewoo terungkap dalam sorotan tajam. Ekspresinya sedingin dan sehampa cetakan gips.
“Ya, Tuan,” jawab salah satu anak buah Chaewoo dengan suara datar tanpa nada. “Dia adalah pria yang sempat berpacaran dengan putri sang VIP saat belajar di luar negeri. Sang putri telah memberikan dukungan finansial kepadanya sebesar 700 juta won hingga ia berubah pikiran. Kini, dengan pernikahan sang putri kurang dari sebulan lagi, dia mulai memeras dengan sebuah video. Dia menuntut tiga miliar won dan mengirim klip itu langsung kepada sang nona. Sang VIP bilang urusan ini sangat memusingkan. Beliau ingin kita menanganinya dengan diam-diam.”
Pria yang ketakutan itu menggelengkan kepalanya dengan panik saat suara rendah anak buah itu bergema di sepanjang dinding yang lembap.
“T-Tolong, lepaskan aku… Ini adalah kesalahan! Aku tidak bermaksud apa—”
“Pemerasan bukan kesalahan,” potong Chaewoo, suaranya seperti es. “Itulah yang dilakukan sampah.”
Saat Chaewoo bangkit, selubung debu abu-abu mengepul di sekelilingnya seperti asap. Setiap langkahnya menginjak pecahan kaca yang mengeluarkan bunyi gemeretak yang menyeramkan. Di balik rambut hitam legam, matanya berkilat seperti predator yang memojokkan mangsanya.
“Kudengar kamu jago dengan kamera,” mulai Chaewoo.
“A-Aku tidak akan melakukannya lagi! Aku bersumpah!”
“Bukan hanya sang nona, bukan?”
“Apa?”
“Aku tahu semua video lain yang kamu simpan.”
“…!”
Getaran tajam menjalar di bahu pria itu.
“Kamu suka mengikat orang lain dengan tali. Kenapa meraung-raung hanya karena sedikit tarikan pada talimu sendiri?”
“Ahhh…!” Pria itu, yang tampaknya menyadari nasibnya, mengepalkan tinjunya, bersiap menghadapi yang tak terhindarkan.
Pandangan Chaewoo menyapu bilah-bilah yang tergantung di dinding semen sebelum ia memilih sebuah kapak. Para anak buah saling bertukar pandang dengan gelisah; Chaewoo biasanya meraih tali terlebih dahulu.
Tiba-tiba, pria itu berteriak dalam gertakan terakhir yang putus asa, “Kalian tidak tahu apa-apa tentang merindukan sesuatu yang tak bisa dimiliki!” Tudung hitam itu menempel di wajahnya, membentuk garis mulut dan hidungnya dengan setiap napas yang terengah-engah. “Kalian tidak pernah jatuh cinta!”
“…”
Chaewoo merasakan serat gagang kayu di telapak tangannya. Sekilas emosi yang tak terbaca melintas di wajahnya yang membatu. Setelah mencoba cengkeramannya, ia mengendurkan kepala kapak dan membiarkannya jatuh ke lantai. Ia kembali hanya dengan tongkat kayu yang berat.
“Aku mencintai mereka semua! Aku hanya ingin sesuatu untuk mengenang mereka! Hak apa yang kalian orang asing keparat punya untuk—”
“Kamu menjijikkan.”
“K-Kamu bajingan! Kalau kamu memang berani, lepas benda ini dari kepalaku! Berhenti bersembunyi seperti pengecut—”
Dalam sekejap, kain itu direnggut dari wajah pria tersebut.
“Dari mana kamu tahu? Aku memang bajingan.” Bibir merah Chaewoo melengkung membentuk busur seperti predator. Sebuah senyuman, secara definisi, namun sama sekali tanpa kehangatan.
Pria itu melihat wajah Chaewoo dan membeku. Tatapannya yang dingin mengerikan sudah cukup membuat dinding bernoda dan bau jamur terasa tak berarti. Wajahnya, indah namun terukir dengan kerusakan, menatap ke bawah seperti malaikat yang jatuh ke dalam kehinaan.
Chaewoo mendekat, memaksa pria itu menatap matanya. Dia berkata pelan namun mengancam, “Aku tidak suka mendengar kebohongan.”
Pria itu menelan ludah, terjebak dalam tatapan dalam Chaewoo.
“Jadi jangan bicara soal cinta. Aku tahu itu tidak lebih dari bisnis kotor bagimu.””…”
“Apakah kamu senang melihatnya tunduk pada kemauanmu?” tanyanya dengan santai.
Dalam satu gerakan yang mulus, Chaewoo mengangkat tongkat itu dan menghantamkannya ke bawah, menghancurkan bahu pria itu dengan bunyi retakan yang menjijikkan.
“AAAAARGH!”
Bahkan saat teriakan kasar pria itu bergema di ruang sempit itu, Chaewoo tidak merasakan apa-apa. Sensasi lama itu sudah hilang. Guncangan familiar yang biasa muncul saat memecahkan kulit dan menghancurkan tulang tidak ada lagi, digantikan oleh rasa sakit yang membosankan dan hampa. Ia mengenali perasaan itu: Ini adalah keputusasaan lesu yang sama yang ia rasakan ketika mereka mengambil semua musik darinya setelah kematian Juha Yoon.
Namun, rasa sakit itu tidak menghentikannya untuk terus memukul pria itu berulang kali. Tongkat itu jatuh sekali, dua kali, tiga kali, dalam ritme yang mekanis dan brutal. Seperti yang sudah diduga, tidak ada kegembiraan, hanya pengulangan melelahkan seorang jagal yang mencincang daging mati.
“T-Tolong… A-Aku minta maaf… Aaaargh! T-Tuan, tolong… ampuni aku…! A-Aku dijebak! Aku bersumpah, aku benar-benar mencintainya… Rasa sakit karena tidak bisa melihatnya saat aku merindukannya… itu… itu terlalu menyiksa—Ugh!”
Chaewoo mencengkeram segenggam rambut pria itu, menarik kepalanya ke belakang untuk memaksa mata mereka bertemu.
“Jangan khawatir. Aku akan membiarkanmu melihatnya.”
“A-Apa maksudmu—”
Ia menghantam wajah pria itu dengan gagang kayu, setiap pukulan mendarat dengan bunyi basah yang berirama. Darah muncrat ke wajah Chaewoo, namun ekspresinya tetap tenang sepenuhnya. Rambutnya yang berantakan adalah satu-satunya hal yang menutupi kekosongan di matanya.
“Begitu kamu gila, kamu akan terkejut dengan hal-hal yang mulai kamu lihat,” komentarnya.
Pandangan Chaewoo melayang ke sebuah rak rusak di seberang ruangan. Matanya melihat seorang wanita, meringkuk menjadi bola, tidur dengan nyenyak. Seluruh inderanya merasakan keberadaannya sejak awal. Saat matanya terkunci pada wajahnya, kekuatan mengalir pergi dari tangannya.
Penasaran dengan perubahan mendadak dalam perilaku Chaewoo, beberapa anak buahnya mengikuti arah pandangannya. Tapi yang mereka lihat hanyalah papan kayu tua yang melengkung.
“Jika kamu mencintainya, kamu bisa membuatnya bahagia.” Suaranya adalah bisikan hampa. “Sebaliknya, kamu membuatnya merasa menyedihkan tentang dirinya sendiri.”
Dengan tendangan ganas, Chaewoo menjatuhkan kursi itu. Saat pria itu meronta-ronta di lantai, Chaewoo mengeluarkan belati dari saku belakangnya. Gerakannya adalah kilatan presisi mematikan saat ia memotong tendon Achilles pria itu, ligamen krusiat di lututnya, dan tendon di pergelangan tangannya.
“AAAAARGH!”
“Sekarang kamu bisa menghabiskan sisa hidupmu menatap hal yang telah kamu hilangkan.”
Saat ini, kamu mungkin sedang di luar sana menyelamatkan pohon-pohon. Dan di sini aku, masih mencari nafkah dengan memotong-motong orang.
Chaewoo menggerakkan lidahnya di bagian dalam pipinya, matanya gelap dengan kebencian pada diri sendiri. Mual kering dan pahit naik dari perutnya. Ia menatap kosong pada pisau berdarah itu sejenak sebelum melemparkannya ke lantai.
“Ambil foto untuk VIP. Sisanya terserah kalian untuk dibersihkan,” perintah Chaewoo.
“Baik, tuan.”
Tanpa menoleh ke belakang, Chaewoo berbalik dan berdiri di depan rak yang rusak itu. Dengan tangan gemetar, ia tergesa-gesa mengeluarkan sebatang rokok. Tangannya gelisah saat ia mengoperasikan korek api, tapi korek itu hanya memercikkan bunga api, menolak untuk menyala.
Mengerutkan dahi, ia memukul batu api itu berulang kali, akhirnya menghanguskan ujung rokok itu. Saat asap menyengat membakar jalan turun ke tenggorokannya, badai di dalam dirinya akhirnya mulai mereda.
Setelah kembali ke kediaman keluarga, kehidupan Chaewoo dengan cepat disusun kembali. Ia mengasah inderanya yang tumpul, memerintah anak buahnya, dan mengeliminasi targetnya. Dunia kekerasan adalah satu-satunya yang tersisa baginya setelah ia kehilangan cellonya.
“…Sialan.”
Buku-buku jari tangan yang menggenggam rokok itu putih seperti tulang.
Waktu terasa sangat lambat. Bau darah itu menjijikkan, dan keheningan menekan yang kadang ia hadapi tidak tertahankan. Makanan terbaik pun berubah menjadi abu di mulutnya; bahkan air pun terasa busuk.
Di malam-malam seperti ini, ia akan menyaksikan orang-orang larut dalam kecanduan mereka—alkohol, judi, narkoba. Melihat perilaku mereka yang tidak sadar dan merusak diri sendiri entah bagaimana membuat bara siksaannya sendiri menjadi lebih tertahankan.”…”
Seandainya aku hanya punya satu set kenangan saja.
Pikiran Chaewoo terbelah seperti siang dan malam. Sesaat ia membenci Iyeon, sesaat berikutnya ia merindukannya begitu dalam hingga terasa seperti tercekik. Ia ingin mempercayai semua yang telah Iyeon katakan padanya, namun sudut gelap hatinya tetap menggenggam kebencian itu. Dua emosi yang tak bisa didamaikan ini menggerogotinya hari demi hari, mengikis jiwanya perlahan.
Ia mengusap pipinya yang bernoda darah dengan punggung tangan yang gemetar dengan kejang-kejang kecil yang tak bisa ia kendalikan.
“Kamu bisa sakit leher kalau tidur seperti itu,” bisiknya lembut kepada bayangan yang ia ciptakan sendiri.
Bayangan Iyeon yang tertidur dengan tenang mulai muncul setelah Chaewoo sepenuhnya menyatukan kedua set kenangannya. Pikirannya kosong saat pertama kali melihatnya. Yang menyusul kemudian adalah beban berat dari kesadaran bahwa ia tak akan pernah bisa menyentuhnya, sebuah perasaan yang membuat sesuatu jauh di dalam dirinya runtuh.
✦ ❖ ✦
“Eh… halusinasi adalah gejala umum pada pasien yang pernah mengalami amnesia. Bayangkan cara sebuah kolam menciptakan riak saat kamu melempar batu ke dalamnya. Ini… eh, semacam itu. Saat kenangan kembali—atau saat kenangan-kenangan yang saling bertentangan menyatu—mereka menciptakan… bayangan sisa ini. Ya, itulah yang terjadi. Gelombang sedang terbentuk di dalam pikiran Anda. Ini berarti Anda sedang kembali ke kondisi normal. Jadi tidak perlu khawatir. Halusinasi akan memudar seiring Anda menjadi lebih stabil secara psikologis.”
Chaewoo tahu ia harus merahasiakan halusinasi ini dari Giseok. Itulah mengapa ia mencari seorang dokter yang telah kehilangan izin praktiknya dan melakukan operasi ilegal dari sebuah ruang belakang dekat tempat perjudian.
“Bolehkah aku menyentuhnya?” tanya Chaewoo.
“Tuan?”
“Halusinasiku.”
“…Eh, yah…”
“Aku sudah setengah gila. Apa salahnya kalau sedikit lebih jauh?”
Dokter yang mengenakan pakaian berbau keringat basi itu tak bisa menyembunyikan ekspresi terperangahnya.
“Ini adalah fenomena sementara kecuali bagi, eh, mereka yang menderita gangguan tidur—”
“Aku menderitanya,” jawab Chaewoo seketika, seolah ia sudah menunggu kata-kata itu. Ia tak pernah menyangka penyakitnya bisa begitu berguna.
“Eh… kalau begitu, kondisinya akan semakin parah.”
“Sempurna.”
Menurut dokter itu, bayangan Iyeon yang tertidur tidak lebih dari guncangan sementara yang beriak di dalam pikirannya. Namun bagi Chaewoo, setiap satu dari gelombang yang menghantam tepian kewarasannya itu membawa wajah Iyeon.
“Jangan bikin aku kaget dengan tidur di tempat seperti ini,” katanya kepada bayangan itu.
Chaewoo tak bisa menahan diri untuk memungut dan melahap kebohongan yang dengan murah hati diberikan oleh pikirannya yang rusak.
✦ ❖ ✦
Hal pertama yang dilihat Beomhee saat membuka pintu adalah punggung telanjang Chaewoo. Beomhee langsung berasumsi bahwa ia baru saja kembali di tengah malam buta. Tanpa kemeja, Chaewoo berdiri dalam posisi handstand sempurna di atas sepasang parallettes.
Seperti biasa, kamar itu bersih dan sederhana seperti kamar suite hotel bintang lima—ruang milik seorang pria yang tak tertarik pada harta benda. Mengikuti rutinitas yang sudah familiar, Beomhee mengambil setelan jas dari lemari pakaian dan mendekat.
“Tuan Muda, Nona Eunju Bae dari Samhwa Resort sedang menunggu Anda,” ia memberitahu Chaewoo.
“Apa urusannya dia ke sini?”
“Direktur Kwon yang mengatur pertemuan ini.”
“Hari ini?”
“Ya. Anda harus bersiap untuk berangkat.”
Chaewoo menurunkan kakinya dan berdiri. “Jadi kakakku masih melakukan omong kosong ini, padahal tahu persis bagaimana reaksiku.”
Ia memasukkan lengannya ke dalam kemeja dress shirt dan mulai mengancingkannya. Sepanjang waktu itu, pandangannya terpaku pada bayangan Iyeon yang kembali tertidur di sofa. Kali ini, ia tengkurap sementara sinar matahari membasahinya. Pipinya menekan bantal, membuat bibirnya sedikit mencuat. Rambutnya yang panjang terurai di sekelilingnya, dan kakinya bersilang. Meski sepenuhnya sadar bahwa itu semua hanyalah imajinasi, tangan Chaewoo terus meraih udara kosong, dengan obsesif mencari-cari di sofa yang kosong itu.
“Tuan Muda, Anda tidak boleh tidak tidur lagi seperti terakhir kali,” kata Beomhee dengan ketegasan yang mantap. Ia sudah terbiasa memantau kondisi Chaewoo.
“Aku tahu. Makanya aku harus segera menyelesaikan ini.””…Jika Anda membutuhkan sesuatu, tolong beritahu saya.”
“Seperti apa?”
“Seorang wanita, Tuan,” saran Beomhee.
“Seorang wanita?”
Chaewoo akhirnya menoleh, matanya membakar pantulan Beomhee di cermin.
“Bukankah kita setidaknya harus mencoba sesuatu? Jika Anda membutuhkan seorang wanita di kamar tidur Anda—”
“Cukup,” peringat Chaewoo dengan suara rendah.
Namun Beomhee dengan keras kepala menyelesaikan kalimatnya: “Saya akan membawa wanita lain masuk, jika memang itu yang diperlukan.”
Dengan senyum sinis, Chaewoo melempar dasi yang hendak diikatnya dan melangkah menuju Beomhee. Ia mencengkeram bagian belakang kepalanya seolah ingin menghancurkannya, lalu menepuk pipinya dengan ringan—sebuah peringatan singkat dan tajam.
“Apa kamu benar-benar berpikir aku bisa bangkit hanya dengan memeluk bantal sembarangan?” tanya Chaewoo, suaranya dingin membeku.
“Saya minta maaf, Tuan.”
“Jaga mulutmu,” peringatnya dengan suara rendah dan mengancam.
Beomhee mengatupkan tangannya dan menundukkan kepala. “Bagaimana jika Nona So sampai mendengar—”
Chaewoo tersentak, punggungnya menegang.
Beomhee membeku, lalu mengangkat dagunya untuk menatap tuannya. Wajah Chaewoo tampak menyeringai seolah nama Iyeon yang terucap telah membakarnya. Ia kemudian segera menutup bibirnya dan kembali berpakaian.
Saat Chaewoo mengancingkan rompi setelan tiga potongnya, napasnya tiba-tiba menjadi tidak teratur. Dengan lonjakan kejengkelan, ia merobek rompi itu. Ia menyisir rambut yang jatuh ke depan dan memejamkan mata. Garis dalam yang terukir di antara alisnya bergetar.
Setelah menyaksikan semua itu, Beomhee dengan hati-hati memberanikan diri, “Saya kira urusan dengan Nona So sudah selesai.”
Kepala Chaewoo berbalik ke arahnya dengan cepat.
“Bukankah semuanya sudah benar-benar berakhir di antara kalian berdua?” tambah Beomhee.
“…”
Tatapan setajam pisau bedah menatap bibir Beomhee seolah ingin merobek kata-kata itu langsung darinya. Chaewoo tetap diam, dengan sembarangan mengenakan jaket setelannya. Sebelum meninggalkan ruangan, matanya menyapu sofa kosong itu untuk terakhir kalinya.
“Sudah selesai. Aku yang mengakhirinya,” Chaewoo akhirnya mengakui.
Dia seperti sebuah kutukan. Itulah mengapa aku memotongnya sepenuhnya dari hidupku.
Masalahnya adalah Chaewoo tidak lagi sekadar menjadi pengamat kenangan masa lalunya; ia terkadang akan menjadi pria yang mengingat setiap momen kehidupan pernikahannya. Ia memutar ulang masa-masa bahagia mereka dalam lingkaran tanpa akhir, berlama-lama pada kenangan senyumnya. Namun untuk setiap kenangan indah, gema kata-kata kejam yang pernah ia gunakan untuk menyakiti dan menginjak-injak dirinya pun kembali menggelegar.
Apa saja bisa membuat perutnya mulas—aroma rumput basah, sekilas wangi parfum yang lewat… Amarah akan mendidih entah dari mana, dan sekadar melihat pohon atau bunga pun bisa membekukannya di tempat.
Chaewoo mengenal betul emosi yang tak terkendali dan membara ini. Ketika menyerang, ia secara naluriah akan menggigit ujung lidahnya, menikmati rasa logam dari darah.
“Pergi adalah pilihan yang tepat. Itu pasti benar…” ucap Chaewoo parau, menekan pangkal hidungnya seolah menahan sakit kepala.
✦ ❖ ✦
Sebuah meja teh putih yang kesepian terpasang di taman hijau zamrud yang tak berujung. Seorang wanita berambut bergelombang sebahu, anting mutiara elegan, dan gaun gading duduk dengan tangan bersilang, mengamati Chaewoo dengan ketidaksenangan yang tak tersembunyi.
“Wah, ternyata masih hidup juga.”
“…”
“Apa kamu sadar pertemuan ini dijadwalkan dua tahun lalu? Harus kuakui, ditelantarkan selama dua tahun adalah pengalaman pertama bagiku. Aku bertanya-tanya orang sombong macam apa yang bisa begitu tinggi hati—”
Setelah mengamati Chaewoo dari ujung kepala hingga ujung kaki, wanita itu, Eunju Bae, tiba-tiba tersenyum puas. “Jadi, di mana kamu bersembunyi sampai tidak ada yang bisa menemukanmu?”
Chaewoo tetap seperti tembok batu menghadapi obrolan cerianya. Sejak ia melangkah melewati taman dengan satu tangan terbenam di saku, hingga saat ia dengan santai menarik kursi dan duduk, ia tidak sekali pun meliriknya.
Eunju menyadari bahwa Chaewoo sama sekali tidak tertarik dengan pertemuan mereka. Ia pernah melihatnya secara kebetulan bertahun-tahun lalu, ketika ada rumor bahwa Chaewoo bergaul dengan kelompok yang salah. Ia berdiri di antara kenalan-kenalannya yang mabuk dengan tatapan tak acuh. Ketika seorang teman yang sempoyongan menabraknya, ia mendorong orang itu hingga jatuh ke tanah tanpa sedikit pun ekspresi. Tepat di momen itulah mata mereka bertemu.
Chaewoo seharusnya yang memalingkan pandangan, karena dialah yang tertangkap basah, namun justru Eunju yang memerah saat kontak mata itu terjadi. Chaewoo dengan tenang melangkahi tubuh pria yang terjatuh itu dan bahkan mengeluarkan tawa pelan saat mendengar teriakan kesakitannya.
Momen itu terasa seperti sudah lama sekali berlalu, namun Eunju tidak pernah melupakan senyum bejatnya.
“Inilah yang terjadi kalau kamu terus diam. Berbagai macam rumor mulai berterbangan. Ada ratusan orang yang ingin sekali punya koneksi dengan keluarga Kwon. Kamu tahu itu? Dengan empat putra dan tidak satu pun yang sudah menikah, gadis-gadis seperti akulah yang benar-benar menderita.” Ia melirik ke sekeliling kediaman megah itu dan memiringkan kepalanya. “Apa kamu tidak sedikit pun penasaran denganku, Tuan Kwon?”
Chaewoo menopang dagunya dengan tangan, siku bertumpu pada sandaran lengan kursi, dengan postur yang terkesan santai namun menipu. Pandangannya terarah ke tempat lain, sengaja mengabaikan wanita di hadapannya, dan justru terpaku pada sesuatu yang lain dengan intensitas yang membara.
Mengikuti arah pandangannya, Eunju tidak melihat apa pun selain kursi kosong. Setelah sejenak berpikir, ia menggeser posisi duduknya.
“Haruskah aku pindah ke sana?” tanyanya, menunjuk ke kursi kosong yang begitu ia perhatikan.
“Jangan bergerak.”
“Apa?”
“Berhenti membuat keributan dan tetap di tempatmu,” bentak Chaewoo. Bahkan saat berbicara kepadanya, matanya tetap terpaku pada kursi kosong itu.
“…”
Eunju kembali bersandar ke kursinya menghadapi nada imperiosnya. Ia mulai merasa kesal. Ia terbiasa menjadi pihak yang menunjukkan kekuasaannya, bukan sebaliknya. Ia tidak dilahirkan dengan sendok perak di mulutnya hanya untuk memanjakan pria tampan yang tidak tahu sopan santun ini.
“Apa kamu tahu apa yang akan dikatakan orang jika aku pergi dari sini dengan marah? Rumor tentangmu sudah cukup buruk. Semua orang mengira kamu masuk rehabilitasi karena kokain. Sebagian dari mereka mengira kamu bersembunyi di rumah sakit jiwa setelah tabrak lari. Kamu tahu nilai saham Suguk Pharmaceutical tidak akan bagus. Aku bisa menambahkan beberapa kata dariku sendiri untuk memastikan itu terjadi.”
Chaewoo tersenyum sinis. Matanya, yang masih terpaku pada kursi kosong itu, tiba-tiba melunak. “Kamu benar.”
“Benar tentang apa?” balas Eunju, menatapnya dengan tajam.
“Aku memang pernah di klinik. Bagian itu benar.”
Ucapannya yang tak terduga membuat rahangnya ternganga.
“…Klinik apa?” tanyanya dengan hati-hati.
“Ada satu di sebuah pulau.”
“Dan… apa yang kamu lakukan di sana?”
“Dokternya bilang aku pandai merangkai bunga.”
“…!”
Dahi Eunju berkerut. Merangkai bunga? Untuk apa? Pemakaman?
Ia menelan ludah, dan suaranya turun menjadi nada yang lebih hormat saat bertanya, “Jadi kamu dirawat inap?”
“Aku dikekang.”
“…!”
“Mereka merantaiku, pergelangan tangan, pergelangan kaki, leher. Aku tidak bisa bergerak sedikit pun.”
Mata Eunju melebar saat mendengarkan.
Jadi kasus psikiatri, kalau begitu. Kedengarannya serius. Aku harus pergi dari sini. Tidak ada alasan bagiku untuk bergaul dengan orang gila.
Namun, hal-hal tidak semudah itu. Chaewoo memang memiliki wajah yang tampan. Matanya yang tajam, garis hidungnya yang tegas, dan bahunya yang lebar sungguh sayang sekali untuk disia-siakan. Ia mendapati dirinya ragu untuk pergi.
“…Kenapa kamu ada di klinik itu?”
“Karena pikiranku kacau. Aku sudah berhenti berfungsi seperti manusia.”
Dengan itu, Eunju memaksakan tawa canggung dan meraih tasnya. Chaewoo tidak sedikit pun mengalihkan perhatiannya kepadanya. Fokusnya masih terpaku pada kursi kosong itu. Ia jelas tenggelam dalam dunianya sendiri. Obsesi di matanya sangat menggelisahkan.
Lihat saja mata itu!Eunju bergumam dalam hati, mengerutkan dahi.
“Satu hal lagi sebelum aku pergi…” Kesal karena diperlakukan seolah tidak ada, ia akhirnya meledak, “Sebenarnya kamu menatap apa? Memangnya ada sesuatu di sana?”
“Kamu tidak bisa melihatnya?” tanya Chaewoo, alih-alih menjawab pertanyaannya.
“Hah?”
“Gadis cantik itu, yang tertidur di kursi.”
“…!”
Eunju kini sudah siap kabur. Dalam pikirannya yang waras, ia tahu tidak ada yang lebih menakutkan daripada orang yang tidak bisa diajak bicara dengan akal sehat. Wajahnya menciut ketakutan, dan ia mundur selangkah dengan gontai.
“Kalau kamu tidak suka padaku, bilang saja langsung, tidak perlu main-main dengan permainan sakit dan menyeramkan seperti ini…!”
“Ah, andai saja ini semua hanya permainan.”
Sudut bibir Chaewoo melengkung menjadi seringai mengejek diri sendiri. Tatapannya berat saat menelusuri lekukan seseorang di udara yang kosong. Lalu, dengan ekspresi kesakitan yang sama di wajahnya, ia akhirnya berpaling ke arah Eunju.
“Aku menginjak-injak hatinya… dan sebagai balasannya, ia menghancurkan pikiranku,” katanya, pandangannya melayang ke suatu tempat yang lain.
Kemudian, tiba-tiba, ia membeku. Tatapannya kini terpaku pada tempat yang berbeda, terpana oleh pemandangan di hadapannya.
Sial, apa lagi itu? Chaewoo mengerutkan dahi dalam hati.
Jauh di kejauhan, seorang wanita bertopi jerami yang familiar sedang bergegas melintas di balik sebatang pohon. Chaewoo mendongakkan kepalanya, menutupi matanya dengan kedua tangan dan menghela napas panjang.
Seolah satu Iyeon saja belum cukup. Apakah ia akan berlipat ganda menjadi sepasukan orang untuk membuatku gila?
Saat itulah, Chaewoo menyadari ada yang tidak beres dengan visinya yang terbaru.
Kenapa ia tidak tertidur seperti yang satunya? Kenapa yang ini begitu… sibuk?
Chaewoo menarik tangannya dari pelipisnya yang berdenyut, kepalanya berputar seolah ditarik oleh benang tak kasat mata. Pertama, ia melihat topi jerami dan jumpsuit longgar. Lalu, ia melihat tangan lembut yang membelai setiap batang pohon, dan langkah kaki yang berlama-lama seolah enggan untuk pergi.
Dalam pandangannya, tampak seorang wanita memungut beberapa daun yang berguguran, meniup debunya dengan napas yang lembut. Di hamparan taman yang luas itu, hanya ia yang tampak begitu nyata.
Apa ini sebenarnya…
Gambaran itu terasa salah secara mendasar.
Bagaimana mungkin ia berada di tempat kotor seperti ini?
Tangannya yang menggenggam sandaran kursi, semakin erat tanpa sadar.
Ini pasti hanya halusinasi lagi. Hanya riak baru dalam ilusi.
Chaewoo sekadar menerima wujud Iyeon yang baru dan penuh semangat ini sebagai kelanjutan dari visinya yang sebelumnya. Sepertinya visinya telah berkembang dari seorang wanita yang tertidur menjadi beberapa halusinasi yang lebih kuat.
“Hah.”
Chaewoo mengepalkan dan membuka kepalan tangannya, berjuang untuk meredam badai yang mengamuk di dalam dirinya. Namun ia tidak bisa mengabaikan naluri dingin yang terasa seperti bilah pisau menggesek tengkuknya. Akhirnya, ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Beomhee.
“Ya, Tuan Muda,” jawab Beomhee seketika.
“Beberapa hari lalu kamu bilang ada tamu yang terkunci di villaku. Siapa itu?”
Sambungan telepon mendadak sunyi senyap.
Chaewoo menggertakkan giginya, menempelkan kepalan tangan ke dahinya. Bahkan beberapa detik keheningan terasa seperti selamanya, mengikis sarafnya yang sudah compang-camping.
“Beomhee, jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku, aku harap kamu sudah siap menanggung konsekuensinya,” peringat Chaewoo.
“…Itu adalah Gyubaek Lee,” jawab Beomhee akhirnya.
“Apa?”
Sejenak, mata Chaewoo melebar dalam keterkejutan murni, lalu seluruh wajahnya berubah menjadi seringai garang. Nama yang tak terduga itu terasa seperti pertanda buruk yang melingkar naik dari pergelangan kakinya. Pikirannya yang kacau tiba-tiba tersulut oleh sebuah pikiran yang membakar lurus menuju satu kesimpulan yang mengerikan.
“Sial,” geramnya, mendorong kursinya ke belakang dengan begitu keras hingga hampir terjungkal.
“Dan sekarang kamu masih punya muka untuk melirik orang lain,” Eunju, yang belum sepenuhnya pergi, tiba-tiba melangkah ke hadapannya. “Ada seseorang yang seharusnya kamu perhatikan tepat di depanmu, tapi kamu dengan sembrononya memilih untuk melototi punggung wanita lain—”
“Apa yang kamu bilang?” Chaewoo membeku, ekspresinya berubah menjadi tajam yang berbahaya. “Wanita lain?”
“Apa?” Eunju menelan ludah dengan susah payah,tertancap oleh tatapan yang terasa cukup tajam untuk menembus baja. Ia merasa tegang sekaligus bingung.
“Ulangi apa yang baru saja kamu katakan,” tuntut Chaewoo.
“…”
“Kamu juga bisa melihatnya?”
Sambil tetap menatap Eunju dengan sorot mematikan, Chaewoo mengulurkan lengan dan menunjuk dengan presisi yang menggelisahkan ke suatu titik di taman. Pertanyaan sederhana, gerakan sederhana, namun Eunju terdiam membisu, membeku di bawah tatapannya.
Akhirnya, ia memalingkan kepala mengikuti ujung jari telunjuk Chaewoo yang gemetar dan melihat sosok yang berdiri di sana. Ia mengangguk singkat.
Seketika, wajah Chaewoo memucat.
“Kamu tidak bisa melihat wanita di kursi itu, tapi kamu bisa melihatnya,” gumamnya.
“Ada apa denganmu?”
Eunju memandang, setengah terpesona, saat wajah Chaewoo bergolak diterpa badai emosi. Sesaat ia tampak linglung, lalu menggertakkan gigi dengan napas yang tersengal. Kemudian, dengan wajah seperti anak yang tersesat, matanya menyisir taman sambil menggigit bibir bawahnya.
Di tengah keheningan di antara keduanya, Chaewoo tetap membeku. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia akhirnya bergerak.
“Mau ke mana…? Harus terlihat seperti aku yang meninggalkanmu!” teriak Eunju di belakangnya.
Namun ia mengabaikannya, menerobos maju seolah siap mendorong siapa saja yang menghalangi jalannya. Eunju memekik saat ia menyerempetnya, meringis tanpa bisa menahan diri.
Chaewoo memotong lurus melintasi taman. Semakin dekat ia, semakin keras jantungnya berdegup membentur tulang rusuk, dan darahnya menderu di telinganya. Bagi seseorang yang napasnya tak pernah tersengal saat latihan paling berat sekalipun, kini ia hampir megap-megap dengan putus asa.
Iyeon sedang berjalan di sepanjang deretan pohon yang rapi. Benar-benar dia. Chaewoo mengatupkan rahang, matanya terpaku pada sosok yang telah ia gambar dalam benaknya ribuan kali.
Seiring jarak yang semakin menyusut, ia bisa mencium wanginya. Aroma yang hidup, sesuatu yang tak pernah bisa ia rasakan dari bayangan tak berwarna dan tak berbau yang selalu tertidur itu. Pikirannya menjadi kosong sepenuhnya.
Lalu tiba-tiba, hembusan angin menerpa mereka, menyambar topi Iyeon dari kepalanya.
“Ah!” serunya, berbalik sambil meletakkan tangan di atas kepalanya.
Chaewoo membeku, menggenggam topi jerami yang terbang tepat ke arahnya. Segalanya seolah bergerak dalam gerak lambat saat rambut Iyeon berkibar, lalu menempel di pipinya. Dahi putihnya dan matanya berkilau seperti permukaan sungai yang diterpa sinar matahari. Ia mengabadikan gambaran itu dalam benaknya seolah menekan rana kamera. Lalu seluruh tubuhnya mulai terasa sakit dengan intensitas yang tak tertahankan, memaksanya meringis.
“Kenapa…” Suara yang berjuang keluar dari tenggorokannya terasa mentah dan hancur. “Kenapa kamu ada di sini?”
Hanya itu yang bisa ia paksa keluar.
Ia tak bisa mengalihkan pandangan dari pipinya, pipi yang begitu ingin ia genggam dengan tangannya. Namun ketika Iyeon menyadari tatapannya, ia mulai menegang dan mundur.
Mengingat apa yang telah ia lakukan, ia tahu ia pantas mendapatkannya. Namun Chaewoo tak bisa melawan dorongan paniknya sendiri dan melompat maju, mencengkeram pergelangan tangannya.
Mata yang dulu memohon cintanya kini kosong, seolah menatap orang asing yang sama sekali tidak dikenal. Mereka telah berpisah paling lama sebulan, namun rasanya seolah tempatnya di dalam hati Iyeon telah terhapus sepenuhnya. Pikiran itu sendiri terasa seperti pukulan mematikan. Tidak seperti biasanya, setetes keringat mengalir menyusuri pelipisnya.
“Kamu seharusnya ada di Pulau Hwai. Kamu seharusnya tidak pernah pergi,” kata Chaewoo, setengah menuntut.
“…”
“Apa yang kamu lakukan di tempat ini?” Suaranya, tegang menahan amarah, bergetar. “Kenapa kamu ada di sini?!”
Itu adalah teriakan, namun suaranya pecah dan berantakan. Chaewoo terengah, kata-katanya tumpah ruah saat ia menghadapinya. Di balik tatapan garangnya, badai emosi yang tak terlukiskan mengamuk.
“Apakah kamu tahu tempat apa ini? Bagaimana bisa kamu begitu ceroboh?”
“…”
“Kamu tidak seharusnya ada di sini. Kamu tidak tahu apa-apa tentang tempat ini…” gumam Chaewoo.
Gelombang pusing yang tak tertahankan menghantamnya. Sekadar membayangkan wanita polos ini,yang telah menghabiskan seluruh hidupnya merawat pohon-pohon, berada dalam cengkeraman keluarga Kwon membuat bulu kuduknya berdiri karena rasa ngeri yang murni. Ia tidak bisa menemukan secuil pun ketenangan melihatnya berdiri begitu polos di tanah yang ternoda darah begitu banyak orang.
“Kamu tidak boleh ada di sini. Tidak sekarang.” Chaewoo memejamkan matanya rapat-rapat, lalu membukanya kembali dengan cepat, tangannya mencengkeram bahu Iyeon.
Pergi. Kembalilah. Matanya memancarkan penolakan ke arahnya.
Iyeon tersentak, tapi kemudian matanya yang lembut mengeras. Ia menepis kedua tangannya.
Kekuatannya hampir tidak terasa, tapi tindakan itu sendiri sudah cukup membuat Chaewoo terhuyung. Tatapan asing di matanya kembali menggerus sisi dalamnya.
“Kalau kamu butuh penjelasan, kamu harus tanyakan langsung ke Tuan Giseok Kwon. Akan merepotkan bagiku untuk menjelaskannya,” kata Iyeon dengan tegas.
“…Apa?”
“Dia yang mempekerjakanku.”
“…”
“Aku diberi gambaran singkat dalam perjalanan ke sini. Jadi kamu adalah putra bungsu keluarga ini?”
Chaewoo kini mengerutkan dahi dengan bingung. Apa yang sedang dia bicarakan?”Aku sudah diperingatkan untuk berhati-hati denganmu karena kamu punya temperamen paling buruk di keluarga ini. Sepertinya kita tidak akan banyak berinteraksi, tapi aku berharap bisa bekerja sama dengan baik,” kata Iyeon dengan nada acuh tak acuh.
Chaewoo mencoba menguraikan kata-katanya, tapi semuanya terdengar seperti suara statis dari radio yang tidak tertala dengan baik. Ia hanya menatap, setengah linglung, pada gerakan bibirnya.
“Nama saya Iyeon So. Saya adalah arborist yang dikontrak untuk mengelola taman perkebunan ini selama sebulan ke depan.”
“…!”
Cara ia memperkenalkan diri adalah tusukan terakhir yang merobek isi perutnya. Itu menyentaknya kembali ke kenyataan. Ia mengatupkan rahangnya, mencoba mengurai kata-katanya dengan api yang menyala di balik matanya. Ketika ia dengan tenang mengulurkan tangan ke arahnya, Chaewoo tidak bisa menahan tawa dingin yang keluar.
Iyeon jelas tidak ingin dilihat sebagai wanita penakut yang pernah ia kenal. Saat itu, ia bukan siapa-siapa selain Arborist Iyeon So, dokter pohon yang tegas dan ketat yang hanya peduli pada batang dan cabang pasien-pasiennya.
Dihadapkan dengan tembok yang telah ia bangun di antara mereka, Chaewoo merasakan dahaga tak berdasar menguasai pikirannya. Tiba-tiba ia ingin menancapkan giginya ke tangan kecil yang putih yang ia ulurkan itu.
Tenggorokannya terasa terbakar seolah ia menghirup api. Ia mengepalkan tinjunya, lalu dengan paksa meraih tangannya untuk menjabatnya.
“Bukan itu,” kata Iyeon, mengerutkan dahi.
“Apa?”
“Aku mau topinya.”
“…”
“Kembalikan topinya, tolong.” Melepaskan diri dari cengkeramannya, Iyeon mengibas-ngibaskan telapak tangannya yang terbuka ke arahnya lagi. “Itu penting bagiku.”
Sebagai respons, Chaewoo meremas topi itu dalam genggamannya. Iyeon menjerit dan menepuk punggung tangannya sebelum menarik topi yang gepeng itu kembali dengan sekuat tenaga.
Ia memeluk topi jerami itu ke dadanya dan membungkuk singkat dengan cara yang sekadar basa-basi. Ia lalu berbalik tanpa pikir panjang, melangkah menjauh dari Chaewoo, meninggalkannya dalam kebingungan total.
Iyeon, ini aku. Aku sudah kembali. Aku Chaewoo-mu. Permohonan menyedihkan itu muncul di benaknya. Aku sudah mengingat segalanya sekarang. Mengapa kamu tidak mengenaliku?
Matanya menjadi dingin, ekspresinya mengeras.
Iyeon, sementara itu, semakin menjauh darinya.
Akal sehatnya berteriak menyuruhnya membiarkannya pergi, namun Chaewoo mengabaikan saran pikirannya dan berlari ke arahnya. Ketika ia mencapainya, ia memutarnya dengan paksa.
“Mau ke mana kamu!” teriaknya.
Alis Iyeon berkerut, sekilas rasa sakit melintas di wajahnya saat ia mencengkeram bahunya.
“Ke mana kamu bisa pergi di tempat seperti ini—”
“Aku pindah hari ini. Aku akan mempersiapkan diri untuk bekerja,” katanya, datar.
“Berhenti dari pekerjaan itu, sekarang juga.” Chaewoo mengusap wajahnya dengan satu tangan, kesabarannya sudah habis. “Ini rumahku, dan aku tidak berniat melihatmu berkeliaran di sini setiap hari.”
Sejenak, sesuatu di mata Iyeon meledak.
Ia mendidih, hampir menggeram padanya, “Siapa kamu sebenarnya?”
“…!”
“Kamu… Kamu bocah sombong! Aku tahu kamu lebih muda dariku!” teriaknya.
Dalam budaya mereka, sudah menjadi norma bagi orang yang lebih muda untuk menghormati orang yang lebih tua,meskipun mereka beberapa tahun lebih tua. Dan Chaewoo bahkan empat tahun lebih muda darinya.
Namun tak lama kemudian, Iyeon bergegas pergi seolah melarikan diri dari maut. Lalu, seolah berubah pikiran, ia menahan diri dan memperlambat langkahnya menjadi jalan biasa. Namun pada akhirnya, langkahnya kembali berubah menjadi tergesa-gesa yang aneh, dan ia menghilang dalam sekejap.
Pipi Chaewoo terasa perih seolah baru saja ditampar. Ia baru saja melihat bahwa perempuan itu bukan hantu maupun ilusi, namun ia tetap merasa seolah baru saja melihat sosok dari alam lain.
✦ ❖ ✦
Iyeon melarikan diri dari taman dengan satu tangan menempel erat di atas jantungnya yang berdegup kencang.
Apa-apaan ini…!
Sejak ia menginjakkan kaki di rumah megah itu—tidak, sejak ia mengemas barang-barangnya untuk meninggalkan Pulau Hwai—ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan bertemu Chaewoo. Namun, ia tidak pernah menyangka akan dihadapkan padanya secara begitu tiba-tiba.
“Hah…!”
Iyeon terengah-engah, kakinya bergerak dengan kecepatan jalan cepat yang panik, berusaha keras untuk tidak berlari sepenuhnya. Bahunya dan tangannya, dua tempat yang sempat digenggam Chaewoo, terasa berdenyut. Ia menggosok kulitnya, mencoba menghapus sensasi sentuhannya, bertanya-tanya apakah memar tak kasat mata sudah mulai terbentuk di sana.
Berhadapan langsung dengannya lagi membuat satu bulan terakhir berkelebat di depan matanya. Sesaat, ia hampir menyerah pada kehadiran Chaewoo yang begitu mendominasi dan tergelincir kembali ke dalam mimpi buruk terburuknya, namun proses memulihkan diri dan berjuang menyembuhkan pikirannya menjangkarkan tekadnya dengan sekuat tenaga. Guncangan itu perlahan memudar menjadi ketenangan. Ia memaksa dirinya untuk menganggapnya tidak lebih dari sekadar bayangan dalam wujud yang familiar.
“Masuk dan keluar, cepat dan bersih,” gumam Iyeon, kata-kata itu menjadi mantra yang ia pegang erat.
Setiap nalurinya berteriak menyuruhnya untuk menoleh ke belakang, seperti yang dilakukan siapa pun yang sedang melarikan diri, namun ia mengepalkan tinjunya dan menahan dorongan itu.
Dalam perjalanannya ke sini dari Pulau Hwai, ia dijemput oleh seorang sopir yang memberikan pengawalan mewah. Ia melewati gerbang besar menyerupai kastil, kemudian diantar melalui jalan setapak yang panjang dan rindang dengan deretan pohon yang mengejutkan, lalu melewati dua gerbang mewah lagi sebelum akhirnya tiba di rumah besar yang bersarang di kaki gunung.
Sepanjang perjalanan, Iyeon sedikit mengetahui tentang keluarga Kwon. Rupanya, putra kedua, yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar, sudah lama memutus hubungan dengan mereka. Yang ketiga telah mandiri, menjalankan bisnis hiburan. Itu menyisakan hanya si sulung, Giseok Kwon, dan si bungsu, Chaewoo Kwon, untuk mengurus urusan keluarga dan menjaga warisannya.
Sopir itu, yang memandang Iyeon sebagai rekrutan baru di rumah besar tersebut, dengan sungguh-sungguh memperingatkannya agar tidak berurusan dengan saudara-saudara Kwon, namun ia hanya membalasnya dengan senyum terpaksa.
Taman yang terungkap saat mereka mendekati rumah besar itu sangatlah luas. Iyeon terpesona oleh pemandangan pohon-pohon berbunga yang bermekaran, harumnya mengaburkan pikirannya. Itu adalah taman paling hidup dan indah yang pernah ia lihat sejauh ini. Ia bahkan meminta sopirnya untuk berhenti sejenak.
Ketika ia melangkah ke atas rumput yang terawat sempurna, ia bisa melihat bahwa taman itu dikelola dengan sangat apik. Tanah yang terawat seperti itu biasanya dipangkas hingga nyaris tak bersisa, namun untungnya, pohon-pohon di sini tampak kokoh dan sehat.
Siapa yang mengelola ini? Pupuk apa yang mereka gunakan? Teknik yang begitu mahir ini…
Iyeon sangat ingin melihat catatan kerja pegawainya.
Terpesona, Iyeon berkeliling mengagumi area itu hingga ia langsung bertabrakan dengan putra bungsu, Chaewoo Kwon…
Iyeon mengusir pikiran itu dan memaksa kakinya bergerak lebih cepat.
“Sudah selesai jalan-jalannya?” tanya sopir itu, yang bersandar santai di mobil sambil memperhatikan pendekatannya yang terengah-engah.
“Sudah, terima kasih sudah menunggu…!” katanya, terengah-engah.
“Ada yang mengejar? Kenapa kamu—”
“Pak, kita harus pergi! Sekarang!”
“Hah?”
“Cepat, ayo pergi!”
Iyeon membanting pintu mobil terbuka, gerakannya panik.
Ia sudah berusaha sekuat tenaga mencegah Chaewoo mengikutinya, tapi sia-sia. Persis seperti yang ia khawatirkan, Chaewoo menerobos ke arahnya dengan wajah penuh tekad yang mengerikan.
Pemandangan Chaewoo yang menyerbu bagai kuda liar itu mengirimkan rasa takut yang murni ke seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, dan mulutnya terasa kering.
“Pak!” ia mendesak sang pengemudi.
“Iya, iya, baik!”
Sang pengemudi, yang kini ikut panik, tergesa-gesa menyalakan mobil.
Pada saat yang sama, Chaewoo menyergap mereka. Ia membungkuk, wajahnya mengintip dari luar jendela belakang. Iyeon duduk ketakutan saat telapak tangannya yang besar menempel di kaca. Matanya menyapu bagian dalam mobil dengan intensitas yang mencekam saat ia memiringkan kepalanya pada sudut yang tidak wajar. Ia tidak tampak seperti manusia.
“Ahh!” Iyeon menjerit.
Ia melihat senyum pelan dan kejam mengembang di bibir Chaewoo. Mustahil baginya untuk melihat menembus kaca film yang sangat gelap itu, namun seolah-olah ia bisa merasakan kehadiran Iyeon hanya dengan nalurinya.
Suaranya, yang hanya sedikit teredam oleh rangka mobil yang tebal, menusuk telinganya dengan sangat jelas. “Iyeon. Keluar dari mobil. Jangan paksa aku menghancurkan jendela ini dan menyeretmu keluar sendiri.”
“…!”
Ia menghantamkan tinjunya ke atap mobil—sekali, lalu sekali lagi—begitu keras hingga seluruh mobil bergetar.
“Eh, eh…” sang pengemudi tergagap, menggenggam setir dengan kepalan tangan yang memutih karena panik.
Iyeon mencengkeram gagang pintu.
“Iyeon. Kita perlu bicara,” kata Chaewoo lagi.
Hatinya jatuh mendengar nada yang familiar dan tenang yang menipu itu, tapi ia menemukan suaranya, berteriak dengan gemetar ketakutan, “Pak, Bapak harus jalan!”
“T-Tapi bukankah itu Tuan Muda—”
“Dia orang gila! Jalan saja!”
Kata-katanya menjadi pemicu. Sang pengemudi menginjak pedal gas.
Iyeon mendengar makian kasar di atas deru mesin, tapi ia tidak berani menoleh ke belakang.
Tak lama kemudian, dentuman berat dan berirama mulai terdengar dari bagian belakang mobil. Chaewoo menghantamkan tinjunya ke bagasi—bukti bahwa ia masih mengejar mereka.
Sang pengemudi terus melirik kaca spion, mengusap butiran keringat dingin dari dahinya.
“Hmm…”
Iyeon, yang tadinya meringkuk, mendongakkan kepalanya. “Apa? Apakah dia masih mengejar kita?”
“Tidak, bukan itu… Tuan Muda sudah pergi. Menghilang begitu saja. Mungkin ia mengambil jalan pintas…”
“Apa?”
Keheningan memenuhi mobil.
Sang pengemudi, memaksakan senyum canggung, mencoba mencairkan suasana. “Jadi, apakah Anda menemukan pohon yang menarik di taman?”
“…Seperti yang Bapak lihat, saya malah menemukan sesuatu yang lain,” jawabnya dengan pahit.
Saat itu, dengan decitan ban yang memekakkan telinga, mobil berhenti mendadak. Iyeon secara refleks memeluk perutnya saat dahinya membentur kursi depan. Sang pengemudi gemetar, kepalanya tertunduk ke setir.
Iyeon terengah-engah, pandangannya menyapu melalui kaca depan. Penglihatannya berputar, tapi ia memaksa matanya untuk fokus. Sesosok tubuh sedang bangkit dari aspal, perlahan, seolah-olah ia baru saja ditabrak mobil.
“…!”
Iyeon menyadari bahwa Chaewoo telah melemparkan dirinya di depan kendaraan itu. Pikirannya menjadi benar-benar kosong.
Wajahnya dingin membeku saat ia melangkah menuju mobil, matanya tertuju langsung pada Iyeon. Ia menggesekkan buku-buku jarinya di jendela sisi pengemudi. Kemudian, dengan bidikan yang tepat, ia menghantamkan tinjunya, lalu sikunya, ke sudut kaca hingga kaca tempered itu pecah berkeping-keping—persis seperti yang telah ia janjikan.
Serpihan kaca berjatuhan di punggung sang pengemudi, tapi Chaewoo bahkan tidak berkedip. Ia dengan tenang meraih ke dalam, membuka kunci pintu belakang, dan berjalan mengelilingi mobil ke sisi Iyeon.
Klik.
Suara kunci yang terbuka itu lebih pelan dari bisikan, namun seolah bergema di telinganya seperti ledakan. Iyeon tersentak, memeluk dirinya sendiri, membeku di tempat. Akhirnya, pintu mobil terbuka lebar.
Suaranya, yang diiringi helaan napas, memerintahkan, “Keluar, Iyeon.”
Chaewoo bersandar dengan satu lengan di bingkai pintu, kepalanya menunduk ke dalam. Tangannya yang terentang menetes darah. Apapun rasa cinta yang pernah ia rasakan untuknya kini tenggelam dalam rasa takut yang mencekik.
Iyeon hanya bisa berkata, “A-Apakah kamu gila?”
“Mungkin,””Aku t-tidak bisa keluar. Aku harus menemui Gyubaek. Aku harus menemuinya sekarang…”
“Kenapa bocah sialan itu begitu penting bagimu?”
“…!”
Iyeon menggigit bibirnya, gelombang keputusasaan menghantamnya. Ia tidak percaya bahwa ia telah melupakan seperti apa Chaewoo sesungguhnya.
Bahkan dengan amnesia, pikirannya selalu bengkok.
“Aku tidak bisa keluar,” ulangnya, suaranya tetap tegas meski diliputi ketakutan.
Pandangan Chaewoo beralih ke bekas merah yang mulai terbentuk di dahinya. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia menutup pintu. Sesaat kemudian, pintu di sisi seberang terbuka dengan bunyi klik.
✦ ❖ ✦
“Direktur!”
“Gyubaek!”
Begitu mobil berhenti di depan rumah utama, Gyubaek berlari kencang ke arah mereka dari seberang halaman. Mata Iyeon langsung melakukan pemindaian cepat—rambut, wajah, lengan, kaki.
Selain pakaiannya yang agak tipis, Gyubaek tampak baik-baik saja. Ia terlihat bersih dan tampak tenang. Yang mengejutkan Iyeon, ia terlihat lebih sehat dan lebih cerah dibandingkan saat di Pulau Hwai, dan bahkan sepertinya sudah sedikit bertambah berat badan.
Rasa lega menghampirinya. Ia membuka kedua tangannya, siap memeluk anak malang itu erat-erat. Namun dengan decitan keras sepatu di atas kerikil, Gyubaek berhenti mendadak.
“Ada apa, Gyubaek?”
“…”
Anak itu hanya berdiri di sana, tampak kebingungan. Ada yang tidak beres. Mereka saling menatap di tengah jarak yang sunyi dan menegangkan.
“Eh… eh…” Gyubaek tergagap, seolah otaknya mengalami korsleting.
“Gyubaek?”
“…”
“Ke sini. Apa yang kamu lakukan?”
Bahkan dengan dorongan dari Iyeon, ia tetap membeku di tempat.
Iyeon memutuskan untuk menutup jarak itu sendiri. Namun, ketika ia melangkah maju, Gyubaek langsung mengangkat kedua telapak tangannya dan mundur selangkah.
Merasakan ada yang sangat tidak beres, ia berusaha keras membaca ekspresi Gyubaek namun tidak menemukan apa pun.
“Apakah kamu terluka? Ada yang salah? Kamu bisa cerita padaku, kamu tahu,” desaknya.
“…Awalnya aku menjadi anjing,” Gyubaek memulai.
“Apa?”
“Untuk beberapa waktu, aku berubah menjadi ayam.”
“…”
Bagaimana aku harus memproses itu?
Rentetan pengakuan aneh dari anak itu membuat Iyeon benar-benar terguncang.
Sementara itu, Gyubaek menatap lekat-lekat ke suatu titik di dekat perutnya, mata gelapnya berkedip cepat. Ia mengerutkan dahi, lalu memonyongkan bibirnya. Bagi Gyubaek yang biasanya pendiam, reaksi itu adalah ledakan emosi yang luar biasa.
Pikiran Iyeon berpacu, mencoba menghubungkan semua titik-titik itu.
Anjing, lalu ayam…
“Dan sekarang?” tanyanya, suaranya serius. Ia berdoa agar Gyubaek menjawab ‘serangga’, karena jawaban itu akan menenangkan pikirannya.
“Sekarang, aku sedang mempertimbangkan untuk menyelesaikan transisi dari serangga menjadi monyet,” ia mengonfirmasi.
“Apa?” Iyeon terkejut.
“Monyet hantu adalah ayah terbaik di antara semua primata. Ia memberi makan anaknya dan bermain bersama mereka. Setelah kelahiran, sang jantan bertanggung jawab atas hampir semua pengasuhan anak. Aku adalah monyet yang masih muda tapi cerdas.”
Apa yang sedang ia bicarakan?
Semua rasa takut yang Iyeon rasakan sesaat lalu berubah menjadi kemarahan murni. Ia berbalik, matanya menyala saat ia menatap tajam Chaewoo, yang kini dengan santai melangkah keluar dari mobil.
Chaewoo telah diam-diam dan tanpa henti menggenggam tangannya sepanjang perjalanan. Ketika ia mengeluh soal itu, Chaewoo hanya meminta tangan satunya lagi. Ia keras kepala, tidak masuk akal, dan kemarahan di matanya telah membuatnya ketakutan hingga terdiam.
“Apa yang kamu lakukan padanya?!” teriak Iyeon.
Chaewoo, yang mendekat dengan langkah terukur, hanya mengedutkan sebelah alisnya menanggapi tuduhan tajam itu.
“Ia sudah menyerah pada serangga! Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya di rumah ini!” teriak Iyeon, tidak mampu menahan amarahnya.
Tentu saja, sesuatu terjadi di sini. Orang-orang mati di tempat ini, pikir Chaewoo dengan pahit.
Gyubaek bertingkah bangga dan penuh kemenangan seolah ia telah menjadi semacam anak asuh kebanggaan keluarga Kwon. Chaewoo hanya bisa menelan helaan napas berat. Ia masih tidak percaya dengan pemandangan konyol itu.
Kenapa mereka berdua ada di sini?
Merasakan kekosongan yang menegangkan di tangannya, Chaewoo mengepalkan tinjunya.Dia tidak bisa membedakan apakah dirinya sekadar ingin menggenggam tangan Iyeon atau menerkam mangsanya.
Impuls telah mengalahkan akal sehatnya secara total hingga bahkan dirinya sendiri merasa itu berbahaya. Semua ini terjadi karena kenangan-kenangannya memilih untuk membanjiri pikirannya setelah ia menghancurkan segalanya yang berharga baginya.
“Iyeon,” ia memulai.
“Jangan panggil aku begitu.” Bibirnya menekan menjadi garis tipis, ekspresinya mengeras menjadi topeng es.
“Lalu apa yang harus aku panggil kamu?”
“Pilih satu dari semua nama kasar yang pernah kamu sebutkan padaku,” katanya, suaranya tanpa kehangatan. “Teruslah bersikap kasar. Itu membuatku lebih mudah.”
Chaewoo hanya bisa berdiri di sana, lumpuh oleh permusuhan yang masih tidak bisa ia percaya datang darinya.
Tepat saat itu, sopir yang gemetar bergegas dari kursinya dan mengambil koper Iyeon. Iyeon menerimanya dan mengambil tangan Gyubaek. Chaewoo, yang berdiri tepat di jalurnya, merasa seolah dirinya tidak terlihat. Tangannya melesat keluar, merenggut tangan Iyeon dari genggaman Gyubaek.
“Aku menunggu kamu bertemu Gyubaek terlebih dahulu. Bukankah sekarang giliran aku?” tanyanya.
“…”
“Aku tidak mengerti kenapa kamu pergi sambil menggenggam tangan anak kecil itu.” Suara Chaewoo semakin merendah, mengambil nada berbahaya dan dingin. “Sepertinya kamu sudah salah menetapkan prioritas, Iyeon.”
Nada bicaranya secara terang-terangan menekannya dengan ancaman tersirat bahwa ia pasti telah membuat kesalahan. Ia tidak bersedia menerima penjelasan lain apa pun.
Iyeon berbalik, jelas kesal. Ia tidak suka kenyataan bahwa orang asing ini mengenakan aroma yang sama dengan pria yang ia cintai.
“Apa kamu belum pernah putus dengan seorang wanita sebelumnya?” tanyanya.
Wajah Chaewoo menjadi kaku.
“Apa kamu tidak mengerti apa arti putus? Ketika kamu merusak evaluasi itu, membunuh Pohon Roh, dan membuangku karena kamu tidak lagi membutuhkanku… Kamu yang menetapkan syaratnya. Artinya jika kita kebetulan bertemu, kesopanan paling minimal adalah bersikap seperti orang asing. Hanya itu yang tersisa di antara kita—kesopanan menyedihkan itu.”
“…”
“Jadi, bisakah kamu tolong lakukan satu hal untukku dan perlakukan aku seperti orang asing?”
Kening Chaewoo berkerut. Ia tidak pernah melihatnya menolaknya dengan begitu berani.
“Kamu tidak punya sedikit pun pertimbangan saat kita putus, dan sekarang bahkan lebih sedikit lagi,” kata Iyeon, masih marah.
Chaewoo mengatupkan rahangnya. Tatapan penuh jijik Iyeon terasa seperti tangan yang mencengkeram tenggorokannya. Ia tampak seolah ingin menyeretnya pergi kapan saja, namun ia bahkan tidak berani menggerakkan ujung jarinya.
Wanita di hadapannya bukan lagi wanita yang ia ingat. Ia tidak lembut maupun terluka. Setelah menyadari ini adalah Iyeon yang baru dan tidak dikenalnya, suaranya berubah menjadi geraman tegang saat meluncur dari sela giginya.
“Itu adalah rumah utama. Apa kamu bahkan tahu ke mana kamu akan masuk?”
Rumah utama adalah tempat tinggal Giseok.
“Memangnya kenapa? Toh aku tidak akan berbagi kamar dengan siapa pun,” balas Iyeon.
Chaewoo tersenyum dingin menanggapi jawabannya yang sembrono itu.
“Iyeon, jangan bercanda soal itu.”
Pada saat itu, Chaewoo mencengkeram kerahnya dan, dengan santai yang mengerikan, mulai mengelap buku jarinya yang robek pada pakaiannya. Ia dengan sengaja menggosokkan kepalan tangannya pada kain pucat itu, meninggalkan noda tebal darah merah cerah di sepanjang tenggorokannya. Bagian kapalan tangannya menggesek kulitnya, belaian kasar yang berakhir tepat di bawah telinganya.
“Kamu tidak boleh mengatakan hal-hal seperti itu,” bisiknya, suaranya bergetar halus.
Tangan Iyeon mengepal celananya, dan napasnya tertahan di paru-parunya.
“Apa kamu ingin menguji batas kesabaranku? Apa kamu ingin melihat seberapa monstrosnya aku bisa menjadi?”
Saat aroma logam darah menguar di antara mereka, Chaewoo menatapnya, mengamati setiap reaksinya. Ketika ia melihat bulu matanya bergetar ketakutan, ekspresinya akhirnya melunak. Sepertinya yang ia inginkan hanyalah reaksi darinya—reaksi apa pun.
Ia menepuk punggungnya dengan tepukan singkat dan tajam, lalu berkata, “Bernapaslah, Iyeon.”
Iyeon memalingkan kepalanya dengan kaku. Ketika mata mereka bertemu, alisnya berkedut. Mata cokelat mudanya adalah tungku yang menyala-nyala dengan amarah.Namun di balik itu semua, tersimpan kerinduan yang sama hebatnya seperti dulu.
Gugup dan bingung, Iyeon mengedipkan mata dan bergumam, “A-Apa yang salah denganmu?”
“…”
“Jangan bilang kamu l-lupa lagi! Kamu bilang hanya melihatku saja sudah membuatmu merinding!”
“Aku ingat itu,” akunya.
“Kalau begitu jangan ajak aku bicara! Anggap saja aku tidak ada!”
Chaewoo perlahan menundukkan pandangannya, menempelkan punggung tangannya ke pipinya yang berkedut. Darah itu mengotori kulitnya seperti cap tinta.
Kamu ada bahkan saat aku tidak bisa melihatmu, pikirnya.
Namun kini, dia justru menuntut hal yang sebaliknya.
Ketika Chaewoo mendongak lagi, matanya tampak keruh.
“Aku bilang pergi,” tuntutnya sekali lagi.
“…!”
“Pulanglah, Iyeon.” Dia merebut koper dari tangannya dan melemparnya ke samping. “Sisanya biar aku yang urus. Kamu cukup pergi dari sini. Jangan buat aku harus berteriak lagi padamu!”
Wajah Chaewoo menegang penuh kepedihan saat dia menekan tangannya ke dahinya. Dia sudah tahu ada yang tidak beres begitu mendengar Gyubaek ada di bangunan samping.
Melihatnya hancur seperti itu, Iyeon merasakan ketenangan aneh menyelimutinya. Dia bertanya dengan suara yang tenang, “Beri aku satu alasan mengapa aku harus mendengarkanmu.”
“…”
Udara seketika membeku. Keheningan berlarut-larut, berat dan mutlak.
Chaewoo berdiri terpaku di tempatnya, tak mampu berkata-kata, membuat Iyeon mengangkat sebelah alisnya.
Nah, kan?
Ekspresinya dengan jelas menunjukkan betapa sia-sianya semua perjuangan ini.
“Sekarang kamu mengerti? Inilah yang tersisa di antara kita.”
“…”
“Tidak ada apa-apa sama sekali.” Iyeon dengan tenang menarik kopernya kembali ke sisinya. “Dan jangan sekali-kali berpikir amarahmu lebih penting dari kontrak yang sudah aku tandatangani dengan Tuan Kwon.”
Iyeon berbalik dan berjalan pergi. Tak lama, suara langkahnya pun memudar, satu per satu, ke kejauhan.
“…Tempat ini berbahaya, Iyeon,” gumam Chaewoo ke arah tanah.
Yang bisa dia dengar hanyalah gemeretak roda di atas aspal.
Sendirian, dia berbisik menyebut namanya ke kekosongan. “Iyeon, Iyeon…”Chaewoo terombang-ambing di antara kegelapan dan cahaya. Dia tidak berakar pada satu pun dari kedua kumpulan kenangan itu, namun juga tidak terbebas darinya. Dunianya yang kacau telah menjaga keseimbangan yang rapuh hingga saat dia melihat Iyeon.
Setiap napasnya, suara suaranya, arah pandangannya—semuanya adalah siksaan baru. Pikirannya terhuyung tak terkendali. Dia belum bisa memberi nama pada emosi lengket dan berantakan yang membusuk di dalam dirinya. Tapi satu hal sudah pasti.
Dengan langkah panjang bak predator, Chaewoo memperpendek jarak dan mengangkat koper Iyeon tinggi-tinggi di atas kepalanya.
“A-Apa-apaan ini?!”
Mata Iyeon melebar terkejut saat dia membanting koper itu ke mobil. Kacanya tidak sekadar retak, melainkan hancur berkeping-keping dengan bunyi yang memilukan. Sopir itu pucat pasi dan langsung jatuh pingsan di tempat. Alarm meraung-raung, dan lampu depan yang berkedip-kedip melukis wajah pucat Chaewoo dengan semburat merah.
“Apa yang kamu lakukan?!” teriak Iyeon.
Saat rahangnya ternganga, dia tersenyum puas melihat reaksi tegasnya.
“Apa yang kamu harapkan dari orang seperti aku? Aku hanya ingin menggigitmu.”
“…!”
Dia melangkah mendekat dan dengan lembut menyelipkan sehelai rambutnya ke belakang telinga.
“Jadi, kita lanjutkan pembicaraannya?”
“A-Apa?” Wajahnya dipenuhi ketakutan dan kebingungan.
“Itu rumah utamanya. Kamu tahu ke mana kamu akan masuk?”
“…!”
Rasanya seperti menelan serpihan kaca.
“Kenapa ekspresimu seperti itu? Aku memperlakukanmu seperti orang asing, seperti yang kamu mau.”
Iyeon berdiri terpaku, mengedipkan mata. Tanpa sadar dia mengangkat tangan dan mengusapkan ibu jarinya di atas kelopak matanya. Gerakan yang familiar itu membuat Iyeon tersentak.
“Aku tidak pernah diajarkan sopan santun. Seperti yang bisa kamu lihat, keluargaku kaya. Semua orang terlalu sibuk berjalan di atas kulit telur di sekitarku, jadi aku tumbuh menjadi anak yang manja. Itulah mengapa aku tidak pernah cukup putus asa untuk memungut sesuatu yang sudah aku pecahkan dan mencoba memperbaikinya alih-alih membuangnya.”
Dia mencondongkan tubuh ke depan, mendekatkan wajahnya sejajar dengan wajahnya. Ekspresinya sangat menggelisahkan, matanya menatap Iyeon seolah ingin mencabik-cabiknya.
“Aku pun tidak mengerti perasaan ini.””Aku yang meninggalkanmu, jadi aku tidak seharusnya merasakan ini.”
Mengerutkan dahi, ia melahap wajahnya dengan tatapan, berusaha menggali perubahan dalam dirinya yang tidak bisa ia pahami.
“…”
Namun seberapa dalam pun ia menggali, yang ia temukan hanyalah emosi yang telah mengering. Tiba-tiba, sebuah kesadaran menghantamnya.
“Ohhh,” serunya dengan ekspresi terkejut yang berlebihan. “Jadi kamu benar-benar menghapusku.”
“…!”
Tawa dingin lolos dari bibirnya. “Kamu meninggalkanku.”
Mata Chaewoo yang merah membara berkilat. “Tentu saja, aku tahu apa itu putus. Tapi bagiku, kata itu punya makna yang sama sekali berbeda—” Suaranya menjadi tajam. “Artinya mengukir luka yang tidak pernah pudar.”
“…!”
“Dan jika memang begitu,” bisiknya, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahnya, “bukankah wajar saja jika tubuhku terasa sakit saat aku tak sengaja menemukanmu?”
Iyeon langsung mengerti apa yang dimaksud Chaewoo: Ia tidak bisa—tidak, tidak mau—mengabaikannya.
Ia menghela napas.
Aku ingin menghabiskan bulan ini dengan tenang.
Iyeon entah bagaimana telah berjalan masuk ke dalam sebuah jebakan. Ia menggigit bibirnya dan menatap Chaewoo dengan tajam ketika Gyubaek, yang telah mengamati seluruh pertunjukan itu, tiba-tiba mendorong Chaewoo menjauh, memisahkan mereka berdua. Anak itu kemudian bergegas kembali dan menarik tangan Iyeon.
“Kamu tidak seharusnya memancing emosinya,” kata Gyubaek, dengan serius.
“Gyubaek, aku sangat minta maaf. Ini hanya…” Iyeon merasa malu karena membiarkan seorang anak menyaksikan adegan yang memalukan seperti ini.
“Direktur So, sekarang kamu harus mulai bernapas dalam-dalam, seperti katak,” kata Gyubaek padanya.
“…Eh, iya. Baiklah.”
Ia memaksa tubuhnya yang kaku untuk rileks. Perlahan-lahan, ia mulai menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Meskipun ia sudah menghapus Chaewoo dari hidupnya, ia adalah tipe pria yang mampu menarik orang-orang ke dalam orbitnya. Jika Gyubaek tidak menariknya keluar, situasinya pasti sudah benar-benar lepas kendali.
Setelah Iyeon kembali sadar sepenuhnya, ia memperhatikan betapa hancurnya kondisi Chaewoo. Wajahnya dipenuhi keringat, punggung tangannya berlumuran darah, celananya berlumpur, serta siku dan lututnya lecet parah. Ia jelas telah melukai dirinya sendiri saat ia melemparkan tubuhnya ke depan mobil, namun Chaewoo tampak tidak tertarik sama sekali dengan tubuhnya yang babak belur. Fokusnya tertuju sepenuhnya pada dirinya.
“…”
“…”
Tatapan mereka bertemu sekali lagi dalam keheningan.
Berbeda dengan Iyeon yang dengan cepat menemukan kembali ketenangannya, Chaewoo masih terpaku di tempat. Obsesi yang membara bertahan di matanya yang bergetar hebat.
Meski intensitasnya begitu kuat, suara Iyeon keluar dengan dingin dan tenang. “Apa pun yang kamu katakan, perasaan itu hanya milikmu. Itu tidak ada hubungannya denganku,” tegasnya.
“…”
“Jadi jangan bebankan itu padaku. Hadapi sendiri. Terakhir kali, kamu bilang kamu harus bergantung padaku karena kamu kehilangan ingatan dan tidak dalam kondisi wajar. Kita tidak seharusnya mengulangi kesalahan yang sama dua kali, bukan?” Ia menarik batas dengan sangat jelas.
Mendengar itu, Chaewoo, yang tetap tidak bergeming sepanjang pertemuan konyol itu, tiba-tiba tampak seolah ia akan hancur berkeping-keping.
Meski sedikit terkejut, Iyeon membiarkan Chaewoo tersedak dengan apa pun yang sedang ia telan dan berbalik. Mengejutkan dirinya sendiri, langkahnya terasa kokoh. Jika gelombang yang mengamuk menghantam wanita yang kini ia jadi, ia tidak akan menjadi yang hancur dan berserakan menjadi buih laut.
“Setelah kawin, laba-laba jantan dimakan oleh betinanya. Oleh karena itu, jantan yang sudah mati tidak punya hak bicara dalam urusan ini,” kata Gyubaek, melirik ke arah Chaewoo untuk menyampaikan vonisnya.
Di tengah kekacauan itu, tidak satu pun orang dewasa yang menyadari anak itu diam-diam menghembuskan napas hangat dan lembut ke perut Iyeon.
✦ ❖ ✦
Chaewoo berdiri di sana, lumpuh, bahkan tidak mampu meraih Iyeon saat ia menghilang ke dalam rumah utama. Pemandangan sosoknya yang menjauh menghantamnya dengan rasa sakit yang luar biasa. Ia merasa tercekik oleh kondisinya yang tak berdaya. Ia bisa saja dengan mudah menariknya kembali, namun ia bahkan tidak bisa bergerak. Kata-katanya yang penuh ketegasan kini tersangkut di tenggorokannya, mencekik udara dari paru-parunya.
“Tuan Muda,” Beomhee, yang tertarik oleh keributan itu, bergegas menghampiri dan memanggil.
“…”
“Tuan Muda?” panggilnya lagi.
Setelah keheningan panjang yang mencekam, Chaewoo akhirnya bergerak. Ia berjalan menuju tempat kosong di mana Iyeon tadi berdiri, menempatkan kakinya tepat di bekas pijakan kaki Iyeon.
Sebagian dirinya ingin terus menyiksanya, seperti yang ia lakukan di hari terakhir mereka di Pulau Hwai. Namun, sebagian besar pikirannya dipenuhi oleh bayangan dahi Iyeon yang merah dan bengkak. Hal itu membuatnya hampir gila.
Dorongan-dorongan yang saling bertentangan itu melilit dirinya, tak mau pergi. Namun Iyeon begitu saja mematahkan rantingnya sendiri yang terluka dan mulai pulih, seorang diri.
Tanpa kehadiran Iyeon, Chaewoo merasa tersesat. Ia seperti anjing yang diusir karena menggigit tuannya, seekor anjing liar yang tak punya tempat lain untuk kembali selain ke titik awal. Seorang bajingan sepertinya memang tak punya tempat lain untuk pergi.
“Apakah sedang hujan?” tanyanya tiba-tiba kepada Beomhee.
“Tuan?” Beomhee mengerutkan dahi, sedikit bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu.
Lalu suara yang sama, kini setajam mata pisau, membelah udara. “Kapan itu terjadi?”
Dengan itu, Beomhee hanya berpikir bahwa ia telah salah membaca suasana mencekam yang ia rasakan sesaat lalu. Ia langsung tahu persis apa yang ingin diketahui Chaewoo.
“Saat Tuan kembali ke kediaman utama, Tuan Muda. Gyubaek Lee ada di bagasi mobil.”
Tawa pendek dan hampa lolos dari bibir Chaewoo yang gemetar. “Kau tahu ini dan kau masih—”
“Mohon, Tuan Muda. Tuan harus beristirahat.”
“Diam.”
Chaewoo mengatupkan rahangnya, melangkah maju dengan mengancam.
Beomhee tersentak mendengar geraman itu namun dengan cepat mengepalkan tangannya yang dingin dan menatap balik tuannya.
“Mungkin kau takut?”
“Apa?”
“Mungkin kau takut dengan kemungkinan bahwa Nona So masih memiliki kekuatan untuk membangunkanmu,” saran Beomhee.
“…!”
“Mungkin kau takut mengakui bahwa tubuhmu masih terikat pada Nona So.”
Dengan itu, pandangan Chaewoo jatuh ke tanah.
✦ ❖ ✦
“Sudah sampai dengan selamat? Bagaimana keadaanmu?” tanya Chuja dari ujung telepon.
Iyeon membiarkan tubuhnya terkulai di kursi goyang.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya.
Sejujurnya, ia merasa benar-benar terkuras. Ia kehilangan semua energi dalam beberapa menit singkat sejak pertemuannya dengan Chaewoo. Telinganya masih berdenging, gema yang tersisa dari kekacauan penuh kekerasan yang ia timbulkan tadi.
Saat Iyeon menyerah pada ayunan kursi yang lembut, rasa kantuk menyelimutinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pandangannya menyapu ruangan di rumah utama itu, ruangan yang sama yang telah membuat Chaewoo begitu kalap.
Matanya beralih ke karpet tebal yang tampak sempurna untuk musim gugur, tempat tidur yang terlalu besar untuk satu orang, dan jendela kaca lebar dengan tirai renda yang membiarkan sinar matahari lembut masuk. Wallpaper hijau tua dan furnitur kayu berwarna gelap memberi tempat itu pesona kuno yang unik.
“Lalu si anjing kecil itu?” tanya Chuja lagi.
“Ia mengoceh tidak karuan, tapi syukurlah ia tampak sehat,” jawab Iyeon dengan menghela napas.
“Jangan kau remehkan apa yang dikatakan anak Gyubaek itu,” nasihat Chuja.
“Menghafal ensiklopedia memang sudah jadi kebiasaannya,” kata Iyeon mengingatkannya.
“Bukan itu maksudku, nak. Anak itu adalah kepik!” kata Chuja, tiba-tiba serius.
“Dia apa?”
“Bukankah semua makhluk punya cara bertahan hidupnya sendiri? Hidup akan terasa berat bagi anak seperti dia. Jadi meskipun si kecil itu tidak lahir dengan sendok perak, ia tetap lahir dengan menggenggam sesuatu. Kalau mau pakai istilahnya sendiri, bisa dibilang ia punya sepasang antena yang luar biasa.”
Senyum tipis menyentuh bibir Iyeon. Ia mengangguk, mendorong lantai dengan kakinya untuk membuat kursi goyang berayun lebih lebar.
“Aku harap si bayi dan Gyubaek bisa menjadi teman baik,” bisik Iyeon.
Pikiran itu saja sudah cukup untuk mencairkan es yang membekukan hatinya seperti sinar pertama matahari musim semi.
“Sepupu-sepupuku dulu sangat dekat satu sama lain, kau tahu? Tentu saja, mereka tidak mengikutsertakanku. Tapi aku tidak pernah berkata apa-apa. Aku iri dengan apa yang mereka miliki. Kalau salah satu dari mereka pulang dalam keadaan babak belur, yang lain langsung keluar dan membela mereka, tanpa banyak tanya. Lalu mereka berdua pulang ke rumah,penuh lumpur…” Iyeon menghentikan kursi goyang itu tiba-tiba. “Oh… apa yang harus aku lakukan kalau itu terjadi, Chuja? Apa aku marahi mereka dulu atau kasih makan dulu?”
Tawa lepas terdengar dari ujung telepon.
“Kasih makan dulu, selalu! Tapi premismu itu salah kaprah, sayang. Saat si kecil kita masuk SD nanti, Gyubaek sudah SMP. Siapa di dunia ini yang mau berantem buat siapa?”
Chuja ada benarnya.
“Yah…” Iyeon terdiam, tak tahu harus berkata apa.
Sebuah bayangan aneh melintas di benaknya, membayangkan anaknya yang masih SD menyerbu sekolah menengah demi membela sahabat yang lebih tua. Seharusnya itu hanya imajinasi liar, namun setelah menyaksikan adegan kacau yang melibatkan amarah Chaewoo yang mengerikan, ia tak bisa begitu saja menertawakannya.
Iyeon mengibas-ngibaskan tangannya, merinding tiba-tiba.
“Aku harus serius soal pendidikan prenatal,” gumamnya.
“Kamu urus dirimu sendiri dulu! Jangan kerja terlalu keras, dengar tidak?” seru Chuja. Ia sangat ingin berada di sisi Iyeon, tapi karena keadaan sudah begini, ia dilanda kekhawatiran yang dalam.
Iyeon mengangkat tangan hendak menyentuh dahinya yang berdenyut, tapi langsung menarik tangannya kembali.
“…Kamu tidak menyesal, kan?” tanya Chuja.
Senyum di wajah Iyeon menghilang. Pertanyaan itu samar, tapi ia tahu persis apa yang dimaksud Chuja. Iyeon membayangkan pria itu, wajahnya kini lebih tirus karena berat badan yang turun. Ia tampak lebih fokus dibanding saat ia masih seperti wadah kosong tanpa ingatan.
“Anehnya, aku bisa menahan diri,” jawabnya.
“Benarkah?”
“Ya. Tidak ada waktu untuk bersentimental.”
Iyeon menempelkan tangan ke dadanya, mencoba menenangkan jantung yang masih berdegup kencang. Kenangan tentang bagaimana Chaewoo menghancurkan sebuah mobil hanya karena ia hendak masuk ke rumah utama membuat tubuhnya bergidik dan berkeringat dingin.
“Tapi aku sedikit takut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Chaewoo ini.”
Pria yang pernah ia cintai tak lebih dari gelombang panas musim panas yang sekejap. Ia pernah terbakar demam karenanya, tapi pria itu lenyap tanpa jejak begitu angin musim gugur pertama berhembus. Masalah sesungguhnya adalah semakin ia mengasihani sosok pria yang dulu, semakin ia membenci pria yang baru saja ia temui.
“Aku takut ia akan merusak semua kenangan itu,” bisik Iyeon.
Chuja mulai mengucurkan kata-kata penghiburan, dan Iyeon bersandar ke kursi goyang yang empuk itu, mendengarkan dengan senyum.
“Iya, iya. Syukurlah, tidak ada morning sickness. Belum ada, setidaknya.”
✦ ❖ ✦
Iyeon menatap ikan yang meronta-ronta itu, menahan rasa mual yang menghantam.
“Sungguh mengharukan bisa berkumpul semua di satu tempat seperti ini.”
Perutnya sudah bergolak.
Iyeon benar-benar membeku melihat pemandangan di hadapannya. Bukan Giseok yang telah merancang makan malam yang menyiksa ini, bukan pula Chaewoo yang masuk dengan tampang siap membunuh. Yang benar-benar membuatnya ngeri adalah ikan besar di atas piring di depannya, tubuhnya masih bergerak-gerak, berjuang untuk tetap hidup.
“Nona So, pada titik ini, bukankah Anda rasa hubungan kita sudah cukup dalam?” tanya Giseok.
“Saya tidak akan bilang dalam. Lebih seperti… keras kepala bertahan, T-Tuan.”
Akan terdengar lebih baik kalau ia tidak tergagap di kata terakhir. Tapi sayangnya, perhatiannya sepenuhnya tersita oleh pemandangan meja makan yang mengerikan itu.
Puluhan lilin berkedip di dalam vas-vas tinggi. Meja marmer putih yang panjang itu tertata rapi dengan alas piring, serbet terlipat seperti bunga, dan satu set pisau yang mengilap. Namun keeleganan yang bersih itu justru membuat suasana terasa semakin asing. Di depan masing-masing dari mereka, seekor ikan hidup mengibas-ngibaskan ekornya.
Ini kapal nelayan?! Apa kita harus mengiris sashimi sendiri?
Iyeon memperhatikan insang ikan yang bergerak-gerak dan matanya yang berputar di rongganya. Selera makannya lenyap seketika. Di dunia yang sudah seberadab ini, ia belum pernah menyaksikan perjamuan seprimitive ini. Lebih parah lagi, Chaewoo yang duduk tepat di seberangnya,sedang menatapnya dengan intensitas yang terasa seperti ia mengupas kulitnya lapis demi lapis. Ia tidak tahu harus menatap ke mana.
“Jangan kau sebut ‘hubungan’ kita itu dengan begitu santai. Semuanya dibangun di atas kebohongan dan pemerasan. Berhenti mencoba memperindah segalanya,” kata Chaewoo.
Dengan itu, Chaewoo mengambil pisau dan menancapkan kepala ikan ke piring.
“Tapi sebuah kontrak meninggalkan catatan di dunia ini,” kata Giseok, suaranya penuh makna. “Kenangan memudar, tapi catatan abadi. Selain itu, aku sudah puluhan kali menelepon Ms. So selama dua tahun ini. Dan pertama kali kami bertemu, aku tidak melakukan apa-apa selain menyaksikannya menangis sepanjang malam sementara aku membelenggunya dengan borgol—”
Plak!
Chaewoo menggenggam pisau perak itu begitu erat hingga terasa seperti menggerus telapak tangannya saat ia menghunjamkan bilah pisau ke mata ikan itu, membuatnya pecah.
Ia mendongak untuk menatap langsung ke arah saudaranya sambil dengan metodis menghunjamkan ujung pisaunya ke ikan itu—berulang kali, di titik yang sama persis. Itu hanyalah seekor ikan, tapi efisiensi serangannya yang tanpa ampun, diarahkan ke satu titik dengan niat untuk menghancurkan seutuhnya, terasa dingin dan kejam.
Ketika ekor ikan yang tadinya meronta-ronta di atas talenan kayu itu akhirnya diam, senyum kering tersungging di bibir Giseok.
“Apakah aku, mungkin, membuat kalian berdua tidak nyaman?” Giseok mengajukan pertanyaan itu dengan kesan penuh pertimbangan, tapi matanya menyimpan kesenangan sadistis yang tak terbendung. Menanyakan hal seperti itu padahal ia tahu betul mereka sudah tidak bersama lagi sungguh keterlaluan.
“Sama sekali tidak.”
Iyeon mengangkat bahu, membuka lipatannya serbet. Baginya, ikan yang meronta-ronta itu jauh lebih membuat perutnya mual daripada niat Giseok yang sudah jelas. Ia menutupi sisik ikan yang berkilauan itu.
“Tapi boleh aku bertanya? Apakah begini cara kau biasanya makan?” tanyanya, menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja. “Atau ini tren terbaru di kalangan orang kaya?”
Chaewoo, yang sedang menopang dagunya dengan tangan dengan ekspresi bosan yang mendalam, membiarkan pandangannya menjelajah perlahan dari rambut Iyeon yang diikat, turun ke daun telinganya, lehernya, lalu ke lekukan gaunnya. Di bawah tatapan predatornya itu, Iyeon hanya bisa mengepalkan tinjunya sementara ia terus menusuk kepala ikan dengan suara menjijikkan yang berdecit, matanya tak pernah lepas darinya.
Koper yang diambilkan oleh sopir dengan wajah pucat itu sebagian besar berisi pakaian kerja yang praktis. Di antaranya terdapat beberapa pakaian mewah yang dikemas Chuja untuknya untuk berjaga-jaga. Karena dipanggil untuk makan malam, Iyeon tidak punya pilihan selain memilih salah satunya.
Ia memilih gaun hitam yang sopan, menyisir rambut panjangnya menjadi gaya setengah diikat, dan memasang sepasang anting mutiara kecil yang menempel pas di daun telinganya. Transformasi sederhana itu membuatnya bergeser tidak nyaman di depan cermin. Ia sudah mencoba menutupi memar gelap di dahinya dengan sedikit riasan yang ia tahu cara pakainya, tapi hasilnya terlihat sangat tidak pada tempatnya di wajah yang hanya terbiasa memakai tabir surya.
Tenggelam dalam kecanggungannya sendiri, Iyeon memainkan kain gaunnya. Di seberang meja, tangan Chaewoo yang tadinya menusuk-nusuk ikan itu melambat lalu berhenti sama sekali. Matanya yang merah menjelajahi dirinya.
“Ini bukan tren, lebih tepatnya tradisi keluarga dengan sentuhan… pribadi tertentu,” kata Giseok.
Ia dengan santai membuka kancing mansetnya, menggulung lengan bajunya, dan mengambil pisau sashimi. Kemudian, ia dengan cepat membelah perut ikan itu, mengeluarkan isi perutnya, lalu memfilet daging bening itu sepotong demi sepotong.
Melihatnya, berpakaian rapi dengan setelan jas dan rompi lengkap, dan secara pribadi menguliti daging mentah terasa benar-benar tidak nyata. Iyeon mendapati dirinya terpesona oleh tarian berbahaya antara bilah pisau yang tampak cukup tajam untuk memotong jarinya jika salah satu gerakan saja keliru.
Lalu sebuah suara memutus lamunannya. “Jangan lihat.”
Ketika ia berpaling dengan tatapan kosong, ia mendapati Chaewoo memelototinya. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya yang tajam sungguh mengancam.
Jangan lihat apa? Proses memiletnya?Mereka saling menatap sementara suara monoton Giseok terus melanjutkan ceramah yang mengerikan itu.
“Kami sesekali sengaja makan daging mentah. Yang kedua bahkan tidak mau menyentuhnya, dan yang ketiga hanya mengisap darahnya lalu memuntahkan sisanya. Kau tahu, siapa pun dari keluarga Kwon diharapkan tahu cara menikmati kebrutalan. Itulah mengapa aku menguji saudara-saudaraku seperti ini dari waktu ke waktu.”
Darah meresap lebih dalam ke papan kayu itu.
“Dalam hal itu, Chaewoo adalah yang paling mencerminkannya di antara keluarga. Aku lebih suka makan daging yang sudah difillet dengan bersih, tapi Chaewoo, bahkan sejak kecil, selalu suka merobeknya dan memakannya mentah-mentah.”
Gelombang mual menyapu Iyeon, dan ia menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin.
“Tapi apakah kau masih merasa tidak enak badan?” tanya Giseok.
Iyeon refleks tersentak, tapi pertanyaan itu ditujukan kepada Chaewoo, bukan kepadanya.
“Baunya membuatku mual. Jangan ajak aku bicara.” Alisnya berkedut saat ia menunjuk ikan yang sudah hancur di depannya. “Ini. Masak dulu.”
Dengan isyarat santainya itu, seorang pelayan yang berjaga segera mendekat. Saat ikan yang sudah rusak itu dibawa pergi, keheningan berat menyelimuti ruangan.
Ia mendengar suara pisau yang sesekali bergesekan dengan talenan.
Iyeon menatap ikan di bawah serbet miliknya. Ikan itu sudah tidak meronta lagi. Ia mengepalkan tinjunya sekuat mungkin dan bertekad untuk tidak pernah, tidak akan pernah membesarkan anak dalam keluarga dengan kebiasaan seperti ini.
Tapi apa yang akan terjadi jika mereka tahu aku hamil?
Pikiran itu saja sudah cukup untuk menguras darah dari wajahnya.
Aku hanya perlu melewati bulan ini. Lalu aku akan kembali ke Pulau Hwai. Aku akan memberikan kehidupan terbaik dan paling sehat yang mungkin bagi bayi ini—
“Ms. So, apa rencanamu saat kembali ke Pulau Hwai?” Giseok meliriknya, menghentikan pisaunya sejenak.
Pertanyaan mendadak itu hampir membuat Iyeon tanpa sengaja membocorkan rahasia yang dijaganya begitu hati-hati. Ia membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali dan memaksakan senyum canggung.
“Yah… Kurasa aku hanya perlu menjalani hidup biasa, seperti yang aku lakukan sekarang.”
Giseok perlahan membuka mulutnya dan menelan sepotong ikan mentah.
“Berkencan, menikah, punya anak… maksudmu kehidupan biasa seperti itu?” tanyanya.
Tangannya, yang sedang meraih segelas air, terhenti.
“Ya… Yah… A-Akan menyenangkan jika bertemu orang yang b-baik dan hidup bahagia,” jawab Iyeon, mengucapkan jawaban buku teks itu, suaranya hampa. Rasa bersalahnya mengirimkan rasa dingin yang menusuk di sepanjang tulang belakangnya. Ia sangat berharap perhatian akan beralih kembali ke soal kencan dan pernikahan—apa saja asal bukan soal anak.
“Aku sudah membersihkan catatan keluargamu, jadi meskipun kau menikah lagi, secara resmi itu akan menjadi pernikahan pertamamu,” kata Giseok meyakinkannya.
“Oh, begitu… Te-Terima kasih…”
“Dan jika kau membutuhkan sesuatu untuk memulai awal yang baru, jangan ragu untuk meminta,” lanjutnya.
“Apa?”
Giseok meletakkan pisaunya dan bersandar jauh ke kursinya.
“Aku bisa membantumu saat kau ingin menggali masa lalu seseorang, atau membuatnya diikuti, atau mungkin memastikan sifat aslinya.”
Tulang pipi Iyeon berkedut, terjebak di antara senyum dan seringai.
“Maaf harus mengatakannya, Ms. So, tapi kemampuanmu menilai pria sangat kurang. Sebagai seseorang yang pernah membuatmu terikat dan menangis, aku merasa sedikit bertanggung jawab,” katanya.
Ia mengeluarkan batuk kering yang tersendat.
“Akan sangat membuang-buang waktu jika terlibat dengan pria yang salah lagi. Jadi, mulai sekarang, jika kau ingin mengenal seseorang, silakan, jangan ragu untuk meminta bantuan,” jelas Giseok, seolah ia sedang menawarkan sebuah kebaikan.
“…”
“Chaewoo pandai dalam hal seperti itu.”
Giseok menganggukkan dagunya ke arah sosok yang duduk lesu di seberang mereka. Mata Iyeon secara alami beralih ke Chaewoo, yang mengenakan senyum yang sama sekali tidak tulus.
Chaewoo mengangguk, menahan gelombang demi gelombang tawa. “Betul, Ms. So. Tinggal bilang saja.” Kepalanya sedikit miring, sikapnya tampak penurut secara menipu. “Aku akan mengukir peta isi perut bajingan itu untukmu.”
“…!”
“Jadi kalau kau bertemu seorang pria, pastikan kau memberitahuku.””Kamu harus.”
Chaewoo tertawa keras sampai lehernya memerah. Tiba-tiba, suara itu mati di tenggorokannya seolah tercekik, dan ekspresinya mengeras menjadi topeng kemarahan dingin.
Tepat saat itu, ikan yang matang sempurna tiba, dan aroma gurih memenuhi udara yang tegang.
Dengan keahlian yang terlatih, Chaewoo mencabut tulang ikan dalam satu gerakan mulus, seolah mencabut tulang belakang. Ia menyisihkan rangka tulang yang terangkat bersih, lalu menggunakan sumpit dengan presisi rapi untuk memilih tulang-tulang kecil yang sulit terlihat satu per satu. Menyelesaikan tugasnya dalam sekejap, ia mendorong piring ikan itu ke arah Iyeon seolah itu hal yang wajar saja.
“Makan,” katanya, suaranya kaku. Bagi seseorang yang baru saja menatap Iyeon dengan begitu kurang ajar, kini ia bahkan menolak untuk menatap matanya.
“T-Tidak, aku tidak mau,” tolak Iyeon, kelopak matanya bergetar.
Sebuah guncangan mual menghantamnya. Ini adalah sesuatu yang terjadi setiap hari dalam kehidupan yang dulu ia cintai. Ia teringat Chaewoo yang dulu ia cintai, dengan hati-hati memilihkan tulang ikan untuknya. Kenangan itu bercampur dengan rasa jijik yang sudah naik ke tenggorokannya.
“Kamu saja yang makan,” perintahnya.
“…”
“Kamu yang menyiapkannya, jadi kamu yang seharusnya memakannya. Kenapa aku harus mempercayai apapun yang kamu berikan? Lagipula… aku harus berhati-hati dengan apa yang aku makan.”
“Kalau begitu mau makan isi perutnya?” akhirnya ia balas, matanya berkilat.
Iyeon ragu. Bagaimanapun ia melihatnya, ikan yang tersaji dengan indah itu terasa bukan untuknya.
“…Tapi kamu yang—”
“Aku mual seharian. Aku tidak makan,” kata Chaewoo datar.
Pelayan di dekatnya mendorong piring itu lebih dekat ke arahnya.
Sejauh yang bisa Iyeon lihat, Chaewoo memang tampak tidak berbohong. Wajahnya jauh lebih pucat dari sebelumnya. Bahkan dengan aroma gurih ikan bakar di udara, ia mengerutkan hidung dan hanya meraih gelasnya.
Ia hanya minum beberapa teguk kecil, menempelkan gelas ke bibirnya. Wajahnya menyeringai, dan jakun-nya bergerak naik turun perlahan. Terlihat seperti ia memaksanya turun dalam tegukan-tegukan kecil yang menyiksa.
“Ngomong-ngomong, Ms. So, kami akan segera mengadakan acara tahunan di rumah utama. Kamu harus menata taman sesuai dengan temanya.”
Iyeon sedang menatap kosong ikan bakar yang mengepul ketika Giseok berbicara. Saat mendengar sesuatu yang terdengar seperti pekerjaan, ia langsung menoleh.
“Akan ada tim yang membantu kamu, tapi mungkin kamu harus memimpin langsung di lokasi,” kata Giseok.
“Ya, percayakan saja pada saya.”
Ia mendengar suara ejekan di dekatnya tapi mengabaikannya.
Ya, pembicaraan soal pekerjaan jauh lebih baik.
Merasa sedikit lega, Iyeon memusatkan perhatiannya.
“Kalau kamu naik mobil ke belakang rumah utama, kamu akan melihat sebuah vila,” lanjut Giseok.
“Baik.”
“Pergi dan periksa lokasinya besok. Taman di sana perlu dibongkar total dan dirancang ulang.”
“Seluruhnya?” mata Iyeon melebar. Ia hanya memikirkan untuk merawat pohon-pohon yang sudah ada.
“Kita perlu menghadirkan suasana baru di taman untuk acara yang akan datang. Aku akan mempercayakan matamu dalam memilih pohon. Dengan keahlianmu, Ms. So, aku yakin klien kami akan lebih dari puas.”
Tiba-tiba, Chaewoo bergumam mengumpat pelan. Saat tatapan kedua bersaudara itu bertemu, ada keheningan panjang dan berat yang seolah menekan bahu Iyeon.
“Aku yakin kamu akan melakukan pekerjaan yang bagus dalam memilih pohon-pohon yang cocok untuk bercinta di baliknya,” lanjut Giseok.
“…Apa?” Ia membeku tak percaya.
Apa yang baru saja dia katakan?
“Taman yang menggoda, memikat, dan menyembunyikan orang dengan sempurna akan sangat ideal untuk acara tersebut,” Giseok melanjutkan dengan lancar, seolah saudaranya tidak memberikan respons apa pun.
“M-Maaf… sepertinya aku melewatkan sesuatu. Bisakah kamu memberitahuku acara apa ini sebenarnya?”
Pandangan Chaewoo tertuju pada daun telinganya. Ia mencibir, mengelap pisau—yang masih licin dari bola mata ikan yang pecah—ke taplak meja.
“Ini pesta seks di luar ruangan.”
✦ ❖ ✦
Seperti pepatah lama di Korea, seorang pengantin baru harus bertahan hidup bersama mertua dengan berpura-pura tuli selama tiga tahun, lalu berpura-pura bisu selama tiga tahun, dan akhirnya berpura-pura buta selama tiga tahun.
Iyeon dengan pahit berpikir bahwa mengurus taman untuk keluarga sekaliber Kwon tidak berbeda dengan siksaan kuno itu. Di vila kaum elite tersebut, para penghuninya sama sekali mengabaikan norma dan moral.
Seorang staf dari tim pengelola taman memberitahunya bahwa pertemuan-pertemuan rahasia itu—termasuk pesta orgi, perburuan, dan pesta narkoba—adalah taman bermain bagi selera kebejatan khas keluarga Kwon. Daftar tamu dipenuhi oleh tokoh-tokoh paling berkuasa di negeri ini, yang dengan antusias memanjakan diri dalam keburukan yang mereka pelajari dari kalangan atas di luar negeri.
“Astaga… aku akan gila…!” Iyeon menggenggam kepalanya, menatap sebidang tanah kosong yang kini harus ia sulap secara ajaib.
Sebagian daftar tamu yang sempat ia dengar sudah cukup membuat rahangnya ternganga: Direktur Badan Intelijen Nasional, kepala rumah sakit universitas, Menteri Kehakiman, juru bicara partai politik, CEO perusahaan konstruksi, wakil ketua konglomerat, profesor universitas bergengsi, selebriti terkenal, dan masih banyak lagi.
Taman yang dirancang untuk seks?
Absurditas tugasnya masih membuatnya terguncang. Gelombang mual menyapu dirinya saat desahan lelah lolos dari bibirnya.
Ini hanya untuk sebulan. Hanya satu bulan, lalu selesai.
Satu-satunya tujuan Iyeon adalah membawa dirinya dan Gyubaek keluar dari tempat itu dengan selamat. Ia menepuk perutnya yang rata dengan lembut dan berbisik kepada bayinya, “Aku akan menjagamu baik-baik, sayangku, aku janji…”
Saat ia mengamati lahan yang luas dan mulai membayangkan taman itu, rona malu yang panas merayap naik ke lehernya.
✦ ❖ ✦
Duduk di meja luar ruangan, Chaewoo menatap kosong pada bayangan Iyeon yang tidur di sisinya. Ilusinya semakin nyata seiring malam-malam tanpa tidurnya yang terus berlanjut. Ia mengusapkan ibu jarinya ke punggung tangannya, mencoba merasakan tekstur sesuatu yang tidak ada.
Dibandingkan dengan kehangatan hidup kulit Iyeon, yang pernah ia lahap dengan tangan dan bibirnya, ilusi itu tidak menawarkan apa-apa. Namun, seperti anak kecil yang ketakutan dan berpegangan pada selimut, Chaewoo tidak berniat melepaskannya.
“Kamu mungkin takut mengakui bahwa tubuhmu masih terikat pada Nona So.”
Ketika kata-kata Beomhee di masa lalu menyelinap ke dalam pikirannya, ekspresi Chaewoo mengeras.
Aku? Takut? Tawa hampa yang mengejek lolos dari bibirnya.
Di Pulau Hwai, Chaewoo menghindari tidur karena sekadar memikirkan Iyeon yang membangunkannya sudah membangkitkan permusuhan setajam duri. Gagasan bahwa ia telah mempercayakan pagi-paginya kepada wanita seperti itu sungguh memalukan. Ia akhirnya memutus semua hubungan dengannya dalam pikirannya.
Namun kenangan akan kata-kata Beomhee mengirimkan rasa ngeri yang dingin ke seluruh tubuhnya. Keyakinan yang selama ini ia pegang erat akhirnya patah. Ia tidak punya tempat untuk lari. Ia hanya harus menghadapi dilema yang ada di hadapannya.
Chaewoo menekan jari telunjuknya ke dahinya yang berkerut.
“Kamu terlihat semakin kurus setiap harinya,” komentar Giseok, nada singkatnya memotong keheningan. Ia duduk di seberang Chaewoo, dengan santai membuka-buka situs web di tablet. “Aku dengar kamu melewatkan makan lagi.”
“…Apa yang kamu lakukan di sini?” bentak Chaewoo.
“Lalu bagaimana denganmu? Aku ragu kamu bermalas-malasan di sini hanya untuk berjemur.” Giseok mengalihkan pandangannya ke atas. “Chaewoo,””mungkin sudah saatnya aku membawa seorang istri ke rumah ini. Mungkin itu bisa membawa sedikit keteraturan.”
Alis Chaewoo berkedut kesal. “Apa?”
Ia teringat laporan identik dari para pengintai yang mengikuti setiap gerak Giseok. Saudaranya tidak memiliki wanita—bukan yang resmi, bukan yang rahasia, bahkan bukan sekadar hubungan santai. Untuk seorang pria yang baru saja menginjak usia empat puluh, sifatnya hampir seperti penyakit puritanisme. Oleh karena itu, ucapannya terdengar seperti omong kosong belaka.
“Silakan saja,” ucap Chaewoo singkat.
Giseok memalingkan kepalanya, pandangannya tertuju pada satu titik di taman. Fokusnya luar biasa intens, sangat berbeda dari sikapnya yang biasa.
Terdorong rasa ingin tahu, mata Chaewoo mengikuti arah pandang saudaranya.
“…!”
Ia melihat Iyeon, menyeberangi halaman dengan tangga lipat terselip di bawah lengannya. Pemandangan itu—dan perhatian saudaranya yang tak tergoyahkan—seketika membangkitkan amarahnya.
Dengan bunyi keras, Chaewoo menendang kaki meja, membuat tablet jatuh berdebam ke lantai. Ketika mata Giseok yang hampa akhirnya berbalik menatapnya, simpul di perutnya sedikit mengendur.
“Kamu melihat apa?” geram Chaewoo.
Senyum tipis yang sekilas menyentuh bibir Giseok sebelum menghilang. “Kamu mungkin membenci Nona So, tapi bagiku…”
“…”
“Dialah yang membantu keluarga kita menemukan penculik yang selama ini kita cari. Tentu saja, itu membuatnya istimewa.”
Ekspresi Chaewoo berubah garang. Giseok secara halus menyinggung Juha Yoon, sosok lain selain Iyeon yang membuat emosi Chaewoo saling berbenturan.
Ia telah memendam ironi mendasar dari menolak darah dagingnya sendiri demi mengikuti penculiknya. Terjebak dalam ironi khusus itu terasa seperti berjalan di atas mata pisau, memuntirnya menjadi sesuatu yang monstrous di matanya sendiri. Dihadapkan kembali pada keseimbangan yang hancur itu, tekanan yang mencekik menumpuk di dadanya.
“Kau tahu, seorang pencuri harus selalu mengawasi miliknya,” gumam Giseok, pandangannya tiba-tiba mengunci dengan Chaewoo. “Mereka harus sadar bahwa milik mereka sendiri bisa dicuri pada gilirannya.”
Tidak jelas untuk siapa kata-kata itu sebenarnya ditujukan, tapi amarah mentah meluap dalam diri Chaewoo. Ia berusaha menenangkan diri, berjuang keras mencegah kata-kata itu menguasai pikirannya.
Sebelum ia menyadarinya, kursi di hadapannya sudah kosong.
Chaewoo segera menenangkan ekspresinya dan menghubungi Beomhee. Intuisi yang tak terdefinisi membuat sarafnya menegang.
“Ya, Tuan Muda,” jawab Beomhee.
“…”
“Tuan Muda?”
Kebetulan, perhatian Chaewoo tersita oleh bunyi guntingan tajam yang datang dari taman. Iyeon tengah bertengger di tangga lipat, memangkas ranting-ranting. Dengan setiap putaran kecil pinggangnya dan gerakan lengannya, jari-jarinya bergerak sendiri.
Iyeon dalam bayangannya tidak berbahaya, selalu tertidur. Tapi yang menyimpan kebencian terhadapnya itu ada di sana, hidup dan menggenggam sepasang gunting.
Chaewoo mengusap wajahnya yang lelah dengan telapak tangan.
Jika Iyeon memang adalah umpan, maka itu berarti Giseok sedang memburunya.
Ia mencoba menelusuri kembali langkah-langkah saudaranya, bertanya-tanya apa yang sedang dibidik Giseok. Setelah menemukan saudaranya yang hilang, menghukum penculik, dan mengikat keluarga bersama dengan kewajiban, kini ia menargetkan Chaewoo, kelemahan terbesar keluarga, yang telah berubah menjadi perwujudan kegelapannya.
Chaewoo memutuskan untuk mempercayai instingnya yang paling primitif kali ini.
“Juha Yoon…” ucapnya dengan suara rendah dan serak.
Permusuhan antara orang tuanya dan Juha bersifat timbal balik dan berdasar, sebuah perkara yang diselesaikan begitu bersih hingga tidak ada yang tersisa untuk digali. Jika itu benar, maka…
“Cari tahu apa hubungannya dengan Giseok Kwon.”
Meski pandangan Chaewoo berkunang-kunang, tatapannya tetap terpaku, tanpa henti, pada Iyeon di kejauhan.
✦ ❖ ✦
Selama beberapa hari, Iyeon tenggelam dalam pekerjaan. Giseok, yang telah memberikan wewenang penuh kepadanya, menyetujui setiap rencana dan perintah yang ia ajukan tanpa sekali pun meliriknya sekilas.
Pada awalnya, angka-angka itu membuatnya hampir mencabut rambutnya sendiri,tapi kecemasan itu lenyap ketika ia mengetahui bahwa anggaran bulanan perkebunan untuk perawatan taman saja melebihi tiga puluh juta won. Dengan beban itu terangkat, konstruksi pun melaju dengan kecepatan yang luar biasa.
Selama beberapa hari pertama, Iyeon tidak melihat Chaewoo. Kemudian, perlahan, ia mulai muncul dalam pertemuan singkat namun sering. Berbeda dengan hari pertama ketika ia menyerbu ke arahnya seperti orang kerasukan, kini ia hanya mengawasinya, tatapannya analitis dan membuat tidak nyaman. Iyeon hampir berharap ia mau saja langsung mencari pertengkaran. Pengamatan diamnya dan cara ia seolah menahan napas di dekatnya membuat sarafnya tegang.
Iyeon menghela napas saat perutnya kembali keroncongan. Ia berhenti menghitung pola di langit-langit dan mendorong dirinya untuk bangkit. Rasa lapar itu menghalanginya untuk tertidur. Ini mulai menjadi gangguan yang sungguh menyebalkan.
Begitu makanan tertentu bersarang di benaknya, jantungnya akan berdegup tanpa henti, memacunya terus hingga keinginan itu terpuaskan. Kehamilan ini memunculkan dorongan-dorongan yang hampir mustahil untuk ditahan. Jika ia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, ia merasa sengsara hingga ingin menangis.
Telur orak-arik berwarna cokelat keemasan dan tomat ceri yang asam segar.
Itulah yang ia inginkan. Mulutnya sudah berair hanya dengan membayangkan telur yang lembut dan mengembang itu meleleh di lidahnya.
“Aduh…”
Setelah menyiksa diri dengan cita rasa yang hanya ada dalam bayangannya, ia akhirnya mengayunkan kakinya keluar dari tempat tidur. Namun ketika ia menyelinap ke dapur di rumah utama dan membuka kulkas…
“Telurku…!”
Sungguh sial, kartonnya kosong.
Iyeon mondar-mandir di dapur dengan gelisah, sebelum mengambil keputusan impulsif untuk keluar. Ia tidak suka dengan gagasan ketahuan makan seperti binatang kelaparan di larut malam seperti ini, tapi asrama staf seharusnya cukup aman.
Setelah kira-kira menghapal tata letak perkebunan, Iyeon mulai berjinjit melintasi halaman.
“Mau ke mana, berlari-lari kecil seperti tikus?” sebuah suara bertanya padanya.
Iyeon berbalik dengan cepat, mendekap dadanya. “Kamu hampir bikin aku mati kaget!” bentaknya, wajahnya mengeras saat melihat Chaewoo berdiri di hadapannya.
“Bikin kamu mati kaget?” tanya Chaewoo, suaranya datar.
Iyeon menggeleng. “Oh, tidak apa-apa.” Ia menempelkan tangan ke jantungnya yang berdegup kencang dan menggigit bibirnya, tatapannya sama sekali tidak bersahabat.
Mengenakan pakaian kasual, Chaewoo memandanginya dengan mata setengah terpejam, tampak mengantuk atau benar-benar kelelahan. “Aku tanya mau ke mana kamu sepagi ini, Ms. So.”
“Apa urusanmu? Itu bukan urusanmu.”
“Kamu tahu apa yang akan kamu temukan di sana?” Chaewoo menganggukkan dagunya ke arah yang tadi ia tuju. “Kamu bukan satu-satunya yang tinggal di perkebunan ini.”
Nada rendahnya yang mengancam membuat bulu kuduknya merinding. Ia mengabaikannya, berbalik tajam ke arah lain. Ia begitu yakin sudah menghapal tata letaknya, tapi dalam kegelapan, bahkan jalan yang sudah dikenal pun menjadi labirin yang membingungkan.
“Tidak ada apa-apa ke sana,” tambah Chaewoo, suaranya tanpa ekspresi saat ia mengikutinya dengan langkah santai.
Iyeon terus berjalan, bertekad untuk mengabaikannya, tapi jalan itu terasa tak berujung. Kemudian ia menyadari bahwa ia berjalan ke arah yang salah. Kalah, ia meremas ujung kardigannya.
“Bilang saja mau ke mana. Aku akan mengantarmu. Aku tidak akan menyakitimu,” janji Chaewoo.
Ia jelas jauh lebih tenang dibandingkan hari pertamanya di perkebunan itu. Napasnya, suaranya, nadanya—semuanya stabil dan terkendali. Matanya masih mengikutinya dalam kegelapan, tapi kehadirannya terkendali, hampir mengingatkannya pada Chaewoo yang dulu ia kenal.
“…Asrama staf,” bisik Iyeon, menolak untuk menatap matanya.
“Kenapa?”
“Kamu bilang mau mengantarku. Kamu tidak bilang mau bertanya-tanya.”
Iyeon melewatinya dengan dingin, dan Chaewoo melangkah mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan dalam diam hingga, pada suatu titik, ia melangkah ke depan, memandunya dengan lembut menembus kegelapan. Malam musim gugur yang sejuk. Iyeon menatap punggung lebar yang memenuhi pandangannya sebelum menundukkan kepala untuk melihat kakinya sendiri.
“Kita sudah sampai.”
Iyeon mengangkat kepalanya mendengar kata-katanya. “Hah…?”
Di mana aku?Ini bukan tempat yang tepat.
Dia membeku. Tepat saat ia mencoba berbalik, sebuah lengan kuat melingkarinya dari belakang. Sebuah tangan berat menutupi mulutnya, dan tangan lainnya mencengkeram pinggangnya.
“Mmph—!”
Aroma yang familiar menyelimutinya saat ia diangkat, tubuhnya tak berdaya melawan kekuatannya. Perbedaan tinggi badan membuatnya merasa seperti tanpa bobot. Kakinya menendang-nendang sia-sia di udara.
“Mmph, mmmph—!”
“Diam,” katanya dengan suara rendah yang menggesek telinganya. “Sudah kubilang aku tidak akan menyakitimu.” Nadanya terdengar sopan namun penuh ketegangan yang terasa menekan.
“Mmph!”
“Ada sesuatu yang perlu kukonfirmasi.”
Langkah Chaewoo tenang saat ia berjalan menyusuri koridor gelap, namun Iyeon bisa merasakan detak jantungnya yang panik, secepat kelinci, berdegup di punggungnya. Lengan berotot kokoh mengunci pinggangnya, dan sisi tangannya menekan tepat di bawah lekukan dadanya.
“Malam ini, yang perlu kamu lakukan hanyalah tidur bersamaku.”
Tekanan di tulang rusuknya merampas udara dari paru-parunya.
Pintu terkunci di belakang mereka, suara kunci yang terpasang bergema dalam kegelapan yang tiba-tiba. Baru saat itulah Chaewoo menurunkan Iyeon. Ia telah membawanya masuk ke kamar sekaku papan, dan tubuhnya tetap kaku saat ia meletakkannya di lantai.
“Apa aku mengejutkanmu?” tanyanya.
“A-Apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan?” Suaranya gemetar sekeras jantungnya berdegup di tulang rusuk.
Lengan yang melingkari Iyeon terasa seperti akar pohon yang tebal. Ia meronta, memutar tubuhnya sekuat tenaga, namun Chaewoo tidak bergeming. Posisi defensifnya, memeluk perutnya sendiri, justru membuatnya semakin dekat dengan Chaewoo, memaksanya merasakan panas tubuhnya mengalir masuk.
“Lepaskan aku…! Aku pergi!”
“Kenapa kamu tidak mau menyebut namaku?” Chaewoo tiba-tiba bertanya.
“Kubilang minggir.”
Kamar itu gelap, dan sudut bibirnya, tempat ia menekan bibirnya sendiri, berdenyut dengan rasa sakit yang tumpul.
“Habiskan satu malam saja bersamaku.”
“Tidak.”
“Iyeon,” katanya, suaranya berbahaya rendah. “Itu bukan permintaan.”
Ia mengangkatnya lagi, menyeberangi ruang tamu yang luas, dan masuk ke kamar tidur untuk membaringkannya di atas ranjang. Seprai itu mengingatkannya pada hotel mewah.
Iyeon mencoba bangkit dengan cepat, namun Chaewoo menjulang di atasnya, bayangan yang memerangkapnya sepenuhnya. Kedua lengannya menghantam sisi kiri dan kanan tubuhnya seperti tiang, menghalangi setiap upaya melarikan diri. Pahanya, yang terselip kuat di antara lututnya, terasa seperti batang besi. Ia menopang dirinya dengan siku, tulang belakangnya tegak lurus.
“Aku akan seperti tanaman,” ia tiba-tiba menyarankan. “Aku hanya akan… bernapas.” Kata-kata itu menggantung di udara, terasa anehnya familiar baginya. “Kalau itu yang kamu mau, aku bisa berperan sebagai suamimu yang penuh kasih.”
Percikan api menyala di balik matanya. Chaewoo baru saja menyentuh lukanya yang paling menyakitkan.
“Jangan berani berpura-pura seperti itu! Jadilah dirimu yang biasa, yang menyebalkan. Itu jauh lebih baik daripada… penghinaan ini! Jangan berani!” Iyeon terengah-engah, telinganya memerah.
Ia tahu Chaewoo bisa dengan mudah menyeretnya kembali ke kenangan yang menyiksa itu—bagaimana ia mencintainya dengan sepenuh hati, bagaimana ia kehilangannya, bagaimana ia menguburnya. Melihatnya menggunakan kenangan itu, yang telah ia simpan rapat-rapat, sebagai senjata membuatnya kehilangan kendali.
“Kamu sama sekali tidak seperti suamiku, jadi jangan coba-coba!” teriak Iyeon. “Kamu tidak pernah bisa menipuku sejak awal! Kamu tidak ada apa-apanya dibanding Chaewoo Kwon yang asli…!”
“…”
“Memakai kulit yang sama tidak membuatmu menjadi orang yang sama!”
Matanya yang membara memancarkan permusuhan, seolah ia sedang menatap monster yang telah melahap suaminya.
Alis Chaewoo berkerut. “Suamiku,” gumamnya, kata-kata itu terasa asing di lidahnya.
Sesaat, ekspresinya melunak dengan kelembutan yang aneh, hanya untuk berubah kembali. Pupil matanya, yang rileks beberapa detik sebelumnya, menyempit menjadi titik kecil.
Ia mulai menyadari bahwa dalam wujudnya yang paling sejati—sebagai anjing pemburu keluarga Kwon—ia tidak pernah sekalipun dicintai olehnya. Di permukaan, mereka hampir seperti orang asing.
Meski begitu,mendengar nama ‘Chaewoo Kwon’ diucapkan dengan penuh rasa hormat seperti itu mengirimkan rasa sakit yang tajam di dadanya.
Chaewoo Kwon.
Kata-kata itu bergema tidak menyenangkan di benaknya. Dia bahkan tidak sedang membicarakan dirinya. Dia sedang menegaskan cintanya pada pria lain, namun keinginan untuk merasakan kata-kata itu di lidahnya sendiri membuncah dalam dirinya.
Hasrat si bodoh—yang kini menjadi hasratnya sendiri—akhirnya meluap.
Suara Chaewoo merendah, menjadi geraman pelan. “Hanya satu malam saja.”
“Sebenarnya apa yang ingin kamu konfirmasi? Tidak, sudahlah. Sepertinya aku sudah tahu.” Iyeon mengerutkan dahi. “Aku sudah selesai dengan semua itu. Dan kalau kamu penasaran, aku sudah mengubur Sleeping Beauty itu.”
“…”
“Yang artinya kamu bukan lagi urusanku. Kalau kamu butuh seseorang untuk tidur bersama, pergi cari orang lain.”
“Apa yang harus kulakukan agar kamu mau tidur bersamaku?”
Iyeon mendengus mendengar pertanyaannya yang tenang itu. “Kamu benar-benar pikir itu pilihan yang ada?”
“Kalau begitu aku akan mengikatmu,” katanya tiba-tiba.
“Baik, ikat saja aku— Apa yang kamu bilang?”
Bahkan sebelum dia selesai berbicara, Chaewoo menjepit kakinya dengan pahanya. Dengan gerakan cepat, dia menggunakan resistance band untuk mengikat pergelangan tangannya ke kepala ranjang.
Semua ini dilakukan sebelum Iyeon sempat memproses apa yang sedang terjadi. Ketika pikirannya akhirnya mengejar, dia mulai meronta-ronta.
“T-Tunggu sebentar, kamu gila?”
“Sudah kubilang, aku tidak meminta izinmu,” Chaewoo mengingatkannya.
“Apa kamu tidak punya rasa malu? Tidak punya harga diri sama sekali?”
“Tidak.”
Jawabannya yang tenang dan tanpa malu itu mengirimkan gelombang amarah lain ke dalam dirinya.
“Memang tidak. Kamu egois sampai ke tulang. Kamu yang pergi setelah menghancurkanku. Kamu bilang aku tidak berguna!” Iyeon berteriak padanya.
Chaewoo memalingkan kepalanya, pandangannya menghindari tatapannya. Garis lehernya menegang, seolah bisa putus kapan saja.
“Dan sekarang kamu menculikku di tengah malam untuk ‘mengkonfirmasi’ sesuatu?”
“Itu—”
“Dan kamu masih punya nyali untuk menyebut dirimu manusia?!”
Mendengar teriakkannya, si bodoh di dalam diri Chaewoo mulai mencakar-cakar dinding pikirannya dengan panik. Dia mengatupkan giginya, berjuang mati-matian untuk membungkam diri lain yang berteriak padanya agar mengaku dan memohon maaf.
Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakan Chaewoo, namun sisa terakhir akal sehatnya menahan dorongan itu. Selama dia masih menyimpan secuil kecurigaan terhadapnya, dia tidak bisa mengungkapkan apa pun.
“Sudah. Tidurlah.” Dia mengusap dahinya, seolah menenangkan seekor hewan peliharaan. “Tidur dulu sekarang, dan besok pagi—”
“Aku tidak mau tidur sekarang! Aku ingin makan!” dia akhirnya berteriak.
Ketenangan Iyeon hancur berantakan. Kejatuhan emosional itu begitu cepat dan total saat dia mulai terisak, amarah menghilang, digantikan oleh gelombang kesedihan yang murni dan menyiksa.
“Kenapa aku selalu harus mengalah pada kebutuhanmu?! Aku juga punya keinginanku sendiri yang harus kupenuhi! Kenapa kamu terus menghalangi jalanku? Aku sudah sangat putus asa!”
Chaewoo memiringkan kepalanya, jari-jarinya mencengkeram dagunya dan memaksanya menatap matanya.
“Dan siapa yang ingin kamu makan?” Suaranya seperti gesekan dingin logam pada logam.
“Apa?” Iyeon menatapnya, terkejut dengan perubahan pembicaraan yang tiba-tiba itu.
“Itukah alasannya kamu terburu-buru menuju asrama staf seperti itu? Karena kamu punya ‘keinginan mendesak’?”
Dia tidak salah, tapi implikasinya terasa terpelintir. Iyeon menatap balik, berkedip.
Chaewoo melanjutkan, “Bajingan yang mana? Ah, aku tahu. Apa itu si bodoh yang berlari menahan tanggamu? Atau pria tua yang terus saja mengoceh padamu saat kamu makan?” Jakun di lehernya bergerak naik turun dengan kejang. “Jangan lahap hal pertama yang kamu lihat hanya karena kamu putus asa.”
“A-Apa maksudmu—”
“Lebih baik kamu kelaparan, Iyeon.”
Kelaparan…? Kata-kata itu mengendap di kepalanya. Kelaparan?!
Sebelum dia sempat membentuk pikiran yang koheren, Iyeon meledak.
“Sekarang kamu menyuruhku kelaparan?! Aku keluar karena tidak ada yang bisa dimakan di rumah utama! Aku tidak bisa membangunkan Tuan Kwon dan memintanya makanan, jadi aku harus menyelinap keluar—”
“‘Membangunkan Tuan Kwon’?” Desisan napas yang tajam dan memotong membelah kata-katanya. “Jadi kamu ingin mengisi perutmu dan membangunkan Giseok Kwon?”Telapak tangan yang panas menempel di perut Iyeon seperti bara. Ia tersentak, tubuhnya menjadi kaku.
“Iyeon, jelaskan padaku dengan sangat hati-hati. Hanya ada kamu dan aku di sini.”
Kelopak mata Chaewoo bergetar saat ia berbicara. Wajahnya yang buas dan terdistorsi semakin mendekat, dan aromanya—intens dan menghanyutkan—merampas udara dari paru-parunya. Semua itu justru membuat nafsu makannya semakin kuat.
Ia menatap dengan bibir ternganga dalam kebingungan, saat Chaewoo menangkap telinganya dengan mulutnya. Ia mengisap cuping yang lembut itu, menelusurinya dengan lidah, lalu menggigitnya, menyiksa daging yang sensitif itu.
“Mana anting yang kamu pakai waktu itu?” Napasnya yang panas berhembus di atas kulitnya.
“A-Apa yang kamu lakukan…?!” ia terengah.
“Aku ingin merebutnya begitu aku melihatnya.”
Wajahnya memerah, ia memukul bahunya yang bidang, tapi itu sia-sia.
“Kamu tidak pernah memakai hal-hal seperti itu untukku.”
“J-Jangan gigit— Hentikan suara-suara itu! Kamu tidak berhak mengunyah apa pun sementara aku tidak bisa makan tomatku…!”
Emosi Iyeon berayun liar tanpa kendali. Seolah-olah sakelar yang mengatur perasaannya telah rusak sepenuhnya. Sebelum ia sempat berdebat, air mata kembali mengalir.
“Aku… aku juga ingin makan! Aku ingin jus… dan buah…!”
“Jus? Jus apa?”
Ia menggenggam wajahnya dengan kedua tangan, menariknya hingga ujung hidung mereka saling menyentuh.
“Aku ingin telur… aku tidak meminta banyak. Hanya dua… kalau aku punya dua saja, aku bisa memakannya dan tidur dengan tenang…” Iyeon terisak.
“Benar. Bajingan-bajingan itu punya dua hal serupa di antara kaki mereka, kan? Persetan dengan mereka. Aku juga punya telur.”
“Punyamu… sudah kedaluwarsa… aku ingin telur yang dicampur susu, lembut dan mengembang—”
“Aku mungkin punya itu juga.”
“Bukan— bukan bola itu! Telur! Maksudku telur sungguhan!! Telur orak-arik dengan susu! Aku ingin makan telur orak-arik dan tomat!” Iyeon menjerit, isak tangisnya yang memilukan bergema dalam keheningan.
Chaewoo kini sudah menjadi orang yang berbeda, tapi kebiasaannya yang menjengkelkan dalam melompat ke kesimpulan terburuk tidak berubah sama sekali. Kesadaran itu menarik sesuatu jauh di dalam dirinya.
Saat Iyeon memeluk perutnya yang keroncongan dan meraung, Chaewoo dengan cepat meraihnya dan menyelimutinya di bawah selimut.
“Kamu menculikku, tapi tidak mau memberi makan… Betapa keluarga yang penuh sampah…”
Kasur di sampingnya amblas saat kehangatan yang familiar menetap. Déjà vu yang tiba-tiba itu membuat perutnya bergolak.
Chaewoo ragu sejenak, lalu menempelkan telinganya ke perutnya. Ia mendengar suara keroncongan yang tak terbantahkan, yang membuatnya menggigit bibirnya dan bangkit dari tempat tidur.
“Mau ke mana, meninggalkanku terikat seperti ini?!” tuntut Iyeon.
“Untuk mengambilkan apa yang kamu inginkan,” jawabnya.
“Mengambil apa?” gerutunya.
“Telur orak-arik dan tomat. Ada yang lain?”
“…”
Seolah keajaiban, air mata Iyeon berhenti. Seketika, mulutnya mulai berair.
“Jus jeruk…”
“Jus jeruk.” Ia mengulang kata-kata itu seperti komputer yang mencatat perintah, lalu menendang pintu. “Buka.”
Kunci berbunyi klik, seolah seseorang telah berjaga di luar, dan pintu terbuka lebar.
Tak lama kemudian, Chaewoo kembali membawa piring besar yang penuh dengan telur orak-arik, tomat ceri yang baru dicuci, dan sebotol penuh jus jeruk.
Dengan pergelangan tangan yang kini bebas, Iyeon melahap makanan itu, tertidur di tengah suapan saat ia menghabiskan isi piring. Chaewoo memandanginya dalam diam hingga matanya perlahan terpejam.
Keesokan paginya, sinar matahari yang tajam menyaring melalui tirai, memaksa kelopak mata Chaewoo terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Iyeon, tidur nyenyak di sampingnya. Kehadirannya yang begitu nyata membuatnya sadar bahwa ia sudah terjaga.
Ia mendengar kicauan burung di luar. Dengan suara sederhana itu, kenyataan pahit menghantamnya. Ekspresi Chaewoo mengeras.
Dengan lembut, ia mengambil serpihan telur kering dari sudut bibir Iyeon dan meletakkannya di mulutnya sendiri. Ia menghela napas saat rasa itu hinggap di lidahnya. Itu adalah rasa kekalahan, meleleh dengan manis di sudut hatinya.
Kapan aku tertidur? pikir Iyeon saat ia bangun dari tempat tidur.
Yang lebih buruk lagi, ia terbangun dan mendapati dirinya terbaring di kamar tidur Chaewoo—satu-satunya tempat yang telah ia sumpah tidak akan pernah ia lengahkan kewaspadaannya. Sejak menginjakkan kaki di kediaman Kwon,Dia sudah lama dihantui malam-malam yang gelisah. Namun tadi malam, dia tidur seolah pingsan—tak sekali pun terbangun.
Ketika Iyeon membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya bukan sinar matahari, melainkan mata Chaewoo Kwon yang pucat dan tajam. Cahaya yang menyaring masuk melalui tirai, udara pagi yang segar, kehangatan selimut, dan bobot di sisinya yang terasa begitu akrab—seolah dia dibawa kembali ke rumah kecilnya di Pulau Hwai.
Chaewoo, aku baru saja bermimpi yang aneh.
Iyeon samar-samar ingat pernah mengulurkan tangan ke arahnya dalam keadaan setengah sadar. Dia tersenyum mengantuk, masih setengah tertidur. Namun wajah yang menatapnya dengan begitu intens itu tiba-tiba mengeras.
Perubahan halus itu bagaikan siraman air es, menarik Iyeon kembali ke kenyataan. Kalau dia suaminya yang sesungguhnya, bibir lembutnya pasti sudah menyentuh bibirnya, bukan membeku di tempat.
Pada akhirnya, Iyeon melarikan diri dari kamar itu, dan Chaewoo tidak mencegahnya, berbeda dengan malam sebelumnya.
✦ ❖ ✦
Iyeon mengusap wajahnya yang kini tampak pucat, menyalahkan seluruh kejadian memalukan itu pada hormonnya yang kacau.
“Direktur! Mereka sudah datang!”
Tepat saat dia sedang mengenang pagi yang bencana itu, sebuah suara memotong lamunannya. Itu adalah seorang karyawan dari tim pengelola taman.
Saat itu, Giseok melangkah keluar dari sebuah sedan hitam.
Beberapa saat kemudian, Chaewoo tiba dengan sepeda motor mewah yang meraung keras. Dia mengenakan jaket kulit yang pas di bahunya yang bidang, dan melangkah menghampiri mereka sambil mengibas rambutnya.
Rasa tidak nyaman menusuk Iyeon saat melihatnya di bawah cahaya terang, namun dia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Dia harus tetap profesional, karena hari ini adalah hari peresmian taman yang telah selesai.
Setelah memberi Giseok anggukan singkat yang formal, Iyeon menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri, dan memimpin mereka melangkah maju.
“Kamellia melambangkan cinta yang tersembunyi,” dia mulai menjelaskan.
Pohon-pohon kamellia merah berbaris di sepanjang jalan dari pintu masuk bagaikan pemandu. Iyeon sengaja menaburkan kelopak bunga merah tua di bawahnya, melipatgandakan kemewahan yang terpancar. Jalur khusus itu adalah gerbang menuju dunia kenikmatan duniawi.
Meninggalkan pohon-pohon kamellia di belakang, mereka memasuki taman yang luas dan membentang. Giseok langsung mulai mengamati sekelilingnya, namun pandangan Chaewoo terkunci pada satu orang sejak awal.
Iyeon merasakan tatapannya seperti cap panas di pipinya, namun memaksakan diri untuk mengabaikannya, berfokus sepenuhnya pada reaksi majikannya.
Senyum misterius bermain di bibir Giseok saat dia menyerap pemandangan itu.
“Suasananya… menarik. Dan sungguh tak tahu malu, harus kuakui,” komentar Giseok.
“Batu itu berbentuk seperti… phallus,” jelas Iyeon.
“Ya, memang tampak demikian.”
Dia sebenarnya tidak mengharapkan jawaban, namun konfirmasi tanpa ekspresi itu membuat rona panas merayap naik ke lehernya.
“Dan itu adalah pohon phallic, yang diimpor dari Pulau Odong. Seperti yang bisa Anda lihat, pohon ini… eh, sesuai dengan namanya.”
Percikan minat yang nyata muncul di mata Giseok saat dia mengelus dagunya.
“Nama Latinnya adalah Machilus thunbergii, dan spesies ini berasal dari pulau tersebut. Kulitnya yang halus terkadang menghasilkan… bentuk unik seperti ini. Eh… Ini adalah temuan yang cukup langka,” tambah Iyeon, tidak melewatkan kesempatan untuk secara halus mempromosikan usahanya.
Pohon yang disebut ‘pohon phallic’ itu, dengan batang yang terbelah menyerupai kaki dan alat kelamin pria, adalah spesimen besar dan kuno yang langsung mendominasi lanskap.
“Di sana, kami juga memiliki dua pohon yang telah dibentuk menyerupai pasangan yang berpelukan, dan pohon cemara yang dipangkas untuk menggambarkan sebuah tindakan seksual,” tambahnya dengan antusias.
“Nona So, apakah Anda tidak enak badan?” Giseok tiba-tiba bertanya.
“Maaf?”
“Saya perhatikan leher Anda cukup merah.”
“…!”
“Saya harap Anda tidak pingsan di tengah-tengah penjelasan ini,” gumam Giseok sambil berjalan melewatinya.
Iyeon menggaruk belakang telinganya dengan gugup sementara Chaewoo menatap tajam, matanya membara dengan dorongan kuat untuk menghapus warna merah dari tulang selangkanya.
Iyeon tersentak di bawah beratnya tatapan itu namun menolak untuk melirik ke arahnya. Dia hanya terus melanjutkan presentasinya, mulutnya semakin terasa kering.”Ini adalah wisteria. Namanya berarti selamat datang.”
Iyeon menyibak bunga wisteria ungu yang menggantung seperti untaian anggur, lalu melangkah melewatinya seolah menembus tirai.
“Dan ini adalah pohon oak merah, sangat baik untuk peredam suara. Aku menggunakannya untuk membuat partisi alami, membagi ruang.”
Ada sesuatu dalam penjelasannya yang membuat Giseok geli, dan ia mengeluarkan tawa kecil yang pelan.
“Kamu cukup matang dalam perencanaannya, Ms. So.”
“Maaf?” tanya Iyeon, sedikit bingung.
“Tidak ada. Silakan, lanjutkan.”
“…Ini adalah pohon kastanye.”
Mereka kini berdiri di depan pohon kastanye, bunganya sehalus benang putih.
“Ah, jadi dari sanalah bau sperma itu berasal,” gumam Giseok.
“…!”
Iyeon terpaku, terkejut mendengar kata-kata vulgar keluar dari pria yang tampak begitu halus. Karena ini adalah keluhan resmi pertama kliennya, ia segera membela pilihannya.
“Yah… Aromanya tidak sekuat itu…”
Giseok memiringkan kepalanya, matanya menatap tajam ke arahnya. “Dan kamu sudah cukup menciumnya untuk bisa menilai?”
“Hah?”
“Sepertinya kamu punya standar sendiri soal seberapa banyak bau sperma yang pantas.”
“Tidak, aku hanya…”
“Aku hanya bertanya karena standarmu tampak cukup ambigu,” komentarnya.
Gugup, Iyeon secara refleks melirik ke arah Chaewoo, yang berdiri dengan tangan terkait di belakang kepala dan ekspresi cemberut yang dalam. Berbeda dengan kakaknya, ia tampak sangat kesal dengan seluruh situasi ini.
“…Yah, aku merancang keseluruhan desain ini agar terasa halus, tidak berlebihan. Jadi aku menilai kadar ini masih bisa diterima.”
“Dan apakah standarmu bisa diandalkan?” tanyanya.
Iyeon tak bisa berkata-kata.
Apa yang dia bicarakan? Standarku? Apa yang bisa aku bandingkan…
Pandangannya kembali melayang, dan tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Chaewoo. Alisnya terangkat perlahan, sebuah ejekan diam-diam. Iyeon cepat-cepat menundukkan kepalanya.
“Maaf. Keputusan itu didasarkan pada pertimbangan pribadi saya. Jika Anda menginginkan penyesuaian—”
“Kenapa kamu mengusik ahli arboris ini?” suara Chaewoo yang datar memotong, menyelimuti dirinya seperti perisai. “Standar Ms. So itu untuk yang muda. Dia tidak bisa menjelaskannya kepada seseorang yang tua dan lapuk.”
“…!”
Iyeon harus benar-benar mengatupkan rahangnya agar tidak menganga.
“Kamu memang terlalu tua untuk mengerti, oke?” simpulnya.
Keheningan yang begitu pekat hingga terasa mencekik menyelimuti mereka.
Iyeon mengedipkan matanya yang lebar berkali-kali sebelum bergegas ke bagian lain taman, rasa panas akhirnya menjalar ke dahinya. Dengan cepat, ia menunjuk ke bagian lain, berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi. Ia terus bergerak dengan langkah yang gelisah, berhenti di satu bunga lalu bunga berikutnya.
“Bunga snapdragon melambangkan hasrat. Bittersweet nightshade berarti ‘aku tak tahan dengan gairah ini,’ dan…”
Ia kemudian menjelaskan bahwa lavender berarti keheningan dan gloxinia berarti hasrat. Kelopak yang lebat dan berlapis serta warnanya yang lembut dan mewah memperdalam suasana sensual. Setiap bunga yang ia pilih secara terang-terangan bersifat provokatif.
“Bentuk bunga ini…” Giseok menyipitkan matanya dan mendekat untuk melihat lebih jelas.
Chaewoo mendecak lidah dengan jijik. “Bunga itu sendiri adalah organ reproduksi. Jangan pura-pura bodoh.”
Berjalan di depan, Iyeon terhenti di tengah langkah.
“Aku pernah dengar bunga adalah organ reproduksi tanaman. Kalau begitu, aku tidak butuh bunga lain.”
Tiba-tiba ia terlempar kembali ke kenangan Chaewoo yang menariknya turun ke wajahnya. Ia melahapnya, lidahnya mendorong dengan gigih ke dalam celahnya sementara tangannya menggenggam dan meremas bokongnya. Dagingnya terasa memar dan perih di bawah cengkeramannya yang kuat sementara cairan mengalir tanpa henti dari pusatnya.
Sensasi dari hari itu menghantam Iyeon kembali, begitu nyata hingga mengejutkan. Ia ingat bagaimana Chaewoo mendorong turun celana dan pakaian dalamnya, memperlihatkan penis yang keras, basah oleh pre-cum. Ia meraih kakinya dan merentangkannya lebar untuk menyentuh dagingnya sebelum menekan ujung kemaluannya ke pintu masuknya.
“…!”
Iyeon menggelengkan kepalanya dengan keras, menepuk kedua pipinya pelan. Api menjalar hingga ke ujung telinganya.
“Ini adalah ground-cherry,dan seperti yang bisa kamu lihat, smegma— maksudku, serbuk sari, menonjol agresif dari sela-sela kelopak bunga—”
Tak lagi sadar akan omong kosong yang ia ucapkan, ia terus melangkah maju dengan gerakan kaku dan canggung. Ia berdoa agar tur ini segera berakhir.
“Terakhir, ini adalah corn poppy.” Melirik dengan gugup ke arah kedua bersaudara itu, ia menambahkan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri, “Tidak seperti opium poppy, varietas ini tidak mengandung senyawa narkotika. Namun poppy yang mengandung senyawa narkotika tidak boleh dibudidayakan untuk alasan apapun. Hukumannya bisa mencapai lima tahun penjara atau denda hingga lima puluh juta won…”
Ia mendengar tawa kering dari belakangnya. Sejenak, Iyeon dilanda rasa absurd karena mengutip undang-undang di hadapan orang-orang yang hidup di atasnya—orang-orang yang dengan mudah membengkokkan hukum sesuai kehendak mereka. Meski begitu, ia tidak ingin moralitas mereka yang menyimpang meresap ke dalam hidupnya sendiri. Sebagai seseorang yang sangat ingin mempertahankan kehidupan normal, ia khawatir bahwa jika ia terlalu lama tinggal di estate ini, rasa normalitasnya akan perlahan menghilang sepenuhnya.
“Kamu cukup… melebihi ekspektasiku…” Giseok menatap Iyeon dari atas, ekspresinya tak terbaca. Ia berhenti sejenak, seolah tenggelam dalam pikiran, sebelum kembali berbicara. “Ms. So, apakah kamu akan hadir di pesta malam ini?”
“…Apa?”
“Ketika seseorang menikmati hidangan lezat, sudah wajar jika ia menjadi penasaran dengan sang koki. Tamu-tamu kami adalah para penikmat seni dan pameran. Aku yakin mereka akan senang mendengar pandanganmu secara langsung.”
“Um…”
Sementara Iyeon berdiri terpaku, tak mampu merespons undangan mendadak itu, Chaewoo menepukkan tangannya ke bahu sang adik.
“Hentikan omong kosongmu. Seni dan pameran? Bajingan-bajingan itu datang ke sini hanya untuk bercinta.” Tatapan tajamnya mengarah ke Iyeon, sebuah peringatan yang jelas dan tak terbantahkan. “Jangan sekali-kali kamu berpikir untuk menginjakkan kaki di dunia ini.”
Sedetik, Iyeon hampir tak bisa menahan balasan: Lalu bagaimana denganmu?
✦ ❖ ✦
Para tamu telah tiba di mansion, dan seluruh staf sibuk melayani kebutuhan mereka. Ketika anggota termuda dari tim manajemen datang membawa setumpuk ayam goreng, staf yang sedang bertugas langsung berkerumun menghampirinya.
“Silakan ambil!” tawarnya kepada mereka.
Iyeon, yang tadinya duduk diam di kursi, mendapati kakinya ikut melangkah maju. Ia menguap, namun aroma gurih dan berminyak yang menggelitik hidungnya sudah cukup membuatnya mengulurkan tangan untuk mengambil makanan itu.
Ia makan ayamnya di sudut ruangan. Setiap gigitan terasa membuat seleranya semakin memudar. Untungnya, morning sickness bukan masalah, tapi makanan ini tidak memuaskan kebutuhannya.
Ini bukan itu… Ini bukan yang aku inginkan…! Yang aku inginkan adalah…
Kemudian, kerinduan yang samar itu menajam menjadi sebuah pikiran yang jelas. Iyeon tahu persis apa yang ia inginkan, dan mulutnya mulai berair.
Masakan rumahan yang sederhana. Semangkuk nasi hangat dengan lauk-pauk yang apa adanya.
Masalahnya, ia tidak sekadar merindukan masakan rumahan biasa; Iyeon sangat mendambakan masakan yang dibuat oleh mendiang suaminya, bukan orang lain.
Kesadaran itu membuat bahunya melorot lesu. Ia mengunyah ayam itu secara mekanis; pikirannya dipenuhi kenangan sarapan-sarapan yang dulu pernah memadati meja makan kecilnya di rumah.
Tiba-tiba, walkie-talkie yang digunakan bersama oleh tim manajemen berbunyi.
“Direktur? Direktur Iyeon So—” seseorang berkata.
“Ya?” Iyeon menjawab secara otomatis.
Ia mendongak dan mendapati seorang staf, mulutnya belepotan saus, mengulurkan perangkat itu.
“Ini dari tim keamanan. Mereka meminta pembersihan di taman, sepertinya?”
“Maksudnya apa?”
“Mereka bilang ada pohon yang rusak dan perlu diperbaiki…”
Iyeon segera menelan gigitan di mulutnya dan mengambil walkie-talkie itu.
“Ini Iyeon So. Apa tepatnya masalah dengan pohon itu?”
✦ ❖ ✦
Kembali ke villa di tengah malam terasa seperti melangkah ke realitas lain, dunia yang jauh berbeda dari ketenangan siang hari.
Memeluk perlengkapan arborist ke dadanya, Iyeon berjalan menembus hutan kamelya, jalur-jalurnya kini terasa mistis dan asing di bawah cahaya berwarna-warni. Villa itu perlahan muncul di antara dedaunan, bersinar terang membelah kegelapan.
Di sana di taman terdapat sosok-sosok bertopeng,stripped bare, serving drinks with an air of utter indifference. Di sudut-sudut lain, tubuh-tubuh bergeliat menjadi satu.
Iyeon melangkah masuk, hampir tersandung sepasang orang yang terkunci bersama di lantai.
“…!”
Ia tersentak, memalingkan pandangan, namun ke mana pun ia melihat, pemandangan yang sama-sama menjijikkan terulang kembali. Bahkan tanpa berusaha, Iyeon mengenali wajah-wajah dari berita, dari film. Ia sangat terkejut melihat dua anggota parlemen—yang terkenal karena perkelahian di lantai sidang—tertawa bersama sambil minum. Kemeja mereka terbuka lebar, perut buncit mereka berguncang saat mereka berjalan-jalan dengan kaki telanjang.
Keriuhan tawa yang membahana dari segala penjuru membuat bahunya refleks meringkuk. Vila itu bagaikan gua rahasia, tersembunyi dari dunia—tempat perkawinan di mana para binatang bisa memuaskan naluri rendah mereka tanpa hambatan.
Iyeon mengikuti petugas keamanan itu dalam diam, pandangannya tertuju ke tanah, hampir tak mampu menahan rasa mualnya. Ia membawanya ke sebuah tempat yang dipenuhi cabang-cabang pohon yang patah secara mengerikan. Ada puluhan di antaranya.
“Ada keluhan bahwa ini merusak pemandangan. Para tamu ingin semua cabang ini dibersihkan,” kata petugas itu dengan nada datar yang kasar.
“Ini patahan.” Dahinya berkerut saat ia berlutut untuk memeriksa cabang yang robek. “Bagaimana ini bisa terjadi? Tidak masuk akal…”
Petugas itu mengangkat bahu. “Sepertinya ada yang bergantung di sana dengan kekuatan besar.”
“Ada sungai alkohol tepat di sana. Kamu bilang orang dewasa bermain di cabang-cabang seperti anak kecil?” gerutu Iyeon, memungut sepotong kayu yang terbelah.
“Tidak terlalu tinggi. Pas tingginya, kurasa? Bagus untuk berpegangan saat kaki mulai lemas,” saran petugas itu.
“Maksudmu?”
“Kalau tidak mengerti, biarkan saja,” sarannya.
“…”
Iyeon berkedip saat sifat pesta yang mesum itu kembali menghantam pikirannya. Wajahnya memanas.
Jadi, seseorang berpegangan pada cabang untuk menopang diri, sementara orang lain berada di bawah mereka—Ugh, menjijikkan!
Gugup, ia tergesa-gesa membuka perlengkapannya dan mulai memasang penyangga logam pada cabang yang patah. Sesaat kemudian, radio petugas itu berbunyi. Ia bergumam meminta maaf lalu pergi.
Lama setelah ia pergi, Iyeon tetap larut dalam pekerjaannya.
Maafkan aku, pikirnya, hatinya perih untuk pohon itu. Akulah yang membawamu ke sini. Kamu seharusnya tidak harus menderita seperti ini…
Ia menepuk batang pohon itu dengan tulus sebelum membereskan peralatannya. Tepat saat itu, ketika ia sedang mengurut bahunya yang kaku dan memutar lehernya, pandangannya jatuh pada sekelompok orang. Mereka adalah gerombolan pria dan wanita berpakaian rapi, dan di antara mereka duduklah Chaewoo. Dibandingkan tamu-tamu lain, mereka adalah kerumunan yang jauh lebih muda, memancarkan aura keangkuhan anak muda.
Tanpa sadar, Iyeon mendapati dirinya menghitung usia Chaewoo.
Ia bilang ia dua puluh delapan tahun.
Ia kembali diingatkan bahwa Chaewoo masih di usia dua puluhan.
Dan aku, seperti orang bodoh, menambahkan empat tahun begitu saja tanpa pikir panjang.
Ia menggaruk ujung alisnya, merasa sedikit bodoh.
Tubuh-tubuh saling berdekatan. Minuman beredar bebas di tengah kepulan asap rokok dan tawa yang tak henti. Chaewoo juga bagian dari pemandangan itu, namun ia tampak benar-benar sendirian di antara mereka. Ia terlihat tegang, gelisah, membuka dan menutup korek api perak sambil menekan satu tangan ke telinganya. Di tengah pemandangan yang luar biasa itu, ia satu-satunya yang kancingnya terkancing hingga ke kerah.
Seolah sudah diatur, seorang wanita dengan senyum lebar menduduki seorang pria, menguburkan wajahnya di leher pria itu. Kerumunan bersiul dan mengejek, menyaksikan tontonan itu seperti olahraga berdarah. Namun bahkan saat ia membelai pria di bawahnya, mata wanita itu terkunci pada pria lain yang duduk di sofa. Seluruh suasana itu menyimpang—sebuah perjamuan voyeurisme, di mana menonton dan ditonton adalah hidangan utama, dan seks itu sendiri hanyalah pembuka yang sepele.
Iyeon merasakan tembok antara dirinya dan orang-orang yang menemukan kesenangan dalam mematahkan anggota tubuh makhluk hidup.Ia kembali diingatkan bahwa Tuan Muda Chaewoo Kwon memang berasal dari dunia ini. Ia tidak pernah sekali pun mengenal sosok dirinya yang sesungguhnya.
Tepat saat itu, seorang wanita berbalut gaun malam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya meluncur ke kursi di sebelah Chaewoo, bibirnya bergerak-gerak. Pandangannya yang tadinya melayang tanpa arah perlahan beralih ke wanita itu.
Rasa pahit memenuhi mulut Iyeon saat ia menyaksikan Chaewoo berinteraksi dengan wanita lain. Melihat kehidupan aslinya yang sesungguhnya, serpihan kecil dirinya yang selama ini Iyeon jaga terasa begitu kecil dan menyedihkan.
“Ahhh…!”
Tiba-tiba, sebuah erangan dalam yang mengejutkan menariknya keluar dari lamunan menyedihkannya.
A-Apa itu?!
Saat ia menoleh dengan cepat, ia melihatnya: pantat seorang pria yang kendur dan pucat, berdiri di depan sebuah pohon berbentuk phallus.
Aduh! Mataku…!
Begitu Iyeon menyadari pasangan yang sedang bercumbu itu, ia langsung jongkok. Dalam kepanikannya, gunting pangkas yang belum sempat ia simpan menyayat ujung jarinya. Ia mengepalkan tangan yang berdarah itu dan tergesa-gesa menyelesaikan pemberesannya.
Itu pantat beneran? Satu-satunya yang benar-benar aku kenal adalah milik Chaewoo, dan miliknya kencang dan padat… Tidak, aku tidak seharusnya membandingkan… ia mencoba mengusir pikiran itu.
Erangan basah yang tebal terus mengambang di udara tanpa henti.
“Ah, kamu di sini. Ketemu juga.”
Suara asing itu menghantam Iyeon bagai pukulan fisik.
“Aku sudah mencarimu ke mana-mana.”
“…!”
Seorang pria tiba-tiba membungkuk ke arahnya, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahnya. Ia memiliki mata yang sipit dan wajah yang tampak selalu tersenyum, senyumnya kini melebar lebar dengan riang. Bau alkohol menyeruak ke wajah Iyeon setiap kali ia mengembuskan napas.
“Kamu yang mendesain taman ini, kan?” tanya pria itu.
Rasa ngeri yang dingin merayap di sepanjang tulang punggungnya.
“Aku memberi sedikit sesuatu kepada tim keamanan untuk informasinya,” katanya.
“…”
“Semua orang sangat ingin bertemu dengan tukang kebun kita yang menakjubkan ini. Begitu para orang gila itu melihat karyamu, mereka langsung tertawa terbahak-bahak, hampir terpingkal-pingkal. Orang-orang bajingan yang sama yang makan sushi di atas tubuh telanjang itu ternyata punya selera yang mengejutkan kekanak-kanakannya, bukan?”
Jangan ikut campur, kata Iyeon pada dirinya sendiri.
Tepat saat ia meraih tasnya untuk kabur, pria itu berdiri tegak, menariknya bersamanya. Ia menyambar pergelangan tangan Iyeon dan mulai menyeretnya ke arah kerumunan.
“Hei, lepaskan aku…!”
Langkah pria itu terasa ringan yang menggelisahkan saat ia bersenandung kecil.
Iyeon berusaha melepaskan tangannya, tetapi untuk seseorang yang bertubuh kurus, cengkeramannya sekuat besi. Itu bukan hal yang mengejutkan. Begitu ia mencium bau alkohol dari napasnya, ia tahu bahwa berbicara dengan akal sehat padanya tidak ada gunanya.
Sambil menggertakkan giginya, Iyeon mulai menghantamkan kotak keras dari perlengkapan arboristnya ke punggung pria itu.
“Lepaskan!”
“Aduh…!”
Ia menambahkan tendangan keras ke tulang keringnya untuk memastikan.
Namun alih-alih marah, senyum gelap yang penuh gairah menyebar di wajahnya. “Wah, wah. Aku punya firasat malam ini akan sangat menyenangkan.”
“Apa yang kamu bicarakan?”
“Tahu tidak, aku rasa tukang kebun ini adalah pilihan yang sempurna untuk topeng tahun ini.”
Sambil mengoceh omong kosong, pria itu tiba-tiba mendorong topeng yang ia pegang ke wajahnya, menghalangi penglihatannya dan membuat napasnya sesak.
Dalam sekejap, mereka sudah berada tepat di jantung kekacauan taman itu. Ia tidak punya pilihan selain menjatuhkan tasnya dan mencakar-cakar topeng itu.
“Perhatian, semuanya! Perhatian!” pria itu berteriak kepada kerumunan.
Semua mata langsung tertuju pada Iyeon dan topeng itu. Seratus tatapan predator membedah tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tangan Iyeon membeku. Kebisingan pesta mereda menjadi keheningan yang tiba-tiba dan penuh harap, dan bulu kuduknya berdiri.
Ini buruk. Ini sangat, sangat buruk.
Untuk pertama kalinya sejak tiba, udara malam terasa tajam dan dingin. Ketakutan wajahnya akan terungkap, Iyeon menggigit bibirnya dengan gugup. Dan melalui lubang mata kecil di topeng itu, ia melihatnya: Chaewoo Kwon.
“…”
“…”
Semuanya dimulai dengan perubahan yang halus. Chaewoo, yang tadinya dengan malas menopang kepalanya di tangannya, perlahan mengerutkan dahinya. Ia melepaskan diri dari posisi santainya, tubuhnya menegak, kepalanya yang tadinya terkulai langsung tegak. Ekspresi bosannya memudar, digantikan oleh rasa dingin yang tak terkendali. Kemudian, senyum tajam yang khas terukir di bibirnya seperti sebuah bekas luka.Iyeon menyaksikan transformasi mengerikan itu melalui lubang-lubang sekecil semut di topengnya.
Oh, tidak… Apakah dia mengenali pakaian kerjaku?
Seperti yang lain, pandangan Chaewoo menyapu ke bawah menelusuri tubuhnya. Tapi tidak seperti yang lain, matanya tertahan pada pergelangan tangannya, yang masih terperangkap dalam cengkeraman pria lain. Pandangannya kemudian beralih ke darah yang menetes dari ujung jari-jarinya, lalu ke kakinya yang gemetar hebat.
Otot rahang Chaewoo menegang. Dia mencondongkan tubuh ke depan dan meludah ke dalam gelas yang dipegangnya. Tapi bukan air liur yang menelusuri garis panjang dari bibirnya. Itu adalah darah. Ujung lidahnya, yang terlihat hanya sedetik, berwarna merah membara.
“Aku adalah pemenang tahun lalu, jadi aku yang berhak memilih,” pria itu berteriak gembira kepada kerumunan.
Iyeon memaksakan kepalanya untuk berbalik ke arah pria itu, wajahnya yang tersenyum kini tampak benar-benar seperti iblis.
“Apa maksudmu…” Iyeon mencoba berbicara.
“Larilah,” pria itu berkata padanya.
“Apa?”
“Ini adalah permainan. Seperti petak umpet.”
“A-Apa—”
“Jangan terlihat begitu takut. Kami tidak melakukan hal sejorok pemerkosaan. Terlalu banyak istri dan pacar yang menakutkan di sini untuk itu.”
“…”
“Ini hanya permainan menanggalkan pakaian. Kami memburu kalian, dan kami menanggalkan pakaian kalian. Kami lakukan berulang-ulang, sampai tidak ada yang tersisa.”
“…!”
Bahu Iyeon membeku. Dunia menjadi putih.
“Hanya itu saja. Sederhana, bukan?”
Nada cerianya tenggelam oleh dentuman jantungnya sendiri yang meledak-ledak. Napasnya keluar terengah-engah, putus-putus dan penuh keputusasaan.
“Jika kamu masih memiliki satu pun helai pakaian ketika lampu kembali menyala, kamu menang. Lalu kamu bisa mengambil semua uang yang dipertaruhkan—”
Saat itulah sebuah gelas dilemparkan tepat ke arahnya.
Ada gerakan yang kabur, lalu—KRAK!
Iyeon tidak bisa membedakan mana yang terjadi lebih dulu: entah itu bunyi benturan yang memualkan atau ledakan kristal dari pecahan gelas.
Gelas itu menghantam dahi pria tersebut tepat di tengah dan hancur berkeping-keping ke lantai. Untuk pertama kalinya, senyum itu terhapus dari wajahnya, digantikan oleh ekspresi terkejut dan kesakitan. Aliran darah mengalir dari luka robek itu, menuruni batang hidungnya.
Dalam sepersekian detik itu, cengkeramannya mengendur.
Hal terakhir yang Iyeon ingat adalah Chaewoo bangkit berdiri. Dia berbalik dan berlari, tidak berani menoleh ke belakang. Teror murni mencengkeram anggota tubuhnya, menggerakkannya bahkan sebelum pikirannya sempat membentuk sebuah perintah.
Kemudian, secara bersamaan, semua enam puluh jendela vila menjadi gelap. Taman yang tadinya seterang siang hari, terjerumus ke dalam kegelapan mutlak. Itu terjadi dalam satu momen yang terkoordinasi.
Sayangku, tolong bertahanlah. Ini bisa membuatmu sakit. Aku sangat, sangat minta maaf…!
Merobek topengnya, Iyeon sesaat terikat oleh kegelapan. Untungnya, dia mengenal taman itu seperti mengenal punggung tangannya sendiri.
Menerobos kerumunan itu akan mustahil. Bersembunyi pun tidak akan berhasil. Mereka akan menemukanku sebelum aku sempat menjauh.
Sebaliknya, Iyeon mencari pohon tertinggi di sekitarnya. Dia dengan tenang mengubah arahnya, menyelinap diam-diam ke belakang batang pohon yang besar itu.
Ketika dia mendengar langkah kaki, dia menempelkan tangan ke mulutnya, menekan dirinya ke kulit pohon. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuknya seperti burung liar yang berusaha melarikan diri dari sangkarnya. Paru-parunya terasa terbakar, dan pusing menyapu dirinya saat dunia berputar.
Mengepalkan tangannya yang gemetar, Iyeon menapakkan kaki di batang pohon. Dalam kegelapan, sepatunya terus tergelincir, tapi suara orang-orang asing yang mengintai di dekatnya mendorongnya untuk terus maju. Dia mengatupkan giginya menahan rasa sakit. Telapak tangannya tergores kasar, tapi dia hampir tidak peduli.
“Hah…”
Akhirnya, Iyeon sudah berada di antara cabang-cabang pohon. Dia meringkuk menjadi bola kecil dan memberanikan diri untuk melihat ke bawah.
Di bawah, beberapa orang berlari, sementara yang lain berjalan santai. Pria dan wanita, tua dan muda—semuanya menyisir bedengan bunga.
Tapi hanya ada satu orang yang tidak melakukan hal yang sama. Sementara semua orang lain mencari di bawah, hanya satu yang melihat ke atas.
“…!”
“…”
Itu adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasianya—satu-satunya orang yang tahu bahwa dia bisa memanjat pohon.
Iyeon tidak bisa membedakan apakah mata yang terkunci padanya itu adalah mata seorang kawan atau lawan.Mulutnya terasa kering saat Chaewoo melangkah tergesa-gesa ke arahnya. Ia merasakan tatapan predator yang sama seperti hari ketika Chaewoo menghadapinya di rumah besar—tatapan yang sama saat ia melemparkan dirinya ke depan sebuah mobil.
Tentu saja, pikirnya, gemetar hebat menjalar ke seluruh tubuhnya saat ia memeluk batang pohon. Dia datang untuk menyeretku kembali.
Ia sedang berusaha menahan denyutan panik di pelipisnya ketika Chaewoo tiba-tiba menghilang, larut ke dalam kegelapan.
Kepala Iyeon berputar cepat, menyisir setiap bayangan. Saat itulah dedaunan di atasnya berdesir, dan getaran berat menjalar turun melalui dahan.
“…!”
Suatu naluri aneh membuatnya mendongak. Chaewoo telah memanjat pohon itu dengan energi yang ganas, muncul tanpa suara, tanpa peringatan.
“Hah…!” Iyeon tercekat.
Setiap kali ia berkedip, Chaewoo sudah semakin dekat dengan cara yang mengkhawatirkan. Ia hampir tidak terlihat menggerakkan kakinya, namun ia mendaki seolah gravitasi sama sekali tidak mempengaruhinya. Kelincahannya sama menakutkannya seperti yang ia ingat, membuatnya tercekam.
Iyeon bahkan tidak sempat berteriak. Ia menggigit keras bagian dalam bibirnya, dorongan putus asa untuk melarikan diri kembali membanjirinya. Tapi kali ini, tidak ada lagi tempat untuk lari.
Akhirnya, tangan Chaewoo melesat dan mencengkeram lengannya dengan keras. Iyeon secara naluriah membuka mulutnya untuk berteriak, namun ia menggeram, suaranya bergetar rendah di kulitnya.
“Jangan berkata apa-apa,” peringkatnya.
“Tapi—”
“Aku bilang tutup mulutmu,” hardiknya.
Matanya merah, bara api yang hampir tak terkendali bergolak di dalamnya, siap meledak. Iyeon menatap urat yang berdenyut di dahinya sebelum pandangannya meluncur turun ke batang hidungnya. Tatapan mengancamnya begitu menyesakkan; ia tidak bisa bernapas.
“Ke sini,” perintahnya, suaranya bergumam rendah, “dan lilitkan kakimu di pinggangku dengan tenang.”
“…Apa?”
“Aku bilang, lilitkan kakimu di tubuhku.”
“Kenapa? A-Apa yang kamu… A-Apa yang akan kamu l-lakukan padaku?” tanyanya tergagap.
Mengabaikan suaranya yang waspada, Chaewoo meneroboskan tangannya ke sisi tubuhnya.
“Lepaskan aku…! Kamu—”
Ia ditarik tak berdaya ke dalam pelukannya. Saat ia mencengkeram lehernya untuk menyeimbangkan diri, ia merasakan leher itu licin oleh keringat dingin.
Chaewoo mengubur wajahnya ke lekukan lehernya, menghembuskan napas berat. Tubuhnya yang bersiap untuk melawan membeku seperti patung.
“K-Kalau kamu menyentuhku s-sedikit saja—” ia mulai, suaranya berbisik putus asa.
“Maka aku akan memotong semuanya,” ia menyelesaikan kalimatnya.
“Apa?”
“Jari-jari mana pun yang berani menyentuh pakaianmu—aku akan mencekokkan setiap satu dari mereka ke tenggorokan pemiliknya.”
Wajah Iyeon kini dipenuhi kebingungan yang mendalam. Kata-kata Chaewoo jauh lebih menakutkan daripada tatapan penuh nafsu dari seluruh kerumunan di bawah.
“T-Tidak… kamu juga datang untuk mengambilku, kan?” tuduh Iyeon, suaranya gemetar.
Ia harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Chaewoo hanya menonton saat warga kota mengerumuni dan menyerangnya, lalu pergi begitu saja. Ia adalah tuan muda dari keluarga yang menyelenggarakan pesta bejat ini. Secara objektif, tidak ada satu pun alasan di dunia ini untuk mempercayainya.
“Apa kamu sedang mempermainkanku?” tanya Iyeon, hampir menangis. “Kamu menghancurkan Pohon Roh, kamu merusak turnamen, kamu mengobrak-abrik rumahku, dan yang lebih parah lagi, kamu berpaling saat aku kesakitan!”
Napas panas di lehernya seketika berhenti.
“Apa bedanya situasi ini?” Bisikannya yang terengah-engah menggantung di udara.
Saat Iyeon meronta, mendorong bahu Chaewoo yang sekeras batu, ia, entah mengapa, benar-benar membiarkannya.
“Apa kamu pikir aku akan mengkhianatimu?” tanyanya pelan.
“Memangnya tidak?” balas Iyeon.
Tatapan mereka, satu membara panas dan yang lain sedingin es, beradu dalam kegelapan.
“Kamu tidak berpihak padaku. Aku tahu kamu tidak,” tegas Iyeon.
“…”
“Kamu membenciku. Kamu hanya akan merasa puas melihat orang-orang jahat ini menyiksaku sampai aku menangis—sama seperti yang kamu lakukan terakhir kali.” Matanya yang berkilau memancarkan cahaya aneh yang penuh perlawanan.
Dihadapkan dengan ketidakpercayaannya yang teguh, ekspresi Chaewoo perlahan mengeras.
“Kamu benar. Tidak seperti orang bodoh itu, aku tidak pernah berpihak padamu,” ia mengakui.
Meski Iyeon tidak mengharapkan apa pun,kedinginan yang terasa begitu final dalam suaranya membuat hatinya jatuh.
“Tetap saja, kamu harus ke sini,” bujuknya.
“…!”
“Ke sini. Sebelum aku memutuskan untuk menguliti bajingan-bajingan itu hidup-hidup.”
“Tidak,” bisik Iyeon, memalingkan wajahnya, ekspresinya terdistorsi dalam perlawanan.
“Apa kamu tidak mengerti situasimu sekarang?”
“Aku mengerti betul. Sarafku lebih tegang dari sebelumnya. Jadi kamu turun saja. Aku tidak percaya padamu, dan aku tidak mau terlihat. Tempat paling aman bagiku ada di sini, bersama pohon ini. Setidaknya pohon tidak akan mengkhianatiku.” Iyeon menempelkan pipinya ke kulit kayu yang kasar seolah mencoba menyatu dengannya.
Tapi Chaewoo tak kenal ampun. Ia menyeretnya ke arahnya, mendudukkan tubuh Iyeon yang meronta di atas pahanya dan memaksa kakinya terbuka mengapit pinggangnya. Seberapapun Iyeon meronta dan melawan, ia tidak ada tandingannya melawan kekuatan Chaewoo yang menekan.
Tepat saat Chaewoo bergeser, bersiap untuk melompat turun, Iyeon bertindak atas naluri murni, menancapkan giginya ke lehernya.
“Ugh…!” Sebuah erangan pendek lolos darinya.
Gelombang merinding menjalar di kulit Chaewoo, menyentuh bibirnya saat denyut nadinya berpacu di mulutnya seperti pompa yang lepas kendali. Reaksinya yang mentah dan spontan membuat Iyeon gugup, dan ia mundur, salah tingkah.
“K-Kamu dengar aku! Jangan libatkan aku dalam urusanmu. Turun sendiri saja…!”
“Apa aku tidak sudah memperingatkanmu?” Suaranya kasar dan tercerai-berai, seolah ia menahan dorongan untuk meninggikan suara. “Aku bilang jangan menginjakkan kaki di sini. Aku bilang jangan biarkan aku melihatmu tampak begitu menyedihkan.”
Bagian terakhir itu adalah gema kejam dari kata-kata yang ia ejek setelah sepupu Iyeon menamparnya di lobi hotel itu.
“Kamu melanggar janjimu, jadi setidaknya hentikan sikap kerasmu itu. Kamu takut mereka menangkapmu, tapi kamu tidak takut mendorongku pergi?”
“…”
“Iyeon,” katanya, nada suaranya berubah, menjadi berbahaya dan intim. “Orang-orang itu kasar, tapi mereka tetap manusia. Tapi aku? Aku bilang aku dibesarkan untuk menjadi anjing.”
Tiba-tiba, ekspresi Chaewoo jauh lebih mengancam dibanding saat ia mengejeknya di Pulau Hwai. Iyeon menatap, terpana, pada amarah liar yang memelintir wajahnya.
“Kenapa kamu begitu marah?” hardiknya. “Kalau ada yang berhak marah, itu aku. Kalau ada yang seharusnya takut, itu aku. Kamu tidak berhak untuk—”
“Lucu. Aku juga bertanya-tanya hal yang sama.” Ia menarik pinggangnya ke arahnya, mengunci tubuh bagian bawah mereka bersama.
Iyeon tersentak, matanya menghindari tekanan berat yang mendesak di antara kakinya. Tapi kemudian ia mengangkatnya, hanya sekali, menggosokkan penisnya ke arahnya.
Rasa jijik berperang dengan rona merah pengkhianat yang muncul jauh di dalam dirinya. Tampaknya hal yang sama terjadi pada Chaewoo. Iyeon melihat wajahnya berkilat dengan amarah, atau mungkin dengan nafsu yang kasar.
“Kenapa setiap kali aku melihatmu, aku selalu ingin menangkap orang terdekat dan membunuh mereka?” tanyanya dengan nada tenang.
“…!”
Itu adalah pengakuan paling mengerikan—atau mungkin sebuah ancaman.
“Kamu selalu ingin aku menjadi orang yang baik dan lembut. Tapi sebenarnya, kamulah yang menghancurkan kemungkinan itu setiap kali kita bertemu. Setiap kali aku melihatmu, kepalaku berdenyut disertai pikiran-pikiran kekerasan. Itu membuatku ingin melempar setiap pria yang kulihat ke dalam lubang. Mau tahu kenapa aku marah?” Senyum tipis dan dingin menyentuh bibirnya. “Karena kamu berjuang melawan sesuatu yang bukan aku penyebabnya.” Pandangannya kemudian beralih ke bawah, dan ia menambahkan, “Aku bilang lilitkan kakimu di sekelilingku.”
Saat Iyeon tetap membeku, hanya bisa berkedip, Chaewoo bergeser untuk menopangnya dari pinggangnya.
“Terblokir, Tuan,” terdengar suara monoton, berderak melalui micro-earpiece Chaewoo.
Ia menekan sesuatu di penerima dan bertanya, “Villanya?”
“Belum.”
“Beritahu aku berapa lama.”
“Minimal tiga puluh menit,” kata suara di ujung lain.
Kening Chaewoo berkerut kesal. Di dalam villa, Giseok sedang menyelesaikan kesepakatan untuk 248 gram sabu, cukup untuk lebih dari delapan ribu dosis. Itu adalah kesepakatan pribadi, dan Chaewoo telah mengirim anak buahnya tanpa perlengkapan untuk mendapatkan buktinya.
Pesta konyol itu,permainan petak umpet itu, semuanya seharusnya menciptakan pengalihan yang sempurna. Tapi dari semua orang, Iyeon yang harus muncul.
Chaewoo menatap ekspresi terpananya, lalu suaranya berubah. “Jadikan dua puluh menit. Ambil bidikannya dan pergi.”
Iyeon memandang kebingungan saat ia melakukan panggilan yang hanya bisa ia dengar sendiri. Kemudian, tangannya mencengkeram dagu lembutnya.
“Kamu dengar itu? Tepat dua puluh menit,” katanya padanya.
“…”
“Tahan ini bersamaku selama dua puluh menit.”
“Apa yang kamu—”
Ia memotongnya, merenggut dasinya lepas dalam satu gerakan kasar. Ia menarik kemeja formalnya, membuat sebuah kancing terlempar ke dalam kegelapan.
Iyeon melirik ke bawah dengan gugup, tapi untungnya, tidak ada yang berkeliaran di bawah sana.
Setelah Chaewoo melepas kemejanya, ia menyelimutkannya ke tubuh Iyeon.
“Sepatu juga. Seseorang mungkin mengenalinya,” perintahnya.
Iyeon tidak bisa tidak berpikir bahwa Chaewoo-lah yang justru mencolok dengan tulang selangkanya yang tajam, otot bahunya yang kuat, dan pinggangnya yang ramping dan terdefinisi dengan baik, semuanya terlihat jelas. Ia mengerutkan hidungnya.
“Kamu benar-benar akan membantuku? Bagaimana caranya?”
Tanpa menjawab, Chaewoo menarik Iyeon yang masih skeptis erat ke tubuhnya dan melompat dari pohon. Ia dengan mahir menangkap cabang yang lebih rendah, mengendalikan jatuhnya.
Iyeon bereaksi secara naluriah, berpegangan padanya sekuat tenaga.
“Apa lagi yang bisa dilakukan di tempat seperti ini selain bercinta?” katanya.
“Apa…?” Iyeon kehilangan kata-kata.
“Tempat terbaik untuk menyembunyikan pohon adalah di hutan, bukan?”
Setelah kakinya menapak kuat di tanah, Chaewoo mengambil dua jari Iyeon yang berdarah, membawanya ke mulutnya, dan mulai mengisapnya dengan rakus.
Chaewoo membanting Iyeon ke tiang kayu saat mulutnya menutup di atas jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia mengisap, pipinya cekung dengan setiap tarikan yang lahap.
Sebelum Iyeon sempat bereaksi, jari-jarinya diselimuti oleh kehangatan lembut dan licin yang seolah melelehkannya. Saat kehangatan basah itu melingkupi mereka, darah mengalir ke wajahnya. Ia menjilat lukanya dengan lidahnya yang panas, lalu mengisap darahnya dengan kuat.
“A-Apa yang kamu—”
Masih marah, Chaewoo menatap tajam, pandangannya merupakan campuran yang mudah meledak antara panas dan kejengkelan. Ketika Iyeon secara naluriah mencoba menarik tangannya, ia mencengkeram pergelangan tangannya dan menundukkan kepalanya, memasukkan jari-jarinya lebih dalam ke dalam mulutnya.
“Ah…!”
Isapannya begitu kuat hingga jari-jarinya mulai terasa sakit. Tenggorokan Chaewoo bergerak, menelan dengan suara yang terdengar jelas—campuran air liur dan darah. Ia menggigit ujung jarinya dengan giginya, dan ujung lidahnya menekan kuat ke celah di antara jari-jarinya. Baru saat itulah Iyeon teringat akan luka-luka yang terlupakan yang masih berdenyut di dalamnya.
“Hentikan! Menjauh dariku…!”
Iyeon mencoba mendorongnya menjauh.
“Masih banyak darahnya,” gumamnya. “Kenapa berhenti sekarang?”
Bibirnya terbuka, memperlihatkan sekilas lidahnya, licin dan merah dengan darahnya.
Pipi Iyeon memanas karena malu. Ia mendorong dadanya, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Sebaliknya, ia mendorong tubuhnya ke tubuhnya.
“Jangan berani terangsang,” peringatnya.
“Baiklah,” ia meyakinkannya.
“Baiklah? Lalu apa yang menekanku ini, hah? Apa itu?!” ia menuduhnya.
“Hanya kelamin telanjang,” katanya, suaranya bergemuruh rendah. “Hanya sepotong daging biasa. Bahkan belum terangsang.”
Bingung, Iyeon bertanya, “Belum terangsang?”
Saat itu, suara-suara pesta yang dekaden mengerumuni mereka seperti nyamuk di malam musim panas.
Iyeon mendengar keriuhan erangan sensual, tawa, dan tamparan basah daging pada daging. Telinganya memanas merah padam, dan ia menundukkan kepalanya. Namun, mata Chaewoo yang berkabut tidak pernah meninggalkan wajahnya.
Luka di jari-jarinya kini berdenyut dengan rasa sakit yang begitu tajam hingga terasa seperti kejang. Namun saat ia terus mengisap jari-jarinya, mulutnya mengencang di sekelilingnya, menciptakan ilusi pervers sebuah ciuman.
“Mm…”
Tekanan panas yang terus-menerus itu mencuri napas Iyeon dan membuat kepalanya berputar. Panas yang membara mekar di dalam dirinya. Ia melawannya, kata-katanya tumpah keluar dengan tergesa-gesa.
“Apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan? Ini sudah keterlaluan. Kamu tidak boleh melewati batas ini…!”
Dia mendorong bahunya lagi, tapi panas membara dari kulitnya membuat dia tersentak dan menarik tangannya kembali seolah terbakar.
“A-Apakah kamu pikir ini akan membuat segalanya hilang begitu saja? Apa maumu? Gigit saja aku! Ayo, gigit aku! Berhenti menghisap darahku dan buat aku berdarah! Ukir luka baru!” Iyeon menghentak kakinya, wajahnya menyeringai kesakitan.
Tepat saat itu, ujung jarinya menyentuh giginya. Memanfaatkan kesempatan itu, dia mengetuknya dengan berani, bahkan menyeret kukunya melintasi langit-langit mulutnya.
“Waktu sekarang 00:42. Kita masuk,” suara itu terdengar melalui earpiece Chaewoo.
Chaewoo hanya mengangkat sebelah alisnya, sudut bibirnya melengkung membentuk seringai.
Saat tatapan tajamnya melunak menjadi sesuatu yang lamban, dia merasakan pergeseran halus di udara. Dia bergerak seketika, melemparkan tubuhnya menutupi Iyeon untuk melindunginya.
“Bajingan!” seseorang berteriak.
KRAK!
Kaca itu meledak beberapa inci dari wajah Iyeon.
“Chaewoo Kwon, kamu gila. Sekarang kita impas!” suara yang sama berteriak.
Iyeon menarik napas terkejut. Berdiri di hadapan mereka adalah pria bermata sipit itu, dahinya terbelah dengan luka menganga yang mengerikan. Di tangannya, dia menggenggam leher botol anggur yang pecah bergerigi. Wajahnya yang tadinya tersenyum kini penuh dengan amarah yang terdistorsi.
Iyeon bisa dengan jelas merasakan kegilaan di matanya. Liar, tak terfokus. Garis-garis ungu membentang dari mulutnya ke bawah dagunya, dan serbuk putih halus menempel di sekitar lubang hidungnya.
“Hei! Kamu seharusnya melepas pakaiannya, bukan mendandaninya!” pria itu menggeram, menunjuk Iyeon sambil mengacungkan topeng yang telah dia tinggalkan.
Wajah Chaewoo mengeras. Dia berbalik, tubuhnya berdiri seperti tembok kokoh untuk melindungi Iyeon. Dia menggelengkan kepalanya dengan acuh, dan serpihan kaca halus berjatuhan dari rambutnya.
Seharusnya aku menariknya lebih dalam ke taman saat kami keluar dari pohon.
Dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlena dengan rasa jarinya.
Chaewoo mengetuk telinganya sekali.
“00:44. Masuk terhalang. Mengalihkan rute,” suara itu merespons.
Tidak ada waktu untuk ragu.
Tanpa secuil pun emosi, Chaewoo melangkah mendekati pria bermata sipit itu. Dia samar-samar mengenalinya saat berjalan mendekat. Itu adalah Kyeongjin Do, putra seorang direktur rumah sakit. Dia mencengkeram Kyeongjin di tengkuknya, membuka paksa salah satu kelopak matanya yang berkedut, dan memeriksa pupilnya. Lalu dia merebut leher botol bergerigi itu dan menghantamkannya langsung ke dalam mulut pria itu.
“Kyeongjin, siapa orang bertopeng yang kamu cari?” tanya Chaewoo.
“Ughh…”
Ketika pria itu hanya merintih kesakitan, Chaewoo dengan murah hati menarik botol itu dan bertanya, suaranya berbahaya namun lembut, “Siapa topeng malam itu?”
“K-Kamu bajingan, apa kamu gila? Apa masalahmu?” Kyeongjin berteriak, menunjuk Iyeon. “Itu perempuan itu!”
“Salah.”
Dengan ketidakpedulian yang mendinginkan, Chaewoo menancapkan kaca bergerigi itu ke lidah pria tersebut dan memutar serpihan-serpihannya. Lengan Kyeongjin meronta-ronta, kukunya menggali punggung Chaewoo dengan sia-sia.
“Kyeongjin,” suara Chaewoo hampir terdengar lembut. “Siapa topeng malam itu?”
“Perempuan ini—”
“Salah lagi.”
Dengan ekspresi mata kosong yang sama, Chaewoo mendorong leher botol itu kembali ke dalam mulut pria tersebut. Darah merah mulai menetes dari bibir Kyeongjin.
“Kyeongjin, siapa topeng malam itu?”
“Ackkk…!”
“Kamu sedang mabuk. Pasti kamu bingung. Akan aku beritahu dengan baik…”
Dengan setiap kata yang diucapkan, Chaewoo mengatupkan giginya dan memaksa botol itu sedikit lebih dalam ke mulut Kyeongjin, memotong napasnya.
Tepat saat Kyeongjin mulai tersedak, matanya mengguling ke belakang, Chaewoo mendekat dan berbisik, seolah dia telah menunggu momen itu, “Akulah topeng malam itu, Kyeongjin.”
“Ughh…!”
Teror dingin yang menyadarkan mulai menembus kabut kimiawi di mata Kyeongjin.
Saat kerumunan mulai berkumpul, tertarik oleh keributan, Chaewoo melempar leher botol itu ke samping dan merebut topeng dari Kyeongjin, menariknya menutupi wajahnya sendiri.
Kyeongjin mencengkeram tenggorokannya, muntah dan memuntahkan darah.Aliran merah menetes dari bibirnya yang robek. Ia menjilat giginya yang sudah ternoda dan berkeringat dingin.
“Sialan, sialan!”
Chaewoo, yang kini bersembunyi di balik topeng, mendekat dan berbisik kepada Iyeon, “Ketika kerumunan sudah cukup ramai, masuklah ke dalamnya dan bersembunyi. Apapun yang terjadi, pura-puralah tidak mengenalku. Pertahankan itu selama dua puluh menit.”
Saat Chaewoo mengulurkan tangannya ke arahnya, Iyeon memejamkan mata dan menjauh dengan refleks. Gerakan itu membuatnya terdiam, kenangan akan pelanggarannya di masa lalu menghantam dirinya.
Saat Iyeon menggenggam tangannya yang gemetar, ia mendengar suara pelan yang telah kehilangan semua ancaman sebelumnya.
“Maaf aku tidak bisa membawamu keluar dari sini lebih cepat.”
Ia terdiam. Itu adalah permintaan maaf pertama yang ia dengar dari Chaewoo sejak mereka berpisah jalan.
✦ ❖ ✦
PLAK!
Bekas merah yang marah lainnya mekar di pipi Chaewoo.
“Bajingan ini lebih enak dipukul daripada ditelanjangi, sialaaaan…!” Kyeongjin terkekeh, matanya benar-benar tidak waras.
Iyeon telah membeku selama waktu yang terasa seperti selamanya, setiap napas terasa berat. Mati rasa yang aneh dan membengkak di jari-jarinya membuatnya merasa jauh dari kenyataan. Ia menggerakkan jari-jarinya berulang kali, tapi ini bukan mimpi buruk.
Segumpal ludah mendarat di wajah Chaewoo yang tampan; topengnya sudah lama dirobek. Tanpa sadar, tangan Iyeon mengepal erat.
Ketika kerumunan pertama kali mengerumuni mereka, tertarik oleh igauan Kyeongjin, ia telah mempersembahkan Chaewoo—dengan bibir yang robek—sebagai topeng malam itu yang baru.
Yang pertama mengelilingi Chaewoo yang sudah tidak berbaju adalah para wanita. Mereka mengusapkan telapak tangan mereka di atas tubuhnya yang telanjang, meremas ototnya, tangan mereka merambat ke putingnya.
Wajah Iyeon menyeringai jijik. Jantungnya berdegup kencang saat amarah yang membara menyengat dirinya.
Kenapa kamu hanya berdiri di sana? Apa yang sedang kamu lakukan? Baru saja, kamu mendorong botol pecah ke tenggorokan seseorang!
Sungguh menjengkelkan melihat Chaewoo menerima perlakuan itu seperti pengecut yang tidak berdaya. Tapi ketika tangan seseorang meraba gesper celananya, Chaewoo akhirnya bergerak, mengayunkan lengannya dalam busur yang brutal. Topeng itu terlepas, mengungkap wajahnya yang terpahat dan tanpa ekspresi.
Pada saat itu, suasana berubah.
Kerumunan itu, seolah atas perintah diam, melupakan wanita berpakaian jumpsuit itu. Mereka mengalihkan perhatian rakus mereka pada Chaewoo—seorang pria yang tidak akan berani didekati siapapun dalam keadaan normal apapun.
Mereka kemudian memanfaatkan kesempatan untuk mempermalukannya. Untuk merobek harga dirinya, mereka menamparnya berulang kali. Mereka meludahinya. Mereka menarik-narik celananya dan menyiramnya dengan anggur. Sepanjang itu semua, ekspresi Chaewoo tetap terpahat dari batu. Sikapnya justru semakin memprovokasi kerumunan.
Chaewoo hanya mengatupkan rahangnya, sesekali mengetuk telinganya, tidak memberikan perlawanan apapun kepada massa yang mabuk alkohol dan obat-obatan. Dan begitu saja, Chaewoo menjadikan dirinya pusat semesta mereka, menarik setiap mata.
“Waktu saat ini 00:57. Siaga,” suara itu melapor melalui earpiece-nya.
Alis Chaewoo mengerut sedetik saat ia membunyikan lehernya. Pandangannya terkunci pada satu orang, Iyeon, yang berdiri membeku dengan bibir terkatup menjadi garis tipis yang putih.
Berbeda dengan kegugupannya yang terlihat, Chaewoo tampak benar-benar puas dengan reaksinya. Ia tidak berpaling, tidak melarikan diri. Ia menatap tepat ke arahnya, matanya terbuka lebar, tanpa sekali pun berkedip.
“—waktu… siaga…”
Earpiece itu berderak dengan statis, lalu hening. Kemudian, tanpa peringatan, suara baru berbicara melalui earpiece itu.
“Aku tidak tahu tikus macam apa kamu ini.”
Wajah Chaewoo menjadi kaku. Pada saat yang sama, lingkaran tubuh di sekelilingnya terbelah seolah dibelah dua.
“Oh…!”
“Hah?”
Desahan tajam bergema di tengah keheningan yang tiba-tiba.
Itu adalah Giseok Kwon, berpakaian rapi dalam setelan tiga potong, melangkah maju sambil menyeret seorang pria telanjang di tangannya. Apakah pria itu sudah mati atau hanya pingsan, tidak mungkin untuk diketahui.
Chaewoo langsung menyadarinya: Misi telah gagal.
Dalam sekejap mata,Dia menanggalkan ekspresi dinginnya dan mengenakan topeng yang berbeda. Tak ada sedikit pun rasa cemas atau gundah yang tersisa—hanya tampilan bosan dan ugal-ugalan seorang tuan muda yang ketahuan bermain terlalu kasar.
“Siapa yang sedang aku ajak bicara?” Suara dingin Giseok membelah earpiece itu. Sepertinya dia telah mengambilnya dari salah satu anak buah Chaewoo.
Giseok menarik pistol dari jaketnya. Lalu, dia merenggut earpiece dari telinganya dan mengarahkan laras pistol ke perangkat kecil itu. Tembakan itu akan merobek gendang telinga siapa pun yang masih terhubung di saluran yang sama.
Mata dingin Giseok bertemu dengan mata Chaewoo saat jarinya semakin menekan pelatuk.
Tepat saat itu, entah dari mana, Iyeon menerobos kerumunan dan berlari menuju Chaewoo.
Kaki Iyeon sudah bergerak sejak Giseok merenggut earpiece dari telinganya. Dua pemandangan yang berbeda itu—Giseok mengarahkan pistolnya ke earpiece dan Chaewoo yang terus berbicara seolah sedang menerima panggilan—terkunci seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi.
Sekejap, Iyeon sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Namun tak lama kemudian, kepalanya dibanjiri ribuan pikiran kalut yang mencuri udara dari paru-parunya.
Iyeon menerobos kerumunan penonton yang telah berkumpul untuk menyaksikan atau ikut serta dalam permainan keji itu.
Ketika Giseok menarik pelatuk, Iyeon menerjang Chaewoo, tangannya langsung menuju gesper ikat pinggangnya.
Dor, dor, dor!
Semuanya terjadi dalam sekejap—betis Chaewoo yang terbentuk indah dan otot pahanya yang kencang terekspos, menyisakan dirinya hanya dengan sepasang celana dalam boxer yang teregang ketat di pinggulnya.
Iyeon berdiri tegak, berusaha menghalangi pandangan orang-orang ke arahnya.
Suara tembakan sempat mengejutkan para tamu, namun hanya sesaat. Kerumunan yang terpana itu dengan cepat mengalihkan perhatian mereka ke Iyeon—perempuan yang telah membuka gesper yang tak boleh disentuh siapa pun dan merenggut celana Chaewoo.
Keheningan menyelimuti kerumunan itu.
Iyeon menahan napas menyaksikan Chaewoo mengatupkan rahangnya menahan kesakitan. Dia sedang menanggung rasa sakit akibat jeritan yang menusuk telinganya dari perangkat yang hancur itu.
Namun, gendang telinga yang pecah adalah hal yang paling tidak mengkhawatirkannya saat ini; gelombang pusing yang dahsyat menghantamnya saat ledakan itu bergema jauh di dalam kepalanya. Urat-urat di lehernya menonjol, dan wajahnya terasa panas membara.
Kerumunan itu tidak bisa membedakan apakah dia menderita karena kesakitan atau karena rasa malu.
Hanya Iyeon yang tahu kebenarannya, berkat cengkeraman kuat tangannya di bahunya. Dia membentuk kata “tahan” dengan bibirnya.
Chaewoo benar-benar berantakan, basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki oleh bau minuman keras yang menyengat. Bibirnya robek, dan kelopak matanya bengkak seperti petinju setelah sepuluh ronde. Tubuhnya yang dulu tampan kini menjadi kanvas bekas telapak tangan, dan kulit di sekitar putingnya dipenuhi luka lecet yang kasar. Bukti setiap penghinaan terpapar telanjang.
Iyeon menggigit bibirnya, ekspresinya mengeras menjadi topeng dingin.
Dia mengaitkan ibu jarinya ke pinggang celana boxer Chaewoo dan menatap langsung ke arah Kyeongjin.
“A-Aku bisa melepas ini juga. Ka-Kalau begitu permainannya selesai, kan?”
Dia harus mengalihkan perhatian Giseok, menarik pandangannya dari petunjuk yang baru saja dia tangkap, dan dari Chaewoo. Dia perlu terdengar tenang, namun getaran dalam suaranya mengkhianatinya. Meski begitu, dia memaksakan suaranya agar terdengar ringan dan santai, membelah ketegangan yang setajam pisau di udara.
Kyeongjin mengedipkan matanya yang berkabut.
Chaewoo, yang terkenal acuh tak acuh terhadap kekerasan namun bereaksi ganas terhadap pendekatan sekecil apa pun, kini bersikap patuh dengan cara yang menggelisahkan.
“Rumah tangga yang menjijikkan…” gumam Iyeon dengan dingin, berpura-pura menarik celana dalam Chaewoo ke bawah sebelum dengan cepat menariknya kembali ke atas.
Dalam sekejap itu, penis Chaewoo yang tiba-tiba ereksi tersangkut di kain tersebut.
“A-Apa ini…” dia tergagap, membiarkan pinggang celana itu kembali melenting karena terkejut.
Aroma Chaewoo yang dulu menenangkan dan sejuk kini sepenuhnya terhapus oleh bau alkohol yang menyengat. Perutnya terasa mual. Rasa bersalah dalam dirinya membuatnya merasa seolah dia adalah salah satu dari para perayaan dalam pesta keji itu. Dia bahkan tidak sanggup menatap wajah Chaewoo.
Dengan langkah kaku seperti robot, Iyeon berjalan menuju Giseok.”Ini tidak ada dalam kontrakku,” katanya, napasnya terengah-engah. “Aku dipekerjakan untuk mengurus taman, bukan untuk dijadikan mainan di pesta menyimpang seperti ini.”
Mata Giseok menyipit, penuh perhitungan. Ia tetap mengarahkan pistolnya ke earpiece yang hancur sementara pandangannya menyapu tubuh Iyeon, mengurainya satu per satu.
Sekilas momen itu terasa seperti keabadian. Iyeon mendongakkan kepalanya, menolak untuk melirik orang yang diseret Giseok bersamanya. Pemandangan laras pistol hitam itu membuatnya menelan ludah.
“Apakah Anda punya niat untuk melindungi karyawan Anda, Tuan Kwon?” tuduhnya, suaranya sarat dengan kecaman yang jelas.
“…”
“Aku masih tidak mengerti. Aku tidak mengerti kenapa aku harus terseret ke dalam ini. Mengapa aku harus merasa terancam oleh orang-orang ini? Anda adalah majikanku, dan tuan rumah pesta ini. Tanggung jawab Anda adalah menyelesaikan masalahku terlebih dahulu, bukan bermain-main dengan pistol.”
Pandangan Giseok menyusuri tubuhnya perlahan, berhenti di kakinya yang telanjang. Pupil matanya bergerak dengan presisi dingin seperti mesin yang memindai kesalahan.
Iyeon menyembunyikan kepalan tangannya di balik punggung dan mendesaknya lagi, suaranya semakin menguat. “Sekarang juga.” Ia melangkah maju, dengan cekatan memposisikan tubuhnya untuk menghalangi pandangan ke arah earpiece yang hancur. “Aku ingin keluar dari tempat ini. Segera.”
Wajah Giseok berubah di bawah tatapan Iyeon yang tak tergoyahkan. Ia teringat bagaimana Juha Yoon dulu membelit orang-orang dengan kata-kata yang persis sama. Rasa pusing yang tiba-tiba dan memabukkan menghantamnya, dan cengkeramannya pada pistol mengendur.
“Aku akan mengantarmu,” katanya.
Tak lama kemudian, lampu-lampu taman mulai berkedip dan menyala kembali. Setiap kali lampu besar menyala, generator menderu dengan dentangan berat, seperti pintu penjara yang dibanting. Bagian demi bagian, kegelapan surut. Itulah suara mimpi buruk yang akhirnya berakhir.
“Iyeon.”
Suara retak itu menghentikannya tepat saat ia berbalik untuk mengikuti Giseok. Sekadar suara namanya dari bibir Chaewoo sudah cukup untuk menariknya kembali ke dalam kubangan itu.
Kau adalah monster, dan tempat ini adalah neraka buatanmu sendiri.
Iyeon tidak merespons, hanya menggenggam kemeja bersih yang ia kenakan seperti perisai. Ia bisa merasakan tatapan Chaewoo yang gigih membakar bagian belakang kepalanya, namun ia menolak untuk menoleh. Sama seperti yang pernah ia lakukan dulu.
Itu adalah malam yang menyedihkan, malam yang mengupas satu lagi lapisan dari diri Chaewoo, membuatnya terasa mentah dan terbuka.
✦ ❖ ✦
Ketika matahari terbit, pesta yang riuh itu tidak meninggalkan apa pun selain lautan sampah.
Serpihan rapuh dari kehidupan sehari-hari Iyeon pun kembali.
Seperti yang selalu ia lakukan ketika pikirannya kacau, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, larut dalam tanah dan pepohonan. Namun ketika tengah malam tiba, kenangan tentang Chaewoo dari malam sebelumnya tak terelakkan muncul di benaknya.
Ia tidak lagi tersiksa oleh pikiran tentang kekejamannya, yang dulu membuatnya terjaga berjam-jam. Kini, yang menghantui sudut-sudut penglihatannya adalah gambaran dirinya yang hancur, basah kuyup dalam kehinaan dan kotoran.
Kenangan tentang dirinya yang dipukuli terus berputar dalam lingkaran setiap kali ia lengah. Kebejatan yang telah ia saksikan, sisi gelap dari kesenangan mereka, jauh lebih menjijikkan dari yang pernah ia bayangkan. Intensitasnya yang luar biasa, dengan cara yang paling buruk, membuat jantungnya berdegup dengan kecemasan yang mencekik setiap malam.
Setelah malam itu, Iyeon menenggelamkan diri dalam perawatan prenatal. Takut bahwa kenangan beracun dan kecemasan yang ditimbulkannya akan memengaruhi bayinya, ia menyelami suara Gyubaek yang tenang dan stabil saat ia membacakan ensiklopedia. Setiap kali ia melakukannya, Gyubaek akan diam-diam menatap perutnya dengan tatapan penuh pengertian yang menggelisahkan.
“Direktur So? Anda hampir tidak makan apa pun,” sebuah suara menunjukkan.
“…”
“Direktur?”
Seiring hari-hari berlalu, ia menghabiskan setiap waktu luang bersama Gyubaek, dan entah bagaimana tidak pernah sekalipun berpapasan dengan Chaewoo, bahkan secara tidak sengaja sekalipun. Namun, seiring memudarnya memar dalam di jari-jarinya, ia mendapati matanya semakin sering memindai sekitarnya untuk mencarinya.
“Direktur Iyeon So!” sebuah suara memanggil dengan keras.Sumpit yang dipegang Iyeon jatuh berdenting ke lantai. Ia mendongak dengan cepat.
“Huh? Ya? Iya?!”
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya, enak sekali…!”
“Tapi kamu hampir tidak menyentuh makananmu,” tanya seorang staf pria yang berusia sekitar awal empat puluhan dengan kerutan khawatir di wajahnya.
Iyeon, yang sedang makan siang bersama tim manajemen di kafetaria staf, menggelengkan kepalanya dengan semangat yang sedikit berlebihan.
“Tidak, aku sedang… memakannya dalam pikiranku!”
Baru ketika ia melihat ekspresi bingung total di wajah pria itu, Iyeon menyadari kekeliruannya.
“Maksudku… aku hanya menikmatinya. Makan pelan-pelan, begitu,” Iyeon mengoreksi dirinya sendiri.
“Kamu terlihat agak aneh belakangan ini. Ada sesuatu yang mengganggumu?”
Iyeon menempelkan satu sumpit yang tersisa ke bibirnya dan memberikan senyuman yang terasa menyakitkan karena kecanggungannya. Dari sekian banyak kekhawatirannya, yang paling menghantuinya bukanlah menghilangnya Chaewoo atau kecemasan yang menyergapnya di tengah malam. Masalah sesungguhnya adalah ia sedang dicengkeram oleh hasrat yang membuatnya gila dan tak terpuaskan. Ia sangat ingin memakan sesuatu yang tidak bisa ia jangkau. Sesuatu yang tidak mungkin bisa ia buat.
Menghadapi kenyataan pahit itu, Iyeon merasa dirinya layu. Demi sang bayi, ia memaksakan diri untuk makan tiga kali sehari, namun ia tidak merasa puas sedikit pun.
“Ngomong-ngomong, Direktur. Saya sedang berpikir untuk membawa pohon jeruk mandarin. Bagaimana menurut Anda?” tanya staf itu.
“Pohon jeruk mandarin?”
“Ya, ini adalah satsuma yang matang lebih awal dan telah dicangkok dengan cabang cheonhyehyang. Saya rasa saya bisa mendapatkannya, kalau beruntung.”
“Wah…”
Sekadar menyebut makanan saja sudah cukup membuat mulut Iyeon berair. Ia bisa merasakan cita rasa buah itu bahkan sebelum membayangkan pohonnya.
Pencangkokan adalah proses menyatukan potongan dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Dua organisme yang berbeda akan menyatu, menjadi entitas baru yang sepenuhnya mandiri. Ini adalah proses yang bisa menciptakan jeruk yang rasanya seperti jeruk pahit, cabai yang rasanya seperti mentimun, atau mungkin persik yang rasanya seperti plum.
Saat Iyeon membungkuk untuk mengambil sumpitnya yang jatuh, ia terdiam. Pikiran tentang pencangkokan tiba-tiba memicu pertanyaan baru, membawanya pada sudut pandang yang baru.
Lalu bagaimana dengan Chaewoo?
Ada dua pria yang menyatu menjadi satu, seolah dua pohon telah dicangkok bersama. Satu adalah pria yang telah meninggalkannya dengan begitu kejam, dan yang lainnya adalah pria yang telah menanggung penghinaan seperti itu demi dirinya…
Dia itu apa? pikir Iyeon. Dan dia sedang menjadi apa?
✦ ❖ ✦
Iyeon mengerang frustrasi, mengubur wajahnya ke dalam bantal mewah itu lagi.
Tak peduli apakah ia mencoba membuat makanan itu sendiri atau mengikuti resep paling terkenal di internet, ia tidak bisa mereplikasi rasa yang ia ingat dan rindukan. Ia bahkan mendatangi salah satu staf dapur, seorang koki terkenal, dan memohon padanya untuk membuatnya, tapi tetap saja tidak tepat.
Seiring kegagalan yang terus bertumpuk, depresi aneh mulai menguasai Iyeon. Ia tidak pernah melewatkan makan, sehingga meski perutnya kenyang, rasa sakit yang hampa bergema di dalam hatinya.
Iyeon menghela napas dan berbalik di tempat tidur ketika ia melihat siluet yang berdiri seperti hantu di depan jendela besar itu.
“Aaaah…!” Sambil memegang dadanya, Iyeon memelototi si penyusup. “Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?”
Itu adalah Chaewoo yang berdiri di depan tirai yang berkibar diterpa angin malam seperti bayangan. Ruangan itu sudah gelap, tapi seolah-olah ia dijahit dari kain malam itu sendiri.
Ia mengenakan kemeja serat karbon yang memeluk lehernya, celana tempur hitam, dan sepatu bot taktis. Kalau bukan karena kilau samar iris hazel pucat miliknya, ia mungkin akan dikira sebagai tiang kegelapan murni.
Chaewoo dengan santai menarik turun masker taktis yang menutupi bagian bawah wajahnya. Saat ia melakukannya, Iyeon mencium aroma tembaga dari darah segar.
“…Kamu terluka?” tanyanya.
“Ini bukan darahku,” jawabnya singkat.
Ini adalah pertama kalinya ia melihatnya sejak malam itu. Pipi yang tadinya merah dan bengkak kini menanggung memar kebiruan yang terlihat sakit, dan keropeng gelap mengeras di bibirnya.
Iyeon bertanya,kata-kata itu terasa seperti tuduhan, “Apakah kamu ke sini untuk tidur denganku? Atau untuk menculikku lagi?”
Jawabannya pelan, “Tidak.”
Pada saat yang sama, Iyeon merasakan rasa lapar yang familiar menyerbu dirinya. Ia secara naluriah menutupi perutnya di balik selimut. Suara keroncongan yang mengkhianatinya, yang baru saja bergolak sesaat sebelumnya, tiba-tiba sunyi senyap.
Tiba-tiba, kepala Chaewoo miring dengan sudut yang aneh. “Apa yang sedang terjadi di dalam perutmu itu?” tanyanya.
Tangan Iyeon yang bertumpu di atas perutnya tiba-tiba membeku. Rasa panik terpancar dari wajahnya. Ia langsung bangkit dari posisinya berbaring, matanya seketika waspada. Bibirnya, yang terkunci dalam diam sesaat sebelumnya, hampir tidak mampu terbuka.
“…Apa maksudmu?” tanyanya, berusaha menenangkan suaranya.
“Aku dengar kamu sudah merepotkan para koki.”
“Oh…”
Sebuah napas lega bergetar keluar dari Iyeon. Ia tidak menyadari betapa tegangnya dirinya selama ini hingga ketegangan itu pergi dari bahunya, membuatnya begitu lemas sehingga ia jatuh kembali ke bantal. Ia mengubur wajahnya di dalam selimut, berusaha menahan detak jantungnya yang berdegup kencang.
“Itu bukan sesuatu yang perlu kamu pikirkan,” kata Iyeon kepada Chaewoo.
Iyeon memaksakan dirinya untuk bernapas perlahan. Hal terakhir yang ia inginkan adalah Chaewoo mengetahui kehamilannya. Ia tidak ingin keluarga Kwon ikut campur dalam hidupnya maupun kehidupan anaknya. Bayi di dalam kandungannya adalah keajaiban yang lahir dari kedalaman keputusasaannya dan, pada saat yang sama, sebuah rahasia yang ia jaga sendiri. Tentu saja, ia berencana membiarkan anak itu menggunakan marganya. Tekad itu semakin menguat setelah pesta seks yang menjengkelkan itu.
Iyeon berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membesarkan anaknya di tempat di mana senjata dan narkoba diperlakukan seperti mainan. Ia akan membiarkannya hidup dalam pelukan alam di Pulau Hwai, dikelilingi laut yang indah dan pepohonan yang rimbun. Demi mempertahankan rencana itu, ia harus menarik garis yang jelas, tanpa ruang untuk kompromi.
Tapi belakangan ini, Chaewoo sudah…
Sebuah pikiran lain muncul di benak Iyeon. Ia segera mengusirnya.
“Jika aku punya masalah, aku bisa berbicara dengan majikanku,” tambahnya dengan datar.
“Majikan sialan itu.” Chaewoo menarik dengan kesal masker taktis yang tergantung di dagunya.
“Jika kamu tidak ada urusan di sini dan tidak ada yang ingin dikatakan, pergilah—Tidak, bahkan jika ada, tolong pergi,” semprot Iyeon kepadanya.
“…”
“Kamu tahu kan bahwa menerobos masuk ke kamar orang lain tanpa diundang itu adalah kejahatan?”
Chaewoo tiba-tiba memandang sekeliling ruangan dengan sedikit kebingungan. Ia yakin baru saja berada di sanatorium ibu kandungnya sesaat yang lalu.
✦ ❖ ✦
“Semuanya berubah setelah mereka membawa perempuan brengsek itu ke sini…!” teriak ibunya.
Chaewoo menutup salah satu telinganya dengan tangan, wajahnya menyeringai kesakitan. Tembakan itu telah merobek gendang telinganya, ledakan tekanan yang tiba-tiba melubangi membran yang rapuh itu.
Karena belum pernah mengalami cedera pendengaran sebelumnya, ia telah menghabiskan beberapa hari dalam ketidaknyamanan, dihantui oleh tinnitus yang terus-menerus dan suara yang terdengar samar. Kondisinya mulai membaik, tetapi suara yang kini membanjiri gendang telinga yang terluka itu adalah teriakan ibu kandungnya.
Karena tidak ada lagi orang yang mengetahui tentang Giseok Kwon dan Juha Yoon, ia tidak punya pilihan selain mengunjungi ibu kandungnya di fasilitas perawatan.
Hubungan mereka tidak seperti hubungan ibu dan anak pada umumnya. Chaewoo dibesarkan oleh orang lain dan hampir langsung dikirim ke luar negeri. Waktu yang mereka habiskan di bawah atap yang sama praktis tidak ada.
Selain itu, Chaewoo telah direnggut dari kehidupan yang sempurna hanya karena garis keturunan yang tidak berarti. Sejak awal, ia tidak merasakan apa pun terhadap orang-orang yang tinggal di rumah itu.
“Oh, Giseok-ku… Bagaimana bisa ia melakukan ini kepada kita…?”
Ibu kandungnya tanpa henti memelintir helai-helai rambutnya yang beruban. Namun tangan keriputnya gemetar begitu hebat sehingga rambutnya semakin menyerupai surai kusut milik hantu. Tiba-tiba, matanya yang ketakutan melirik ke arah langit-langit.
“Sayang, ada yang tidak beres dengan Giseok…” Ia merendahkan suaranya menjadi bisikan penuh rahasia, seluruh tubuhnya gemetar. “…Kita seharusnya tidak pernah mempercayakan si sulung untuk mengurus ruang bawah tanah.”
Kemudian ibunya tiba-tiba mulai membenturkan kepalanya, masuk ke dalam kejang.
“Aah…! Aaaargh…!”
Saat ia menjerit,menampar dirinya sendiri berulang kali, Chaewoo bangkit dengan ketenangan yang hampa dan menyuntikkan obat penenang yang dibawanya ke sisi lehernya. Ibunya mencakar lengan bawahnya, matanya membara dengan kebencian.
“Kamu…! Bagaimana bisa kamu!? Bagaimana bisa kamu melakukan ini!? Kamu anakku…!” Dia menatapnya tajam. Lalu, dengan rasa sakit di matanya, dia berteriak, “Bagaimana bisa kamu main-main seperti anjing dengan perempuan jalang yang merebut kakakmu!? Pelacur itu masih memohon padaku untuk membiarkannya menemui Chaewoo setiap kali dia melihat wajahku…! Kamu bilang kamu akan menghukumnya untuk kita! Aku menyuruhmu mencabik-cabiknya, tapi apa yang sudah kamu lakukan…?! Giseok, Giseok…! Jangan pergi ke ruang bawah tanah lagi! Aaaargh…! Aaaargh!”
Dahi Chaewoo berkerut saat dia mendorong piston lebih keras. Ketika kejang itu perlahan mereda, api di mata ibunya pun padam.
Meskipun ibu kandungnya telah disuntik obat penenang, Chaewoo merasa seolah dirinyalah yang diberi obat itu. Dia merasa sangat kotor, seolah telah didorong ke dalam genangan kotoran.
✦ ❖ ✦
Apakah aku tertawa, atau apakah aku memuntahkan sumpah serapah setelah itu?
Sebelum dia menyadarinya, dia sudah berada di kamar Iyeon. Rasanya seperti darah mulai menggenang di suatu tempat jauh di dalam tengkoraknya lagi.
“Hanya…” Chaewoo sempoyongan, mengusap tangannya ke dahinya. Suaranya yang rendah bergetar saat dia berkata, “H-Hanya… biarkan aku duduk di sini sebentar. Aku akan segera pergi.”
“…”
“Tidak akan lama,” tambahnya untuk meyakinkan.
Tiba-tiba, pandangan Chaewoo terkunci pada kursi goyang itu.
Kerutan curiga muncul di wajah Iyeon saat dia mengikuti arah pandangan Chaewoo, tapi dia tidak melihat apa pun di sana.
Setelah sesaat, dia ambruk ke lantai, menyandarkan kepalanya pada kursi goyang itu. Dia terlihat seperti seseorang yang sedang beristirahat, tapi juga seperti seekor binatang yang roboh karena kelelahan.
Melihat itu, Iyeon akhirnya mengerti mengapa Chaewoo begitu keras memperingatkannya untuk tidak pernah terlihat menyedihkan. Rasa kasihan adalah racun. Ia memaksamu menyerahkan sepotong hatimu sebelum kamu sempat berpikir untuk menghentikannya.
Mengapa kamu membiarkan mereka mempermalukanmu begitu mudah di depanku, dan mengapa aku terburu-buru untuk melindungimu?
Segalanya di antara mereka sudah berantakan total, dan karena itulah, Iyeon harus mendorongnya lebih jauh lagi.
“Aku tidak mengerti apa yang mungkin kamu inginkan dariku,” katanya dengan dingin.
Chaewoo menatapnya ke atas, tapi matanya tampak kosong saat dia bergumam, “Ah, yang ini bergerak.”
Mengerutkan dahi atas omong kosongnya, Iyeon menatapnya sebelum akhirnya mengangkat kisah menyakitkan yang tidak pernah berani dia ungkit kembali. “Apakah kamu benar-benar pikir kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman kita?”
Chaewoo hanya menatapnya, ekspresinya tidak terbaca.
“Maaf, tapi tidak ada kesalahpahaman di antara kita. Apa yang terjadi dengan ibumu bukan sebuah kesalahpahaman. Kamu bisa memilih apa yang ingin kamu percaya, tapi aku sudah memberitahumu kebenaran, dan itu tidak akan berubah,” tegasnya.
“…”
“Dia ingin menemui putra bungsunya, dan aku ingin membantu. Tapi aku mengerti sekarang bahwa itu hanya sudut pandangku. Jika tindakanku pada akhirnya menyebabkan kematian ibumu, maka kamu benar untuk meninggalkanku.”
Tenggorokan Iyeon terasa seperti dilapisi silet. Dia harus memaksa dirinya untuk menelan berkali-kali.
“Tapi aku memohon padamu, jangan menjadi seperti bibiku,” dia harus menambahkan.
“…”
“Chaewoo… kamu tidak harus menempuh jalan itu. Jangan menjadi seperti dia,” pinta Iyeon sambil memikirkan bibinya, yang wajahnya akan memutar dengan jijik hanya karena melihat rambut Iyeon di lantai.
Iyeon bahkan tidak bisa mengingat bibinya tersenyum. Kehancuran hubungan itu menggerogoti jiwanya. Dia memeluk dirinya sendiri melawan rasa dingin yang tiba-tiba dan menusuk.
“Jangan jalani hidupmu dengan terus menatap sesuatu yang harus kamu lepaskan. Kita sudah putus, dan itu yang terbaik. Jauh lebih baik bagi kita untuk berpisah dan menjalani jalan masing-masing. Kamu boleh terus membenciku. Pikiran bahwa kamu membenciku… tidak lagi menyakitiku. Itu tidak membuatku sedih.”
“…”
Iyeon menatap matanya dan memaku paku terakhir di peti mati itu: “Hanya… jangan terpengaruh olehku.”
Dia ingin Chaewoo berhenti membingungkannya dan membencinya dengan penuh keyakinan, tapi wajah Chaewoo tiba-tiba terpelintir dengan kesakitan.
“Mengapa aku tidak boleh terpengaruh?”Dia menekan tumit tangannya ke matanya yang gemetar. “Bajingan lain bisa mengurung musuhnya selama bertahun-tahun, kenapa aku tidak bisa?”
Chaewoo tiba-tiba merangkak ke arahnya dengan tangan dan lutut, seperti binatang yang terluka, dan meraih selimutnya. Dia memelintir kain itu dengan begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuh Iyeon membeku.
“Kenapa hanya aku yang merasa begitu susah, sementara kamu… Kamu terlihat begitu bebas?” Dia mengeluarkan erangan kesakitan. “Aku masih terkubur dalam tumpukan kotoran.”
Chaewoo menariknya ke arahnya melalui selimut, menyandarkan kepalanya ke tubuhnya. Terjebak oleh cengkeramannya yang tak tergoyahkan, Iyeon tidak punya pilihan selain menyerap seluruh kekuatan emosinya yang mentah. Dia berlutut di lantai, terengah-engah.
“Tidak bisakah kamu membenciku sampai ingin membunuhku?” pintanya.
“…!”
“Apa kamu benar-benar tidak punya gunanya aku? Bahkan sebagai sasaran untuk disalahkan atas segalanya?”
“Aku tidak mau terlibat dalam sesuatu yang pada akhirnya akan menguras diriku,” jawabnya.
“Kenapa kamu berhenti di situ? Kenapa kamu tidak menambahkan lebih banyak dari jutaan pikiranmu?”
“…”
“Kenapa kamu tidak membenciku lagi?”
Matanya, pusaran emosi yang bergolak, berputar dengan keputusasaan yang keruh. Mereka mengingatkannya pada sekian banyak malam yang telah Iyeon lalui hingga dirinya tak tersisa apa-apa selain kulit dan tulang, namun di saat yang sama juga menyimpan jurang kehancuran yang telah ia pilih untuk dihindari.
Iyeon menyadari kondisinya yang tidak stabil semakin memburuk dari detik ke detik, namun ia menolak untuk mundur.
“Karena mulai sekarang, aku ingin lebih banyak tersenyum.”
Wajah Chaewoo semakin menyeringai. “Jadi kamu akan berkencan, menikah, dan punya anak seperti orang normal, seperti yang Giseok bilang?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Lalu kenapa kamu membantuku di pesta seks itu?” tanyanya tiba-tiba.
“…”
“Kalau kamu tidak mencintaiku dan tidak membenciku, lalu kenapa kamu membuka gesper ikat pinggangku? Kenapa kamu mengalihkan perhatian Giseok?” tanyanya tajam, mengakhiri keheningan singkat itu.
Iyeon mengatupkan bibirnya dengan tegas dan menatapnya dengan mata yang begitu jernih hingga tidak mengungkapkan apa pun.
“Aku hanya lega kamu turun tangan membantuku keluar dari taman itu. Aku tidak mau berutang apa pun padamu.”
“…”
“Hanya itu saja.”
Emosi gelap dan kotor di wajah Chaewoo seolah lenyap seketika. Dia tertawa sementara rasa kehilangan dan kekalahan yang menyiksa menghujam hatinya, berulang kali.
Dalam sekejap, dia melempar selimut itu ke samping dan melompat ke atas ranjang, mengurungnya di antara kedua lengannya. Kaki mereka saling terjalin, perut mereka saling menempel. Saat dia menundukkan kepalanya, aroma darah semakin kuat, dan napas Iyeon tertahan di tenggorokan.
“Kamu tahu sesuatu, Iyeon?” Chaewoo memejamkan matanya yang lelah, lalu membukanya kembali dengan cepat. Kesabarannya sudah teregang tipis dan hampir putus.
Iyeon membaca matanya dan berdoa agar itu tidak mempengaruhinya, namun ekspresinya yang dingin membeku adalah pertanda buruk.
“Kamu bisa berhubungan seks dengan seseorang yang kamu benci,” katanya padanya.
“…!”
“Kamu bisa hidup bersama mereka seumur hidupmu, bahkan jika kamu membenci mereka—” Dia menjilat bibirnya seperti binatang buas yang akhirnya terlepas dari belenggu. “Dan kamu bisa mencintai seseorang yang kamu benci.”
Jika dilihat lebih dekat, dia juga tampak seperti anak yang ditinggalkan.
“Iyeon, pikirkanlah sekali lagi. Apa kamu benar-benar tidak punya gunanya aku?”
“Aku tidak—”
Sebelum jawaban itu sepenuhnya keluar dari bibirnya, Chaewoo menahan kedua tangannya dan menekan mulutnya ke mulutnya.
“…!”
Iyeon menegang sesaat terlambat. Saat dia menegang, tangannya sudah ditahan ke kasur. Secara naluriah dia mengatupkan rahangnya, namun daging panas itu memaksa masuk di antara bibirnya yang terkatup.
Lidahnya menyerbu mulutnya dengan paksa dan kasar, mendorong lebih dalam, merasakan daging sensitif di dalamnya. Dia bergerak seperti orang yang kelaparan selama bertahun-tahun saat dia melahapnya.
Tepat saat kekuatan mulai terkuras dari tubuhnya, dia merenggut mulutnya menjauh. Wajahnya pucat saat dia berkata dengan suara serak, “Apa kamu benar-benar tidak punya gunanya aku?”
Iyeon menjawab dengan diam yang penuh perlawanan.
Pandangan Chaewoo menghujam ke bibirnya yang membengkak. Dia berkata dengan pahit, “Kalau begitu, kamu masih tidak tahu apa-apa soal cara menangani anjing.”
Sebelum Iyeon sempat bereaksi, dia menyelipkan tangannya ke bawah kaus Iyeon.Ia merayap naik ke perutnya dan meremas payudaranya yang lembut melalui bra, membuat Iyeon tersentak dan berpaling.
“Kamu pikir kamu sedang—”
Chaewoo menatap tanpa malu seolah sedang mempelajari reaksinya. Sepertinya ia sedang mencari titik batas Iyeon, menguji seberapa banyak yang bisa ia tahan.
“Lepaskan aku!”
Iyeon menarik tangannya dari cengkeramannya dan memukul bahunya, yang bahkan tidak membuatnya bergeming. Ibu jarinya terus menggosok putingnya hingga mata Iyeon memelototinya. Kemudian, tangannya menyelusup ke dalam celana pijamannya.
“Kamu gila!”
Tak mampu menahan amarahnya, Iyeon menampar wajahnya.
“Aduh…” Chaewoo merengek, tapi senyumnya melebar lebar sekali. “Iyeon, aku sangat suka tatapan matamu itu.”
“…!”
Iyeon terpaku melihat ekspresinya yang melunak. Matanya, yang biasanya begitu tajam dan dingin, kini melengkung lembut di sudut-sudutnya. Cara bibirnya terbuka, entah mengapa, terasa indah. Ia tiba-tiba tenggelam dalam gelombang kerinduan yang berbahaya.
Chaewoo mencium kelopak matanya, membuat Iyeon menarik kepalanya menjauh.
Ekspresinya langsung mengeras, tapi ia segera memaksakan senyum lagi dan bergumam dengan ketulusan yang dingin dan putus asa, “Iyeon, tolong… belajarlah untuk semakin membenciku setiap harinya.”
✦ ❖ ✦
Iyeon sedang berjalan-jalan bersama Gyubaek ketika ia mendengar gonggongan di dekatnya. Tiba-tiba, ia melihat dua ekor anjing hitam muncul di hadapannya. Keduanya memiliki kepala yang agak bulat, moncong panjang, dan telinga segitiga yang berdiri tegak. Ia mundur dengan kaget.
“Oh, German Shepherd,” Gyubaek mengenali dengan nada kagum, masih menggenggam tangan Iyeon.
Anjing-anjing itu menggonggong dan memperlihatkan giginya, dan seorang pelatih langsung menarik tali kekangnya, mengendalikan mereka.
Terkejut oleh geraman mereka, Iyeon mundur beberapa langkah.
“Hei, jangan!” Suara pelatih itu tegas dan berwibawa saat ia menahan anjing-anjing tersebut.
Iyeon memperhatikan mata mereka yang berbentuk almond dan berwarna cokelat tua perlahan kehilangan kilatan liarnya.
Setelah anjing-anjing itu tenang dan terkendali, pelatih itu meminta maaf, memperkenalkan dirinya sebagai orang yang melatih anjing penjaga keluarga Kwon.
Gyubaek bersembunyi di belakang Iyeon, mengintip dari balik punggungnya.
“Kadang anjing bingung antara bermain dan menggigit,” kata bocah itu.
“Oh, betul juga,” jawab pelatih itu sambil mengangguk. “Ada banyak alasan mengapa anjing bisa menggigit, kamu tahu.”
“Mereka juga menggigit saat takut atau kesakitan,” Gyubaek menambahkan dengan penuh semangat.
“Betul lagi, dan kadang mereka melakukannya untuk menegakkan dominasi.” Pelatih itu menarik tali kekang dengan kencang, bergumam, “Anak pintar.”
“…Dominasi?” Iyeon menyipitkan matanya, tersangkut pada satu kata itu.
Ia menggaruk pipinya, pandangannya tertuju pada German Shepherd tersebut.
“Anjing-anjing ini punya naluri kuat untuk menegakkan dominasi, bahkan terhadap manusia. Kalau ada yang memanjat tubuhmu saat kamu berbaring atau mencoba menggigit mata atau telingamu, kamu harus menghentikannya dengan tegas. Kamu bisa memegang rahang bawahnya sebagai peringatan, atau cukup mendorongnya menjauh.”
Wajah Iyeon berubah aneh saat ia mendengarkan dengan intensitas yang menggelisahkan.
Pelatih itu tersenyum lelah dan mulai berbicara: “Ketika seekor anjing melihat pemiliknya sebagai bawahan, ia bisa mengembangkan apa yang disebut ‘sindrom anjing alfa.’ Mereka menjadi sangat waspada, berbahaya dan tidak stabil, serta agresif dalam mempertahankan wilayah. Mereka tidak punya keterampilan sosial, tapi akan melindungi ruangnya secara berlebihan, menggonggong dengan ganas dan menggigit untuk membunuh. Mereka bahkan akan mengancam pemiliknya dan menjadi posesif secara patologis. Jadi sangat penting untuk menetapkan hierarki yang tepat.”
Hmm.
Sementara pelatih itu berbicara tentang German Shepherd, Iyeon tidak bisa tidak membandingkan anjing-anjing itu dengan Chaewoo, atau lebih tepatnya, perilakunya dari malam sebelumnya. Percakapan itu tiba-tiba terasa bukan lagi obrolan santai melainkan seperti konsultasi psikiatri.
Dominasi?
Keyakinan Iyeon berakar pada harmoni dan koeksistensi. Konsep seperti dominasi, hierarki, dan perebutan kekuasaan bukanlah hal yang biasa ia hadapi.
“Kamu punya anjing?” tanya pelatih itu.
“Apa?”
“Soalnya,”Aku cenderung terbawa suasana saat membicarakan anjing, dan kamu mendengarkan dengan sangat penuh perhatian.”
“Oh…” gumam Iyeon, dengan canggung menggaruk belakang kepalanya.
Ia hampir tidak bisa tidur, dihantui kenangan Chaewoo yang dengan santai melanggar batasnya sebelum sempoyongan pergi ke dalam malam.
“Jika kamu menghadapi masalah serupa dengan anjingmu, saya sangat menyarankan pelatihan ketaatan sebagai hal yang mutlak,” sang pelatih melanjutkan.
Iyeon tidak bisa memberi jawaban. Ia hanya menggigit bagian dalam bibirnya.
✦ ❖ ✦
“Young Master bilang apa?” sebuah suara tegang membelah udara begitu Iyeon melangkah masuk ke kantor.
Iyeon merasakan ketegangan aneh yang terasa nyata di kantor tim manajemen. Ia memindai wajah-wajah staf saat berjalan lebih jauh ke dalam. Mereka sudah bersiap, mengenakan helm, kacamata pelindung, sarung tangan tebal, bahkan penyumbat telinga. Gergaji mesin dan berbagai peralatan lain sedang dikumpulkan untuk digunakan.
Apa yang seharusnya kita lakukan hari ini?
Iyeon mengingat-ingat tugas hari ini dalam benaknya namun tidak menemukan jawabannya, kepalanya miring kebingungan.
“Kukira kita hanya punya perawatan rutin sederhana hari ini?” katanya kepada salah satu karyawan yang sedang mengisi teko kopi.
“Yah…” karyawan itu mulai bicara, dengan gugup merobek bungkus kopi instan dan menuangnya ke dalam cangkir kertas. “Young Master bilang ingin meruntuhkan seluruh taman annex.”
Alis Iyeon berkerut membentuk garis tajam.
“Beliau ingin setiap pohon ditebang habis,” tambah karyawan itu.
✦ ❖ ✦
Setelah menuntut tahu keberadaan Chaewoo, Iyeon menemukannya di kolam renang dalam ruangan. Amarah mendidih di dalam dirinya. Ia tahu Chaewoo menuntut perubahan pada taman hanya untuk membuatnya kesal.
Jadi dia mau perang? Baik, akan kudatangkan perang. Wajahnya memerah oleh amarah yang membara.
Tanpa alas kaki, Iyeon menerobos masuk ke area kolam yang sunyi tanpa ragu. Itu adalah ruang yang tenang, air yang beriak memantulkan pola-pola kristal di langit-langit. Namun, alih-alih aroma klorin yang biasa, Iyeon mencium bau amis yang menyengat di udara. Air itu sendiri berwarna gelap yang mengganggu, efek dari ubin hitam yang melapisi dasarnya.
Iyeon berhenti begitu merasakan suasana aneh itu. Ia mengintip ke dalam kedalaman yang keruh dan, karena iseng, mencelupkan jarinya untuk mengaduk air. Seketika, sebuah sosok melesat dari bawah dan mencengkeram tangannya.
“…!”
Iyeon mundur tergesa, lalu jatuh tersungkur di tempat itu.
Chaewoo merenggut topi renangnya dan menggeram, “Kamu gila? Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tahu ini tempat apa?”
Saat tubuhnya yang basah naik turun dengan napas terengah-engah, mata Iyeon tertarik pada penyumbat telinga di salah satu telinganya yang diplester. Tepat saat itu, sebuah mulut menganga menembus permukaan air dan menerjang ke arahnya.
“Aah!”
Sekejap, Iyeon melihat pusaran gigi-gigi tajam seperti jarum yang mengerikan. Sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, ia sudah ditarik dengan keras ke arah kolam. Sekelompok makhluk itu telah mencengkeram pergelangan kakinya, yang tergelincir masuk ke air saat ia jatuh.
“Ahhh…!”
Jari-jarinya mencakar lantai ubin, namun usahanya sia-sia. Hisapan kuat seperti lintah itu tak terbendung, menyeretnya maju hingga kedua kakinya terendam sampai lutut.
Makhluk-makhluk panjang dan ramping itu memiliki moncong terpotong, dan mulut mereka dipenuhi gigi seperti butiran beras. Mereka adalah lamprey—dan jumlahnya puluhan.
Chaewoo berteriak, “Sialan!” sebelum terjun ke tempat kejadian untuk menarik Iyeon dari tepi air.
Lamprey-lamprey itu begitu gigih sehingga beberapa dari mereka ikut terbawa bersamanya, masih menempel di kulitnya. Dengan marah, Chaewoo mulai menghancurkan makhluk-makhluk bandel itu dengan tangan kosong. Di waktu lain, ia akan memotong kepala mereka, namun saat itu ia tidak punya pilihan selain meremasnya hingga tengkorak mereka pecah.
“A-Apa makhluk-makhluk ini? Kenapa ada di kolam renang?” tanya Iyeon dengan panik.
“Ini bukan kolam… Ini tangki,” kata Chaewoo singkat, merenggut yang terakhir dari kakinya.
“Ahh! Ugh…”
Air mata syok dan kesakitan mengalir di wajah Iyeon. Ia tidak pernah mengalami sesuatu yang begitu mengerikan.Melirik kembali ke tangki itu, dia tiba-tiba menyadari bahwa apa yang dia kira adalah ubin gelap ternyata adalah makhluk-makhluk mengerikan menyerupai belut yang berenang di dalam bak tersebut.
“Lamprey suka sekali memangsa daging yang terluka.”
Iyeon teringat sebuah kalimat yang pernah ia dengar dari Gyubaek saat membaca ensiklopedianya. Mulut tanpa rahang yang mengerikan seperti yang ia lihat di gambar itu tak terlupakan.
Apa yang disebut ensiklopedia itu? ‘Pengurus pemakaman lautan’?
Mereka adalah ikan paling primitif, menempel pada tubuh yang mati untuk menguras darah dan nutrisinya.
Mengapa ada orang yang mau memelihara makhluk menjijikkan seperti ini di rumah? Dan jika ini adalah kolam, mengapa Chaewoo berenang di dalamnya? Apa gunanya makhluk-makhluk ini?
Iyeon sama sekali melupakan pohon-pohon di taman.
“Aku tidak memberi mereka makan selama berhari-hari,” jelas Chaewoo. “Kenapa kamu tiba-tiba muncul begitu saja—”
Setelah menangani yang terakhir, Chaewoo menyisir rambutnya yang basah ke belakang. Ia jelas sama terguncangnya dengan Iyeon, karena ia ambruk ke lantai, menyandarkan dahinya di lututnya untuk menyembunyikan kelopak matanya yang bergetar.
“Lihat? Apa yang sudah kubilang? Semua yang berkaitan denganmu membuatku ingin membunuh semua yang ada di depanku,” gumam Chaewoo.
Iyeon, wajahnya pucat pasi, mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia tidak datang ke rumah kolam renang untuk terseret dalam kecelakaan konyol seperti ini; ia ke sana untuk membuat Chaewoo mencabut perintahnya yang tidak masuk akal untuk menebang semua pohon di taman annex. Namun pikirannya kosong melompong kecuali bayangan puluhan mulut yang menggigit ke arahnya. Ia gemetar, berusaha menahan guncangan hebat yang melanda tubuhnya.
“Aku melatih mereka untuk hanya memakan daging mati, jadi mereka bereaksi terhadap bau darah. Pasti ada luka di kakimu.” Chaewoo menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggungnya, mengangkatnya dengan mudah. “Maaf sudah membuatmu takut,” tambahnya.
“…Kamu menyuruh tim berkebun untuk menebang semua pohon di taman annex. Aku ingin kamu mencabut perintah itu.”
Sudah melampaui batas kesabarannya, ketakutan Iyeon meledak menjadi amarah. Ia mencengkeram dagu Chaewoo, memaksanya untuk menatapnya.
“Kalau kamu tidak pernah memulai ini, aku tidak akan…”
Mata mereka bertemu, dan suara Iyeon menghilang begitu saja. Chaewoo dengan lembut menurunkannya ke sunbed, pandangannya jatuh ke betisnya yang kini dipenuhi luka-luka berdarah.
Sialan. Bekas gigitan ini membuatnya terlihat seperti ada bajingan lain yang telah menggigitnya, pikirnya, matanya berkilat dengan obsesi saat ia menelusuri tepi sebuah luka.
“Seharusnya aku yang menggigitmu sendiri,” katanya tiba-tiba.
✦ ❖ ✦
Mungkin ada anjing yang memang tidak ditakdirkan untuk dijinakkan. Mungkin ada yang memang terlahir jahat.
Iyeon terus mengulang pikiran yang sama sepanjang hari saat ia menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah kejadian mengejutkan dengan lamprey itu, Chaewoo membawanya ke klinik staf, di mana lukanya diobati. Untungnya, kecelakaan itu tampaknya juga mengubah pikiran Chaewoo tentang merenovasi taman annex. Tim perawatan taman pun bisa bernapas lega.
“Ugh…”
Iyeon semakin membenamkan diri ke dalam selimut dalam keadaan setengah sadar. Ia merasakan tubuhnya menggigil sesekali.
Jam berapa sekarang…?
Ia ingat pernah bermimpi buruk dikejar lamprey. Piyamanya basah kuyup oleh keringat dingin. Bukan hanya mimpi buruk itu saja: Tubuhnya lemah, kepalanya berdenyut kesakitan, dan setiap napas terengah-engah yang keluar dari hidungnya terasa sangat panas membakar.
Iyeon menduga ia sedang terserang demam tinggi.
Tidak mengherankan. Sejak ia tiba di kediaman Kwon—tempat yang membuatnya selalu was-was—dan berhadapan langsung dengan Chaewoo lagi, ia telah berada di bawah tekanan stres yang tak henti-hentinya.
Pekerjaannya melelahkan, adat istiadat keluarga Kwon yang disebut-sebut itu sangat mengusik, dan sekilas pandang yang ia dapatkan tentang kalangan atas sangat mengganggunya. Di atas semua itu, perubahan lingkungan bertepatan dengan pergantian musim.
Dengan tangan yang demam, ia meraba-raba mencari ponselnya. Di dalam tubuhnya terasa seperti mendidih, namun terkubur di bawah selimut, kulitnya dicengkeram oleh dingin yang begitu dalam hingga terasa seperti musim dingin yang paling beku.
Aku tidak boleh demam… tidak sekarang…
Kekhawatiran itu hanya sekilas muncul di tengah kabut pikirannya.
Iyeon bahkan tidak bisa menjaga pikirannya tetap jernih saat kesadarannya mulai memudar.Sulit untuk mengingat di mana dia berada atau siapa dirinya. Panas yang menyengat terasa di kelopak matanya, dan air mata menggenang, panas dan tak terbendung.
Pertama, aku harus menghubungi Ms. Gye…
Jari-jarinya menekan nomor itu dari ingatan otot.
Saat nada dering terus berbunyi tanpa henti, dunianya tetap gelap gulita, kelopak matanya terlalu berat untuk dibuka. Pusaran kekhawatiran menyerbu pikirannya sekaligus—teror dari mimpi buruk dan rasa takut akan bayi di dalam kandungannya menyatu menjadi satu gelombang emosi.
Begitu panggilan tersambung, ketenangannya langsung hancur berantakan.
“Ms. Gye…” Ujung lain saluran telepon itu sunyi senyap, namun Iyeon, yang terengah-engah, berbicara dengan suara yang tak lebih dari bisikan yang memudar. “Aku sakit…” Panas napasnya sendiri terasa memperparah demamnya. “Aku rasa aku akan mati… dan aku tidak bisa mempercayai siapa pun di sini…”
Saat itu juga, Iyeon mendengar suara keras berderak di ujung saluran telepon. Ia mengira seseorang menjatuhkan sesuatu atau membanting pintu dengan tergesa-gesa, namun pikirannya terlalu kabur untuk mencerna suara itu bagaimanapun juga.
“Aku ingin pulang. Aku hanya ingin pulang… dan makan sesuatu,” gumam Iyeon sambil menahan menggigil yang begitu hebat hingga giginya bergemeletuk tak terkendali. “Makanan di sini dibuat dengan bahan-bahan yang jauh lebih baik, dan para juru masaknya sangat terampil… tapi aku tidak ingin makan apa pun.”
“…”
“Jadi meskipun aku berusaha mengisi perutku… aku selalu sangat lapar…”
Tanpa menyadari apa yang sedang dikatakannya dalam kondisi demam yang mengacaukan pikirannya, Iyeon terus mengulang permohonan putus asa yang sama untuk kembali ke rumah demi makan masakan rumahan.
“Ini bukan tempat untuk siapa pun tinggal. Ada… akuarium raksasa, dan—ugh—ada monster menjijikkan di dalamnya. Dan tamannya! Siapa yang waras menanam pohon berbentuk phallus? Oh, tunggu, itu aku yang menanamnya…”
“…”
“Aku merasa seperti diseret ke negeri asing yang aneh dengan paspor yang dicuri. Tidak ada yang terasa enak, aku tidak bisa betah, dan pria yang berkuasa di sini sungguh kejam…” Iyeon terisak, suaranya sarat dengan kesengsaraan. “Aku hanya ingin pulang bersama Gyubaek… Aku akan gila kalau terus tinggal di sini. Aku sudah lelah terus-menerus terkejut dan ketakutan. Dan selalu tegang membuat perutku sakit…”
“…”
“Aku hanya berharap waktu cepat berlalu. Aku berharap besok adalah hari terakhirku di sini…”
Iyeon terus mengoceh panjang lebar, mengucapkan banyak hal lain yang tidak akan pernah bisa ia ingat. Tepat saat napas tersendat terdengar dari gagang telepon, pintu kamarnya bergeser terbuka.
Apa aku mengganggumu, Ms. Gye? Apa kamu benar-benar terburu-buru ke sini di tengah malam?
Bibir Iyeon bergerak, membentuk kata-kata yang tak terucap. Tiba-tiba, sebuah tangan dingin menyentuh dahinya, lalu menopang pipinya.
“Iyeon…” Suara tenang yang rendah itu menyelinap ke telinganya. “Buka matamu.”
Iyeon secara naluriah menggosokkan pipinya ke telapak tangan yang sejuk itu, sebuah kelegaan yang disambut dari demam yang membakar. Pada saat yang sama, ujung selimutnya ditarik pergi, dan ia merasakan seseorang menggulung celana piyamanya hingga ke betis. Sengatan tiba-tiba udara dingin di kulitnya membuatnya berusaha menarik kakinya kembali, namun pergelangan kakinya digenggam, kakinya diluruskan, dan ditahan erat. Seseorang sedang dengan hati-hati melepas kain kasa yang telah dipasang di pergelangan kaki dan betisnya di klinik hari sebelumnya.
“Ah…”
Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, Iyeon memaksakan kelopak matanya yang berat terbuka setengah. Melalui kabut yang mengaburkan pandangan, ia melihat dua sosok buram berdiri di hadapannya. Ia mengerutkan dahi, berusaha memahami situasi itu, namun pikirannya terpecah-pecah, kesadarannya berkedip-kedip masuk dan keluar.
“Bisa jadi sepsis,” kata dokter itu dengan nada suram. “Kita perlu mengambil darah untuk uji kultur segera. Sepsis bisa berakibat fatal dalam beberapa jam setelah timbul, jadi kita harus membawanya ke rumah sakit. Jika menjadi akut dan memicu kegagalan organ atau syok, ada kemungkinan tujuh puluh persen ia bisa meninggal.”
“…Apa yang baru saja kamu katakan?” Wajah Chaewoo mengeras.
Kekuatan mengalir pergi dari tangannya yang menggenggam pergelangan kaki Iyeon, jari-jarinya mengendur dengan ketidakpercayaan yang mutlak.
Chaewoo telah menghancurkan semua hal yang terhubung dengan dirinya yang lama ketika ia meninggalkan Pulau Hwai.Bahkan karena alasan itulah ia sampai membuang ponselnya. Namun setelah terpaksa menerima kenyataan bahwa Iyeon tetap satu-satunya yang bisa membangunkannya, bukan hanya nomor-nomor lamanya yang kembali.
Panggilan pertama datang dari Iyeon. Ketika mendengar suaranya yang lemah memprihatinkan, ia mengira Iyeon menderita akibat gigitan lamprey. Hal itu membuatnya menerobos masuk ke kamar dokter, menyambar kerah pria yang sedang tidur itu, lalu menyeretnya ke kamar Iyeon.
“…Fatal?”
Tidak mungkin.
Ia kembali mencengkeram kerah dokter itu, namun suara erangan kesakitan Iyeon menarik pandangannya kembali ke arahnya.
Fatal?
Chaewoo kini gemetar. Satu kata itu bagaikan peluru meriam yang menghancurkan pria yang biasanya tak tergoyahkan itu dalam sekejap. Ia menatap dokter itu dengan garang sebelum melepaskan tangannya, seolah semua itu sia-sia. Sebaliknya, ia bergerak ke belakang Iyeon yang gemetar dan menariknya ke dadanya, lalu memberikan anggukan tegas dan penuh perintah kepada sang dokter.
Dokter itu, berusaha menenangkan wajahnya yang memerah, membuka tas medisnya.
“Tes kultur akan memakan waktu. Saya akan mulai dengan memberikan suntikan untuk menurunkan demam.”
Dokter itu dengan terampil menarik cairan bening ke dalam jarum suntik.
“Jangan… jangan disuntik,” protes Iyeon dengan nada lambat namun mengejutkan karena cukup tegas.
“Ssst—tidak apa-apa, sebentar saja selesai. Dia bilang kamu perlu tes,” kata Chaewoo sambil menyingsingkan lengan baju Iyeon dan menahan tangannya dengan tangannya sendiri.
Pemandangan jarum tajam dalam penglihatannya yang kabur, dokter yang tidak dikenal, kenangan akan gigi-gigi mengerikan dari mimpi buruknya—semuanya menyatu menjadi gelombang teror yang menghantam. Ia meronta-ronta, kukunya mencakar tangan yang menahannya.
Chaewoo merespons dengan membelit kakinya seperti sulur yang mencekik, menahan tubuhnya sepenuhnya.
Ia berusaha meronta. “Jangan… Dasar bajingan…”
Kapas alkohol dingin menyentuh lengannya, dan tangan asing menepuk-nepuk kulitnya yang terbuka.
Jangan, berhenti, aku hamil…! Ia sangat ingin mengatakannya, tapi tak ada suara yang keluar. Saat air mata tak berdaya memenuhi matanya, pintu itu kembali terbuka.
Gyubaek berdiri di sana, mengucek-ucek mata mengantuknya dengan lengan baju yang menutupi tangannya. Ia memindai ruangan sejenak, lalu mengepalkan tinjunya yang kecil dan menyerbu masuk.
“Direktur!”
Gyubaek meluncurkan dirinya ke arah Chaewoo, menancapkan giginya ke lengan bawah pria itu.
“Spesimen jantan ini benar-benar bodoh! Sungguh mengecewakan! Inilah mengapa hal-hal yang rusak harus dibuang!”
Gyubaek lebih kalap dari sebelumnya. Ia memukuli lengan Chaewoo dengan tinjunya yang mungil, suaranya semakin keras saat ia berteriak, “Kamu tidak boleh melakukan ini! Spesimen Jantan sudah gila! Monyet hantu tidak boleh berperilaku seperti ini!”
“Minggir, nak.” Alis Chaewoo berkedut. Ia tidak punya waktu untuk melayani tantrum seorang anak.
“Monyet hantu adalah ayah terbaik di antara semua primata!” teriak Gyubaek. “Jika Spesimen Jantan menyakiti bayi yang pemberani itu, aku akan membalasnya seumur hidupku! Tawon raksasa! Semut peluru! Lebah Afrika! Semut tentara! Botfly!”
Gyubaek merapal nama-nama serangga mematikan seolah itu adalah kutukan, sambil menarik-narik jas dokter itu.
Kedua pria itu tampak sejenak terpana oleh ledakan kemarahan anak itu yang begitu sengit. Dalam jeda singkat itu, secercah pemahaman melintas di mata sang dokter.
“Tuan Muda… apakah pasien ini, mungkin… sudah menikah?”
“Apa?” Chaewoo mengernyit. Intimidasi yang terpancar darinya membuat dokter itu gugup mengusap dahinya.
“Mohon maaf, Tuan Muda. Saya hanya mempertimbangkan sepsis sebagai kemungkinan diagnosis karena gigitan lamprey kemarin. Memang benar pula bahwa tubuh kesulitan mengatur suhunya pada tahap awal kehamilan. Hal itu bisa menyebabkan demam ringan yang terus-menerus, seperti ini.”
“…”
“Gejalanya sama, berkeringat dan menggigil. Gejalanya menjadi lebih parah ketika pasien sedang mengalami stres. Rasa sakitnya mungkin terasa seperti demam, tapi biasanya akan membaik dengan sendirinya.”
Keheningan berat itu hanya dipecah oleh detak jam. Kerutan samar di antara alis Chaewoo tetap tak berubah.
Semakin cemas, dokter itu mendorong kacamatanya kembali ke atas hidungnya.”Meski begitu, kita harus segera melakukan tes darah, hanya untuk memastikan.”
“…Hamil?”
Ketika Chaewoo akhirnya berbicara, suaranya terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri. Nada bicaranya, seolah ia mengucapkan kata yang tak punya makna apa pun baginya, sama sekali kosong dari emosi.
Ia menatap wanita pucat dalam pelukannya dengan ekspresi yang belum pernah ia tampilkan sepanjang hidupnya. Ia menyandarkan dagunya di bahu wanita itu dan menempelkan seluruh tubuhnya ke tubuhnya, seolah sesuatu di dalam dirinya telah meledak.
Chaewoo dengan kasar mencabut earplug dari telinganya dan menempelkan telapak tangannya di atas perut Iyeon. Matanya terpejam rapat, seolah ingin memblokir dunia luar, namun kelopak matanya bergetar hebat.
Suhu tubuhnya sama sekali berbeda dari saat di Hwai. Ia teringat semburat merah muda samar yang kadang mewarnai pipinya, bintik-bintik lucu yang belakangan ini lebih sering ia perhatikan, dan perubahan suasana hatinya yang tak menentu. Dan…
Aromanya telah berubah secara halus.
Chaewoo selama ini mengira perubahan-perubahan yang tak ia mengerti itu hanyalah akibat dari Iyeon yang mulai melanjutkan hidupnya dan menciptakan jarak di antara mereka.
Tapi bagaimana jika ia bukan sedang menghapusku? Bagaimana jika itu karena ada sesuatu yang lain di dalam dirinya?
Dan sesuatu itu adalah bagian dari dirinya. Sebagian dari dirinya ada di dalam dirinya.
Akhirnya, jahitan yang selama ini Chaewoo gunakan untuk menutup rapat jiwanya mulai terurai. Benang-benang itu mengendur dan luruh, membiarkan dua jiwa itu menyatu menjadi satu. Luka-luka itu lenyap, digantikan oleh daging baru yang lembut.
Iyeonlah yang membuatnya tetap utuh.
Ah… Ia akhirnya menyerah. Aku tak bisa ada tanpamu.
Pada saat itu, beban yang selama ini condong berbahaya ke satu sisi akhirnya tumbang.
Tolong, jangan hapus aku.
“…Iyeon.”
Saat ia memahami apa yang telah terjadi pada mereka, rasa sakit yang ganas dan asing menggerogoti Chaewoo.
Iyeon sudah siap untuk menemukan kebahagiaannya tanpa dirinya. Kesadaran yang menusuk hingga ke dasar jiwa bahwa ia akan ditinggalkan tanpa apa pun menghantam seperti migrain yang membutakan. Tak ada cara untuk menarik kembali apa yang telah terjadi.
Kejatuhan dari kebahagiaan ke jurang kehampaan itu tak kenal ampun dan terjadi seketika.

Comment